Rein baru balik ngampus siang itu. Cuaca kota memang sedang terik, hingga El Hijab memacu motor sesegera mungkin agar lebih cepat memanjakan tubuh lelahnya di rumah.
Ia pun sampai usai setengah jam bergelut sama debu jalanan. Namun saat hendak ucap salam, mata bening itu mendadak cekat melihat sang Umi nangis di depan TV yang Beliau tonton.
"Ededeh, kenapa, Mi? Rein ada salah kah?" 💜
"Eh, Ecce, kapan ki datang? Kenapa nggak kasih salam?" gerakan Rein tentu bikin Umi kaget dan sadar dari lamunan Beliau.
"Udah ji di depan, Umi kali nggak dengar." kali ini Rein memang salah, tapi dia yakin bukan ini yang bikin Uminya berkaca-kaca.
"Ya udah, Wa'alaikum Salam." Umi Rein pun menjawab, dan balik ke layar TV yang menayangkan update berita ibadah haji.
"Umi kenapa kah nangis? Rein merasa bersalah ji, lihat Umi begini." Rein kembali dengan tanya di awal tadi.
"Bukan," Umi Rein menggeleng serta-merta. "Umi nangis lihat itu."
Rein pun berpaling mata, dan akhirnya tau keadaan yang sedang melanda sang Umi.
"Harusnya Umi sama Abi berangkat tahun ini, tapi Abimu belum ada ji pulang." tangis Umi Rein kian menderas saat meneruskan ucapannya.
Rein yang peka reflek memeluk sang Umi demi menenangkan hati Beliau. "Udah ji, Umi sabar, besok Rein kerja, Rein kasih Umi berangkat ke tanah suci."
Keduanya hanyut banjir air mata, dan mungkin nggak berhenti andai ponsel Umi nggak bunyi mengalihkan fokus mereka di situ.
"Ki angkatlah itu! Umi lagi malas." alih-alih gerak, Umi Rein malah minta gadisnya yang merespon telepon untuk Beliau itu.
"Assalamualaikum, Bang, di mana posisi?" 💜
Sejenak Rein terlibat dialog dengan sang Kakak, dan usai komunikasi putus...
"Apa Abangmu bilang?" Umi Rein segera tanya usai El Hijab menaruh handphone.
"Alhamdulillah, Mi, Bang Hilmi bilang semua sapi udah diambil, lagi otw ke masjid." Rein pun membagi kabar guna menghibur sedih Uminya.
"Oh iya." effort Rein tampak belum manjur mengusir galau hati sang Umi.
"Mending pi makan sana! Ada bawal Umi bakar di dapur."
Rein pun masuk hati-hati, dan transit di kamarnya sebelum benar-benar ke area dapur.
======
Cantik, Aji, dan Cindi, sedang menikmati santap siang mereka. Menu hari ini tergolong mewah, karena rendang dan kikil turut hadir memadati meja tempat mereka makan.
Nggak tau juga sih, dari mana hidangan istimewa tersebut. Tapi yang pasti tiga bersaudara itu kini diliput cemong efek kuah santan di sekitar bibir mereka.
"Kenyang banget, coba aja gini tiap hari." Aji terlihat paling puas menikmati semua yang ada di meja. Kayaknya sih dia yang paling gragas di antara mereka bertiga.
"Iya, Tik, tumben banget kamu, masak besar gini." sambung Cindi, sembari menjilat jemarinya yang tampak digulung minyak sana-sini.
"Sekali-sekali self reward apa salahnya sih? Toh selama ini kita udah kerja keras kan, buat menguasai kota." bahkan saat makan pun, Cantik tetap slay membiarkan sendok dan garpu mengganti peran dua tangannya.
"Seperti orang-orang barat itu bilang, work hard play hard." 🌹
"Kalau gitu, mending Aji play hard terus aja, Kak, lumayan kan, tambah kalori buat biceps Aji." jawab Aji, rada angkuh pamer otot di depan dua Kakaknya.
"Mana bisa? work hard play hard tuh sepaket, kalau mau 'play', harus 'work' dulu." Cantik mencibir omongan adik laki-lakinya barusan.
"Dan Kakak udah ada kerjaan buat kamu." 🌹
"Terima aja, Ji, toh nggak tiap hari." Cindi yang melihat Aji lemas, auto menetralisir supaya tuh cowok nggak dibawelin Cantik.
"Iya, iya, tugasnya apa?" 🥊
"Tuh," Cantik pun mengarah pada portal di depan mereka.
"Kampung si bocil ungu kayaknya lagi musim sapi tuh, tugasmu di sana, ambil salah satunya, jadiin monster!" 🌹
"Bilang dong, Kak, dari tadi." Aji auto mengambil kuas ajaib, namun...
"Siapa suruh kamu bikin?" Aji serta-merta ditahan Cantik.
"Kakak bilang ambil!" 🌹
Mata Aji kontan terbelalak. "J-jadi...?"
"Shaddaqallahul'azim..." pasca Isya', Rein memilih tinggal dan ngaji sedikit sebagai tambahan amalnya di masjid. El Hijab pun beranjak usai merasa cukup, namun saat pasang sandal di batas suci...
"Apaan tuh?" suara sapi samar hadir dan bikin El Hijab penasaran. Ia pun bergegas ke belakang, dan melihat situasi kurang wajar di sekitar area sapi terikat.
"Siapa di situ?" yakin hal buruk menimpa, Rein pun menggrebek area tempat sapi terjaga. Tapi alih-alih dijawab, tuh cewek justru menerima serangan dan tertahan mengejar sosok yang dipergokinya itu.
