Musim ajaran baru tiba. Semua pihak yang terlibat seremoni belajar mengajar pun, berbondong ke sekolah untuk me-restart kegiatan setelah sekitar dua bulan libur.
Begitu pun Dewi, yang kini masuk sebuah sekolah internasional bareng Rana di sisi. Sekolah ini bukan tempat asing bagi El Pirang, karena tiga tahun ia mengisi masa putih abu-abu di gedung 3 lantai tersebut.
"Keren, Kak, tinggi-tinggi rumahnya." Dewi yang seumur-umur nggak pernah ketemu gedung bertingkat, tentu takjub dengan deret bangunan di sekeliling mereka.
"Ini namanya sekolah, Dew, tempat orang belajar." Rana perlahan mengajari, seraya menjaga langkah agar tetap dapat selaras Dewi.
"Nah, besok-besok kamu bakal sering di sini, Dew, kamu bakal ikut namanya proses belajar mengajar, biar kamu lebih berilmu." 💛
"Sekolah? Belajar? Apa itu?" Dewi kumat lugu mendengar banyak kata menderedet telinganya.
"Entar ajalah Kakak jelasin, sekarang ayo! Kita ke ruang kepsek dulu, daftarin kamu." 💛
Mereka pun bergegas sesaat berselang, dan tiba di satu ruang kecil bertuliskan 'Meylin Ong' di plang atas pintu utamanya.
"Bu Mey..." Rana langsung menyapa saat jumpa seorang Ibu paruh baya di sana.
"Eh, Rana, apa kabar kamu?" wanita itu menyambut, sembari mengelus El Pirang kala tuh anak mencium tangannya.
"Mentang-mentang udah lulus, rambut main warnain aja ya sekarang?"
"Namanya juga fesyong, Bu." Kirana main plesetan, hingga Bu Meylin jadi tergelak lebar menanggapi.
"Omong-omong, ini siapa?" perhatian Bu Meylin langsung ke Dewi begitu mereka balik mode serius.
"Oh ya, kenalin, Bu, adik saya." ucap Rana, sambil mengkode Dewi agar melakukan kayak yang ia lakukan.
"Adik? Bukannya kamu anak tunggal ya?"
"Adik angkat sih, Bu, sebenarnya, 3 hari lalu dia mulai tinggal sama saya." 💛
"Oh gitu." gumam Bu Meylin, sambil manggut memahami salah satu muridnya ini.
"Nah, saya bawa dia ke sini, mau daftarin dia, Bu, saya percayalah Dewi bakal lebih baik kalau nih sekolah yang pegang." 💛
"Jitu keputusanmu, Nak," sahut Bu Meylin, sambil mengeluarkan kertas dari laci yang menyekat mereka.
"Ini, isi dulu formulirnya!"
======
Pulang registrasi, Rana dan Dewi mutusin isi perut di sebuah depot dekat sekolah. Mereka sepakat pecel lele sebagai menu, didampingi dua gelas es teh dan sambal terasi untuk lidah El Pirang yang sulit tanpa rasa pedas.
Mereka pun membabat sajian, tapi kala Rana melakukan pembayaran...
"Aduh..." suara kesakitan mendistraksi mereka dari arah selatan warung.
"Mereka ngapain tuh?" Dewi rada khawatir menyaksikan situasi di hadapannya.
"Biarin, Dew, nggak usah diurus." Rana coba mengingatkan, tapi nggak digubris Dewi yang malah menghampiri asal suara tersebut.
"Dewi..." Rana auto bereaksi, tapi tertahan oleh bibik warung yang mau kasih dirinya kembalian.
"Apa-apaan kalian?" Dewi menyentak pas tiba di lokasi kejadian. Di depan tuh cewek, terlihat 4 gadis lain kumpul dengan salah satunya dalam kondisi berantakan.
"Oh, ada malaikat kesiangan rupanya." gadis yang berdiri di tengah, sinis menatap kehadiran Dewi di sana. Kayaknya sih dia yang jadi pimpinan mereka.
"Nggak usah ikut campur ya, Dek! Ini lain urusanmu."
"Dewi, kamu tuh," Kirana yang menyusul, segera memegang lengan Dewi biar nggak sampai kelepasan. "nggak usah."
