Luluhnya hati ustadzah
2651Please respect copyright.PENANA6z9hDwkv8U
Setelah kunjungan kedua, chat antara aku dan Ustadzah Nayla semakin sering. Awalnya masih berkutat seputar Rina — laporan hafalan juz, kondisi kesehatan adikku. Tapi perlahan, batas-batas yang tadinya tegas mulai mengabur.
2651Please respect copyright.PENANA8HaKqBnPbs
Malam itu, pukul 22.47, aku berbaring di kamar dengan lampu dimatikan. Hanya cahaya layar ponsel yang menerangi wajahku. Jantungku berdegup kencang saat mengetik pesan yang lebih pribadi dari biasanya.
2651Please respect copyright.PENANApgiOz4t2KJ
“Assalamualaikum Ustadzah Nayla. Belum tidur? Hari ini pasti capek sekali mengawasi puluhan santri. Semoga Ustadzah istirahat yang cukup.”
2651Please respect copyright.PENANAkOoq0tdhG4
Balasan datang setelah 12 menit. Centang biru langsung muncul.
2651Please respect copyright.PENANAZVi4K6cgN4
“Waalaikumsalam Mas Reza. Belum tidur, masih koreksi hafalan santri malam ini. Iya capek, tapi alhamdulillah biasa saja. Mas sendiri belum tidur juga?”
2651Please respect copyright.PENANArp8viHGhRX
Ini pertama kalinya dia balas dengan pertanyaan tentang keadaanku. Aku tersenyum lebar di kegelapan kamar dan menjawab dengan cepat.
2651Please respect copyright.PENANAfwNCVflD5D
“Dari tadi sulit tidur. Mikirin Rina… dan mikirin Ustadzah juga. Entah kenapa, obrolan kita kemarin terus terngiang.”
2651Please respect copyright.PENANA7u6CeLTiRS
Nayla mengetik cukup lama. Aku bisa membayangkan jari lentiknya ragu di atas layar ponsel di kamar pengasuh yang sunyi.
2651Please respect copyright.PENANAvFXRN2RAyY
“Mas… tolong jangan seperti itu. Saya ustadzah di sini. Chat kita sebaiknya tetap untuk urusan adiknya saja.”
2651Please respect copyright.PENANAJG18YizE9y
Meski katanya demikian, dia tidak berhenti membalas. Malah, sejak malam itu, Ustadzah Nayla mulai lebih sering membuka percakapan duluan, meski masih dengan kalimat formal dan sopan. Dia bercerita tentang santriwati yang bandel dan suka melanggar aturan malam, tentang betapa beratnya bangun pukul 03.00 setiap hari untuk mengawasi qiyamul lail, dan kadang curhat kecil bahwa sebagai ustadzah muda dia merasa harus selalu menjadi teladan sempurna di depan semua orang.
2651Please respect copyright.PENANAiiGBCBgMDZ
Seminggu kemudian, keberanianku semakin tumbuh. Aku memberanikan diri mengajak bicara di telepon.
2651Please respect copyright.PENANAR1Bwk8oKE9
“Ustadzah, boleh saya telepon sebentar malam ini? Hanya ingin mendengar penjelasan langsung soal jadwal kunjungan Rina bulan depan, biar lebih jelas.”
2651Please respect copyright.PENANAyZeAggrPIi
Dia ragu sangat lama. Tanda “sedang mengetik…” muncul hampir tiga menit sebelum balasan masuk.
2651Please respect copyright.PENANAdUK9woypxv
“Sebentar saja ya Mas. Saya takut ketahuan. Pelan-pelan bicaranya.”
2651Please respect copyright.PENANAgNdDBIw5Uh
Aku langsung menekan tombol panggil. Nada sambung berdering dua kali sebelum diangkat.
2651Please respect copyright.PENANARJJiwZ1J1i
“Halo…” suaranya terdengar pelan, hampir berbisik. Suara lembut khasnya yang biasa digunakan saat mengajar terdengar lebih dekat dan intim.
