Di perpustakaan kampus, Rana tampak berkutat sama notebook di hadapannya. Wajah tuh cewek kelihatan serius, seakan dihadapkan pada tugas penting di balik layar berukuran mini tersebut.
"Kelar juga. Ready buat seminar lusa." tandas Rana lega, sambil menekan 'ctrl+s' untuk menyimpan file yang baru tuntas ia kerjakan.
El Pirang pun bersiap balik, namun waktu bangkit dari kursi...
"Rana!"
"Komang, Dini." Rana yang menoleh pun tau siapa sosok pemanggil dirinya.
"Kamu sibuk nggak? Kita mau hangout nih, ke mall." dengan logat Bali kental, seorang dari mereka konfirmasi begitu jarak Rana telah rapat. Ketara banget ini yang bernama Komang.
"Nggak, nggak sama sekali," jawab Rana lugas, sambil menata ransel yang terasa berat di punggungnya.
"Baru selesai doang bikin konsep seminar nanti. Yang rumah kaca itu lho." 💛
"Mantaplah bestie-ku ini." cewek satu lagi, tentu Dini, memuji sembari merangkul Rana ke dekatnya.
"Ya udah, yuk!" Komang kasih komando, sambil lalu jalan duluan diekori dua sohib kentalnya itu.
"Efek rumah kaca, dasar bocil, hari gini percaya aja teori konspirasi." di Istana Kegelapan, Cantik uring-uringan melihat aktivitas Rana di kampus.
"Kamu kenapa sih? Ayah perhatikan, dari kemarin bawaanmu julid aja." Pak Bayang habis heran melihat tabiat anak gadisnya.
"Biasa, Yah, PMS, perlu pelampiasan biar Cantik lupa." 🌹
"Oh, tumbal? Bilang dong." Pak Bayang pun beralih ke sisi belakang Istana. "Cindi!"
"Temani Cantik ke kota! Ilusi Ayah bakal sabotase semua cermin di sana. Jagain dia!" 😈
"Ayah..." walau Cindi manggut, sepertinya Cantik kurang sreg sama ide Pak Bayang barusan.
"Itu kamu mau kan?" 😈
======
Namanya juga cewek, walau mendadak, Rana tampak enjoy hangout bareng dua temannya di mall. Usai capek menyusun naskah seminar, main ke plaza sepertinya bukan opsi buruk untuk refreshing cewek itu kini.
"Capek juga mutar-mutar, udah lama sih nggak ketemu mall gini, saking banyak kerjaan." tukas Rana sembari mengelap keringatnya yang mulai mirip jagung.
"Untung ketemu di perpus tadi." sahut Komang, dengan gaya bicara yang cukup bikin El Pirang geli.
"By the way, ke rest room yuk? Udah full nih pembalut."
"Astaga, Din, kenapa nggak bilang?" Rana tepok jidat melihat Dini malu-malu kucing bicara.
"Ya udah, aku juga mau baikin make up, kotor banget kena keringat." 💛
Mereka pun bergegas, dan mulai pencar seiring pijak kaki menginjak toilet.
"Panas ya, di mall pun masih keringatan."
"Itu udah, Mang, efek negatif rumah kaca, cuaca jadi makin panas." Rana membuang tisu yang ia pakai seka keringat.
"Huh, masih nafas aja udah untung." 💛
Dini pun keluar nggak lama berselang, dan gabung dua bestie-nya yang masih pamer muka di depan cermin.
"Mumpung sepi, selfie yuk!" ajak Dini, sembari ambil ponsel dari tas tangan yang ia pegang.
Mereka pun pose di depan cermin, tapi saat Dini menjepret...
"Pletak..."
Rana dan Komang jelas heran melihat tubuh Dini lenyap. Tapi kala menghadap cermin, kebingungan itu berubah panik lantaran sang kawan ternyata ada di balik cermin dan seolah terkunci mati di sana.