"Ededeh, kalian rupanya," sadar banyak kuyuk di sekelilingnya, Rein pun paham dengan siapa dia berurusan. "ayo ji!"
Rein lantas memasang kuda-kuda, dan gampang diterka, tuh cewek tetap terlalu tangguh walau harus menghadapi mereka sendirian.
"Siapa tuh?" suara yang dikenal Rein tau-tau terdengar usai para kuyuk lenyap. El Hijab pun menyalakan senter ponsel, agar wajahnya bisa dikenali walau lagi ada di gelap malam.
"Ededeh, apa ki buat di sini?" benar aja, Hilmi yang datang bareng sejumlah cowok muda, langsung menyemprot Rein yang dia nilai salah tempat.
"Bang Hilmi, kasitau Ustad Awi, sapi kita hilang seekor!" 💜
"Ededeh, serius ma ki?" nggak menanti jawaban, Hilmi pun mengkode seluruh kawannya menghitung lagi sapi yang ada.
"Ededeh, iya ji."
"Jangan lupa pesan Rein, Bang! Rein mau ke Pak RT dulu, kasih laporan." 💜
"Hey, Rein..." Hilmi mau tau lebih lanjut, tapi sang adik keburu pergi tanpa kasih petunjuk lain padanya.
======
Entah benar ke Pak RT atau nggak, yang jelas Rein udah di markas melapor apa yang terjadi di kampungnya. Para Riders yang tadi siap tidur pun, mau nggak mau ikut kumpul lantaran El Mentor memanggil mereka juga.
"Wong edan, berani banget mereka, nggak takut diamuk massa opo?" Elang sampai geleng-geleng saking heran sama Dinasti Kegelapan.
"Ini nggak bisa ditoleransi lagi, Mahaguru, kasitau di mana kami harus gebrak!" Eran segitu nafsu ingin menggebuk sang rival.
"Sabar, semua ada prosesnya." Mahaguru kontan menenangkan demi situasi lebih kondusif.
"Kita belum tau apa rencana mereka, jadi sementara, kalian bertahan dulu!" 🧝
"Bertahan gimana, Mahaguru?" Rana menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Kamu dan Dewi temani aku! Lacak dan temukan apa yang lagi Dinasti Kegelapan rancang." 🧝
Mata Mahaguru lantas beralih pada para cowok usai bicara.
"Dan kalian, intip semua sapi di kampung Rein! Apapun keanehan kalian lihat, lapor ke sini!" 🧝
"Siap, Mahaguru." ketiganya merespon koor, dan bergegas mengantar El Hijab memeriksa kondisi terkini kampungnya.
======
Mahaguru Dewa kelihatan serius dalam diam. Ditemani Rana dan Dewi, pria sepuh tersebut terus mengamati portal untuk mengawasi Dinasti Kegelapan serta sapi yang tadi mereka curi.
"Dewi rasa mereka mau pakai tuh sapi biar kekacauan melebar deh." terka Dewi seketika bikin dua orang itu berpaling.
"Kok kamu berpendapat gitu?" 🧝
"Feeling, Kek, Dewi rasa Dinasti Kegelapan cuma mau bikin nama Kak Rein jelek aja, lewat tuh sapi." 🤍
"Ngawur kamu, gimana caranya?" Kirana skeptis mendengar analisa Dewi barusan.
"Kalau menurut Dewi sih, mereka nggak akan ke kampung Kak Rein lagi, Kak, justru yang bahaya tuh kampung di sekitar sana sekarang." 🤍
Kirana dan Mahaguru fokus mendengar sambil mencerna omongan Dewi.
"Dewi sih mikirnya, sapi curian itu mereka bakal pakai buat fitnah Kak Rein, antara jadi monster buat serang tempat lain, atau umpan biar mereka leluasa bikin onar." 🤍
Sirine di markas tau-tau bunyi usai Dewi bicara.
"Kayaknya adikmu betul, Ran, segera susul yang lain!" walau menahan migrain, Mahaguru tetap kasih instruksi agar dua gadis itu bergegas.
Sementara di sekitar masjid, Rein, Eran, Elang, dan Juna, bareng melihat situasi. Berbekal senter HP El Cepak, keempatnya pun membaur bantu warga menertibkan kondisi pasca pencurian tadi.
Mereka sendiri beriringan agar nggak saling terpisah satu sama lain. Namun di sela 8 kaki berderap...
"KEBAKARAAAN...!" para Riders kontan teralih dan mencari sumber jeritan.
"Ededeh, RT sebelah itu, nggak salah lagi." Rein yang tau medan, pede menebak titik tepat lokasi keributan.
Para cowok pun mengawal El Hijab, tapi karena situasi gelap...
"Aaaaaaaakh..." Eran yang apes langsung tergantung akibat tanpa sengaja memijak tali jebak.
Elang, Rein, dan Juna sejatinya pengin menolong, namun terhalang sebuah sinar yang melintas menumbuk hingga mereka semua terpental.
"Kalian pikir 'Dinasti Kegelapan' sebodoh itu?" entah dari mana, tau-tau Aji udah di sana didampingi sapi monster di sebelah dia.
"Nggak usah banyak bacot, kelakuan kam udah keterlaluan, kada bisa diampuni lagi." 💙
Juna pun merogoh korek sakti, diekori Elang dan Rein yang bersiap di belakang tuh cowok. "Ayo, Manteman!"
***
ns216.73.216.69da2


