"Gila kamu, kelewatan banget." nggak ada angin nggak ada hujan, Cantik ngomel ke Cindi pagi itu.
"Untung Ayah masih kurang sehat, jadi nggak sempat lihat kelakuan konyolmu." 🌹
"Salahku apa sih, Tik? Memang nggak boleh ungkap isi hati sendiri?" Cindi protes menghadapi cerocosan Cantik hari ini.
"Waktunya nggak pas, Cindi." gigi Cantik sampai gemeretak saking Cindi ngeyel. "Kamu apa nggak punya misi lain selain itu? Ingat, di sini bukan buat lebay-lebay cari cowok. It's all about do or die."
"Pantas cowok lari dari kamu, kamu kaku gitu." gumam Cindi auto bikin Cantik emosi dan agresif seketika ke tuh cewek.
"Ngomong apa kamu? Coba ulang!" 🌹
"Ada apa?" Pak Bayang muncul menyetop Cantik dan Cindi. Sang bos terlihat agak beda, karena kini dibalut syal dan nggak pakai fedora seperti biasa.
"Cindi, mana kopi Ayah?" 😈
"Tapi Ayah kan..." 👠
"Ayah udah sehat, Cindi, kamu nggak lihat jalan Ayah waras tadi?" sela Pak Bayang tegas, yang tentu bikin Cindi nggak punya pilihan selain menuruti perintah Beliau.
"Nona Kecil, mana Aji?" Pak Bayang pun beralih sepeninggal Cindi yang masuk ke dapur.
"Biasa yah, melukis di kamarnya." Cantik sekedarnya menjawab pertanyaan Pak Bayang.
"Panggil! Ayah mau bicara." 😈
"AJIIIIIIIIIIIIIIII, DIPANGGIL NIIIIIIH." teriak Cantik, dan berhadiah tongkat Pak Bayang yang bikin dia menjerit segera.
"Sejak kapan Ayah ajarin kamu panggil orang kayak gitu? Datangi kamarnya!" 😈
Cantik pun nggak bisa ngomong, dan langsung melangkah walau kini sambil terpincang-pincang.
======
Motor merah sedang parkir di sebuah sekolah basis vokasi. Di atasnya, Eran tampak santai sambil sesekali lihat arloji seolah lagi menanti seseorang di sana.
Eran sendiri tampak beda siang itu. Penampilan yang biasa klimis, kini dibuat agak casual oleh style undercut di kepala.
Di tangan kanan Eran pun, sebuah sisir nangkring menemani kunci motor di sisi kiri. Tapi wangi dari sekujur badan, jadi tanda besar kalau tuh cowok lagi menanti sosok istimewa saat ini.
"Kriiiiiiiiiing..." suara bel sekolah disambut senyum dari wajah kotak tegas Eran. El Klimis lalu mengubah posisi duduk, sambil melirik ke gerbang kayak mencari orang di antara para siswi yang terhambur.
"Bang Eran..." seorang cewek berhijab melambai sembari berlari menghampiri El Klimis.
"Putri, butet." tanpa basa-basi, Pangeran langsung nyosor ke dahi cewek bernama Putri itu.
"Gimana sekolah kau? Baik-baik aja kan?" ❤️
"Alhamdulillah, Bang,." balas Putri nggak lama usai kepalanya bebas dari Eran.
"Nggak ada yang bully kau kan? Bilang kalau ada, Abang ratain entar." ❤️
Putri menggeleng, dan segera duduk di jok usai dipasangin Eran helm.
Dua sejoli itu lantas melintas memakai motor yang dikendarai Eran. Entah apa hubungan mereka sebenarnya, tapi dari pelukan si cewek, sepertinya mereka lagi hangat sebagai kekasih yang baru jadian.
"Bang Eran..." walau udah memekik, Putri hanya dapat respon 'hmm' karena Eran fokus setir motor.
"Nanti malam jadi kan Deadpool-nya?"
"Tenang, Sayang, jadi kita." kali ini Eran memberi respon lebih panjang.
"Tapi sabar ya! Ada tugas harus Abang beresin. Mungkin sekitar jam 8 baru Bang Eran bisa jemput." ❤️
Mereka pun saling diam di bawah deru mesin, tapi peluk Putri yang tambah rapat, menunjukkan banget keduanya tengah menyatu dalam iringan angin sore itu.
"Putri tunggu lho, Bang, awas ya nggak datang." tandas Putri sesaat usai mereka tiba di depan pagar.
"Siap, Butetku." saking gemasnya, Eran kembali nyosor untuk yang kedua kali.
"Abang ngampus dulu! Ada matkul harus Abang ikuti." Eran pun berbalik, dan melaju diiringi tangan Putri yang melepasnya.
======
"Aji tau." sebetulnya nggak ada masalah dengan ucapan Aji. Namun lantaran dia terlalu bersorak, Pak Bayang jadi kaget dan keselek kopi yang Beliau seruput.
"Kamu bikin kaget aja. Untung jantung Ayah kuat." tukas Pak Bayang usai batuk Beliau mereda.
"Sorry, Yah, terlalu semangat."🥊
"Memang apa sih, yang mau kamu bikin?" usai bantu meredakan batuk Pak Bayang, Cantik balik menanyai Imaji dengan nada galak.
Dasar bebal, alih-alih menjawab Cantik, Aji justru ambil jarak dan berlagak bak fotografer mengeker jemari ke arah Pak Bayang. "Oke, Pas."
