Bab 2: Panas yang Tak Terduga
2714Please respect copyright.PENANAu3xiPcaa2n
Malam semakin larut di rumah besar Pak Hadi. Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, mengisi keheningan yang menyelimuti seluruh bangunan. Rina berguling di tempat tidurnya untuk kesekian kalinya. Tubuhnya terasa panas luar biasa, meski pendingin ruangan sudah dinyalakan cukup dingin. Kulit putih mulusnya berkilau karena keringat tipis yang muncul tanpa alasan jelas. Setiap kali kain baju tidur sutra tipis bergesek dengan puncak putingnya, ia merasa ada gelenyar listrik kecil yang menjalar hingga ke memek di antara kedua pahanya yang mulus.
2714Please respect copyright.PENANAD077ohyCyZ
"Astaghfirullah... kenapa tubuhku seperti ini?" gumam Rina pelan. Ia duduk di tepi tempat tidur, hijabnya sudah dilepas karena hanya sendirian di kamar. Rambut hitam panjangnya tergerai indah di punggung. Payudara I-cupnya naik turun cepat seiring napas yang mulai berat. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Andi baru berangkat beberapa jam lalu, tapi ia sudah merasakan kesepian yang aneh, bercampur dengan gelombang panas yang membuat memeknya basah dan berdenyut pelan.
2714Please respect copyright.PENANAxmVvRRz6Zr
Di kamar utama lantai atas, Pak Hadi duduk nyaman di kursi kerjanya yang empuk. Monitor di depannya menampilkan gambar tajam dari kamera kecil yang sudah terpasang di kamar menantunya. Ia melihat Rina duduk gelisah, tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya yang putih. Senyum puas terukir di wajah tegasnya. Obat perangsang dosis kecil yang ia campur di teh jahe tadi sore mulai bekerja dengan sempurna. Tubuh sensitif Rina memang sangat responsif.
2714Please respect copyright.PENANA6HA1CmQin1
"Bagus... semakin panas, semakin mudah nanti kau patah, Nak," bisik Pak Hadi sambil mengusap dagunya. kontolnya sudah setengah tegang sejak tadi, membayangkan bagaimana ia akan menjinakkan menantu salehanya itu. Ia membuka laci lagi, memeriksa botol obat perangsang dosis penuh yang akan ia gunakan besok malam. Rencananya matang: besok ia akan buatkan minuman lagi, tapi dengan dosis lebih kuat. Kemudian ia akan dekati Rina pelan, gunakan pengalaman manipulasi selama puluhan tahun untuk membuatnya ragu dan ketakutan.
2714Please respect copyright.PENANAFR8ZwlEpZy
Pak Hadi bangkit, mengenakan kaos longgar dan celana rumah. Ia turun ke lantai bawah dengan langkah tenang. Malam ini ia ingin mengobrol lebih dekat dengan Rina, menguji seberapa jauh efek obat sudah merambat.
2714Please respect copyright.PENANA3lh4TZqmme
Rina terkejut saat mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya. "Nak Rina, masih bangun? Bapak lihat lampu masih menyala. Ada yang Bapak bisa bantu?" suara Pak Hadi terdengar lembut dari balik pintu.
2714Please respect copyright.PENANA2BoNp1Ld1B
Rina buru-buru merapikan hijabnya kembali, meski tubuhnya masih panas. Ia membuka pintu sedikit. "Eh, Pak Hadi. Maaf, saya belum tidur. Badan agak panas entah kenapa."
2714Please respect copyright.PENANAZqkHupppkY
Pak Hadi tersenyum prihatin, tapi matanya menyapu cepat tubuh Rina dari atas ke bawah. Baju tidur tipis itu tak mampu menyembunyikan tonjolan puting yang mengeras di balik kain. "Mungkin karena cuaca atau capek. Masuklah, Bapak buatkan susu hangat lagi. Atau kita ngobrol sebentar di ruang tamu biar tidak sendirian."
