Lima anak muda tampak saling canggung satu sama lain. Entah mimpi apa semalam, yang jelas sore itu mereka terdampar di hutan hujan tropis tanpa tau apa dan siapa yang mesti mereka tuju.
Kurang lebih 15 menit mereka mematung tanpa saling interaksi sama sekali. Kebuntuan yang sangat kurang nyaman, sebelum Juna merogoh saku celana dan melihat ulang surat kaleng yang tadi ia terima.
"Lho, kamu dapat itu juga?" Rana terlihat kaget dan reflek merogoh kulotnya langsung. "Kita sama berarti."
Eran, Elang, dan Rein nggak kalah terkejut, hingga mereka mengeluarkan pula surat masing-masing antara satu sama lain.
"Kok bisa ya?" gumam Elang mendapati kondisi serba kebetulan ini.
"Entar ji, entar," Rein terlihat serius menyikapi situasi yang kini terjadi. "Ini jangan-jangan ada yang main-mainkan kita nih, bawa kita ke sini, terus jebak kita biar turuti permainan dia."
"Masuk akal kau, boleh jadi begitu, artinya sekarang..." belum tuntas ucapan Eran, satu lindu kecil tiba-tiba muncul dan bikin mereka oleng hingga tersungkur bareng di tanah.
"Apalagi sih ini?" gerutu Rana kembali akibat kakinya kian terasa ngilu.
Eran, Elang, Juna dan Rein pun sama heran kayak Rana. Namun saat lindu mulai reda...
"Selamat datang, anak-anakku, senang ketemu kalian." seorang tua berpakaian kuno tiba-tiba muncul dari balik kabut tebal. Di tangannya sendiri, tergenggam benda yang sangat dicari oleh satu di antara kelimanya.
"Manis? Hey, kamu apain dia? Balikin sini!" Rana coba melabrak, namun dihentikan Juna yang masih khawatir sama orang asing itu.
"Tenang, Nak, kucing ini tetap milikmu, aku nggak akan mengambilnya." 🧝
"Hei, Pak Tua, berhenti bertele-tele, jelaskan ke kita siapa kau? Dan apa tujuan kau bawa kita ke tempat ini?" Eran yang habis sabar langsung menyentak dengan nada sengit.
"Baiklah, aku minta maaf udah bikin kalian jadi sekesal ini padaku," kakek itu menjeda ucapan sejenak, lalu menenggak sedikit minuman dalam kendi di tangan kanannya.
"Namaku Mahaguru Dewa, aku utusan dari Kerajaan Langit, ditugaskan raja langit buat menjaga kelestarian lingkungan di planet ini." 🧝
"Oke, aku ngerti, sekarang mana bonekaku? Aku mau pulang, ini udah hampir maghrib." Rein menanggapi dingin kakek bernama Dewa tersebut.
"Tenang, ini nggak akan lama, aku hanya ingin menyampaikan pesan penting ke kalian semua." Mahaguru Dewa tetap kalem walau ditekan para anak muda di depannya.
"Kerajaan Langit udah lama mengamati kalian. Dan setelah menilai tingkah laku kalian selama ini, kita berpendapat kalian bisa kita percaya untuk melindungi bumi, dari kiamat lingkungan yang sebentar lagi terjadi." 🧝
"Melindungi bumi?" Elang seketika ngikik sinis. "Dasar pemabuk, tau apa kamu soal bumi ini, Kakek Tua? Kita masih baik-baik aja di sini, nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Udah kuduga, kalian pasti sulit percaya, oke." 🧝
Mahaguru Dewa pun jentik jari, dan tanpa disangka sebuah visual mirip proyektor tiba-tiba muncul di hadapan lima anak muda tersebut.
"Dia bernama Bayang, ketua geng 'Dinasti Kegelapan'. Ia berencana membusukkan bumi, menjadikan bumi bergantung pada bisnis oksigen sintetis miliknya."
Walau masih terlihat apatis, kelima anak muda itu agaknya mulai serius menyimak visual yang tampil di hidung mereka.
"Bayang memiliki dua anak yang setia, Cantik dan Imaji. Keduanya punya kekuatan berbeda, tapi sama-sama menakutkan. Cantik dengan kemampuan menyamar, dan Imaji, dia sangat fisikal." Mahaguru Dewa melanjutkan lagi penjelasan yang tadi dia gantung.
"Ini kan, sungai di dekat rumahku?" Juna dengan cepat menyadari gambar yang ada di salah satu slide tuh visual.
"Benar sekali, dan tentu kamu rasain juga kan, efek buruk pembangunan masif di sana? Itu juga bagian dari rencana jahat si Bayang."
"Oke, Pak Tua, mungkin kau ada benarnya, tapi apa urusan kita sama ini semua?" Eran kembali menanyakan fungsi kehadirannya ke Mahaguru Dewa.
"Kalian adalah anak muda berhati bersih, itu jawabannya." walau bernada lembut, terlihat jelas sangat lugas Mahaguru menjawab tanya Eran barusan.
"Pangeran, kamu anak yang ulet dan berani, untukmu kupercayakan unsur api, beserta roh beruang dalam kendalimu." ❤️
"Elang, kamu anak cerdas dan wawasanmu luas, untukmu kupercayakan unsur angin, serta roh burung elang dalam kendalimu." 💚
"Arjuna, kamu anak yang bertanggung jawab dan setia, untukmu kupercayakan unsur air, dan roh ikan pesut dalam kendalimu." 💙
"Kirana, kamu anak penyayang dan lembut hati, buatmu kupercayakan unsur matahari, dan roh macan dalam kendalimu." 💛
"Rein, kamu anak berprinsip dan sulit goyah, buatmu kupercayakan unsur tanah, dan roh badak dalam kendalimu." 💜
Mahaguru Dewa lantas menjentik jari lagi, dan sekejap, benda-benda yang dicari balik diiringi surat mereka yang berganti sebatang korek gas kecil.
"Itu bukan sembarang korek gas, anak-anak, itu alat transformasi kalian, cukup satu kali tekan, kalian bakal berubah jadi manusia super dengan energi yang lebih kuat." 🧝
"Ah mosok?" Elang tetap memandang remeh, namun kemudian terpental sendiri akibat sok jago mencoba tuh korek serampangan.
"Ki nggak apa-apa?" Rein yang berdiri di sebelah Elang pun, segera membantu meski Elang sendiri menyatakan nggak kenapa-napa via lambaian tangan.
"Gunakan itu hanya dalam keadaan terdesak, Nak, energi yang ditimbulkannya terlalu besar jika dipakai dalam kondisi normal." Mahaguru Dewa pun menegur melihat sikap ceroboh dari Elang.
Kakek sepuh itu lantas menjentik jari lagi, dan sebuah portal mendadak muncul dalam kondisi terbuka lebar di hadapan mereka.
"Sekarang kalian boleh pulang, masuklah ke portal itu, dan kalian semua akan balik ke kota dengan selamat." 🧝
Kelimanya kontan saling tatap dengan mata ragu-ragu. Namun saat melihat senyum tulus dari Mahaguru Dewa, mereka pun jadi yakin dan bergiliran melangkah memasuki portal milik sepuh rambut putih tersebut.
***
ns216.73.216.23da2


