Riders lari menghampiri pusat kekacauan. Tapi setiba di sana, lagi-lagi Elang dibuat kaget oleh coretan bertuliskan namanya yang disertai tanda-tanda hati alay.
"Apa sih ini?" Elang yang nggak tahan, kontan teriak melempar muak yang udah menggunung.
"Keluar kamu! Hadapi aku secara gentle!" 💚
Sayangnya bukan jawaban Elang terima, melainkan satu serangan monster falcon yang hanya fokus ke kawan-kawannya.
"Manteman..." Elang sontak mendekat, sembari memandang marah pada kreatur terbang di atas mereka.
"Monster busuk, bilang ke aku siapa yang suruh kamu. Pengecut!" 💚
"Hai, Sayang..." suara centil terdengar mendadak dari belakang telinga Riders.
Elang pun kilat berbalik, tapi yang ia lihat justru jauh dari ekspektasi.
"Kamu...?" 💚
"Iya, aku yang bikin semua ini." Cindi yang kini di depan Riders, blak-blakan mengaku sosok di balik vandal kota.
"Aku juga yang kirim surat-surat kaleng itu ke kamu, dan aku juga yang coret-coret ruang kerja Ayahmu kemarin." 👠
"Apa maksudmu? Kamu pikir keren bikin gitu? Norak tau, lebay." saking malu, Elang jadi emosi dan membentak Cindi tanpa tedeng aling-aling.
"Biarin, yang penting kamu tau aku cinta kamu. Pengin kamu jadi pacarku." 👠
Jika Riders lain aja kaget, gimana Elang selaku objek langsung Cindi?
"Udah, Lang, nggak perlu kau layani, ada monster yang harus kita bantai." Eran yang udah bangkit, mengingatkan Elang ke misi utama mereka.
Riders pun menata kuda-kuda, tapi sinar mata si falcon memberantakkan itu dalam waktu singkat.
======
Jantung kota jadi lokasi duel Riders dan si monster Falcon. Kekuatan tuh monster terlihat biasa, tapi wingwork luwes, bikin Riders kesulitan dan tumbang satu-satu oleh jurus yang nggak tertebak.
"Cukup mainnya, falcon! Saatnya serius." Cindi seketika berkode, dan ditangkap si monster dengan kepak sayap ke udara.
Para Riders hanya bisa memantau, tapi tiba-tiba sebuah jaring jatuh mengurung Rein, Eran, Dewi, Juna, serta Rana dalam satu paket.
"Manteman," jerit Elang kaget, sambil lalu memandang Cindi lebih dingin dari biasa.
"Jangan jadi pengecut, lepasin teman-temanku!" 💚
"Boleh, pilihanmu 2, terima cintaku, atau kalahin monsterku itu." 👠
Elang memandang bimbang, tapi laser si falcon seketika membulatkan tekadnya.
"Nggak, itu bukan pilihan." 💚
Si hijau pun membangkitkan roh elang miliknya, dan menyusul si falcon memulai pertempuran langit mereka.
Adu sayap berlangsung dengan tensi tinggi. Elang yang mengandalkan power burung elang, diimbangi si monster yang punya speed tinggi dan lebih lincah.
"Elang, hati-hati ji." dari balik jejaring, Rein mengingatkan Elang yang masih di udara.
Si hijau pun mengeluarkan nunchaku untuk mengimbangi kecepatan sang lawan. Sembari terus mengawasi gerak-gerik si falcon, senjata itu juga buat baca angin demi menebak langkah si monster lebih mudah.
Perlahan Elang mencari sayap si falcon, dan sepersekian detik...
"Hup..." 💚
Semua yang di darat takjub pada tarung langit epik itu. Elang berhitung cermat, dan sukses mematahkan lawan lewat sabetan nunchaku-nya.
"Kena kan? Makanya nggak usah sok." 💚
Si hijau pun mengulur nunchaku, dan mencekik tanpa basa-basi hingga falcon kehilangan oksigen.
"Udah, Lang, kau babat aja! Nggak perlu banyak cengkune'." Eran yang nggak sabar, menyuruh Elang segera mengakhiri duel.
