Kirana 'Rana' Ang (El Pirang 💛)
"Manis, kejar sini!" seorang gadis pirang tampak asyik memainkan tikus elastis ke kanan dan ke kiri. Sementara di belakangnya, seekor kucing anggora mengikuti arah gerak mainan tersebut dengan penuh rasa ingin tau.
Cewek itu pun melanjutkan keusilan dan mengangkat 'tikus' di tangannya agar kucing itu terpancing berdiri. Namun belum sempat tercapai, kejahilan tuh gadis tau-tau terhenti oleh kehadiran ibu paruh baya yang hadir dari balik ruang dapur. "Maaf, Non."
"Iya, Bik, ada apa?" 💛
"Anu, Bibik cuma mau tanya, sore ini Non Kirana mau makan cemilan buah atau kue?"
Cewek bernama Kirana itu menimbang dua opsi yang diberi si Bibik sejenak. "Di kulkas buahnya apa aja, Bik?"
"Apa ya?" gantian si Bibik yang mengingat. "ada jeruk, apel, anggur, sama semangka kalau nggak salah."
"Yah, si Bibik, udah tau Rana nih nggak hobi semangka, masih dibeliin." hela nafas Kirana menunjukkan betul kecewanya pada kinerja sang ART.
"Maaf, Non, tapi itu semangka pesanan dari Tuan langsung, kan 3 hari lagi Tuan dan Nyonya bakal balik dari Jepang?"
"Ya udah, apelnya apel Fuji kan? Itu ajalah Rana makan." Kirana memilih nggak debat panjang, dan hanya minta si Bibik membawa alternatif lain sebagai cemilannya sore itu.
Rana lalu memilih duduk di ruang tengah, tapi nggak sampai 3 menit, gadis ayu tersebut tiba-tiba teringat handphone yang ia sedang charge dalam kamarnya di lantai atas.
Kirana pun bergegas masuk kamar, yang sayangnya diiringi satu hal sederhana tapi dia lupa. Membawa Manis balik ke kandangnya.
Kelengahan itu jelas dibayar Rana oleh rasa repot luar biasa. Tanpa peduli cemilan dari si Bibik, dia pun seketika buka pagar dan keliling melacak kemungkinan lokasi tuh kucing kabur.
"Mpuus, ckckck, Manis, di mana kamu?" sambil mengeluarkan siulan khas pemanggil kucing, Kirana terus menyebut nama Manis layaknya ibu yang panik anak kandungnya hilang.
Beruntung nggak perlu waktu lama, hewan yang dicari Kirana akhirnya kelihatan juga di sudut perempatan jalan besar. Namun saat tuh cewek hendak mengambil, sebuah mobil terbuka mendadak berbelok dan tanpa akhlak hampir melukai Rana andai ia nggak tanggap sama kemunculan tuh mobil di depannya.
"Heeeeeeei..." Rana kontan ngamuk melihat tingkah driver sableng yang nyaris bikin dia celaka. Amukannya pun kian menjadi, karena ternyata tuh mobil berhenti tepat di depan Manis dan tanpa banyak cingcong langsung dipungut semena-mena oleh orang di sebelah pengemudi aneh tersebur.
"Mau kalian apakan kucingku? Sini balikin!" Kirana coba berjuang, namun tubuh mungil wanitanya jelas sulit mengimbangi tenaga 2 lelaki sekaligus.
Keduanya pun terkekeh menyaksikan Rana hanya duduk pasrah usai kalah tarung dengan mereka. Namun sebelum benar-benar pergi, salah satunya lebih dulu melempar surat sampul kuning yang tepat mengenai hidung kecil tuh cewek.
Meski matanya sembab, Rana berusaha tetap fokus melihat surat dari dua orang iseng itu. Dan hanya sekali membaca, dia langsung tau harus berbuat apa.
======
Andi Reina 'Rein' Darmawati (El Hijab 💜).
"Shadaqallahul'azim..." seorang gadis hijab tampak baru kelar ngaji sore itu. Dan setelah mencium kitab yang baru ia baca, dirinya pun segera menata ulang perlengkapan sebelum beralih ke sudut lain kamar minimalisnya ini.
"Bawa yang mana ya?" gumamnya sembari melihat koleksi boneka yang ia jejer di sebuah buffet kayu.
Pilihannya pun jatuh pada boneka badak berukuran sedang di sisi pojok kanan lemari. Dan usai merasa siap, gadis itu lantas keluar dan berpapasan dengan seorang perempuan paruh baya yang lagi asyik jahit baju di sekitar ruang tengah rumah.
"Umi, Rein ke TPA dulu ya?" gadis bernama Rein itu mohon pamit sambil cium tangan wanita yang ternyata adalah ibunda tercinta ia.
"Oh, iya ji, hati-hati ki, Ce, di jalan." Umi Rein tampak senyum dan menyambut tangan anak gadisnya dengan positive vibes 100%.
Rein sendiri melaju usai ucap salam pamit pada Umi-nya. Dan hanya berkisar 10 menit, gadis itu pun tiba di satu masjid besar yang sepertinya jadi tempat mengajar ngaji dia selama ini.
Kurleb sejam dihabiskan Rein membaur dikelilingi anak usia dini yang bersemangat tinggi mendalami ilmu agama. Dan usai interaksi sama beberapa guru lain, ia pun buru-buru balik karena memang nggak gitu betah lama-lama dalam ruang publik. Gadis rumahan banget.
Rein pun segera berkemas agar memiliki waktu sebelum adzan Maghrib tiba. Namun alih-alih adem rebahan, tuh cewek justru heran lantaran boneka yang ia bawa ternyata hilang saat hendak ia balikin ke buffet seperti semula.
"Ededeh, manakah bonekaku? Ketinggalan di masjid kah?" 💜
Rein pun bergegas mengambil handphone guna mengonfirmasi hal itu pada sejumlah rekan pengajarnya. Sayangnya usaha tersebut nggak berdampak banyak, lantaran semuanya mengklaim nggak tau-menau tentang boneka kesayangan tuh gadis.
Rein lantas keluar kamar, dan coba mencari Umi-nya demi mengonfirmasi hal yang sama.
"Memang di mana ki taruh tadi? Coba ki ingat dulu." Umi Rein tentu ikut heran melihat anak gadisnya mendadak random sendiri.
Rein pun hanya bisa pasrah usai usahanya gagal total menemukan boneka yang hilang itu. Namun ketika mau mulai membaringkan tubuh, sebuah surat sampul ungu nggak sengaja terlihat dan bikin dia penasaran ingin melihat isi yang terkandung di situ.
"Oh gitu ya? Okelah." 💜
"Ededeh, mau ke mana lagi ki, Ce? Baru pulang udah mau pergi lagi." Umi Rein kian bingung melihat anaknya makin random.
"Mau cari boneka Rein, Mi, Rein tau siapa yang bawa." balas Rein sambil melangkah yakin ke pintu depan. "Rein pergi dulu, Mi, Assalamu'alaikum."
***
ns216.73.216.23da2


