Mahaguru Dewa agaknya berdusta tentang portal buatannya. Benar sih itu mengantar kelimanya balik ke kota. Tapi soal keamanan, agaknya perlu dikaji ulang karena mereka kini bablas tersungkur usai keluar portal cahaya tersebut.
Lima anak muda itu lantas bahu-membahu menolong antar sesama. Dan lantaran kondisi fisik yang belum memungkinkan, kelimanya pun sepakat rehat dan duduk sejenak di tapak batu dekat posisi Elang jatuh.
"Aku betul-betul nggak habis pikir sama pemabuk itu. Apa tujuannya gini banget ke kita?" walau masih tersengal, Elang tetap bersungut melampiaskan kekesalannya pada Mahaguru Dewa.
"Ededeh, benar mi, aku juga heran banget, omongannya nggak ada masuk akalku, segala kiamat lingkungan, melindungi bumi, kayak dia nggak punya Tuhan aja." Rein menyambar dengan gerutuan yang nggak kalah pedas dari Elang.
"Manteman, maaf ya, tapi sebaiknya kita sangka baik dulu sama itu kakek deh, toh yang dia omong juga, nggak 100% ngaco kok." Juna yang lebih banyak diam, tiba-tiba angkat suara hingga mengalihkan 4 pasang mata di sekitarnya.
"Kita semua sama-sama lihat kan, gimana situasi sekitar rumahku? Itu real, Manteman, aku mengalami keadaan yang dimaksud tuh kakek." 💙
"Daerah sekitar rumahmu nggak bisa jadi patok kondisi bumi, Mas." Elang tanpa ampun menyelak argumen Juna. "Overally, semuanya tetap baik-baik aja, langit tetap biru, daun tetap hijau, dan lihat, hewan kayak tuh kucing masih bisa bernafas normal."
"Kamu tau nggak kenapa aku lebih suka main bareng kucing?' Rana tampak kurang senang kucingnya dibawa Elang dalam adu mekaniknya. "Itu karena orang nirempati kayak kamu."
"Memang sih tuh kakek sifatnya agak aneh. Tapi kalau mau berempati dikit, yang ia jelasin tuh banyak benarnya, apa kamu nggak update soal global warming? Efek rumah kaca? Itu semua fakta, bukti nyata." 💛
"Jadi ki percaya teori konspirasi ala saintis barat sana?" Rein pasang badan mendengar nada bicara Rana yang dia anggap congkak. "Eh, asal ki tau ya, kalau ki menjalani agama dengan benar, ki pasti malu sama omongan ki barusan."
"Beragama juga pakai akal, Non, bukan asal telan, apa wahyu pertama Tuhan buat Nabi kamu? BACA!!! Use your f***in brain." 💛
"HEY..." Eran yang dari tadi diam, lama-lama jengah juga mendengar baku mulut empat kawan barunya itu. "Kalian semua bisa tenang nggak sih?"
Elang, Juna, Rana, dan Rein serempak mingkem melihat Eran mulai agak ekstrem.
"Kita di sini sama-sama buta, kalau kalian terus-menerus bertengkar, sampai kapan kita di sini, tersesat tanpa solusi?" ❤️
Eran menolak kompromi dan meninggalkan tempat itu tanpa basa-basi. Tapi belum 10 meter dia melangkah...
"DUAAAAAAR..." sebuah ledakan tau-tau terjadi dan bikin mereka terhempas diiringi kehadiran sejumlah entitas asing dari jauh.
"Oh My, apalagi ini?" ketidaksiapan bikin Elang panik dan hanya bisa lari menghindari sekumpulan makhluk itu.
Yang lain pun seketika mengikuti Elang tanpa banyak bicara lagi. Sayangnya langkah tersebut tampak keliru, dan bikin mereka jadi terpojok oleh puluhan makhluk berwajah anjing itu.
"Ededeh, gimana nih?" Rein mulai mewek saking hopeless-nya.
Beruntung di masa genting itu, Eran tanpa sengaja melihat korek ajaib di tangannya. Dia lantas teringat pesan Mahaguru Dewa saat di hutan tadi. "Ah, aku tau."
Nggak buang waktu, Eran segera memantik korek tersebut disusul rekan-rekannya yang lain. Dan persis kata Mahaguru Dewa, mereka berlima seketika ganti wujud dan menjelma jadi manusia super dengan energi ekstra di balik atribut topeng mereka.
Sedikit demi sedikit, mereka mulai sanggup mengimbangi serangan para makhluk aneh tersebut. Eran dengan kekuatan tubuh, Elang yang kian gesit, Juna melalui intelegensi, Rana bermodalkan mental, serta Rein bareng ketenangan batinnya.
Mereka semua saling bantu satu sama lain, menciptakan soliditas tinggi yang berhasil mengusir makhluk-makhluk itu dalam waktu singkat.
"Hebat, anak-anak, selamat transformasi pertama kalian." entah datang dari mana, tau-tau Mahaguru muncul dan tepuk tangan dengan hati sangat puas.
