Aji mengerahkan kuyuk guna memulai pertarungan. Namun seperti biasa, muka-muka anjing itu dibikin nggak berdaya oleh tiga Riders yang menghadapi mereka.
"KURANG AJAR," sambil meludah jengkel, Imaji pasang kuda-kuda dan melirik sapi di sebelahnya
"Ayo, Sapi!" 🥊
Si monster pun menangkap perintah, dan melempar dua tanduknya ke arah Riders.
Pertempuran pun mulai berat untuk Elang, Rein, dan Juna. Selain monster yang amat keras, kekuatan Aji pun jadi faktor hingga mereka kelimpungan menghadapi duel yang lagi berlangsung.
"Whoaaaaaaa..." sembari meraung, si monster melontar Elang dan Juna usai sekian detik dicekik. Mereka pun menyusul Rein, yang dari tadi udah babak belur oleh intimidasi otot-otot Imaji.
"Kuat banget tuh monster, susah dilawan." rintih Elang begitu dirinya jungkal di tanah.
"Maklum, Lang, itu aslinya sapi simental, ia punya daya tahan bagus, bibit terunggul sapi." Rein pun menerangkan, meski punya nyeri yang sama dengan dua lelaki yang mengapitnya.
"Terima kasih infonya, Nona Manis, berarti aku nggak salah pilih curian." bukan malu, Aji justru kian sombong saat tau kualitas sapi yang disihirnya.
"Gimana, Bos? Aku habisi mereka?" sang kreatur tampak antusias ingin menghabisi para Riders segera.
"Tenang, kita nikmati dulu." Imaji kayaknya punya niat lebih jahat dari opsi si monster.
"Mending ubah mereka jadi sapi juga, buat mereka saling serang satu sama lain!" 🥊
"Brilian, Bos, siap." sang Sapi semangat, dan segera copot tanduk buat diarahkan ke Riders yang udah nggak berdaya.
======
Bagai telur di ujung tanduk. Juna, Rein, dan Elang merasakan itu. Bukan kiasan, mereka benar-benar di ujung tanduk sang monster yang terlihat siap mengerjakan permintaan Aji.
Si sapi pun melempar tanduknya, namun saat nyaris menyentuh Riders...
"Duar, DUAAAAAAAR..." dua ledakan terjadi serempak. Momen itu diiringi hilang tanduk sang monster, serta Eran yang berhasil lepas dari jerat yang merantainya tadi.
"Dari tadi kek, aku kan jadi bisa ikut gelud." ❤️
"Hey, siapa itu?" teriak Aji, yang dijawab kehadiran Rana dan Dewi dari dua arah berseberangan.
"Kak Eran nggak apa-apa?" Dewi yang hadir dari kampung Rein, seketika bertanya saat dia telah rapat ke Eran. Kayaknya sih, karambit tuh cewek yang bikin El Klimis lolos dari tali penjerat kakinya.
"Tenang, Dew, dari tadi Kakak udah gatal ingin bertempur." Eran pantang basa-basi, dan langsung transformasi menyusul tiga rekannya yang udah berubah duluan.
Duel pun kembali imbang seiring hadirnya tiga tenaga baru di sana. Tapi saking daya tahan kuat sang sapi, Rana, Eran, serta Dewi menemui aral dan bikin mereka sama repot dengan 3 Riders sebelum mereka.
"Egggh..." Serangan mengarah ke Rana, tapi si kuning cukup beruntung diproteksi oleh perisai ganda di tangannya.
"Kak Rana, gimana nih?" 🤍
"Jangan khawatir." sembari buang perisai, Rana tampak nggak lelah memotivasi para Riders tetap semangat.
"Kalau nggak bisa ditangani pakai tenaga manusia, biar tenaga hewan yang bicara!" 💛
Kirana lantas mencengkram tanah, diiringi mimik dingin seolah pengin makan si sapi hidup-hidup
"Ngapain itu?" Aji jelas heran, tapi terjawab lugas oleh gerak terkam khas macan si kuning.
Putusan Rana terbukti jitu, aura macan yang ia aktifkan sukses mengunci gerak monster yang kelabakan.
"Apa-apaan itu?" Aji coba mencegah, tapi Elang yang telah pulih, melepas nunchaku tepat di kedua kaki El Otot.
Eran dan Dewi seketika menerima kode. Mereka berdua membagi tugas, di mana si putih meruyak perut dengan karambit, dan si merah menyasar leher pakai pedang yang terasah sempurna.
