BAB 3
2972Please respect copyright.PENANA9szbCY0m8P
Lampu kantor sudah mulai redup. Hanya tinggal beberapa kubikel yang masih menyala, termasuk milikku. Jam sudah menunjukkan pukul 19.40. Laporan bulanan yang harus diselesaikan besok pagi membuatku harus lembur malam ini. Jari-jariku mengetik di keyboard, tapi pikiran jauh dari angka-angka di layar.
2972Please respect copyright.PENANACYvWMcUnzc
Akhir-akhir ini, semakin sulit bagiku untuk berkonsentrasi di kantor. Setiap kali diam sebentar, bayangan Qila langsung muncul. Bukan Qila yang biasa aku peluk di malam hari, tapi Qila yang berada di depot seharian — dikelilingi Genjor, Bang Wesno, dan terutama Bang Dayat.
2972Please respect copyright.PENANAFfgI745MEn
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. Kontolku bergerak pelan di dalam celana kantor hanya karena membayangkan saja. Bayangan Qila pagi tadi saat aku berangkat kerja: kaos tipis yang agak ketat di dada, celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, rambut diikat tinggi sehingga leher putihnya terbuka. Lalu Genjor yang tonggos-cungkring itu pasti sudah menunggu, siap angkat galon berat di depannya. Badannya yang kurus tapi penuh urat, keringat mengalir di leher dan dada.
2972Please respect copyright.PENANAdbdtz6Ymje
Kenapa aku malah membayangkan hal seperti ini? Harusnya aku marah. Harusnya aku khawatir. Tapi yang ada malah sensasi hangat yang aneh di dada, campur aduk dengan denyutan di selangkangan. Aku merasa rendah karena merasakan ini, tapi juga tidak bisa berhenti.
2972Please respect copyright.PENANABE9XODX2gB
Aku ingat cerita Qila dua hari lalu tentang Genjor yang kepleset dan bajunya basah kuyup. Cara dia tertawa kecil saat menceritakannya. Cara matanya berbinar. Dan Bang Dayat… pria 40 tahun yang gemuk, mukanya jelek, tapi sering bantu di belakang rumah. Sendirian dengan Qila di area yang agak tersembunyi.
2972Please respect copyright.PENANABexmci6Tn7
“Apa yang sebenarnya terjadi di sana?” gumamku pelan.
2972Please respect copyright.PENANATQZiRc2YGC
Aku menggelengkan kepala, mencoba fokus lagi ke laporan. Tapi tak lama kemudian, bayangan Qila membungkuk mengambil nota, payudaranya yang kenyal bergoyang pelan, muncul lagi di kepala. Aku menggeser duduk, merasa celana mulai sempit. Kontolku sudah setengah mengeras hanya karena lamunan.
2972Please respect copyright.PENANAQrryrTTi9q
Aku melihat jam. Sudah hampir jam delapan. Aku memutuskan untuk menyelesaikan sisanya besok pagi saja. Malam ini aku ingin pulang. Ingin melihat Qila. Ingin memastikan semuanya masih seperti biasa.
2972Please respect copyright.PENANAhxjaq5ccgR
Malam sudah gelap saat aku memasuki kompleks perumahan. Lampu jalan kuning samar menerangi jalan setapak. Aku memarkir motor di depan rumah, tapi sesuatu membuatku tidak langsung masuk. Dari samping, depot sudah tutup rapat, tapi lampu di belakang rumah masih menyala redup.
2972Please respect copyright.PENANAnaKbeNAWDA
Aku berjalan pelan menyusuri gang kecil di samping rumah. Hati-hati, tidak mau menimbulkan suara.
2972Please respect copyright.PENANAsY9eVeqxrz
Di area belakang yang biasa dipakai untuk menyimpan galon cadangan, aku melihat mereka.
