Pangeran 'Eran' Situmeang (El Klimis ❤️)
"TEEEEEEEEET..." dering buzzer di sebuah futsal centre terdengar bising mengiringi pergantian giliran main. Arus keluar masuk pun tercipta, termasuk di sisi kiri, di mana seorang pemuda berpenampilan necis kelihatan begitu ganteng dengan jersey yang kini dia kenakan.
"Pangeran..." sepotong suara tiba-tiba muncul di sela riuh rendah suasana. Lelaki yang mengenakan jersey merah Manchester United itu pun merasa terpanggil, dan benar saja, ada seseorang menghampirinya dari balik koridor yang sedang ia titi.
"Julius, kau rupanya." cowok bernama Pangeran itu langsung menyapa saat mereka udah saling rapat.
"Keren kali kau tadi, mirip banget sama CR7."
"Ah, bisa saja kau ini, bukannya itu udah biasa?" dengan logat Batak kental, Pangeran merespon enteng pujian Julius tadi.
Mereka pun berjalan beriring menuju parkir, sambil berbincang random membahas hal-hal yang tengah terjadi di sekitar futsal centre.
"Oh iya, Er, kamu udah diinfo belum, soal ujian mid semester nanti?" Julius tiba-tiba bertanya dengan sedikit serius.
"Belum tuh, Pak Silaban sepertinya masih sibuk sama proyeknya di IKN. Aku bahkan belum ketemu sama dia selama satu minggu ini." ❤️
Julius menghembus nafas panjang terhadap jawaban Pangeran. Seperti adas tergurat di raut wajahnya saat ini.
"Udahlah, kau tenang saja, Pak Silaban itu bukan orang yang ribet, paling dua hari dia kasih konfirmasi soal ujian mid semester, jangan kau khawatir." Pangeran tampak bisa menangkap galau Julius, dan menepuk bahu kawan bermainnya untuk memberi tuh anak ketenangan.
Mereka berdua lalu pisah usai menyalakan motor yang mereka bawa. Dan setelah kurleb 15 menit di jalan, Eran pun akhirnya sampai di rumah kontrakan yang udah dua tahun ini dia tempati sendiri.
Pangeran pun mulai berbenah diri untuk melanjutkan lagi aktivitasnya. Tapi alangkah kagetnya dia, saat bola yang udah dia simpan sebelum mandi, tiba-tiba lenyap tanpa jejak sama sekali.
Situasi itu kontan bikin Pangeran panik dan berkeliling rumah tanpa sempat salin. Setiap sisi dia cek teliti, namun tetap nirhasil hingga bikin tuh cowok mulai naik darah sendiri.
"Aaaah, gimana sih ini? Ke mana lagi tuh bola?" tanpa sadar Eran menyepak sepatu di dekatnya saking terbawa emosi.
Namun kemarahan itu seketika terhenti, saat tanpa sengaja Pangeran melihat surat asing bersampul merah terbaring pasrah di meja belajar miliknya.
"Apa nih?" Eran pun membuka surat itu, dan perlahan membacanya huruf demi huruf. Tapi melihat kembalinya emosi di mimik muka tuh anak, kayaknya surat itu punya kaitan sama bola kesayangan dia yang kini raib.
"Pasti Julius lagi, benar-benar br*****k tuh anak, nggak pernah kapok bikin prank." Eran langsung tarik kesimpulan saking diliput emosi berlebih. Ia lantas bergegas ganti baju, dan langsung melesat mengikuti denah peta di surat tersebut.
======
Erlangga 'Elang' Sastro Nugroho (El Gondrong 💚)
"Ting tung...", sebuah chat tersampaikan ke satu ponsel Android edisi terbaru. Si pemilik ponsel, seorang cowok gondrong sebahu, pun bangkit dari kasur dan menghampiri gadget guna melihat apa yang ia dapat dari barang canggih miliknya tersebut.
"Elang, buruan ke taman gih! Aku, Murai, sama Angkasa udah di sini, kita adu drone mumpung cuaca bagus..." bak sebuah mood booster, chat WA itu serta-merta bikin cowok bernama Elang tersebut langsung terbangun dipenuhi semangat.
Tanpa basa-basi, Elang pun mengirim kata 'otw' ke kontak yang atas nama 'Dirga' itu. Pemuda itu pun buru-buru ke lantai bawah rumah, dan mengecek lemari penyimpanan drone-nya sebelum lari mengambil handuk supaya bisa secepatnya mempersiapkan diri ke taman.
Well, belakangan Elang memang darurat hiburan. Baru putus dengan Nuri, mantannya, dan ditinggal sang Ayah bertugas terbang keliling Jawa, bikin hatinya begitu sepi dan rada kurang nutrisi sebagai makhluk sosial. Ajakan teman-temannya itu jelas cara efektif supaya dia bisa terhindar lebih dalam dari stres.
"Tes dulu ah, sebelum ke taman." gumam Elang sembari mengambil 3 set drone yang ia anggap paling layak terbang. Dan setelah memastikan drone pilihannya, dia pun buru-buru mandi agar nggak lepas momen.
Sambil bersiul, Elang pun balik ke lemari drone usai mematut diri di kamar. Tapi ketika hendak memasukkan semua perabot drone ke dalam ransel, lelaki itu tiba-tiba bingung lantaran drone propeller yang ia mau bawa malah nggak ada di sekitar situ.