"Dasar b*go, seringan itu masih aja gagal.", di Istana Kegelapan, Cantik misuh melihat Aji gagal mengawal monsternya.
"Udah, Tik, mungkin belum rejeki." Cindi yang menyamping Cantik, serta-merta menenangkan agar El Genit nggak darah tinggi.
"Awas aja, nggak akan dia kukasih rendang lagi, biar dia makan ikan kering seumur hidup."
======
Dua hari pasca kemalingan, Rein kembali hidup seperti sedia kala. Aktifitas dijalani secara normal, walau kepalanya penuh pikiran soal qurban yang terpaksa kurang akibat insiden kemarin.
El Hijab sendiri telah pulang kuliah, namun sesampai di rumah...
"Ededeh, ada apa, Bang? Kenapa Abang nangis?" kalau kemarin Uminya, hari ini si Abang yang bikin Rein lupa ucap salam.
"Abang sedih, Ce, hampir setahun Abang nabung biar bisa qurban, pas dapat, malah hilang kita punya sapi."
"Udah mi, Bang, yang terjadi biar terjadi, mungkin belum rejeki berkorban tahun ini." Rein coba menghibur, meski sejatinya dia berkeping-keping juga melihat kesedihan sang Abang.
"Udah ji, manre olo ki! Umi ada simpankan bawal tuh buat ki." entah gengsi atau hanya sekedar malas diganggu, Hilmi minta Rein masuk rumah dan makan saat itu juga.
"Umi ke mana kah, Bang?" Rein sih paham tangis Hilmi berarti lagi nggak ada orang di rumah. Tapi karena penasaran sang Umi, gadis itu pun bertanya sebelum ia masuk menuruti sang Kakak.
"Umi lagi antar jahitan ke rumah Pak Haji Isran."
Rein pun coba normalisasi supaya nggak terlalu kepikir sapi kemarin. Namun saat tuh cewek di dapur...
"Ededeh, siapa kah datang?" suara klakson bikin Rein balik meninggalkan piring yang baru ia isi.
Rein sendiri cukup kaget melihat teman-teman Riders-nya di sana, tapi saat ganti menatap sisi sebelah...
"Ededeh, ada apa, Manteman? Sapi siapa ta' bawa nih?" 💜
"Sapimu lah, Nduk, simental kan?" Elang menerangkan agar Rein tau barang yang para Riders kini bawa.
"Sapi...?" walau nggak percaya, Hilmi tetap rapat ke pick-up teman-teman adiknya.
"Ededeh, jangan begitu kodong, itu ngolok namanya." 💜
"Serius, Rein, itu sapi punya kam, aku yang tadi tuntun ke mobil." tandas Juna melihat El Hijab negative thinking ke mereka.
"Nih buktinya," sambung Rana, sambil menyerahkan nota pada Rein. "baca tuh!"
Sejenak Rein membaca, namun kemudian mewek seraya memeluk erat El Pirang.
"Makasih ji, Manteman, udah se-peduli ini sama keluargaku." 💜
"Rein, kau kan sering nasehati kami soal agama, nggak ada salahnya dong, kami balas pakai perbuatan, ya nggak?" Eran turun suara, mengingatkan Rein supaya nggak merasa hutang budi atas sikap mereka.
Hari qurban yang dinanti pun tiba. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Sapi pemberian Riders ikut menjalani proses qurban di masjid. Dan walau tanpa Dewi, serta Rana yang cuma berani ngintip dari punggung Juna, suasana khidmat tetap terjaga dan melegakan ketika sapi itu berhasil dieksekusi panitia.
"Ayo, Nak, rasain semua!" Umi Rein tampak ceria menemani tamu-tamu VIP gadisnya.
"Iya ji, ayo mi nyantap, enak kok, Rein semua yang masak itu."
Para Rider jelas nggak nolak, dan gercep antri mengambil konro dari panci di depan mereka.
"Enak tho?" Hilmi menyambung obrolan di tengah acara santap siang mereka.
"Iya, Bang, urusan masak memang Rein nggak ada obat." tanpa ragu, Elang memuji masakan Rein yang terasa empuk di lidah.
"Benar, Bang, apalagi ini kesukaanku juga, pasti tinggi standarku, tapi memang enak, mau ngomong apa?" sambung Rana, yang tampak kalap melibas sop karya Rein itu.
"Boleh tambah nggak?" 💛
"Beingat, besok timbangan naik, nangis." cegah Juna, yang seketika memantik gelak semua orang di rumah tersebut.
***
ns216.73.216.69da2