2972Please respect copyright.PENANAeGh52jxepn
Qila berdiri di dekat pintu belakang rumah, masih memakai kaos abu-abu tipis yang sudah agak kusut setelah seharian kerja. Celana pendeknya memperlihatkan hampir seluruh pahanya yang putih dan halus. Rambutnya agak acak-acakan, beberapa helai menempel di leher karena keringat.
2972Please respect copyright.PENANAloAcAr4nIv
Di depannya, Bang Dayat berdiri cukup dekat. Tubuhnya yang gemuk terlihat lebih besar dalam kegelapan. Perutnya agak buncit menekan kaos oblong lusuhnya. Mereka berbicara pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Qila tertawa kecil, tangannya menyentuh lengan Bang Dayat sebentar — hanya sebentar, tapi cukup membuat dadaku berdegup kencang.
2972Please respect copyright.PENANAnpYIyhpFLc
Bang Dayat membungkuk sedikit saat bicara, wajah jeleknya mendekat ke arah Qila. Aku melihat bahu Qila yang naik-turun pelan, payudaranya yang tidak terlalu besar tapi kenyal terlihat jelas karena kaos tipisnya agak basah keringat. Suasana remang-remang membuat bayangan mereka terlihat intim, meski aku tahu ini mungkin hanya obrolan biasa.
2972Please respect copyright.PENANAzHzgLU2fCd
Aku berdiri diam di balik tembok, napas tertahan. Ada rasa panas yang naik ke tenggorokan. Cemburu? Ya. Tapi juga ada sensasi aneh yang membuat kontolku mengeras perlahan di dalam celana. Melihat istriku tertawa kecil dengan pria lain di belakang rumah, di malam yang sepi seperti ini…
2972Please respect copyright.PENANAV44dWy1NPk
Aku mundur pelan, berjalan memutar ke pintu depan. Kaki terasa berat. Dada panas. Pikiran berputar cepat.
2972Please respect copyright.PENANAoycCP5qOfw
Aku masuk rumah sepelan mungkin. Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Hanya ada cahaya samar dari kamar tidur yang pintunya sedikit terbuka.
2972Please respect copyright.PENANAfAudiHsyNA
Aku melepas sepatu tanpa suara, lalu berjalan ke kamar. Begitu masuk, aku langsung membeku.
2972Please respect copyright.PENANA7MffonYuHZ
Di jendela kamar yang menghadap belakang rumah, ada bayangan.
2972Please respect copyright.PENANAwFMkgcJHD5
Bayangan tubuh gemuk yang jelas sekali milik Bang Dayat. Dia berdiri di luar, tepat di depan jendela. Gorden tipis yang tidak sepenuhnya tertutup membuat siluetnya terlihat jelas. Dia tidak bergerak banyak, hanya berdiri di sana, seolah sedang melihat ke dalam kamar.
2972Please respect copyright.PENANAdyUjqw3Adz
Jantungku berdegup keras. Aku mundur ke dinding, bersembunyi di balik lemari. Tangan dingin, tapi selangkangan malah terasa panas.
2972Please respect copyright.PENANAJzidBvB3mE
Qila sedang duduk di tepi kasur, melepas ikatan rambutnya. Kaosnya agak naik, memperlihatkan kulit pinggang yang putih. Dia belum sadar aku sudah pulang.
2972Please respect copyright.PENANAB8zBM2mkfq
Bayangan Bang Dayat masih di sana. Tidak bergerak. Seperti sedang mengamati Qila yang sedang melepas kaosnya perlahan. Aku melihat Qila mengusap lehernya yang berkeringat, payudaranya bergoyang pelan saat dia membungkuk mengambil handuk kecil.
2972Please respect copyright.PENANAWmWYYJmb9K
Aku berdiri diam, napas tertahan. Harusnya aku keluar sekarang, teriak, atau setidaknya buka gorden lebar-lebar. Tapi aku tidak bergerak. Kaki seperti terpaku. Ada rasa marah, cemburu, dan… sensasi terlarang yang membuat kontolku mengeras penuh di dalam celana.