"Nggak, Kak," tanpa ragu Dewi menampik tangan Rana. "Dewi mau lawan mereka, mereka jahat."
"Oke, udah diputuskan ya?" gadis tadi pun maju, tapi di luar dugaan, dia justru dibuat melayang ketika Dewi mengacung telunjuk ke atas.
Dua gadis lain berusaha menariknya, namun justru turut terjun begitu telunjuk Dewi turun.
"Minta maaf kalian! Beraninya keroyokan, cemen." 🤍
"Awas aja kamu! Ketemu lagi kelar kamu." cewek tadi pun mengancam, tapi habis itu lari diekori dua kawannya yng lain.
Dewi sendiri berusaha mengejar, tapi...
"Dewi, UDAH!!!" 💛
Insiden itu dipantau 'Dinasti Kegelapan', yang seketika bikin rapat darurat tentang situasi yang mereka saksikan.
"Boleh juga tuh bocil." Cantik terpesona oleh kekuatan ajaib milik Dewi.
"Iya, Kak, boleh juga." 🥊
"Kamu lihat apa, Ji?" Cantik langsung skak mat melihat Aji agak lain menatap Dewi. "Dasar cowok, jelalatan aja."
"Kamu mau rebut dia?" Cindi bergegas buka suara demi mereka nggak ribut lama.
"Kalau aku sih, mending 3 anak nakal itu aja kita ambil." 👠
"Kok kamu kepikiran ke situ?" 🌹
"Sebab bibitnya udah ada, Tik, kita tinggal brainwash aja, biar mereka makin buas." 👠
"Benar juga." Cantik pun ngerti ide yang tadi Cindi usulin. "Eh tapi gimana caranya?"
"Sini deh!" Cindi pun merangkul, dan kasih strategi dengan suara cenderung nggak kedengaran.
"Aku paham, Mbak," Aji pun tersenyum mengetahui taktik yang Cindi ingin. "kalau gitu, biar aku yang handle monster, Mbak nggak usah khawatir."
======
"Demi Tuhan, Mahaguru, aku lihat pakai mataku sendiri." Rana sampai bersumpah demi meyakinkan El Mentor soal kekuatan Dewi. Ia sendiri telah di markas, bersama 4 rekannya yang tentu heboh pas tau special skill El Kuncir.
"Benar, Dewi?" Mahaguru malah berpaling mengonfirmasi kesaksian El Pirang itu.
"Ya, Kek, itu juga aslinya nggak sengaja kok." jawab Dewi, namun sambil merunduk saking takut melihat Kakeknya.
"Ya udah, lain kali belajar tahan diri, ya!" 🧝
"Dari awal aku udah duga Dewi nih hebat, Ran, tapi aku sama sekali nggak sangka dia sehebat itu." Juna beropini menanggapi keadaan yang sedang mereka bahas.
"Aku juga kalau nggak lihat sendiri, nggak bakal percaya." Rana pun menyahut demi meyakinkan lagi keempat temannya.
"Dewi wajib kita jaga, bahaya kalau dia sampai lepas." 💛
"Betul, Ito, dengan kekuatannya, boleh jadi Dewi diincar geng busuk itu, mereka pasti menghalalkan segala cara buat bajak dia dari kita." ❤️
Alarm markas mendadak bunyi, diiringi migrain Mahaguru yang kambuh seperti biasa.
"Apa kubilang?" ❤️
"Dewi, kamu di sini dulu! Urusan kota, biar kakak-kakakmu yang handle." di sela sakit kepala, Mahaguru tetap mengarahkan agar mereka bergerak sesuai taktik.
Sementara di utara kota, tiga siswi yang dipermalukan Dewi rupanya masih dongkol walau mereka udah saling jauh.
"Awas aja tuh anak, berani-berani merusak reputasi 'PinKiller' selama ini."
"Sabar, Bos, kalau nggak dari depan, kita hajar dari belakang aja." salah satu anggota geng berusaha meredakan dan mengelus punggung tuh cewek.
"Iya, Bos, jangan khawatir, banyak jalan menuju Roma." temannya yang lain turut meredam biar tuh cewek nggak kepanasan pikirin Dewi.
