Volt Riders menyerbu bukit batas kota buat bikin perhitungan. Dipimpin Eran sang komandan regu, mereka berenam melakukan konvoi pakai motor masing-masing ke tempat angker tersebut.
Dewi sendiri diwanti Rana agar nggak sembrono saat di TKP. Si kuning memang bertugas mengawal tuh cewek, hingga dia pun nggak secepat biasa bawa kendaraan kerja superhero dia.
Riders pun tiba, namun seketika kaget, melihat Langit digantung terbalik di kolam sisi kiri lereng.
"Kak Langit..." jika nggak buru-buru Rana tahan, mungkin Dewi bablas menghampiri kolam beraura mistis itu.
"Hihihi, datang juga akhirnya." gema tawa Cantik terdengar memenuhi seluruh bukit. Dia sendiri ditemani Cindi, tapi sepertinya sang partner lebih melirik Elang ketimbang cawe-cawe situasi di depannya.
"Kok baru datang sih? Kita udah lama tunggu lho." 🌹
"Kamu apakan Kak Langit? Dasar orang jahat." sentak Dewi, yang bagi Cantik hanya sekedar rewel bayi kehilangan botol susu.
''Oh, bisa juga kamu bicara." 🌹
"Ededeh, apa maksud ki? Ki pikir dia boneka kah, mentang-mentang masih kecil." emosi Rein ikut nyala mendengar hinaan Cantik pada Dewi.
"Aji!" Cantik memanggil Imaji, yang tau-tau bikin kejutan dengan menurunkan tali jerat Langit hingga ambang tuh kolam.
"Berhenti jadi pengecut, Nona, sebaiknya kam lepasin dia atau..." 💙
"Atau apa, hm?" Cantik menyelak cepat gertak Juna. "Aku yang berkuasa di sini, kalian nggak bisa apa-apa tanpa izinku."
Riders menatap geram Cantik, terutama Dewi yang murka sama sikap arogan tuh cewek.
"Atau mungkin kita bisa bikin deal-dealan kecil untuk ini." lanjut Cantik dengan wajah liciknya.
"Sederhana, kalian ambil itu cowok, tapi tukar sama bocil putih itu!" 🌹
"Apa kau bilang? Enteng kali bacot kau." ❤️
"Gimana kalian aja sih, kalau kalian mau lihat dia mampus ya..." 🌹
"Kalau gitu satu lawan satu aja, aku yang bakal lawan kamu." Rana yang habis kesal, kontan menantang Cantik berduel pribadi.
"Rana, eling! Nggak perlu emosi." 💚
"Nggak pakai eling-eling, Lang, mereka udah mainin Dewi." sentak Rana tanpa kompromi buat saran Elang.
"Dewi ini adikku, siapa berani ganggu dia, berarti urusan sama aku. Siapapun itu." 💛
Elang, Rein, Juna, dan Eran menarik nafas panjang mendengar. Mereka tau si kuning nggak akan tertahan kali ini.
"Oke, aku terima tantanganmu, tapi..." tanpa menyelesaikan omongan, Cantik mengarahkan cermin untuk bikin Riders terpental.
Si kuning sendiri masih bertahan, tapi kini terkurung dalam kandang hasil pantulan sinar cermin barusan.
"Kita bertarung dalam sini! Itu syaratku." 🌹
======
'Berani' cocok disematkan sebagai nama tengah Rana. Dalam tekanan psikologis Cantik, si kuning nggak sedikitpun gentar dan tetap menanti duel one on one sama tuh cewek.
Mata Rana benar-benar fokus menatap Cantik, sementara di luar, 5 Riders lain tampak tegang menyaksikan si kuning taruhan harga diri demi membela Dewi.
"HIYAAA..." Rana membuka permainan, dan melepas kaki dengan target wajah Cantik. Tapi karena Cantik lebih gesit, tendangan itu hanya menerpa angin tanpa sedikitpun cedera di tubuhnya.
Jual beli jurus sekejap terjadi di antara mereka. Rana unggul dari seni bertarung, namun otak Cantik dapat mengimbangi hingga duel jadi epik dan berkelas.
"Aaakh..." pekikan Langit tiba-tiba buncah lagi. Tuh anak rupanya dikerjai Aji, yang iseng mengulur pengikat agar dia semakin dekat ke kolam.
Para Riders tentu kaget melihat sikap Aji barusan.
"Manteman!" Rein bereaksi paling instan, dan langsung mengajak yang lain merapat ke dia sejenak.
