Tujuh hari udah Dewi belajar di sekolah almamater Rana. Beberapa murid telah akrab dengannya, gitu juga para guru yang dijatah ngajar di kelas tuh cewek.
Pagi ini pun, seperti biasa, dihias senyum merekah dari bibir El Kuncir. Dewi lantas berjalan menyusuri koridor, namun karena terlalu pecicilan, anak itu jadi kurang awas dan terjengkang menabrak seseorang dari ruang media. "Aduh."
Sekejap buku berhamburan di sekitar Dewi, tapi saat tuh gadis coba bangkit...
"Maaf ya, aku buru-buru banget, nggak lihat kiri kanan deh."
Seketika Dewi melongo menatap sosok yang tadi ia tabrak. Selain budi baik yang ditunjukkan, paras tuh cowok cukup bikin Dewi deg-degan hingga terpaku dalam duduk beberapa detik.
"Hei, kenapa? Ayo!" saking terpesonanya, Dewi baru sadar saat tuh cowok menegur lagi. "Eh iya."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak, Kak, rok aja sedikit kotor." jawab Dewi sambil menata ulang seragam yang ia pakai.
"Kalau nggak salah, kamu anak baru itu kan?" cowok ganteng itu rupanya tau juga asal usul Dewi.
"Kamu join kelas mana kalau boleh tau?"
"Kelas 1C, Kak." jawab Dewi polos, seraya mengimbangi langkah tuh cowok yang ternyata cukup cepat.
"Oh, tiga ruangan dari sini ya?"
"Iya, Kak, di sana." 🤍
Mereka pun jalan lagi dalam diam, dan saat tiba di ruangan berplang huruf 'C'...
"Oh iya, dari tadi kita belum kenalan." lelaki itu mengulur tangan, sambil fokus menjaga tumpukan buku yang sedang dia bawa.
'Dewi, Kak, Dewi Kurni Awan.' 🤍
"Langit Hardianta Kusuma, ketua OSIS. Panggil aja 'Langit'."
Mulut Dewi jelas kian mangap mendapati jati diri tuh cowok. Tapi bel masuk lantas berdentang, membuyarkan lamunan yang berputar di kepala si kuncir.
"Aku masuk dulu ya, Kak Langit." 🤍
"Oh ya, aku juga mau ke perpus, balikin semua ini."
Mereka pun berpisah, tapi Dewi sempat mencuri pandang ketika cowok bernama Langit itu berlalu.
======
Siang itu, seperti biasa, Rana menjalani tugas pengasuhan dan menjemput Dewi sepulang kuliah, rasa resah mampir ke diri El Pirang, karena setengah jam usai bel, El Kuncir belum kunjung terlihat walau gelombang siswa mulai reda di gerbang almamaternya.
"Tuh anak ke mana sih? Nggak tau orang lapar apa?" sungut Rana sambil menatap terus arloji yang nempel di lengan kirinya.
El Pirang sendiri memilih bertahan dalam kesal, hingga sebuah motor tau-tau hadir persis di titik parkir tuh gadis. "Kak Rana..."
"Kamu dari mana aja sih, Dew? Terus ini siapa?" naluri seorang kakak mendorong Rana menginterogasi Dewi segera.
"Ini Kak Langit, Kak, teman baru Dewi." Dewi pun mengenalkan Rana ke cowok yang memboncengnya.
"Tadi pas Dewi keluar, Kak Langit datang, ajak Dewi pulang bareng, ya udah, Dewi iyain aja, toh Kak Langit orang baik kayak Kakak." 🤍
"Haaaaa?" mata Rana seketika melebar mendengar pengakuan sang adik.
"Jadi Kakak di sini, cuma buat lihat kalian pulang bareng?" 💛
Dewi cuma nyengir menanggapi Rana.
"Astaga, Dew, kok nggak bilang dulu sih? Tau gini kan, Kak Rana bisa langsung ke warung tadi." 💛
"Sorry, Kak, ini juga dadakan." jawaban Dewi bikin Rana elus dada memendam keki.
"Ya udah, kalian hati-hati aja." mata Rana seketika beralih ke Langit yang duduk di sisi depan.
"Jaga adikku baik-baik ya! Awas memang Dewi nangis gara-gara kamu." 💛
"Siap, Ci, aman."
Mereka pun berpisah, tapi tanpa mereka sadari, delapan mata memantau dengan roman julid di wajah masing-masing.
"Bocil itu selalu menyusahkan, kayaknya kita harus culik dia dulu sebelum targetin yang lain." 😈
"Gimana caranya, Yah? Dia selalu dijagain lho selama ini." Aji jelas bingung sama usul dari Pak Bayang.
"Itu bukan pertanyaan cerdas, Aji, kalau kamu tau kemauan Ayah, artinya Ayah tau yang harus kita lakukan." 😈
Cindi dan Cantik kontan beriring mata sebagai respon pertanyaan Aji tadi.
"Sini kalian!" Pak Bayang mengumpulkan mereka, dan langsung berbisik mendalami ide singkat Beliau barusan.
"Boleh, Yah, Cindi bisa kayaknya." Cindi tampak sumringah dan menawar diri ke Pak Bayang.
