Awan cekam meliputi sekitar bukit angker batas kota. Cindi, Aji, dan tentu Cantik, saling pandang seraya berdiri di posisi berhadapan satu sama lain.
Di tengah mereka, semua tawanan juga masih terikat pada sebatang tiang yang tancap di situ. Tubuh mereka betul-betul bengkak, lantaran Aji menyiksa sangat kejam sebelum menggiring mereka ke sana.
"Hey, kapan nih eksekusinya? Aku nggak sabar." sang kelinci yang menjaga para sandera, terlihat nafsu ingin semua beres lebih cepat.
"Benar juga kamu, hihihi," Cantik pun bergumam, sambil lantas berpaling ke Aji di sebelah kirinya. "Aji...!"
Imaji yang menangkap kode, mengulur segera selang dari indikator di samping. dua selang berhasil terpasang, tapi yang ketiga...
"Duar, DUAAAAAAAAR..." serangan dari dua arah mengagetkan semua yang berada di sana. Para Riders muncul nggak lama usai ledakan, di mana para cowok tampil congkak dari sisi kanan, dan para gadis berjalan anggun dari sektor kiri bukit itu.
"Nggak perlu kalian susah payah, kita juga bisa didik mereka." Eran membuka obrolan, yang disusul kuda-kuda Riders guna memulai tarung senja itu.
"KUYUK!!!" Cantik auto teriak, dan memunculkan para anjing yang langsung menghantam Volt Riders seketika itu juga.
======
Lagi-lagi nggak perlu waktu lama para Riders menyingkirkan kuyuk di depan mereka. Apalagi sama tambahan tenaga Dewi, makin tunggang langgang muka-muka anjing itu menghadapi aneka jurus mereka.
Sang kelinci pun turun tangan melihat gagal totalnya pasukan kuyuk. Kekuatan tuh monster memang nggak seberapa, tapi footwork serta gerakan yang gesit cukup bikin Riders kewalahan menemui titik lemah yang bisa mereka eksplor.
"Juna..." di sela pertarungan, Rein malah alih fokus dan sedikit mendorong mundur si biru.
"Kenapa, Rein?" 💙
"Tenang ma ki, kayaknya aku tau titik lemah tuh monster." 💜
Rein lalu berbisik, yang diakhiri angguk ringan dari cowok cepak tersebut.
"Tapi harus akurat ya, sekali bidik." Rein mewanti, sebelum balik ke gelanggang melanjutkan pertempuran yang tadi putus.
"Manteman, AWAAAAAAS!!!" sembari memekik, Juna melepas anak panah tepat ke wajah si monster.
Kayaknya dugaan Rein benar, si kelinci seketika klepek-klepek usai panah si biru menghantam gingsulnya. Kesempatan itu pun digegas si ungu, yang tanpa ampun menghujam palunya untuk menghentikan gerak laju sang monster.
Eran dan Dewi pun mengangguk, sebelum menghabisi nyawa tuh kelinci dengan senjata predator mereka.
"Aaaaaah, padahal sisa dikit lagi..." kayak yang udah-udah, Cantik kembali ngomel mendapati misinya gagal di detik terakhir.
Para Riders pun membebaskan 'PinKiller' dari tali-temali yang merantai mereka. Tiga gadis itu lantas sujud di depan para Riders, sambil nggak henti berterima kasih pada enam manusia super tersebut.
"Kalian bisa terima kasih pakai cara lain." si putih tiba-tiba nyeletuk saat Rein dan Rana membantu mereka bangkit.
"Kalian harus minta maaf sama cewek kemarin! Dan janji nggak bully siapapun lagi! Paham?" 🤍
"Iya, iya, iya," ketiga gadis itu tentu nggak punya pilihan selain menuruti perintah Dewi.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..." adzan menggema dari jauh, dan bikin Rein berlutut meresapi getar kumandangnya.
"Udah, Manteman, ayo cabut! Keburu gelap." Elang serta-merta mengomando, ketika adzan telah tiba di pangkal 'La Illah ha Illallah'nya.
======
Volt Riders bersama mengantar Dewi ke bakal sekolah barunya. Si kuncir hari itu memang dijadwalin balik, mengambil semua seragam yang akan dipakainya selama sekolah di sana.
"Mirip nih, sama zamanku." Rana kontan komen ketika iseng mengintip keranjang di tangan Juna.
"Ya iyalah, Ran, kepseknya aja masih sama." sahut Juna sambil fokus dengan barang bawaan di tangannya.
Eran lalu menonaktifkan anti theft begitu mereka tiba di mobil. Tapi belum sempat mereka naik...
"Kak Eran, entar!" Dewi tau-tau menahan, seraya menjauh seolah ada yang dilihat ia di sekitar situ.
Rana yang peka reflek mengawal, dan saat Dewi berhenti melangkah...
"Kita minta maaf ya, kemarin udah bully kamu, janji nggak gitu lagi selamanya." gadis-gadis 'PinKiller' tampak memelas di depan siswi yang kemarin mereka bully.
Gadis itu sendiri terlihat mematung, masih ragu apakah ini serius atau cuma pemanis bibir.
"Gitu dong, saling temanan kan enak." celetukan Dewi lagi-lagi bikin semua orang kaget.
"Benar kata adikku, buat apa sih saling tindas? Toh kalian kan satu almamater di sekolah? Aku juga lulusan sana lho." 💛
"Iya, Kak, kami sadar, nggak akan gitu lagi, janji."
Elang, Rein, dan Eran lantas menyusul dengan sumringah, tapi jauh di seberang jalan...
"Eran, kam tuh gimana sih? Minimal buka dulu ini kap, dikira enteng kah bawa baju segini banyak?" Juna mencak-mencak saking pegal angkat keranjang dari tadi.
"Eh ya, Jun, sori, aku lupa." ❤️
Eran pun buru-buru balik, menjauhi empat rekannya yang auto ngakak oleh tuh momen.
***
ns216.73.216.69da2