"Paham tho?' tanya Rein singkat, yang seketika disambut jempol para Riders di sekelilingnya.
Sementara di kandang, Rana kerepotan oleh serangan Cantik yang sulit ditebak. Dia merasa ada hal nggak beres, karena tenaganya kayak drop tajam dibanding hari-hari Riders selama ini.
"Gimana, Cil? Udah puas?" seperti biasa, saat di atas angin, Cantik memberi ejekan lagi.
"Asal tau aja, ini lain sembarang kandang, ini aku kasih kekuatan magis, yang bikin energimu terserap tanpa kamu sadar." 🌹
Si kuning mendengar hanya sepintas lalu. Sekujur tubuhnya kehabisan daya, bahkan batuk darah dampak luka dalam yang kini ia alami.
"Kayaknya takdirmu cuma sampai sini, bocil, biar jadi pelajaran, supaya teman-temanmu nggak banyak tingkah lagi ke Dinasti Kegelapan." 🌹
Cantik pun menyiapkan eksekusi, tapi tiba-tiba...
"Mana bocil yang lain?" 🌹
Sekejap mata, heran Cantik serta-merta terjawab oleh beberapa momen kilat Volt Riders.
Juna timbul dari dalam kolam, membawa dua monster yang tampak lapar menanti Langit jatuh. Si biru lalu melempar kreatur hiu dan buaya itu, di mana mereka segera disambut palu godam Rein yang pindah titik dengan unsur tanah miliknya.
Sementara di puncak, Aji yang masih bingung auto dipiting Eran dari belakang. Dan walau sejenak melawan, El Otot tetap dibuat jatuh oleh tendangan berikutnya si merah.
"Elang, Dewi!" usai merebut katrol, Eran serta-merta teriak sambil meninggikan posisi Langit yang masih terikat.
Kelebat hijau dan putih pun melintas di udara, untuk kemudian melepas tali Langit di tempat tersebut secara bersamaan.
"Ada apa ini?" keheranan auto memenuhi Cantik pas sadar kondisi total berbalik. Rana sendiri diam-diam berdiri, dan tanpa ragu memakai sisa energi buat menyepak tuh cewek sekaligus bikin patah kandang.
"Sial, awas kalian!" gerutu Cantik, sambil sirna tanpa bekas dengan kekesalan hati pada para Riders.
======
"Kami duluan ya, Kak." Dewi segera pamit seiring melesatnya motor Langit. Lima anak itu kini nongkrong di warung depan sekolah, menemani Rana yang biasanya bareng El Kuncir tiap jam makan siang.
"Kayaknya aku mesti siap-siap deh." usai Dewi pergi, Rana langsung bikin Riders kaget berjama'ah.
"Siap-siap kenapa?" 💚
"Adaptasilah, Lang, kalian semua kan tau, sejak Dewi datang, aku terus yang jaga dia di sini." sahut Rana, menjawab penasaran yang disampaikan Elang.
"Sekarang tau-tau dia udah kenal cowok aja. Aku nggak tau mesti gimana soal itu." 💛
"Bah, kau gimana? Kau sendiri sebetulnya setuju nggak Dewi sama itu cowok?" Eran serta-merta menekan demi mengulik hati Rana lebih dalam.
"Mau melarang pun, kalau Dewi memang suka, aku bisa apa, Er?" 💛
"Kam berat ya, lihat Dewi mulai bisa lepas dari kam?" Juna tau-tau mencuat menerka isi hati terdalam Rana.
"Wajar, Ran ai, itu tanda kam bujuran sayang sama dia. Aku juga pasti gitu pas adik-adikku mulai besar nanti." 💙
"Ededeh, nggak perlu ki pusing soal itu, biar ji mereka jalan dulu." sambung Rein, sambil menepuk Rana yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Genduk benar tuh, kalau kamu terlalu posesif, salah-salah Dewi kuper, bahaya itu, bisa di-bully teman-temannya dia." 💚
"Halah, kamu ngomong kayak punya adik aja, Lang." Rana terang ragu sama saran Elang barusan.
"Jangan salah kau, Ito, Elang boleh anak tunggal, tapi urusan ade-adean, dia paling jago di antara kita. Betul kan, Jun?" ❤️
Juna cuma mesam-mesem, tapi sambil angkat jempol tanda Eran memang nggak asal ucap.
"Ah, kalian nih," Elang jadi rada bragging, sambil bangkit menuju etalase warung.
"Kuy lah, pesan makan!" 💚
***
ns216.73.216.69da2