"Piye tah iki? Tadi kayaknya di sini deh, opo kegowo neng kamar tah?" bahasa ibu Elang jadi keluar saking paniknya. Dia lalu segera balik ke kamar, tapi ternyata drone yang dicari memang nggak pernah ada di dalam sana.
Mood Elang kontan swing lagi lantaran kejadian itu. Dia pun memilih mencari drone alternatif, namun saat keluar, ia terkejut lagi oleh surat sampul hijau yang tersangkut di pintu lemari drone-nya.
"Opo meneh iki?" batin Elang seraya membuka surat itu dengan agak terburu-buru.
"Apa sih nih? Kerjaan Dirga ya? Tapi nggak mungkin, nih surat tulisannya rapi, nggak cakar ayam kayak Dirga punya." 💚
Elang merenung sesaat memikirkan surat yang sepertinya berkait sama drone-nya yang hilang. 1-2 menit dirinya menimang-nimang surat tersebut, hingga akhirnya ia memantap hati dan mengikuti denah peta pada menit ke 5.
======
Arjuna 'Juna' Is Mahayana (El Cepak 💙)
"Ardita, Ariana, Kakak pulang nih." seorang lelaki tampak masuk rumah dan memanggil dua nama yang bergender wanita. Dengan seperangkat ember dan kail di kedua tangan, kelihatan jelas pemuda cepak itu baru selesai memancing di sebuah area berair sekitar situ.
"Horeeeeeeee, Kak Arjuna balik." dua cewek pun muncul dan antusias menyambut cowok bernama Arjuna tersebut.
"Dapat apa hari ini, Kak?" salah seorang cewek seketika merangsek mengintip isi ember yang ditenteng Juna. Dari penampilan, dapat ditebak itu cewek belum akil baligh dan masih berumur sekitar 10 atau 11 tahun.
"Rejeki Yana nih, kebetulan Kakak dapat kakap dua sama patin lima." Arjuna pun memperlihatkan tangkapannya pada gadis cilik bernama Ariana itu.
"Iiiiiiih, Kak Juna," cewek yang satunya lagi, yang kelihatannya lebih gede, tampak protes melihat mereka mesra-mesraan berdua tanpa dirinya. "Masa cuma Yana aja, Dita gimana?"
"Kan sama-sama, Sayang? Buat Dita juga ada," Arjuna pun menghampiri perempuan bernama Ardita itu. "ayo sini, kita barengan."
"Oh ya, Kak, tadi Yana habis belajar bikin pisang gapit lho bareng Kak Dita, Kakak mau coba?"
"Oh ya? Wah, pasti enak tuh, boleh deh." Juna pun mengiyakan tawaran yang dikasih Yana padanya.
"Kalau gitu Dita siapin air hangat dulu ya, Kak, biar capek Kakak hilang." Dita berinisiatif melayani Kakak sulungnya tersebut.
Juna sendiri melepaskan lelah di sofa kecil teras belakang rumahnya. Ditemani mangkuk pisang gapit buatan Ariana, lelaki kekar itu tampak menikmati alam serta kicau burung sore seperti kebiasaannya selama ini.
"Kak, airnya udah siap tuh." tegur Ardita yang spontan bikin Arjuna berbalik menjeda kegiatan alamnya. Tanpa buang waktu Juna bersiap, dan mulai menggelut air melepaskan daki yang menempel selama dia memancing tadi.
"Segar." mood Arjuna tampak balik setelah mandi dan mendengar suara-suara alam. "Waktunya cari baju buat kuliah."
Arjuna pun mulai mengecek isi lemari, namun ketika matanya ke pojok kamar, tuh lelaki tau-tau tersentak melihat mata kailnya ada yang hilang bak ditelan bumi.
Kontan Arjuna balik kanan demi mencari benda kesayangannya itu. Ia lantas bertanya ke Ardita, namun...
"Kadada, Kak, Dita dari tadi di dapur aja, masak buat nanti malam.'
"Yana?" 💙
"Apa pang kakanakan itu, mun diajak main kekawalannya, lalu ai dia lari, kada tau-tau."
Arjuna terlihat bingung dengan situasinya. Satu sisi dia yakin telah menata alat pancing dengan benar, tapi sisi lain, nggak mungkin ia menuduh yang bukan-bukan ke Yana dan Dita, Juna tau betul watak mereka seperti apa.
"Oh iya, Kak, stumat." perhatian Juna lagi-lagi teralih oleh teguran singkat Ardita. Si cewek lantas bergegas masuk, dan kemudian keluar lagi bersama sebuah surat bersampul biru di tangan.
"Apa ini, Dit?" 💙
"Kada tau, Kak, cuma pas Kakak mandi tadi, ada orang datang ke rumah, bepadah inya suruh Dita kasih itu surat ke Kakak."
Sejujurnya Arjuna mau marah karena sikap sembrono Dita yang sembarangan menerima tamu. Tapi karena penasaran dengan isi surat di tangannya, rasa itu pun dipendamnya dulu agar bisa fokus melihat pesan di dalamnya.
"Apa isinya, Kak?" Dita turut kepo melihat kakaknya manggut-manggut di depan surat itu.
"Kayaknya Kakak tau deh, siapa yang ambil kail pancing Kakak, kam tunggu sini ya! Kakak mau pergi dulu." 💙
Arjuna pun bergegas tanpa kasih adiknya kesempatan bertanya.
***
ns216.73.216.23da2