Elang pun bertindak, dan langsung membanting monster hingga kehilangan nyawa seketika itu juga.
Kematian si falcon auto membebaskan Riders dari jaring. Namun Elang tampak cuek, dan memilih adu tatap dengan Cindi di sisi berlawanan.
'"Aku harus milikimu."*) bisik Cindi lirih, sembari lenyap dari mata Riders di sana.
======
Riders gotong-royong membersihkan sisa ulah Dinasti Kegelapan. Walau nggak diminta secara formal, mereka sukarela tanggung jawab dan ikut ketentuan sosial di masyarakat.
Bersih-bersih diawali dari membereskan ruang kerja Papi Elang. Bagi tugas pun dilakoni, di mana cowok membersihkan dinding, dan para gadis dijatah lantai yang memang lumayan kotor hingga butuh penanganan agak lebih.
"Lang, kalau dipikir lagi nih, ada baiknya kamu pertimbangkan deh, cinta mbak-mbak itu." seraya menyapu sisi kiri, Rana buka lagi topik soal surat kaleng kemarin.
"Betul, Ito, kenapa masih ragu? Toh kita udah tau yang naksir kawan kita ini kan?" Eran yang fokus di sebelah El Pirang, jadi kebawa dan ngompor opini Rana tersebut.
"Kalian tuh apaan sih?" Elang tentu risih Eran dan Rana terus menggodanya.
"Sama yang waras aja aku mikir, apalagi yang gendeng kayak dia." 💚
"Ededeh, jang ki gitu kodong." Rein ikut nimbrung menegur Elang yang dia anggap idealis.
"Kalau cewek nembak duluan, itu tanda dia ugal-ugalan ke ki. Ki harus bersyukur tuh." 💜
"Bujur Genduk kam nih, Lang, mestinya terima aja pernyataan cinta kemarin. Jarang ada binian seberani itu. Aku aja pengin." Juna makin menambah beban di bahu Elang.
"Kalau gitu kamu aja, Jun, yang pacarin, aku sih emoh." 💚
"Apa ini pacaran-pacaran? Siapa punya pacar?" Papi Elang tau-tau masuk seolah tengah menyidak para Riders.
"Nggak, Om, nggak ada yang punya kok." sahut Rana sambil meneruskan sapuan yang belum kelar.
"Tapi kemarin, salah satu dari kita baru dapat pernyataan cinta dari fans, ya kan, Manteman?" 💛
"Ha? Siapa?" alih-alih menjawab, Riders kompak mengarahkan mata mereka ke Elang.
"Ng-nggak, Pi, Elang nolak kok. Nggak respon ke dia." sadar lagi disorot, Elang menepis gosip bikinan rekan-rekannya itu.
"Haduh, Lang, berapa kali sih Papi bilang, Papi setuju aja koen pacaran. Koen kok kayak takut Papi larang?"
"Elang memang nggak suka, mosok harus dipaksa?" protes Elang bikin Papinya memilih ganti ke topik obrolan lain.
"Ya udah, barusan Om di-bel manajemen, kata mereka, urusan ini nggak perlu kalian. handle, mereka udah bel divisi kebersihan untuk ini."
"Serius, Om?" Eran agak lega mendengar pernyataan Papi Elang itu.
"Lha iya, kamu mau kerjakan sampai tuntas?" Papi Elang sampai tanya balik saking bingung dipertanyakan Eran.
"Nggak apa-apa sih, Om sisa bel ulang divisi kebersihan aja, minta mereka batal datang."
"Astaga, Er, ki nih." Rein merespon dengan gelengan.
"Nggak lah, Om, justru kami senang Om bantu kami, kami masih punya tanggung jawab lagi di kota." ❤️
"Ya udah, kalau gitu ke sana aja!" Papi Elang lalu buka dompet, dan menyodor empat lembaran pink ke Eran, Juna, Rana, serta Rein. "Buat bensin."
"Elang, Pi?" 💚
"Halah, jomblo kok minta lebihan." tukas Papi Elang, yang seketika memantik gelak empat Riders lainnya.
***
*) Risalah Hati (Vocal : DEWA 19, Composer : Ahmad Dhani, 2000)
ns216.73.216.69da2


