Persis perkiraan Eran, Putri kontan banting pintu sesampainya di rumah. Eran paham mood sang pacar udah kayak tuh pintu, lantaran keputusannya balik kanan tepat saat tiket udah di tangan.
Perjalanan pun ditempuh El Klimis demi mencapai markas. Tapi saat tiba di sana...
"Kak Eran gimana sih?Kita semua cariin Kakak tau, dari tadi." 🤍
"Enak kalinya kau bentak-bentak Kakak. Udah hebat kau?" Eran yang masih kalut spontan melampiaskan emosi dan balik melabrak Dewi.
"Nggak perlu sok jago di depan cucuku, Eran, dia berbuat hal yang benar." walau masih sakit kepala, Mahaguru menegur ulang Eran yang tampak keluar jalur.
"Aku tau yang kamu lakuin akhir-akhir ini, tapi itu bisa nanti kita urus. Sekarang ada yang lebih penting." 🧝
Mahaguru lantas beralih, yang segera diikuti El Klimis sambil melihat portal lebih dekat.
"Mahaguru, apa maksudnya ini?" ❤️
"Kakak nggak lihat warna-warni cangkir itu? Dan Kakak nggak sadar, di sini nggak ada siapa-siapa selain kita?" bukan sang Mahaguru, tapi Dewi yang jawab walau nadanya masih bersungut.
"J-jadi?" Eran bergilir menatap dua orang di depannya.
"Benar, cangkir itu adalah rekan-rekanmu, mereka disihir monster Dinasti Kegelapan. Cuma kamu dan Dewi yang bisa selamatin mereka." 🧝
Eran pun melirik Dewi, tapi yang ia dapat malah...
"Dewi nggak suka cowok nggak setia." 🤍
"Bah, kau ini..." ❤️
"Pangeran." Mahaguru menegur El Klimis lagi, bikin dia tanpa pilihan kecuali pergi walau masih geram.
Insting Pangeran membawanya ke bukit angker batas kota. Feeling lelaki itu cukup kuat, karena selama ini Dinasti Kegelapan selalu di sana tiap berhasil bawa korban dari kota.
Benar aja, begitu sampai, Eran berjumpa Dinasti Kegelapan santai bareng di puncak bukit. Nggak jelas yang mereka lakukan, tapi yang pasti ini bukan bercanda karena si merah benar-benar sendiri tanpa back up siapapun di situ.
"Hey." pekikan Eran sampai menggaung di kuping Pak Bayang dan 3 anaknya.
"Lepasin kawan-kawanku!" ❤️
"Kalian undang bocil itu ya?" nggak tau sarkas atau benar kaget, Pak Bayang bertanya sambil menggenggam 'Elang' di tangan.
Mereka pun bangkit serempak, dan langsung memandang Eran yang menanti dengan pedang di bawah.
"Apa sih, Ganteng? Nggak usah teriak gitu lah, kita nggak bolot kok." dengan genit, Cantik merayu Eran yang masih menatap geng-nya.
"Nggak perlu sok imut, lepas aja teman-temanku!" ❤️
"Ini maksudmu?" ujar Cantik sembari mengelus 'Rana' di genggamannya. "Boleh, tapi..."
Cantik lantas berbalik, dan sekejap putar arah melempar teko yang menyihir Riders tadi.
Insting Eran seketika bereaksi, bahwa tuh teko bukan makhluk biasa. Duel one on one pun terjadi, yang malangnya justru didominasi si monster hingga bikin Eran terkapar jatuh.
"Ternyata kamu cuma debu kalau sendiri gini, gampang banget diombang-ambing." Cantik meledek sinis melihat Eran nggak berdaya di depan kreatur binaan gengnya. "Teko..."
"Cantik," Pak Bayang tau-tau mencegah dan tukar posisi sama Cantik. "Tahan!"
"Bocil, lihat ini! rekan-rekanmu sekarang rentan, rapuh, kita lempar aja ke bawah, mereka jelas pecah dan mati gitu aja." 😈
Eran jelas tersinggung dihujani ejekan Dinasti Kegelapan. Namun kondisi lemah yang dia derita, menghambatnya ambil perhitungan untuk penghinaan mereka barusan.
"Atau kamu ingin melihat langsung? Bisa." 😈
Pak Bayang pun mengangkat tinggi 'Elang', tapi kemudian...
"Ayah," bisa dimaklumi Cindi panik, kalau sampai 'Elang' jatuh, artinya dia juga bakal kehilangan crush dalam waktu sama.
