117Please respect copyright.PENANAZaCcYoGkesHari keempat, Hafisha tidak datang ke ruang OSIS. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, tapi ia memilih tetap di rumah.
Hafisha: (berbisik sendiri sambil duduk di sofa) "Aku nggak boleh ke sana lagi… ini sudah keterlaluan…"
Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu rumahnya.
Tok! Tok! Tok!
Hafisha tersentak. Ia mengintip dari balik jendela dan jantungnya langsung berdegup kencang. Revan, Rian, dan Dika berdiri di depan pintu.
Revan: (dari luar) "Kak Hafisha! Kami tahu Kakak di dalam. Buka pintunya!"
Hafisha panik, tapi takut tetangga mendengar. Akhirnya ia membuka pintu sedikit.
Hafisha: "Kalian… kenapa datang ke sini? Pulang saja, orang tuaku sebentar lagi pulang!"
Rian tidak menunggu jawaban. Ia mendorong pintu dan masuk paksa bersama kedua temannya. Pintu rumah langsung dikunci dari dalam.
Rian: "Kakak kabur hari ini? Berani banget."
Mereka langsung menyerbu Hafisha. Tubuh mungilnya diangkat dan dibawa ke sofa ruang tamu. Tanktop tipisnya ditarik kasar ke atas, shortpants dan celana dalamnya diturunkan hanya dalam hitungan detik.
Hafisha: "Jangan di sini… ini rumahku! Aku mohon…"
Tak lama kemudian, Hafisha sudah telanjang di sofa ruang tamu. Tangannya diikat ke belakang, kakinya direnggangkan lebar. Revan sedang menggenjot memeknya dengan kuat dari belakang (doggy style), Rian memasukkan kontolnya ke mulut Hafisha, sementara Dika menampar-nampar payudara dan pantatnya.
Hafisha: "Ahh… ahh… pelan… suaraku kedengeran… tetangga nanti dengar!"
Revan: "Biarin saja. Malah semakin seru."
Suara desahan Hafisha, benturan tubuh, dan tamparan pantat semakin keras memenuhi ruangan.
Di rumah sebelah, Pak Yanto (48 tahun, duda, tinggi besar, mantan pekerja kontraktor) sedang duduk di teras. Ia mendengar suara gaduh aneh dari rumah Hafisha — desahan perempuan yang jelas dan suara tamparan.
Pak Yanto: (mengernyit) "Itu suara siapa? Kayak Hafisha… ada apa ya?"
Ia penasaran sekaligus khawatir. Akhirnya ia berjalan ke rumah Hafisha dan mengetuk pintu cukup keras.
Tok! Tok! Tok!
Di dalam, Revan tersenyum nakal. Ia sengaja menghentikan gerakannya sebentar, lalu berjalan ke pintu sambil kontolnya masih basah oleh cairan Hafisha.
Revan membuka pintu lebar-lebar.
Revan: "Ada apa Pak?"
Pak Yanto membeku di tempat. Matanya langsung tertuju ke dalam ruangan:
Hafisha terikat di sofa, tubuh mungilnya telanjang berkeringat, tanktopnya melorot di leher, memeknya merah bengkak dan meneteskan sperma. Rian dan Dika masih memegangi tubuh Hafisha, kontol mereka keras menunggu giliran.
Hafisha: (suara lemah ketakutan) "Pa… Pak Yanto… tolong… jangan lihat…"
Pak Yanto terdiam cukup lama. Wajahnya memerah, napasnya mulai memburu. Matanya tidak bisa lepas dari tubuh Hafisha yang terikat dan basah kuyup.
Pak Yanto: (suara serak) "Ini… apa-apaan ini? Hafisha… kamu baik-baik saja?"
Revan tersenyum lebar.
Revan: "Kak Hafisha lagi dapat hukuman dari kami, Pak. Mau ikut? Rumah sepi, nggak ada orang tuanya. Pak Yanto kan duda… pasti sudah lama nggak nyicip yang segar kayak gini."
Pak Yanto menelan ludah. Ia melirik Hafisha lagi. Gadis yang biasa ia lihat polos dan manis setiap hari itu kini terikat, memeknya penuh sperma, dan matanya sayu penuh nafsu meski wajahnya malu.
Pak Yanto: (masih ragu tapi kontolnya sudah ngaceng di balik celana) "Kalian… gila. Ini bisa masuk penjara…"
Tapi kakinya tidak mundur. Malah ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Pak Yanto: "Hafisha… maaf ya Nak… Om… Om nggak tahan lihat kamu begini."
Pak Yanto mendekat ke sofa. Tangannya yang kasar menyentuh paha Hafisha yang gemetar. Hafisha hanya bisa menggigit bibir, tubuhnya sudah terlalu lemas untuk melawan.
Hafisha: (bisik lemah) "Pak Yanto… jangan… aku malu…"
Tapi Pak Yanto sudah mengeluarkan kontolnya yang besar dan tebal (lebih besar dari ketiga junior). Ia menggesekkannya di memek Hafisha yang penuh sperma junior-junior itu.
Revan: "Silakan Pak. Kami giliran dulu, sekarang giliran Bapak."
Bersambung...117Please respect copyright.PENANA5Nlkr39m5L


