Kepulangan Pak Bayang dari masa tapa, menggembirakan semua penghuni Istana Kegelapan. Terutama Cantik, yang lega backing utamanya balik usai cukup lama ditinggal.
Tapi nggak berarti yang lain biasa-biasa aja menyambut Pak Bayang. Mereka juga kasih treat spesial, walau nggak se-lebay Cantik ke Beliau kali ini.
"Hasilnya gimana, Yah?" tanya Cantik, sambil terus menyuapi ayam rica, favorit abadi Pak Bayang.
"Tenang, Nona Kecil, nanti Ayah cerita," sahut Pak Bayang usai menelan dulang gadis moleknya itu.
"Sekarang Ayah mau rihat sejenak. Lelah habis jalan jauh." 😈
"Ayah mau kopi lagi?" Cindi yang sejak tadi mengipasi, sadar kekosongan dalam cangkir Pak Bayang.
"Boleh juga tuh!" 😈
Cindi pun berlalu ke dapur, dan balik bareng teko kopi untuk ia sodor ke Pak Bayang.
"Aji, hari ini nggak perlu bikin monster! Ayah ada ide bagus dari tapa kemarin." ucap Pak Bayang, ke Aji yang sejak tadi memijatinya.
"Ide apa, Yah?" pertanyaan yang nggak lantas Pak Bayang jawab, karena Beliau berkode jari menyuruh tiga anaknya rapat dulu.
"Wah, bagus ide Ayah, senang Aji." Aji sumringah begitu Pak Bayang kelar bicara.
"Iya, Yah, keren idenya." Cindi satu suara dengan Imaji.
"Iya sih, memang oke, tapi cara bikinnya? Mereka banyak lho." Cantik rupanya masih lag sama ide Pak Bayang tadi.
"Kuyukmu dong, Nona Kecil, buat apa mereka kamu piara?" Pak Bayang lugas menjawab pertanyaan Cantik.
"Nanti Aji kasih sihir ke mereka, habis itu, Cindi dan Ayah kawal mereka selama di kota, simple tho?" 😈
"Iya juga, boleh deh." Cantik setuju, dan melesat ke kurungan di belakang Istana.
======
Seperti biasa, Juna asyik berperahu dan menjaring ikan di sungai. Rejeki tuh anak tampak lagi deras, karena jalanya sukses menangkap ikan yang acap luput sebelum hari ini.
"Kakap tiga ekor, Dita sama Yana pasti senang nih." Juna berdecak, sambil lantas menata ulang ember yang dipenuhi ikan tangkapannya.
Juna pun putar balik di bawah langit yang mulai lembayung. Dan saat perahu sandar di dermaga...
"Manteman?" wajar Juna kaget, nggak biasanya Riders berkunjung bareng kayak gini.
"Tumben, ada angin apa nih?" alih-alih menjawab, Eran justru kedip mata dan menarik tangan Juna diikuti Elang di sisi sebelahnya.
"Manteman, ada apa ini?" rona Arjuna seketika berubah menerima perlakuan para Riders itu.
"Kalian kenapa sih? Hey!" jerit El Cepak dicuekin, dan hanya berbuah tendangan taekwondo Rana ke ulu hati tuh anak.
"Aduh, ada apa sih, Ran?" Juna yang roboh masih bertanya, dan tentu nggak dapat jawaban memuaskan dari sikap itu.
"PLAK, PLAK!!!" tamparan Rein 'sempurna' jadi ending hari aneh Juna ini. Para Riders pun beranjak sinis, meninggalkan El Cepak sendirian terbawa rasa sakit dan kolaps.
======
Mata Juna perlahan terbuka walau diiring sedikit rintih. Dia sendiri nggak tau sedang di mana, tapi dari wangi yang terendus, kayaknya El Cepak masuk zona aman di markas Mahaguru saat ini.
"Kak Juna sadar," Dewi kayak mau nangis menangkap tuh momen. "Kak Juna nggak apa-apa?"
"Aku salah apa sih, sampai kalian gebok?" alih-alih menjawab, Juna malah bikin seisi markas heran lewat protes yang ia kasih.
"Bah, baru bangun udah main tuduh aja kau, siapa yang gebok kau?" seperti biasa, urusan heran-heranan Eran yang mewakili pertama.
"Iya mi, apa ki punya maksud itu? Jang ki mengigau kodong." sambung Rein nggak kalah lugas menegur lisan blak-blakan El Cepak.
"Jun, asal kamu tau ya, andai Eran sama Elang nggak ke rumahmu, boleh jadi kamu nggak tertolong tadi." seraya menggosok hidung Juna sama minyak angin, Rana lebih lembut menduplikasi Eran dan Rein barusan.