2714Please respect copyright.PENANAhK1ZkblthF
Rina ragu sebentar, tapi karena merasa hormat dan takut dianggap tidak sopan pada mertua, ia mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih."
2714Please respect copyright.PENANAZUuIMFAtOx
Mereka duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Lampu temaram menciptakan suasana intim. Pak Hadi pergi ke dapur sebentar dan kembali dengan dua gelas susu hangat yang sudah ia campuri sedikit lagi obat perangsang ringan. Ia memberikan yang lebih banyak pada Rina.
2714Please respect copyright.PENANA4UuBSjRsea
"Minumlah, Nak. Susu hangat ini bagus untuk tidur nyenyak," kata Pak Hadi sambil duduk cukup dekat di samping Rina.
2714Please respect copyright.PENANAQ6J8nO4GZF
Rina meniup gelasnya pelan. Aroma vanila menenangkan, tapi saat cairan hangat masuk ke tenggorokannya, panas di tubuhnya semakin menyebar. Ia merasakan memeknya semakin basah, cairan hangat mulai merembes pelan ke celana dalamnya. Puncak putingnya semakin mengeras, nyeri nikmat setiap kali bergesek kain. Ia menggeser duduknya gelisah, mencoba menutupi dengan menarik ujung baju tidur.
2714Please respect copyright.PENANAMLuoDbXq4h
Pak Hadi memperhatikan semua itu dengan saksama. "Kamu terlihat gelisah, Nak Rina. Ada yang mengganggu pikiran? Cerita saja sama Bapak. Andi sudah jauh, Bapak di sini sebagai gantinya."
2714Please respect copyright.PENANADn8qNMJstO
Rina menggigit bibir bawahnya. Wajahnya memerah. "Saya... entah kenapa badan panas sekali, Pak. Padahal AC nyala. Mungkin kecapekan bersih-bersih tadi."
2714Please respect copyright.PENANAdH9lfbOxsb
Tangan Pak Hadi menyentuh punggung Rina pelan, pura-pura menenangkan. Sentuhan itu seperti listrik bagi tubuh sensitif Rina. Ia merinding hebat, napasnya tersengal kecil. "Bapak pijit sedikit punggungmu ya? Biar rileks."
2714Please respect copyright.PENANA5SstsFXCqn
Tanpa menunggu jawaban penuh, jari-jari tebal Pak Hadi mulai memijat bahu Rina dengan ahli. Tekanan yang pas, hangat dari telapak tangannya meresap ke kulit putih mulus di balik baju tipis. Rina ingin menolak, tapi rasanya enak sekali. Tubuhnya yang sensitif bereaksi berlebihan memeknya berdenyut lebih kuat, ia merasakan getaran kecil di perut bawah.
2714Please respect copyright.PENANAhsnM67QhT6
"Pak... cukup... saya sudah baikan," bisik Rina dengan suara gemetar. Tapi tangannya tak bergerak menjauhkan mertuanya.
2714Please respect copyright.PENANAlyDUWwe28L
Pak Hadi tersenyum dalam hati. "Kamu cantik sekali, Nak. Andi beruntung punya istri seperti kamu. Tubuhmu terawat, kulitmu mulus. Bapak kadang iri lihat kalian berdua."
2714Please respect copyright.PENANAC9905tRqFM
Kata-kata itu terdengar seperti pujian biasa, tapi nada suaranya dalam dan penuh arti. Rina merasa ada yang aneh, tapi obat membuat pikirannya kabur. Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak. Saya berusaha jadi istri yang baik."
2714Please respect copyright.PENANAPsOJ0ivZw0
Obrolan berlanjut. Pak Hadi bercerita tentang masa mudanya, bagaimana ia dulu aktif dan kuat. Sesekali tangannya turun lebih rendah, menyentuh pinggang ramping Rina. Setiap sentuhan membuat Rina semakin gelisah. memeknya sudah sangat basah, ia khawatir noda akan terlihat di sofa. Kakinya saling menekan untuk menahan sensasi.