2651Please respect copyright.PENANAstvSTVVyqy
“Halo Ustadzah Nayla. Maaf mengganggu malam-malam seperti ini.”
2651Please respect copyright.PENANAdTRohXuaYo
“T-tidak apa-apa, Mas,” jawabnya gugup. Aku bisa mendengar suara angin kecil dan gemeresik kain di latar belakang. “Saya sedang di kamar pengasuh. Santri sudah tidur. Bicara pelan-pelan ya…”
2651Please respect copyright.PENANACkcRfhmFxp
Kami berbicara hampir 18 menit. Awalnya murni soal Rina, tapi aku sengaja menggeser pembicaraan ke kehidupannya. Nayla bercerita bahwa dia alumni Pondok Al-Fatah, hafalannya bagus, dan langsung ditawari menjadi ustadzah pengasuhnya karena akhlak dan kesabarannya. Dia jarang sekali keluar pondok, hampir tidak mengetahui suasana luar, dan merasa hidupnya monoton antara asrama, musholla, kelas, dan tugas.
2651Please respect copyright.PENANAfMQlPXcznc
"Kadang saya iri lihat orang-orang di luar, Mas. Bebas pergi ke mana saja, makan apa saja. Tapi saya sudah memilih jalan ini sejak kecil," katanya pelan, ada nada lelah yang tersembunyi.
2651Please respect copyright.PENANAT220CSEyHH
Malam itu menjadi titik balik. Setelah telepon pertama, chat kami meledak. Nayla mulai mengirim pesan lebih panjang, bahkan sesekali mengirim voice note pendek dengan suara pelannya. Aku semakin berani memujinya secara halus.
2651Please respect copyright.PENANALNP18M1nqT
“Ustadzah sabar sekali mengurus banyak santri. Saya salut dan kagum. Pasti banyak yang iri sama kesabaran Ustadzah.”
2651Please respect copyright.PENANAJOsngcP2OU
“Mas bisa aja…” balasnya disertai emoji tersipu malu.
2651Please respect copyright.PENANA5KOtax1Cs5
Semakin hari, aku merasakan Ustadzah Nayla mulai luluh. Dia yang dulu tegas menjaga jarak kini sering membalas dengan cepat, bahkan memulai percakapan dengan “Mas Reza sudah makan malam?” atau “Hari ini Mas sibuk apa?”
2651Please respect copyright.PENANAQMEp9pnZex
Akhirnya, setelah hampir satu bulan obrolan yang semakin intens, aku memberanikan diri mengajaknya bertemu di luar pondok.
2651Please respect copyright.PENANAanTmNHpZ8v
"Ustadzah Nayla, bolehkah kita ketemu di luar suatu hari? Hanya ngobrol sebentar di tempat umum yang aman. Saya ingin mengenal Ustadzah lebih dekat, bukan hanya sebagai pengasuh adik saya."
2651Please respect copyright.PENANAORWEmn9WWb
Pesan itu kukirim pukul 23.15. Nayla tidak langsung membalas. Baru keesokan siangnya muncul pesan panjang darinya.
2651Please respect copyright.PENANA8DH4aFiM4d
“Mas Reza… saya takut sekali. Saya ustadzah. Kalau ketahuan oleh santri, ustadzah lain, atau Kyai, nama baik saya bisa hancur. Saya belum pernah bertemu laki-laki di luar seperti ini. Maaf ya…”
2651Please respect copyright.PENANAEMxjm2s8zx
Aku tidak menyerah. Selama tiga hari berturut-turut aku bujuk dia dengan sabar. Aku berjanji memilih tempat yang jauh dari kota pondok, hanya sebentar, dan akan sangat menjaga sopan santun serta jarak.