"Serius, Ran, kalian tadi berempat, kam malah tendang ulu hatiku jua, jadi siup aku kalo?" 💙
"Astaga, Jun, sekuat-kuatnya aku, ya kali bisa bikin kamu roboh, badanmu segede itu, aku maka..." ujar Rana, walau diselingi geli melihat nalar Juna agak kurang jalan.
"Wah, jangan-jangan..." 💚
"Gimana, anak-anak?" suara Mahaguru Dewa yang masuk mendadak, memotong seketika pertanyaan Elang.
"Iya, Kek, Kak Juna udah sadar." sambil menyeka air mata, Dewi segera menjawab pertanyaan El Mentor itu. "Tapi..."
"Tapi apa, Dewi?" 🧝
"Tapi kayaknya keadaan lagi nggak beres, Mahaguru," Elang ambil bagian, karena Dewi tampak blank menerima pertanyaan susulan itu. "yang keroyokin Juna ternyata orang berwajah mirip aku, Eran, Genduk, sama Rana."
"Kamu nggak salah omong?" Mahaguru Dewa sampai terbelalak merespon Elang.
"Kau lihat itu, Mahaguru pun heran sama cerita kau." Eran serta-merta menyelak meyakinkan kalau Juna memang halu.
"Mirip gimana? Kalian punya kembaran? Aku terus terang nggak ngerti nih." 🧝
Alih-alih Riders, pertanyaan tadi justru dijawab alarm yang tiba-tiba terdengar di sana. Riders kecuali Juna pun berhambur, disusul El Mentor yang masih belum ngerti kondisi aslinya.
"Alamak, apa pula itu?" Eran kian bingung kala matanya menghadap layar portal.
"Kak Jun..." Dewi yang shock hampir kelepasan, namun disumpal segera oleh telapak tangan licin Rana.
"Nanti orangnya dengar, nggak enak." 💛
"Nggak salah lagi, ini Dinasti Kegelapan," Mahaguru pun menarik kesimpulan dari yang terlihat di portal.
"Segera ke kota, bersihkan yang harus kalian bersihkan!" 🧝
"Dewi ikut, Kek," seperti biasa, Dewi ngebet ingin tarung sejak awal.
"Belum waktunya, kamu rawat aja Kak Juna dulu!" walau kalem, Mahaguru tetap bikin Dewi nggak berdaya membantah.
"Urusan kota, biar kakak-kakakmu dulu yang handle." 🧝
Eran pun memandu transformasi, dan bergegas ke kota mencari lokasi chaos terpusat.
======
Situasi kota memang porak-poranda. Anehnya, kekacauan segitu besar justru dibuat seseorang yang wajahnya identik Juna.
Impersonator itu dengan gesit memasuki setiap bangunan dan bertingkah onar di dalamnya. Merampok barang, melukai para penghuni bangunan, hingga sexual harassment ke wanita yang kebetulan ia jumpai di sana.
Untungnya para Riders tiba tepat waktu walau beberapa warga udah jadi korban. Keempatnya pun pasang sikap, dan fokus mengamati 'Juna' dari balik atribut Riders mereka.
"Siapa kamu?" sentak Rana keras, tapi cuma dibalas seringai dari peniru El Cepak itu.
"Ededeh, ki punya mulut tho? Jawab temanku punya pertanyaan!" Rein ikut gertak, namun terbayar kehadiran peniru lain bareng Pak Bayang dan Cindi.
"Apa kabar, bocil? Lama nggak jumpa." 😈
"Udah kutebak, pasti kamu dalangnya." rutuk Elang, seraya menunjuk tajam wajah Pak Bayang.
"Astaga, masih aja nggak kenal adab, aku ini lebih tua dari kalian, bisa hormati dikit kan?" jawab Pak Bayang dingin merespon kemurkaan Elang padanya.
"Menghormati apa? Ada yang layak kita hormati dari kau? Bullshit." hentak Eran ketus, yang lantas disambut Pak Bayang dengan menyuruh tiruannya beraksi.
Pertempuran pun pecah seiring empat peniru mengarahkan serangan mereka. Namun oleh otak licik Pak Bayang, fokus Riders dibuat agak terganggu dengan ombak ilusi yang terus datang menekan mereka.
"Sama aja ternyata, menyedihkan." Pak Bayang mengayun tongkatnya, dan diikuti mobil imajiner yang menabrak para Riders bersamaan.
"Mending kalian belajar aja, anak-anakku kayaknya lebih suka bikin onar ketimbang urusin bocil lemah macam kalian." 😈
Rombongan Pak Bayang pun lenyap, meninggalkan Riders yang masih cedera efek ilusi barusan.
***
ns216.73.216.69da2