2714Please respect copyright.PENANADGlZqeBJkn
"Kalau kamu butuh apa saja, bilang Bapak ya. Bahkan kalau... kesepian di malam hari," kata Pak Hadi sambil menatap mata Rina dalam-dalam. Tatapannya penuh hasrat yang tersembunyi.
2714Please respect copyright.PENANA0WpiJhvQuN
Rina menunduk, pipinya panas. "Saya... saya istri Andi, Pak. Saya tahan."
2714Please respect copyright.PENANACiVSR0KX2G
Pak Hadi tertawa pelan. "Tentu, Nak. Bapak hanya khawatir saja. Sekarang istirahatlah. Besok pagi kita sarapan bersama."
2714Please respect copyright.PENANA42iCBWJWiV
Ia membantu Rina berdiri. Saat berdiri, kaki Rina agak lemas. Pak Hadi memeluk pinggangnya sebentar untuk "menopang". Tubuh mereka hampir menempel. Rina bisa merasakan sesuatu yang keras dan besar di perut bawah Pak Hadi menyentuh pinggulnya sekilas. Ia terkejut, tapi obat membuatnya tak langsung menjauh.
2714Please respect copyright.PENANAuqwmMR8Tgy
"Maaf, Pak..." gumamnya malu.
2714Please respect copyright.PENANAc6cmZKSKCS
"Tidak apa-apa. Tidur yang nyenyak, Nak Rina."
2714Please respect copyright.PENANAQItLSSHSUE
Rina kembali ke kamarnya dengan langkah tergesa. Ia mengunci pintu, lalu langsung merebahkan diri. Tubuhnya terbakar. Tangan kanannya tanpa sadar merayap ke bawah, menyentuh memek yang sudah banjir cairan. Sentuhan pertama di kristoris kecilnya membuat ia mengerang pelan tertahan. "Ahh... kenapa... ini dosa..."
2714Please respect copyright.PENANAMz9rMSOPiL
Ia mencoba menahan, berdoa dalam hati, tapi sensasi semakin kuat. Di monitor kamar Pak Hadi, gambar itu terekam jelas. Pak Hadi tersenyum lebar sambil mengusap kontolnya yang sudah sangat tegang.
2714Please respect copyright.PENANAEHwGCdaYBh
"Rina... besok malam kontol Bapak akan merobek memekmu yang rapat itu. Kamu akan mengerang nama Bapak, bukan Andi," gumamnya penuh kemenangan.
2714Please respect copyright.PENANAcTfNWo7rvf
Malam itu Rina akhirnya tertidur dalam gelombang panas dan mimpi-mimpi aneh yang penuh bayangan tangan kuat mertuanya. Sementara Pak Hadi menyusun rencana lebih detail: besok ia akan pasang lebih banyak kamera, siapkan ruang basement, dan tingkatkan dosis obat. Obsesinya terhadap menantu saleha itu semakin membara. Ia akan hancurkan kesetiaan Rina pelan-pelan, ubah ia menjadi budak seks yang ketagihan kontolnya yang besar dan tebal.
2714Please respect copyright.PENANA1VsFhiBa1I
Di dapur, angin malam masuk melalui jendela. Rumah besar itu masih tenang di permukaan, tapi di dalamnya sudah mulai bergejolak api terlarang yang akan segera membakar segalanya.
2714Please respect copyright.PENANAj8jygXqDPZ
Rina terbangun tengah malam karena mimpi basah yang membuatnya malu setengah mati. memeknya berdenyut hebat, cairan cairan orgasmenya membasahi seprai. Ia menangis pelan, merasa bersalah pada Andi, tapi tubuhnya sudah mulai lemah terhadap sensasi baru itu.
2714Please respect copyright.PENANAQsm8eDqfK2
Pak Hadi, yang masih terjaga, mencatat semua di buku catatannya. "Tahap satu berhasil. Besok tahap dua dimulai."
2714Please respect copyright.PENANARpHhGup5wl