Mahaguru Dewa lalu menjentik jari sedikit, dan mereka pun kembali ke wujud manusia normal mereka.
"Sekarang apa lagi mi? Belum puas ki usil di hutan tadi kah?" Rein tantrum lagi, tapi kini dihentikan Elang yang tampak lebih kalem usai tarung awal mereka tadi.
"Kamu benar, Nak, itu tadi cuma simulasiku untuk lihat kerjasama kalian." Mahaguru Dewa minum dulu sebelum meneruskan.
"Tapi perlu kalian tau, makhluk tadi betul-betul ada, mereka bernama 'kuyuk', sekelompok budak 'Dinasti Kegelapan' yang ditugaskan bikin kacau kota kalian ini." 🧝
Walau tatapannya masih beda, lima anak itu sepertinya mulai serius dengan omongan lanjutan Mahaguru Dewa.
"Itu tujuanku menyatukan kalian, kalian memang punya bibit kekuatannya, tapi tanpa persatuan, kalian dan semua warga kota ini hanya akan jadi mainan bagi para kuyuk tadi, 'Dinasti Kegelapan' juga tentunya." 🧝
Mahaguru Dewa sesaat berdehem supaya jalan nafasnya normal lagi. "Sekarang pilihan di tangan kalian, anak-anak, jika setuju, kalian bisa memanggilku 'Mahaguru' sekarang."
"Iya, Mahaguru, aku setuju." Rana segera jadi pembuka di antara kelimanya.
"Aku tentu setuju juga, Mahaguru." Juna pun menyusul langkah yang telah dibuka El Pirang.
"Kelihatannya kau bisa dipercaya, oke, Mahaguru, aku pun setuju." Pangeran makin menebalkan senyum di bibir Mahaguru Dewa.
"Hmm, kayaknya ini nggak jelek-jelek amat, aku ikut kamu juga, pemabuk." saat chemistry mulai naik, Elang justru ceroboh lagi dan bikin orang sebelumnya pada kompak memelototi dia.
"Mmm, maksudku, Mahaguru." 💚
Tinggal Rein sendiri yang belum bersikap.
"Belum kayaknya, aku belum siap." ucapan Rein kontan disambut kecewa oleh keempat anggota lainnya.
"Kenapa?" Rein hanya bisu saat ditanya Elang.
Suasana pun serta-merta awkward, namun Rana cepat bertindak dan menghampiri Rein saat itu juga.
"Rein..." Rana langsung menggenggam erat tangan rekan berhijabnya tersebut.
Eran, Elang, dan Juna menyaksikan momen itu dengan harap-harap cemas. Sementara Mahaguru Dewa, sepertinya yakin langkah Rana bakal ampuh meluluhkan Rein yang masih belum cair.
"Iya deh, aku mau." empat kata itu kontan bikin semuanya pecah dan saling tos dengan ceria.
"Aku senang kalian mau bersatu, anak-anak, kalian adalah 'Volt Riders' saat ini, kalian akan bertugas menjaga bumi dari segala bentuk teror 'Dinasti Kegelapan'," Mahaguru angkat suara di tengah euforia kelima anak muda pilihannya.
"Kalian bebas ke markasku kapan aja, tapi satu hal harus kalian ingat, jaga identitas baru kalian ini! Siapa aja pihak luar jangan boleh tau, sekalipun itu keluarga dan teman kalian." 🧝
"Kenapa harus gitu?" Juna rada heran sama syarat pemberian Mahaguru Dewa.
"Hanya demi jaga-jaga, agar semua orang di circle kalian tetap aman di luar jangkauan." jawaban singkat Mahaguru serta-merta bikin Juna mengangguk paham.
"Sepertinya tugasku cukup hari ini, aku percayai semua ke kalian, anak-anak, sekali lagi, selamat." Mahaguru Dewa lantas jentik jari, dan bikin portal yang tadi dimasuki para Riders terlihat lagi mendominasi langit senja di kota. "Aku pamit dulu."
"Oke, Manteman, sekarang kita punya tugas baru. Kita semua harus berkomitmen, apapun terjadi, kita tetap harus bersatu." ❤️
Motivasi Eran seketika disambut angguk serempak oleh Elang, Juna, Rana, dan Rein.
Eran lalu mengambil sikap, dan langsung kasih tangan tepat di tengah teman-temannya yang lain. "Kami kekuatan..."*
"Kekuatan masa mendatang..."* tukas Rana dengan gestur tubuh yang sama.
"Format Masa Depan..."* tambah Elang.
"Filter globalisasi..."* Rein jelas nggak mau ketinggalan.
"Ahli teknologi..."* tanpa ragu, Arjuna genapi semuanya.
"THE VOLT RIDER!!!" mereka pun teriak lantang, untuk kemudian beriring memunggungi surya yang mulai turun dengan kenangan hari ini.
***
*) Format Masa Depan (vocal : Dewa 19, Composer : Ahmad Dhani, 1994)
ns216.73.216.23da2