2972Please respect copyright.PENANAAELcVGyUtw
Bayangan itu akhirnya bergerak pelan, mundur ke arah belakang. Tapi aku yakin dia sempat melihat Qila yang hampir ganti baju.
2972Please respect copyright.PENANA5rroFp6vxr
Aku menunggu beberapa detik sebelum akhirnya berdehem pelan dan masuk kamar seperti baru pulang.
2972Please respect copyright.PENANA79fzqlRkUp
Qila menoleh, sedikit kaget. “Mas pulang? Kok telat banget?”
2972Please respect copyright.PENANAmaUEqjOydB
“Iya, lembur,” jawabku, suaraku agak serak.
2972Please respect copyright.PENANADIZmKaRySy
Aku melirik ke jendela. Bayangan itu sudah tidak ada. Tapi rasa panas di dada dan selangkangan masih tersisa kuat.
2972Please respect copyright.PENANAe3XL9PKyZX
Aku mendekati kasur dengan langkah berat. Tubuh Qila terlihat lelah tapi tetap menggoda di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Kaos tipisnya sudah agak naik, memperlihatkan kulit pinggang yang halus dan lembut. Aku duduk di tepi kasur, tanganku langsung menyentuh paha bagian dalamnya, mengusap pelan ke atas.
2972Please respect copyright.PENANAT4Gfe7mtOz
“Capek ya?” tanyaku sambil mendekatkan wajah, mencium lehernya yang masih agak lengket keringat.
2972Please respect copyright.PENANA52V8ZF6FVI
Qila mendesah pelan, tapi bukan desahan penuh gairah. Dia meletakkan tangannya di dada aku, mendorong pelan. “Iya, Mas. Hari ini benar-benar capek. Badan pegel semua. Dari pagi sampai malam bolak-balik angkat galon dan ngurus order.”
2972Please respect copyright.PENANA0mDM8dTXt0
Aku tidak menyerah. Tanganku naik lebih tinggi, meraba pinggir celana pendeknya, jemariku menyentuh kulit hangat di sana. Kontolku sudah keras sejak melihat bayangan tadi. Aku coba mencium bibirnya, lidahku menyusup pelan. Qila membalas sebentar, tapi kemudian memalingkan wajah.
2972Please respect copyright.PENANA4SLnPjyait
“Mas… aku nggak mood malam ini,” katanya pelan, suaranya lelah tapi tegas. “Badanku pegel banget. Besok pagi depot pasti rame lagi.”
2972Please respect copyright.PENANARMxIPylybt
Aku diam sebentar, nafsu masih membara. “Cuma peluk aja dulu…”
2972Please respect copyright.PENANAtuvMTqx2ub
Qila melihat ke bawah, memperhatikan tonjolan di celana pendekku. Dia menghela napas, lalu tersenyum tipis — senyum yang agak lelah, agak pasrah. “Ya sudah… mau dikocok aja ya? Biar mas lega. Tapi aku nggak mau lebih dari itu malam ini.”
2972Please respect copyright.PENANAld9xMaaPab
Aku mengangguk cepat. Apa pun itu, asal ada sentuhan darinya.
2972Please respect copyright.PENANAqpxcv0sl2a
Qila duduk lebih tegak, bersandar di headboard. Dia menarikku agar berbaring nyaman di sampingnya. Tangan kanannya yang halus menyelinap ke dalam celana pendekku, langsung meraih kontol yang sudah keras dan panas. Jarinya menggenggam pelan di pangkal, merasakan denyutannya.
2972Please respect copyright.PENANAoQRGCEZNKd
Qila menggerakkan tangannya sangat pelan, seperti sengaja membangun ketegangan. Telapak tangannya hangat, agak kasar karena kerja seharian, tapi justru terasa nikmat di kulit kontolku yang sensitif. Dia mengocok dari pangkal ke ujung dengan gerakan lambat, ibu jarinya sesekali mengusap kepala kontol yang sudah basah precum.