"Din, Din..." Rana dan Komang coba teriak, tapi Dini kayak kedap dan nggak bisa didengar meski tampak berbicara juga.
"Gimana nih, Ran? Kok bisa Dini masuk kaca gitu? Nggak masuk di akal."
"Tenang, Mang, biar kuhubungi beberapa temanku, biasa mereka tau tuh, tiap ada hal-hal janggal gini." 💛
Dengan gesit El Pirang meraih HP, dan menelepon salah satu di antara kawan Riders-nya yang lain.
"Halo, Rein..." 💛
======
Riders langsung kumpul usai mendengar kejadian di mall tadi. Mereka memasang muka serius, dan mendengar kronologi Komang selaku saksi insiden tersebut.
"Benar, Ran, janggal banget nih kasus." Elang langsung beropini begitu Komang tuntas berkisah.
"Mungkin kalau bukan dari kam, kita-kita nggak bakal percaya, Ran, seumur-umur baru ini aku dengar orang masuk kaca." 💙
"Udahlah, seaneh apapun, kasus tetap kasus, harus ditangani profesional." Eran menengahi agar cowok-cowok itu nggak sampai konflik dengan Rana.
"Terus gimanakah nasib temanta' tuh?" 💜
Rana menatap Komang sejenak, dan langsung menjawab begitu tau mental si Bali belum stabil banget.
"Dia terjebak, Rein, suaranya bahkan nggak bisa kita dengar. Gimana lagi?" 💛
"Ini ulah Dinasti Kegelapan deh, kam semua sepakat nggak?" Juna meletakkan analisis ke hidung bebuyutan Riders.
"Bisa jadi, Jun. Ini insiden terlalu janggal dilakuin orang biasa. Pasti ada kekuatan di baliknya." 💚
"Apa kita ke Mahaguru aja kah? Mungkin dia tau yang terjadi." Rein pun meneruskan pakai ide klasik di otaknya.
"Boleh tuh, aku yakin Mahaguru lebih tau." 💙
"Mang, kamu bisa kan ditinggal sendiri? Aku antar pulang ya?" Rana menawarkan diri demi menjamin keselamatan Komang.
"Manteman, duluan aja, entar aku susul." 💛
Rana pun menggamit Komang, bareng meninggalkan Riders yang langsung ke markas utama.
======
Setiba di markas, Rana langsung tancap gas mengekor teman-temannya mencari data. Ditunjang kelengkapan file El Mentor, 5 anak itu berjibaku menuntaskan kasus yang dialami El Pirang.
Tenaga juga bertambah seiring adanya Dewi di sana. Nggak henti El Kuncir jadi penyuplai, dan kasih tiap file pada kakak-kakaknya di misi penyelamatan ini.
"Aneh sekali." celetukan Mahaguru serta-merta memecah fokus para Riders.
"Di mana anehnya, Kek?" 🤍
Mahaguru menyuruh merapat sebelum menjelaskan. "Lihat daftar korbannya!"
"Semuanya wanita, usia belasan, dan menurut data, mereka semua lagi datang bulan." 🧝
"Iya, Dini juga..." Rana segera ingat alasan geng-nya ke toilet.
"Kalau ini ulah geng busuk itu, tujuan mereka apa kira-kira?" Pangeran kembali berpikir mendapati fakta dari El Mentor.
"Mungkin mereka mau di-brainwash, Er, cewek kalau lagi dapat, mereka punya hati biasanya labil, itu momen empuk buat cuci mereka punya otak." 💜
"Nggak perlu andai, anak-anak, realistis aja." Mahaguru menetralisir agar Rein dan Eran berhenti prasangka.
"Rana, pandu teman-temanmu ke mall tadi! Selidiki yang terjadi di sana!" 🧝
El Pirang menurut, dan menuntun Riders menuju lokasi Dini terjebak.
======
ns216.73.216.69da2


