Para Riders dipaksa berpacu oleh waktu. Ditunjang koleksi data Mahaguru, Elang, Rein, Dewi, Rana, serta Eran, bersama mengupas persoalan demi mencari titik lemah para peniru Dinasti Kegelapan.
Silih berganti mereka membaca, hingga di sebuah file...
"Manteman, lihat!" 💛
Mata Riders sontak berpusat ke Rana.
"Kamu yakin? Itu masih tahap simulasi 40 tahun yang lalu." 🧝
"Maaf, Mahaguru, apa pernah ini dicoba sebelumnya?" Mahaguru Dewa merespon Elang dengan sedikit nostalgia.
"Buat sekedar percobaan iya, tapi untuk dipakai di area publik, sejauh ini belum." 🧝
"Nah mungkin ini yang pertama juga, Kek, Kakek kan tau gimana Dinasti Kegelapan?" Dewi menyeletuk dengan sebuah argumen masuk akal.
"Benar juga tuh Dewi." 💚
"Terus apa kah counter-nya, Ran?" tanya Rein demi solusi terbaik bagi semua.
"Di sini sih, tulisannya H2O, air." 💛
"Air? Bah, sayang kali Juna..." Eran nggak sempat kelar, karena dari belakang orang yang ia maksud tiba-tiba muncul walau masih menahan rasa sakit.
"Nggak apa-apa, Er, aku siap kok." 💙
"Bah, apanya siap? Kau bahkan sama sekali nggak meyakinkan untuk berdiri." Eran jelas nggak percaya Juna udah betul-betul fit.
"Dewi, nanti tolong Kak Juna ya! Pakai kekuatan awanmu biar unsur air Kakak benar-benar maksimal." 💙
"Iya, Kak, siap." Dewi menyambut positif permintaan El Cepak tersebut.
"Ededeh, apa lagi itu?" Rein yang nggak sengaja menoleh portal, seketika kaget dengan satu berita dalam running text.
"Apa-apaan ini? Belum ngapa-ngapain, tau-tau jadi tersangka aja kita." 💚
"Cukup ngeluhnya, anak-anak! Nama baik kalian sedang dipertaruhkan." Mahaguru cepat menetralisir, sembari memandangi para Riders yang ada di depannya.
"Arjuna, hati-hati!" 🧝
======
Dinasti Kegelapan sukses membuat kota kacau balau. Bermodal imitasi Riders, Pak Bayang sedikit di atas angin menguasai beberapa tempat dan melakukan tindak kriminal di sana.
Kepolisian sendiri menyebar pasukan khusus, tapi peluru mereka anehnya cuma mental saat mengenai peniru-peniru itu.
"Lakukan, Nak, sesuka hati kalian." Pak Bayang betul-betul mabuk di situasi bak menggenggam dunia.
"Ayah, apa nggak terlalu kejam nih?" Cindi agak nggak tega melihat kota jadi mainan di tangan Pak Bayang.
"Cin, Cin, kamu ngapain pakai hati untuk warga kelas bawah itu?" Pak Bayang mengingatkan Cindi tujuan mereka eksis.
"Mereka semua sampah, Cin, udah waktunya kita kuasai demi bisnis kita." 😈
"Bilang apa kamu? Coba ulang!" Elang tau-tau bersuara menghentikan tawa licik Pak Bayang. El Gondrong sendiri tampil bareng lima rekannya, di formasi piramida dengan dia sebagai ujung tombak.
"Hey, Pak, ngaca kau, kalau kita sampah, lalu kau apa?" emosional Eran menimpal pancingan Elang.
"Bocil kurang ajar, memang kalian siapa, mau berhentiin pasukanku?" Pak Bayang kembali nyinyir terhadap reaksi frontal Riders.
"Ededeh, ki terlalu pede, Pak Tua, ingat iblis diusir dari surga, karena dia sombong kayak ki sekarang." dari baris cewek, Rein mencuat mengingatkan Pak Bayang yang terlalu jumawa.
"Udah, Manteman, lakuin aja rencana awal, biar tuh Pak Tua lihat gimana energi anak muda sebenarnya." 💛
Dewi lalu mengangkat tinggi tangan, diikuti Juna walau terkesan kayak orang berdoa.