2972Please respect copyright.PENANAZSpAGq6R0a
“Mas suka pelan begini kan?” bisiknya di telinga aku, suaranya rendah dan sedikit serak karena capek.
2972Please respect copyright.PENANA0bXiC8AVao
Aku hanya mendesah, pinggulku bergerak pelan mengikuti irama tangannya. Mataku setengah merem, tapi pikiran masih teringat bayangan Bang Dayat di jendela tadi.
2972Please respect copyright.PENANAWB1DamZGsw
Qila mempercepat sedikit gerakannya, tapi tetap terkontrol. “Hari ini… Genjor lagi rajin banget, Mas,” mulainya bercerita sambil terus mengocok. “Pagi-pagi dia angkat galon yang numpuk di belakang. Badannya keringetan deras. Kaosnya basah sampe nempel ketat di dada dan perutnya yang rata. Aku berdiri di depannya ngawasin… untung dia kuat, meskipun kurus.”
2972Please respect copyright.PENANAqPaEKgYlZ5
Tangan Qila naik-turun lebih lancar sekarang, kadang memelintir pelan di ujung. Sensasinya membuat lututku lemas. Aku membayangkan Genjor yang muda itu berdiri berkeringat di depan istriku.
2972Please respect copyright.PENANAuCfb6UlKIO
“Terus… pas dia angkat yang paling berat, dia kepleset sedikit. Airnya muncrat ke bajunya. Celananya juga basah, Mas… sampe bentuk kontolnya agak kelihatan karena kainnya nempel. Aku kasih handuk, tapi dia lap badannya di depanku. Otot lengannya kelihatan semua… urat-uratnya tegang.”
2972Please respect copyright.PENANAYtY8jpHSoB
Qila mengocok lebih cepat sekarang, napasnya mulai agak berat di telinga aku. Payudaranya yang masih tertutup kaos sesekali menyentuh lengan aku saat tangannya bergerak.
2972Please respect copyright.PENANAUW75zuoAXA
“Lalu Bang Dayat…” lanjutnya, suaranya semakin lembut dan intim, “dia bantu aku angkat galon ke gudang belakang. Dia berdiri sangat dekat, Mas. Badannya yang gemuk itu panas, napasnya terengah-engah karena capek. Kami ngobrol lama di belakang. Dia cerita lagi soal istrinya yang sudah meninggal… katanya sudah tiga tahun nggak pernah sentuh perempuan. Badannya sering panas malam-malam, susah tidur.”
2972Please respect copyright.PENANAZDy4LgFXYA
Tangan Qila semakin terampil. Dia sesekali menggosok kepala kontol dengan ibu jari secara melingkar, membuat aku mendesah keras. Precum keluar banyak, melumasi tangannya sehingga gerakannya semakin licin dan enak.
2972Please respect copyright.PENANAR2kvzb3IU0
“Bukan cuma cerita… dia juga nunjukin betapa kesepiannya. Tangannya sempat pegang bahu aku sebentar waktu bilang ‘Mbak Qila baik banget dengerin curhat saya’. Badannya deket banget, Mas… aku bisa ngerasain panas tubuhnya. Perutnya yang buncit hampir nyentuh pinggul aku.”
2972Please respect copyright.PENANA4Yn5Jr8M5n
Aku mengerang pelan. Campuran rasa cemburu yang menyakitkan dan kenikmatan yang luar biasa membuat kepalaku pusing. Bayangan Bang Dayat yang gemuk dan jelek berdiri dekat Qila di gudang belakang, napasnya yang berat, tangannya di bahu istriku — semuanya berputar di kepala sambil tangan Qila terus mengocok kontolku dengan ritme sempurna.
2972Please respect copyright.PENANAemwNAmzce5
Qila melanjutkan dengan suara yang semakin pelan, hampir seperti bisikan mesra, “Dia bilang… sebagai pria normal, kadang butuh pelampiasan. Kalau nggak, badannya sakit. Aku cuma dengerin sambil ngasih dia minum. Tapi… aku ngerti kok perasaannya.”