"Ah, kalian," gadis itu jengah, dan menepis tangan-tangan yang menyentuhnya.
Dia lalu ambil jarak, namun terdistraksi seekor kelinci yang tau-tau menghampiri kakinya.
"Kelinci dari mana nih? Lucu banget." salah satu teman tuh cewek auto naksir melihat makhluk menggemaskan itu.
"Apa sih? Pergi sana!" bukannya cair, tuh cewek tambah emosi dan menendang si kelinci guna mengusirnya.
Hewan gingsul itu bergeming, tapi sesaat berselang...
"Aaaaaakh..." mereka pun histeris melihat tuh kelinci mendadak jadi monster.
Apalagi tanpa ba-bi-bu, kreatur itu menembak laser dan bikin mereka terikat masuk kekang dia.
Riders pun datang, namun agak telat dan hanya ketemu tiga cewek yang terjerat.
"Mau selamatin mereka?" sang monster meledek, dan tanpa tedeng menembakkan lagi lasernya ke lima Riders di.
"Waktunya balik, haha..." monster itu pun lenyap, meninggalkan para Riders yang masih nyeri efek laser yang mereka terima.
======
Suasana Istana Kegelapan cerah seiring penangkapan tiga target mereka. Cindi, Aji, dan terutama Cantik, mengapresiasi si kelinci atas keberhasilan menjalani tugas yang ia emban.
"Anak hebat, mau wortel lagi?' Cantik mengelus kepala si kelinci, sambil terus menyuap wortel dalam wadah beroda di depan mereka.
Sedangkan di dalam, para sandera terlihat menderita dalam kondisi tangan terikat ke atas. Jerit tanpa henti keluar dari mereka, seiring Aji yang begitu santai merotan acak di tubuh ketiganya.
"Aji, jangan bagian kepala!" Cindi yang dari tadi tenang, seketika menyetop saat rotan melayang ke kepala salah satu gadis.
"Kalau kepalanya cedera, brain wash bisa molor. Itu juga bikin power mereka nggak sekuat yang diharapkan, hati-hati." 👠
"Oh siap, Mbak, maaf." sahut Aji santun, tapi kemudian ngamuk lagi melayangkan sabetan ke bagian lain tubuh sandera.
"Gimana, Cin? Beres?" Cantik yang tampak puas, tau-tau hadir dan langsung bertanya ke Cindi.
"Lumayan, Aji udah kumpulin sekitar 90% tuh, cuma dari teriakan doang."
Cantik lalu melihat indikator di samping Aji, dan mengangguk menanggapi klaim yang disampaikan Cindi.
"Tapi, Tik, aku masih bingung." 👠
"Soal apa?"🌹
"Finishing brainwash nanti, enaknya di mana ya?" 👠
"Bukit angker batas kota." di waktu yang sama, Mahaguru tampak lagi briefing ke 6 anak asuhnya di markas. Riders memang lagi menerka rencana di balik penculikan tiga gadis tadi.
"Mau nggak mau, Manteman, lagi-lagi." keluh Elang, sembari menyibak gondrong yang jadi agak berantakan.
"Biasanya mereka lakukan upacara kayak gitu tuh, pas jam berapa?" 💙
"Nggak tentu, bisa jam berapapun," El Mentor menjelaskan agar Juna gampang dalam memahami.
"Tapi di zaman sebelum kalian, biasanya tepat saat matahari terbenam." 🧝
"Artinya adzan Maghrib," Rein auto ngecek arloji di tangannya. "ededeh, udah jam 5, sejam lagi ji."
"Itu waktu kalian." Mahaguru menimpal kalimat Rein barusan.
"Gunakan secara maksimal! Karena jika proses itu berhasil, mereka nggak akan lagi jadi normal, kecuali kalian bunuh mereka." 🧝
Volt Riders pun serta-merta bersiap, tapi...
"Dewi ikut, Kek." celetukan Dewi kontan bikin semua mata berpaling padanya.
"Kamu yakin? Mereka punya dendam lho, sama kamu." 🧝
"Yakin, Kek, Dewi yakin semua orang bisa berubah. Kesempatan kedua selalu ada." 🤍
Ketegasan Dewi bikin Mahaguru luluh dan mengizinkan sang cucu gabung.
***