Dua gerakan sederhana, menghasilkan efek drastis. Langit yang tadi cerah, tau-tau gelap disusul badai hasil gabungan si biru dan si putih.
"APA INI? HENTIKAN!" Pak Bayang jelas panik mendapati angin kencang ke arah pasukannya.
Para Riders nggak peduli dan terus jalan. Hujan pun mengguyur para peniru, hingga kelojotan dan hilang kekuatan seiring topeng mereka yang terbuka.
Para Riders pun menyerang usai atraksi Juna dan Dewi kelar.
Asal kau tau, Bengak, kacamata itu beli di luar negeri dan harganya hampir lima juta, lancang kali kau meniru." ucap Eran sengit, sembari mendaratkan bogem pada jidat bopeng kembaran merahnya.67Please respect copyright.PENANA90cc1awXxw
"Ededeh, orang kayak ki ini, yang bikin perempuan berhijab jadi sering dianggap radikal." Rein ikut ketus, dan menampar bolak-balik tiruan ungu di hadapannya.
"Kamu tau nggak pengeluaranku buat treatment wajah berapa? Bisa kamu tiru juga nggak itu?" tiruan kuning jadi nyeri hasil tempelengan orang yang ia cosplay.
"Brewokmu berantakan, Bro, aku nggak sejorok itu." Elang nggak mau ketinggalan, dan turut kasih dengkul ke kembaran hijau di depannya.
Juna sendiri lalu menggenggam busur, dan bikin perhitungan terakhir ke imitasi Riders nggak jelas itu.
======
"ADAW..." Juna memekik saat cotton bud di tangan Rana kena bibirnya. Stick kecil itu memang dilumuri obat merah, hingga efeknya langsung terasa saat jumpa luka di wajah El Cepak.
Riders sendiri kini berempat di markas, seiring Eran dan Dewi yang ke kantor polisi guna membersihkan nama baik dari kasus buatan Pak Bayang kemarin.
"Halah, Jun, badan aja gede, kena cotton bud teriak." Elang yang berdiri di pojokan, jadi meledek menanggapi sikap Juna yang kontras dengan badannya.
"Mestinya kam tanggung jawab jua, Lang, gara-gara kembaran kam aku babak belur gini." sembari menahan perih, Juna lunas membayar ejekan El Gondrong padanya.
"Ededeh, kenapa kah pada baku oceh?" Rein yang baru selesai bikin teh manis, seketika ngomel melihat dua pria itu saling ledek.
"Lang, temanta' lagi sakit, jangan ki olok-olok." 💜
"Iya, iya, maaf." 💚
"Gimana, Jun? Enakan?" Rana bertanya tanpa peduli Elang dan Rein.
"Lumayan, Ran, tapi bengkaknya masih rada nyeri." jawab Juna sambil memegang titik yang masih benjut di pipinya.
"Anak-anak, kabar bagus!" Mahaguru tau-tau masuk kamar tempat Juna dirawat.
"Dewi tadi komunikasi telepati denganku. Dia bilang semua clear dan nama kalian udah bersih. Kalian bisa balik kayak biasa." 🧝
"Alhamdulillah." kesyukuran Rein berpadu sama kelegaan Riders lain.
"Jadi kita boleh pulang nih?" Elang jelas rindu sama rumah tempat ia bernaung.
"Sabar, Elang, tunggu Eran sama Dewi balik, kita rayain dulu ini sebentar." 🧝
Mata Mahaguru lalu beralih ke dua gadis yang mengapit Juna.
"Segera ke dapur! Ada daging yang harus kalian masak." 🧝
"Siap, Mahaguru," Rana dan Rein loncat dari ranjang, menuju dapur melaksanakan tugas dadakan Mahaguru Dewa.
"Rica pedas, Manteman, lagi ngidam nih." celetuk Elang usil, yang tentu berhadiah sambit Juna pakai rol perban di depannya.
El Gondrong pun menghindar, diikuti para cewek yang geleng-geleng melihat tengil dua cowok tersebut.
***
ns216.73.216.69da2