"Ada apa?" 😈
"Nggak, Yah, nggak jadi." Cindi pun urung, dan pura-pura mengangkat 'Rein' walau berharap sang ayah berubah pikiran.
"NOOOOO!!!" ❤️
======
Pangeran hanya bisa pasrah, tapi belum sempat menyentuh tanah, secara ajaib cangkir-cangkir itu melayang seakan diangkat semacam invisible power.
Semua pihak jelas kaget sama peristiwa di luar nalar itu. Eran sendiri mengikuti arah cangkir, dan akhirnya paham semua hadir dari telekinesis yang Dewi gunakan.
Si putih pun langsung menyerang, yang bikin teko itu oleng oleh tendangan putar tuh cewek.
"Kak Eran nggak apa-apa?" tanya Dewi sambil pelan-pelan membantu si merah memapankan badan.
"Dewi minta maaf, Kak, bikin Kakak marah tadi." 🤍
"Ayo, Teko, beresin mereka!" lagi-lagi Cantik menyemangati tanpa lihat kondisi.
"Tenang, Kak,, Dewi turunin awan dulu buat bantu Kakak." 🤍
Dewi pun mengaktifkan kekuatannya, hingga sekejap mendung gelayut menutup seluruh langit di tempat itu.
Tuh mendung diiringi beberapa kali petir, dan salah satunya tertimpa mata pedang Eran. Unsur api pun turut aktif, dan sekali tebas, sang monster pun tamat di ujung senjata milik tuh cowok.
"Pesta kecilku." Pak Bayang yang shock seketika terduduk dan dipegangi anak-anaknya saat lenyap.
Matinya monster pun mengembalikan Elang, Rana, Rein, serta Juna, ke wujud semula. Namun di sisi lain, Eran yang ikut balik mendadak sesenggukan kayak ada penyesalan tumpah di hatinya.
"Kak Eran..." bingung juga Dewi memilih prioritas pertolongannya.
"Ya udah, Kakak semua Dewi antar ke markas ya, biar Kakek yang obatin." 🤍
Volt Riders pun lenyap, diantar Dewi ke markas utama milik kakeknya.
======
Elang, Rana, Rein, serta Juna, memasuki florist dekat rumah El Pirang. Mereka kompak mengantar Eran, usai mengetahui tuh cowok lagi perlu ditolongin soal kisah kasihnya yang bergejolak.
Kehadiran mereka sendiri dapat atensi dari semua orang. Sebab selain El Klimis, badan para Riders habis diperban dampak luka bakar mereka kemarin.
"Mawar dua, eh, tiga tangkai lah." tukas Eran, begitu ketemu mawar merah yang ia target.
"Ededeh, jangan pelit kodong, beli bunga 3 tangkai, ki niat minta maaf kah nggak?" sambil mengelus perban di kelopak mata, Rein geleng-geleng mendapati Eran terlalu sayang uang.
"Sebuket, Bang, aww..." Elang coba bantu, namun sakit sendiri akibat luka di bibirnya tergerak.
"Tapi, Manteman..." ❤️
"Kenapa? Budget kam kurang?" giliran Juna menegur keraguan Eran.
"Er, jadi cowok tuh modal dikit, kam kan lagi berjuang untuk orang yang kam cinta, harus berani keluar dong." 💙
"Juna benar tuh, apalagi kesalahanmu fatal banget, jelas harus effort gede kalau mau hubunganmu selamat." 💛
Riders lantas keluar dari florist, dengan Eran memegang buket jalan dikelilingi 4 temannya.
"Mana kunci? Biar aku yang nyetir." Rana menagih kunci mobil saat mereka tiba di parkiran.
"Sekarang kita ke salon langgananku, kamu harus dipermak biar nanti malam bisa fresh minta maaf ke pacarmu." 💛
"Kirana, apa ini nggak terlalu berlebihan? Lagian tangan kau kan..." ❤️
"Ededeh, jangan ki anggap remeh." Rein mewakili Rana menjawab Eran.
"Cewek itu hatinya dulu diambil, kalau nyaman kesan pertama, apapun omong ki pasti bakal diterima, percaya dulu kita." 💜
"Jun, Lang, jaga pangeran kita di tengah ya!' Rana pun bagi tugas tanpa melayani lebih keluhan Eran.
"Rein, temani aku di depan, oke?" 💛
"Siap, Bos, adaw..." jawab Rein cepat, tapi lalu bikin ia menjerit akibat gestur hormat yang nggak sengaja kena pelipisnya.
***
ns216.73.216.69da2


