Cantik dan Cindi berdebat kecil di kamar belakang. Entah apa bahan perselisihan mereka, yang jelas Cantik ngowoh dengan statement yang dikeluarkan Cindi.
"Kamu bercanda kan, Cin?" 🌹
'Nggak, Tik, serius, kamu nggak lihat, dia gagah begitu? Mana vibes berwibawa lagi, benar-benar green flag deh." entah siapa yang bikin Cindi lebay di depan Cantik.
"Tapi dia kan musuh kita? Ayah bakalan marah besar kalau..." 🌹
"Kalau apa? Namanya cinta tuh nggak bisa diatur. Makanya sekali-kali pacaran dong, biar paham apa itu cinta." 👠
Cantik mingkem disengat lidah Cindi. Iya sih, seumur hidup Cantik belum sekalipun pacaran. Dekat sama cowok aja jarang.
"Cin, kamu dikasitau kok. Lagian dia tuh bocil, kamu berharap apa dari mahasiswa kayak dia?" 🌹
"Jangan lihat sekarang, Tik, masa depan dong, habis lulus nanti, pasti dia kerjanya mapan. Wajahnya lho karisma gitu." Cindi tetap membela prinsipnya.
"Kalian di sini tho," suara Aji serta-merta bikin dua cewek itu berpaling.
"Ngapain sih?" 🥊
"Dih, kepo," seperti biasa, Cantik sinis merespon pertanyaan El Otot. "ini urusan cewek! Cowok nggak diajak."
"Selalu aja," Aji hanya mendengus usai dijuteki yang kesekian kali. "kalian dicari Ayah tuh, disuruh ke kamarnya."
"Buat apa?" Cindi menyipit kebawa heran.
"Tau," ujar Aji, sambil mengangkat bahu di depan kedua kakak perempuannya.
"Aji mau nge-gym dulu, udah lama nggak keringatan. Duluan ya!" 🥊
Aji pun berlalu, meninggalkan teka-teki bagi Cantik dan Cindi di dalam.
======
"Pakeeeeeet..." teriakan kurir bergema di depan rumah Elang. Si pemilik rumah pun keluar, tapi dari wajah, kelihatan banget tuh cowok bad mood melayani kurir di depannya itu.
"Saya sendiri Elang, PO lagi kan? Mana pulpen, sini saya tanda tangan." 💚
Walau heran, si kurir tetap profesional dan melakukan SOP kayak Elang bilang.
Si kurir pun pamit, meninggalkan Elang dengan keheranan dalam hatinya.
"Siapa sih nih? Bikin parno orang aja, dasar psikopat." sungut Elang, sembari membuang paket yang baru ia terima.
Wajar El Gondrong bingung, dalam tiga hari, belasan paket hilir mudik mendatangi rumahnya. Kiriman pun selalu PO orang nggak dikenal, dan berisi aneka surat aneh bertulis puisi romantis tapi dengan bahasa yang nggak jelas.
Dirinya pun masuk, namun belum sempat tutup pintu, cowok itu dikagetkan lagi oleh deru mobil yang parkir gitu aja di gerbang rumahnya.
"Elang, ikut Papi!"
"Ke mana, Pi?" bukannya dijawab, Elang justru menerima jewer dan digeret tanpa ampun ke mobil. "MELU POKOK'E!!!"
Kuping Elang pun kembali jadi sasaran saat keduanya tiba di kantor Papi Elang. Dan begitu masuk salah satu ruangan, El Gondrong tambah kaget melihat banyak coretan memenuhi dinding tuh ruangan.
"jelasin, apa maksudnya ini?!"
"Nggak tau, Pi, ini bukan kerjaan Elang." Elang jelas membela diri agar sang Papi berhenti mencak-mencak.
"Terus siapa? Iki lho namamu." Papi Elang nggak mau kalah dengan anak bujangnya itu.
"Demi Tuhan, Pi, bukan Elang, coba Papi lihat, Papi yakin tulisan Elang serapi itu?" 💚
Papi Elang kontan diam. Anaknya benar, tulisan itu menyatakan dia bukan pelaku corat-coret konyol ini.
"Terus siapa dong, Lang? Papi iso kena sanksi nih, nek manajemen tau."
"Mbuh, Pi, Elang sendiri mumet, sering dapat paket asing belakangan ini." 💚
"Paket opo? Koen belanja online?"
Elang pun cerita situasinya, dan bikin si Papi berkesimpulan soal perusakan yang lagi terjadi.
"Jangan-jangan, kancamu yang hijab itu tuh pelakunya? Siapa namanya? Irin ya?"
"Rein maksud Papi? Nggak, Pi, Elang yakin." Elang menampik ucapan berbau tuduhan sang Papi.