"Apa sih, Ji? Nggak jelas kamu tuh." Cindi ikut heran sama tingkah random adiknya kini.
"Hehe, lihat aja, Mbak." Aji menggerakkan kuas, kemudian...
"Gimana sih Eran? Dihubungi nggak bisa-bisa." 💚
"Tau, Lang, biasanya lho tuh anak paling disiplin di antara kita." Rana mengafirmasi Elang, yang ngomel dengan absensi tanpa alasan Eran.
"Udah ketahuan belum, Kek, posisi Kak Eran? Dewi khawatir juga nih, lihat semua kakak Dewi khawatir." Dewi mewakili aspirasi para Riders hari ini.
"Nihil, dia larut sama dunianya." jawaban Mahaguru jelas bikin Riders hembus nafas berjama'ah.
Hopeless itu kian menguat, karena nggak lama sirene bunyi diikuti migrain El Mentor yang kumat.
"Ededeh, apalagi kekacauan nih?" 💜
"Dewi, kamu di sini dulu! Temani sampai migrain Kakek reda." sembari menahan sakit, Mahaguru tetap kasih instruksi pada kelima Riders di depannya.
"Dan kalian, ambil tindakan ke kota!" 🧝
Volt Riders pun sigap, dan menuju kota menunaikan tugas superhero mereka.
======
Elang, Rein, Rana, dan Juna sukses melacak Dinasti Kegelapan. Tapi mereka dibikin kaget, lantaran di sana hanya ada Cantik yang minum teh sambil duduk di sebuah kursi besi.
"Apalagi, Bocil? Aku nggak bikin apa-apa lho." seperti biasa, Cantik kayak nggak ada dosa menyapa Riders yang mengepung ia.
"Katakan, apa kam rencanakan hari ini!" Juna kontan nggak percaya dan menuding musuh beratnya itu.
"Rencana apa? Kalian lihat sendiri, aku cuma minum teh." Cantik bahkan sruput tehnya demi membuktikan ke para Riders.
"Atau kalian mau nge-teh bareng aku mungkin?" 🌹
"Ededeh, ki punya muka tebal juga ya, ki kira kita bodoh kah, percaya gitu aja orang licik macam ki." sambung Rein, menerusi sikap yang telah dibentuk Juna.
"Ya udah, kalian yang minta!" Cantik memetik jari, yang disusul kemunculan kuyuk berhamburan mengepung Riders.
"Oke, Manteman, waktunya!" Rana gercep ambil sikap, dan transformasi bareng tiga Riders lain di sana.
Pertempuran berlangsung sengit, meski hanya sekejap mengingat skill para Riders yang jomplang dengan muka-muka anjing itu.
"Lihat sendiri kan? Kalian menang, semua selesai." alih-alih ngamuk, Cantik malah terlihat tenang menikmati teh di cangkir tanahnya.
"Kita bukan orang tolol, Non, kita tau rencana di balik wajah genitmu." 💚
"Hihihi, hebat, harusnya kamu jadi analis olimpiade Paris kemarin." Cantik melontar teko di dekatnya, dan auto memunculkan monster yang face to face dengan Riders seketika.
Nggak ada pilihan buat Riders. Berbekal senjata di tangan, mereka bahu-membahu menghadapi monster berbahan baja itu.
Sayangnya tuh monster terlalu kuat di hadapan mereka. Panah Juna dan perisai Rana terhempas, sementara nunchaku Elang dan palu Rein, terlepas mudah tanpa cedera apapun di tubuh sang monster.
"Boleh juga." tuh teko sarkas mencibir serangan yang mampir ke tubuhnya.
"Sekarang giliranku!" nggak pakai lama, hidung tuh kreatur serta-merta lepas dan menghantam Riders hingga balik ke mode manusia.
"Seandainya Eran di sini." ucap Juna, di tengah rasa sakit yang menimpa Riders.
"Waktunya pesta." sang monster lantas menghembus uap dari mulut, yang serta-merta menjebak Riders dalam bentuk cangkir usai tuh uap menghilang.
Sementara di sudut lain kota, Eran asyik menikmati kencan pertamanya bareng Putri. Mereka kini di depan pintu theater, membaur dengan yang lain antri selembar tiket untuk masuk sana.
Eran sendiri memilih di belakang Putri guna melindunginya dari kerumunan. Tapi kala mereka telah dekat loket, korek Eran tiba-tiba memercik dan bikin dia dilema dengan kondisinya sendiri.
"Putri." akhirnya Pangeran mengambil sikap dan mencolek pelan bahu Putri.
"Tunggu sini ya! Abang mau ke toilet dulu sebentar." ❤️
Eran pun lari tanpa tunggu jawaban, dan merespon usai merasa aman di balik bilik kloset.
"Ke mana aja kamu?" walau datar, jelas aura tegas terpancar di wajah Mahaguru.
"Segera ke markas! Semua mencarimu." 🧝
"Mahaguru, tunggu..." Eran coba debat, tapi langsung dipotong perginya El Mentor dari mata tuh cowok.
Kebimbangan menggelayut bikin El Klimis terpaku beberapa detik. Beruntung cowok itu tetap pada rel, hingga ia pun kembali walau tau resiko yang bakal dihadapinya sebagai lelaki.
***
ns216.73.216.69da2