2651Please respect copyright.PENANAP5oWdPytrC
Pada Kamis sore, Nayla akhirnya mengirim pesan yang membuat dadaku bergetar hebat:
2651Please respect copyright.PENANAoOSfm5ZHiG
“Ya sudah… tapi hanya sebentar ya Mas. Sabtu siang setelah jam mengajar selesai. Saya bisa keluar dengan alasan ada urusan keluarga. Kita ketemu di depan Mall Seruni pukul 14.00. Tolong jaga jarak dan jangan macam-macam.”
2651Please respect copyright.PENANALapHb9Yxy8
Saya langsung setuju dengan hati berbunga-bunga.
2651Please respect copyright.PENANAEjE3YEotaR
Sabtu siang
2651Please respect copyright.PENANAftu8wElgVT
Aku tiba di depan Mall Seruni pukul 13.40. Memakai kemeja putih rapi, celana chino abu-abu, dan parfum segar. Jantungku berdegup kencang saat jarum jam terus bergerak. Pukul 14.05, sebuah angkot biru berhenti di pinggir jalan. Dari dalam turun seorang perempuan berkerudung segi empat krem muda, gamis hitam panjang yang longgar, dan kacamata bulat tipis. Itu Ustadzah Nayla.
2651Please respect copyright.PENANAXMKHyd735c
Dia terlihat sangat gugup. Matanya memindai sekitar dengan cepat, mencari-cari aku. Saat melihat kami bertemu, dia tersenyum kecil tapi tegang. Aku melayang pelan dan mendekat tanpa terburu-buru.
2651Please respect copyright.PENANAmvOUQkiKfc
“Assalamualaikum Ustadzah Nayla.”
2651Please respect copyright.PENANAPhNXg6MV0u
“Waalaikumsalam Mas Reza,” jawabnya hampir berbisik, suara bergetar. “Kita mencari tempat duduk yang agak sepi ya… Saya takut ada yang mengenali.”
2651Please respect copyright.PENANADyXyxiS0Ze
Kami berjalan masuk ke mall dengan jarak aman. Nayla berjalan sedikit di belakangku, kepala agak tertunduk. Meski gamis hitamnya longgar, kain itu tetap tidak mampu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang indah. Saat dia melangkah, pinggulnya bergoyang pelan secara alami, dada yang penuh dan montok naik-turun mengikuti napas gugupnya. Aroma sabun colek khas pondok samar tercium dari tubuhnya.
2651Please respect copyright.PENANAMaltd1o70o
Kami memilih sebuah kafe kecil di lantai dua yang sepi. Duduk di pojok paling belakang, jauh dari keramaian. Nayla memesan es teh manis, aku kopi hitam.
2651Please respect copyright.PENANAQj1Bwfe2OJ
Awalnya pembicaraan masih kaku dan penuh kecanggungan. Dia sering melirik ke sekeliling, tangannya memegang gelas es teh dengan kedua tangan seolah-olah sedang mencari pegangan.
2651Please respect copyright.PENANAORk0XVRxju
“Mas…saya benar-benar takut,” katanya pelan. "Ini pertama kalinya aku keluar seperti ini. Kalau ada yang tahu, aku bisa dikeluarkan dari pondok."
2651Please respect copyright.PENANAk5skCBLP20
Aku tersenyum menenangkan. “Saya janji hanya ngobrol saja, Ustadzah. Saya suka sekali berbicara dengan Ustadzah. Sejak pertama kali bertemu di meja penerimaan santri, saya sudah merasakan Ustadzah berbeda.”
2651Please respect copyright.PENANAdNqBeaAQYu
Pipinya merona merah di balik kerudung. Dia menunduk, jari-jari lentiknya memainkan sedotan es teh.
2651Please respect copyright.PENANAhGqJVg8NZN
Perlahan percakapan mulai cair. Nayla bercerita tentang masa kecilnya di desa yang sederhana, mimpi menjadi ustadzah sejak kecil, kesulitan menjaga nama baik di lingkungan pondok, dan betapa beratnya menjadi panutan bagi ratusan santriwati. Saya mendengarkan dengan serius, sesekali memberi tanggapan yang menjadikannya semakin nyaman.