"No, Cindi, biar Cantik yang kerjain, kamu stay di sini, temani Ayah." 😈
Mata Pak Bayang lalu berpaling menatap Imaji.
"Siapin monster! Begitu itu bocil kena, dia yang akan beresin semua." 😈
"Siap, Yah, aman."🥊
======
Mungkin ini pertama kali Dewi dekat sama pria di luar Mahaguru dan Riders. Namun entah angin apa yang menusuk, El Kuncir kayak nyaman banget dibonceng dan nggak sungkan merapat ke cowok berwajah bayi tersebut.
Dua sejoli itu pun menikmati momen sepanjang jalan, tapi sayang seribu sayang, sejumlah makhluk usil tiba-tiba muncul tanpa permisi mencegat mereka berdua.
"Halo, bocil." dengan lagak tengil, Cantik sok yes menyapa dari sisi seberang jalan.
"Mereka siapa, Dew?" gampang ditebak, Langit pucat melihat situasi di luar nalar ini.
"Yang jelas orang jahat, Kak, biar Dewi hadapin dulu." kontras sama Langit, Dewi pede turun membawa kuda-kuda capo andalannya.
Solo versus squad rupanya bukan rintang yang menghambat Dewi unjuk kebolehan. Duel sendiri disaksikan Langit kagum, di mana dia betul-betul nggak sangka Dewi bisa akrobat di balik badan mungilnya itu.
"Kak Langit..." Dewi jelas kaget melihat Langit ikut membantunya. Makan gengsi juga tuh cowok.
Namun kaget itu hanya sesaat, dan Dewi kembali fokus menghadapi pasukan kuyuk yang jadi lawannya.
"Hiyaaa..." entah menguntit atau sekedar searah, Rana tau-tau muncul dan segera unjuk skill tendangan taekwondo yang mematikan.
"Kalian, cepat lari!" 💛
"Tapi, Kak..." 🤍
"CEPAT!!!" Rana menyentak melihat Dewi ngeyel nggak mau patuh.
Dewi pun melesat, tapi kemudian...
"Tangkap dia!" titah Cantik, yang jelas direspon oleh para kuyuk yang ia bawa.
"Dewi, awas!" Langit yang melihat auto bergerak, dan menubruk Dewi walau jadi dia yang terkena jebakan.
"Dewi, akh..." Rana yang pecah fokus, harus rela tersungkur menerima serangan balik salah satu kuyuk.
Dewi sendiri coba menyelamatkan Langit, tapi Rana gercep menahan sikap cewek petite tersebut.
"Salah sasaran lagi kita," Cantik tampak kecewa, tapi nggak terlalu sedih sama tangkapan anjing-anjing binaannya.
"Udahlah, kita bawa aja, toh yang penting ada hasil buat dikasih Ayah." 🌹
Rana sendiri erat mendekap Dewi, dan tetap bergeming walau El Kuncir kini terus memukulinya.
======
Pak Bayang hanya menatap datar ketika Cantik datang menghadap. Entah kecewa atau nggak, yang jelas ekspresinya sulit diterka mendapati anak gadisnya salah ambil korban kali ini.
"Maaf, Yah, tapi tadi..." 🌹
"Nggak perlu, Nona Kecil, Ayah ada plan B." Pak Bayang langsung menyela, sambil lalu mencari lagi salah satu anak Beliau yang lain.
"Cindi!" 😈
"Siapin alat di belakang! Dan ingatkan Aji soal monster itu! Ayah mau umpanin dia biar bocil putih itu menyerah tanpa syarat." 😈
Tanpa banyak kata, Cindi langsung jalan menemui Aji di belakang. Pak Bayang sendiri kembali ke Cantik, sembari agak menyipit mengintimidasi Langit yang udah nggak berdaya.
"Bawa dia ke belakang! Kita pesta malam ini." 😈
Cantik pun mengomando para kuyuk, tanpa peduli Langit yang meronta minta dilepasin.
Jeritan itu kurang lebih yang terjadi di markas Mahaguru Dewa. Dewi masih tantrum, walau kini telah ditenangkan oleh dua Riders wanita di sana.
Eran, Elang, serta Juna hanya terpaku menatap, tapi di balik diamnya, mereka tetap cari solusi untuk merebut Langit dari musuh utama mereka.
"Dari cerita Rana, aku rasa ini lain target Dinasti Kegelapan deh, Manteman, justru Dewi sasaran asli mereka kelihatannya." Juna buka opini usai Riders lama dalam diam.
"Aku juga mikir gitu, Jun, tapi jika benar pun, untuk apa mereka culik Dewi? Apa karena...?" Elang sepakat, namun disertai catatan.
"Apapun alasannya ini bukan sekedar main, Manteman, ini jelas tantangan terbuka, mereka incar Dewi, artinya siap urusan sama kakak-kakaknya." ❤️
"Aku senang pola pikirmu, Er, siapapun yang bikin cucuku nangis, dia harus terima akibatnya." Mahaguru Dewa bicara dengan gigi gemeretak, tanda benar-benar murka kali ini.
"Cari mereka segera!" 🧝
***
ns216.73.216.69da2


