122Please respect copyright.PENANAIeh6iDjkU6Keesokan sorenya, Hafisha datang lagi ke ruang OSIS tepat jam 16.30. Kali ini ia sudah tidak berani menolak panggilan mereka. Sepanjang malam kemarin ia tidak bisa tidur, memori tali di tangan dan rasa sperma di mulutnya terus berputar di kepala.
Ia masih memakai baju putih tipis dan rok abu-abu, hijab rapi, tapi langkahnya terasa berat.
Begitu masuk, ruangan sudah diatur. Meja besar dipindah ke tengah, dan tali putih sudah tersedia di atasnya. Revan, Rian, dan Dika tersenyum lebar melihatnya.
Revan: "Kak Hafisha datang juga. Kami kira Kakak bakal kabur hari ini."
Hafisha: (suara pelan, menunduk) "…Kalian bilang ini hukuman terakhir kan? Setelah ini selesai ya…"
Rian tertawa sambil mendekat dan langsung memeluk pinggang Hafisha dari belakang.
Rian: "Tergantung seberapa patuh Kakak hari ini."
Mereka bertiga tidak membuang waktu. Baju putih Hafisha dibuka lagi, tanktop tipisnya ditarik ke atas hingga kedua payudaranya terpapar. Hijabnya dilepas, rambut hitamnya tergerai acak-acakan.
.Tangan Revan meremas payudaranya pelan, sementara Dika menarik roknya ke bawah hingga jatuh ke lantai. Celana dalam pink tipisnya sudah basah di bagian tengah.
Dika: "Lihat nih, memek Kakak sudah banjir lagi. Padahal baru masuk ruangan."
Mereka membawa Hafisha ke meja. Kali ini tangannya diikat ke belakang punggung, lalu tubuhnya dibaringkan telungkup di atas meja dengan pinggul tepat di pinggir meja. Kaki Hafisha diturunkan ke lantai, pantatnya terangkat sedikit.
Hafisha: "Tunggu… posisi ini… aku nggak nyaman…"
Revan: "Justru ini yang enak, Kak."
Plak! Plak! Plak!
Rian menampar pantat Hafisha yang bulat dan kencang beberapa kali. Setiap tamparan membuat Hafisha tersentak dan mengeluarkan desahan kecil.
Hafisha: "Ahh… sakit… pelan-pelan dong…"
Pantat Hafisha sudah memerah bekas tamparan. Revan berdiri di belakangnya, menggesek-gesekkan kontolnya yang sudah keras di celah memek Hafisha yang basah dari luar celana dalam.
Revan: "Kak Hafisha… mau minta dimasukkan nggak?"
Hafisha: (gigit bibir kuat-kuat) "…Jangan… ini salah…"
Dika menarik rambut Hafisha pelan dari samping sambil menampar payudaranya lagi.
Dika: "Jawab yang benar, Kak."
Hafisha: (suara hampir menangis tapi penuh nafsu) "…Masukin… pelan-pelan ya…"
Revan menarik celana dalam Hafisha ke samping dan mendorong kontolnya perlahan masuk ke memek gadis itu.
Hafisha: "Aaaahhh… besar… pelan Rev… ahh!"
Sementara itu Rian memaksa Hafisha mengisap kontolnya dari samping, dan Dika meremas serta menampar payudara Hafisha yang bergoyang-goyang.
Revan: "Enak banget memek Kak Hafisha… sempit dan panas. Pantas Kakak polos di luar."
Hafisha: (sambil mulut penuh kontol Rian) "Mmmhh… hngg… ahh… pelan… aku mau keluar…"
Beberapa menit kemudian, tubuh Hafisha mengejang hebat. Ia mencapai orgasme pertamanya yang sangat kuat, memeknya menyemprot sedikit cairan ke paha Revan.
Revan tidak berhenti. Ia terus menggenjot Hafisha hingga akhirnya menyemburkan sperma panas di dalam memeknya.
Revan: "Kakak dapet creampie pertama dari kami…"
Narasi: Hafisha tergeletak lemas di meja, tangan masih terikat, sperma menetes dari memeknya yang merah dan bengkak. Wajahnya basah air mata dan keringat, tapi matanya berkaca-kaca karena kenikmatan yang baru ia rasakan.
Hafisha: (suara lemah) "Kalian… sudah… puas…?"
Dika tersenyum sambil mengusap rambut Hafisha.
Dika: "Belum Kak. Masih ada dua orang lagi yang belum nyobain. Dan besok… kita mau coba ikat Kakak dalam posisi yang lebih liar."122Please respect copyright.PENANAsN9AA6irLa