"Elang tau Rein, Pi, sekalipun memang dia suka Elang, nggak mungkin lebay gini, tuh anak pemalu banget." 💚
"Terus siapa dong?"
Rambut Elang makin brekele digaruk tuh anak.
======
"Nih." Elang langsung memperlihatkan suvenir yang dia dapat di depan Riders. mereka kini udah kumpul di tongkrongan, diiringi kepo tentang vandalisme di kantor Papi Elang. "Lihat aja!" 💚
Riders pun membaca surat yang mereka genggam, namun kemudian nyengir saat tau yang tertulis di lembar pink tersebut.
"Ededeh, romantis ji bahasanya." 💜
"Iya, Lang, aku yang cewek aja melting lho." 💛
"Elang tambah kecut mendengar komen El Hijab dan El Pirang.
"Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku, meski kau..."*) Eran lebih parah, lantaran kayak sengaja baca dengan nada setelan pabriknya.
"Ini sih lagu DEWA 19, Lang, band favorit Bapakku ini." ❤️
"Hati-hati, Lang ai, bisa dipelet kam entar." Juna makin ngompor mendengar respon panas para Riders.
"Kalian bukannya support malah nakut-nakutin," Elang uring-uringan sama komen yang mampir ke telinganya.
"Aku harus gimana dong?" 💚
"Terima aja, Lang, siapa tau cantik kayak aku." dengan pede Rana memberi saran untuk gulana yang menimpa Elang.
"Ah, kamu tuh." 💚
"Ededeh, betul Rana, Lang, kenapa nggak ki terima? Mungkin ini rejeki habis lama ki jomblo." Rein pasang badan mendukung advice El Pirang tadi.
"Kalau tau orangnya sih, bisa kutimbang, Nduk, lha ini?" 💚
"Egh..." di Istana Kegelapan, Pak Bayang terlihat kurang segar dan tau-tau. Di kanan kiri Beliau, Cantik dan Cindi memijat badan sang Ayah yang sepertinya kurang fit dan perlu penanganan medis lebih.
"Kenapa kudu sakit di saat segenting ini?" 😈
"Sabar, Yah, namanya sakit nggak bisa dicegah, takdir." Cindi menghibur sembari terus memijat kaki kanan Pak Bayang.
"Waktunya kurang tepat, Cin, Ayah masih punya PR sama bocil-bocil itu. Ayah belum puas kalau mereka belum keok." 😈
"Kalau gitu serahin Cantik aja, Yah, Cantik toh berulang kali bikin mereka repot, kan?" Cantik gercep ambil kesempatan dan cari validasi Ayahnya.
"Memang apa idemu?" pertanyaan Pak Bayang cuma dibalas cengir manja oleh El Genit.
"Nggak ada sih, Yah..." 🌹
"Cindi aja gimana, Yah? Kebetulan Cindi punya rencana nih." penawaran Cindi bikin Cantik melongo bareng Pak Bayang.
"Rencana apa?" 😈🌹
"Ada deh," Cindi tampak sumringah. "Tapi boleh kan?"
"Kalau rencanamu oke gas, boleh." Pak Bayang mengizinkan rencana di kepala Cindi kini.
"Datangi Aji kalau butuh monster!" 😈
"Cin, kamu..." Cantik menerka otak Cindi, namun dipotong oleh kedip cewek karir tersebut.
======
Mahaguru jadi yang terakhir melihat surat misterius Elang. Dan seperti para Riders, El mentor nyengir spontan melihat deret sanjung puji buat El Gondrong itu.
"Dari bahasanya sih, aku rasa pengirim ini betulan cinta sama kamu." 🧝
"Hadeh, Mahaguru, jangan buat orang makin stres deh, yang ada aku jadi merasa diteror nih, sama tuh orang." 💚
"Apa jangan-jangan, Dinasti Kegelapan lagi?" celetukan Dewi bikin markas melirik full ke arahnya.
"Maksudmu, Kak Elang mau dijebak lewat cinta gitu?" jelas Elang yang pertama tarik kesimpulan.
"Nggak cuma Kakak sih, tapi kita semua. Kakek juga." 🤍
Alarm seketika bunyi memecah fokus Riders di sana. Semua mata pun beralih ke portal cahaya, dan melihat situasi lagi kurang kondusif seiring hadirnya monster falcon mengacak-acak kota dari langit.
"Boleh jadi Dewi benar." 💙
"Oke, Manteman, kayaknya kita tau yang harus kita lakukan." Eran pun merogoh korek sakti, diikuti Riders selain Dewi yang memang nggak punya itu.
***
*) Risalah Hati (Vocal : DEWA 19, Composer : Ahmad Dhani, 2000)
ns216.73.216.69da2