2972Please respect copyright.PENANAG2cR6Z4XtD
Gerakan tangannya semakin cepat dan mantap. Aku merasa mau meledak. Qila mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga aku.
2972Please respect copyright.PENANAADhwseUdBM
“Genjor juga… tadi sore dia bantu aku angkat galon terakhir. Badannya basah lagi. Aku lihat otot punggungnya waktu dia membungkuk. Kuat banget anak itu…”
2972Please respect copyright.PENANATs39M9IQ2s
Aku tidak tahan lagi. Tubuhku menegang hebat. “Qila… aku mau keluar…”
2972Please respect copyright.PENANAgIHzSSgjro
Qila tidak berhenti. Tangannya mengocok dengan cepat dan kuat sampai akhirnya aku menyembur deras, peju hangat memenuhi tangannya dan perutku. Aku mendesah panjang, pinggulku bergetar. Qila terus mengocok pelan sampai habis, seolah ingin mengeluarkan semuanya.
2972Please respect copyright.PENANAynpeFAjm1W
Qila menarik tangannya perlahan, mengambil tisu di nakas untuk membersihkan tangan dan perutku. Gerakannya praktis, hampir cuek. Wajahnya tidak menunjukkan gairah, malah agak manyun dan lelah. Dia membuang tisu ke tempat sampah, lalu berbaring membelakangi aku tanpa banyak kata.
2972Please respect copyright.PENANA45TN6cRi04
Aku masih bernapas ngos-ngosan, tubuh lunglai. Tapi pikiran aku justru semakin kacau. Cerita yang dia sampaikan sambil mengocok tadi terasa terlalu hidup, terlalu detail. Bayangan Bang Dayat di jendela tadi, ditambah cerita tentang kedekatan mereka di belakang rumah… semuanya berputar-putar.
2972Please respect copyright.PENANAUNKhsdUzdd
“Bang Dayat kasihan ya, Mas,” kata Qila tiba-tiba dengan suara pelan, masih membelakangi aku. “Pria umur 40 tahun tapi sudah lama nggak ada yang nemenin. Pasti butuh pelampiasan juga sebagai manusia normal. Aku cuma kasian dengerin curhatnya.”
2972Please respect copyright.PENANAeymbgaJKPq
Aku diam. Kata-kata itu menggantung berat di udara gelap kamar.
2972Please respect copyright.PENANAvkhn9OS2QZ
Qila menarik selimut lebih tinggi. “Udah ya, Mas. Aku ngantuk banget.”
2972Please respect copyright.PENANAp0yo1M8JyS
Aku memeluknya dari belakang, tapi tubuhnya agak kaku. Payudaranya yang kenyal menyentuh lenganku, tapi malam ini terasa jauh. Aku mencium tengkuknya pelan, tapi dia tidak bereaksi.
2972Please respect copyright.PENANAqsUfmHo3Vx
Malam itu aku terjaga lama setelah Qila tertidur. Bayangan gemuk Bang Dayat di jendela terus muncul. Senyum kecil Qila saat tertawa dengannya di belakang rumah. Gerakan tangan Qila yang terampil mengocok sambil bercerita detail tentang tubuh Genjor dan kedekatan Bang Dayat.
2972Please respect copyright.PENANABK5vHT0nJi
Kenapa aku diam saja tadi? Kenapa aku malah semakin keras saat mendengar ceritanya?
2972Please respect copyright.PENANAmXtVPvNr04
Aku menghela napas panjang di kegelapan. Besok aku harus pulang lebih awal. Harus mengawasi. Tapi di dalam hati, ada bagian kecil yang justru… penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
2972Please respect copyright.PENANAdtonyPOYy8
Rasa gelisah ini semakin dalam. Dan aku tidak tahu harus bagaimana.
ns216.73.216.23da2