2651Please respect copyright.PENANAB3NKCQC6JV
Saat percakapan mencapai puncak keakraban, aku memberanikan diri menyatakan perasaan.
2651Please respect copyright.PENANAfhyoDyQdqc
"Ustadzah Nayla… sebenarnya sejak pertama kali melihat Ustadzah, saya sudah suka. Ustadzah cantik, manis, sabar, dan punya akhlak yang baik. Saya tahu ini sulit dan berisiko, tapi saya serius. Saya ingin dekat dengan Ustadzah."
2651Please respect copyright.PENANA87NosxFxpl
Nayla langsung membeku. Mata di balik kacamata melebar, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tangannya gemetar memegang gelas.
2651Please respect copyright.PENANAGHGbiFE3zK
"Mas...jangan seperti itu. Saya ustadzah. Nanti bagaimana kalau ketahuan? Santri, ustadzah lain, Kyai... semuanya bisa marah besar. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini."
2651Please respect copyright.PENANA8fqLTi3ozg
Tapi dibalik kata-kata penolakan itu, aku melihat keraguan dan kilatan perasaan yang sama di matanya. Ada getaran yang tak bisa disembunyikan.
2651Please respect copyright.PENANA00I3xd1WxJ
Aku menunggu dengan sabar. Akhirnya, setelah diam hampir satu menit penuh, Nayla berbicara dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar:
2651Please respect copyright.PENANAnhrLxl9kPM
"…Saya juga suka sama Mas Reza. Dari pandangan pertama waktu penerimaan santri. Tapi saya takut sekali, Mas. Ini semua terlalu cepat dan sangat berbahaya."
2651Please respect copyright.PENANAOFkbzRBrYM
Senyum kecil yang muncul di bibir tipisnya setelah mengatakan itu membuat hatiku meledak bahagia. Meski belum resmi menerima, aku tahu Ustadzah Nayla sudah mulai luluh.
2651Please respect copyright.PENANA8XnCu21wdO
Kami berpisah pukul 16.00. Aku mengantarnya sampai depan mall dan membantu mencari angkot yang aman. Sebelum naik, Nayla melihat sebentar dengan mata yang masih gugup tapi ada kehangatan baru.
2651Please respect copyright.PENANACqIeAPCe6m
"Mas… hati-hati di jalan. Dan terima kasih hari ini. Saya senang… meski takut.”
2651Please respect copyright.PENANATrr8Z3rEAp
Angkot berangkat perlahan. Aku berdiri di trotoar sambil tersenyum lebar, dada terasa penuh.
2651Please respect copyright.PENANA62Lbe1lgHp
Malam harinya, chat kami lebih intens dari sebelumnya.
2651Please respect copyright.PENANAAkKtayVyC7
Ustadzah Nayla: “Mas… tadi saya takut sekali sepanjang jalan. Tapi saya juga senang.”
2651Please respect copyright.PENANA5DwFwGIUUZ
Aku: “Saya juga sangat senang, Ustadzah. Terima kasih sudah ketemu. Besok saya berani rencana jenguk Rina lagi. Setelah itu… bolehkah kita ketemu lagi?”
2651Please respect copyright.PENANAeYEXI4OrPH
Ustadzah Nayla: “InsyaAllah…tapi pelan-pelan ya Mas. Saya masih sangat takut. Jangan buru-buru.”
2651Please respect copyright.PENANA6J23Gyh6Yh
Aku tahu hubungan kami sudah tidak bisa lagi disebut sekadar kakak santri dan ustadzah pengasuh. Ada benih perasaan yang tumbuh kuat di antara kami. Meski Nayla masih diliputi ketakutan, aku bisa merasakan bahwa dia juga mulai menginginkan kedekatan ini.2651Please respect copyright.PENANAd56qnSyoUH


