Penisku menyundul dan menggesek bagian luar lubang vaginanya, sampai aku rasakan seperti melewati dua pintu lubang kenikmatan, lubang memek dan pantatnya. Aku belum berani menyetubuhinya secara total di saat rumah ada penunggunya, apalagi hari masih siang menuju sore, tak mungkin aku melakukannya hari ini juga.
Berkali-kali aku gesekkan batang kontolku di belahan pantat Marni, menggesek bagian luar anus dan lubang memeknya. Semakin lama aku menempelkan selangkanganku dengan pantatnya, semakin aku jatuh cinta kepada adikku Marni. Pantat Marni begitu padat dan lembut seperti adonan roti yang difermentasikan, membusung dan menempel erat dengan kontolku.
Sungguh nikmatnya memeluk Marni dengan menyelipkan kontolku di pantatnya. Sesekali Marni pun memundurkan pantatnya menekan ke arahku, karena dia pun mungkin merasa nyaman dengan hubungan tabu ini.
“Marni, kakak sayang sama kamu…” kataku sambil mendiamkan sejenak kontolku di bongkahan pantatnya.
“Aku juga, Kak… Marni beruntung punya kakak seperti Kak Ucup… Ahh… Jangan dilepas, Kak… Emmhhh…”
Pantat Marni digoyang-goyang sampai terasa geli kurasakan. Di belakang tubuhnya aku terus memajukan pantatku, sambil merasakan hawa hangat dan licin di bongkahan pantatnya. Aku tak menyangka kalau Marni dengan senang hati mau aku perlakukan begini. Andai saja dulu aku dan dia mau disetubuhi, aku ingin sekali merasakan vaginanya yang mungil dan super sempit diterobos kontolku yang besar.
Plok! Plok! Plok!
Sesekali aku keraskan kecepatan sodokanku sampai beberapa menit kemudian Marni tiba-tiba melenguh.
“Ahh… Kakk… Marni… Aduhhh.. Mmauu kelluarrhh… Ahh~ Ugh~!”
Andai aku memeluknya dari depan pasti aku sumbat mulutnya dengan mulutku, bagaimana nanti kalau bibi mendengar lenguhan Marni? Tapi aku tak peduli karena aku merasakan ada sesuatu yang sangat besar mencoba mendesak dari dalam tubuhku ingin melepaskan diri, sesuatu yang begitu nikmat saat pertama kali aku keluar air mani.
Marni sudah duluan orgasme, kurasakan batang kontolku terasa licin seperti disiram minyak yang hangat. Lalu aku pun menekan sedalam-dalamnya di bongkahan pantat Marni.
Croot..! Ccrroott..! Cccrroot…!
Menyemburlah spermaku sampai muncrat mengenai dinding bilik bambu. Mungkin karena hanya batangnya saja yang dijepit pantatnya, tetapi kepalanya tembus ke depan, sehingga mulut kontolku mengarah ke dinding bambu.
Kedutan demi kedutan aku rasakan begitu dahsyat! Aku dan Marni lemas sekali setelah mengeluarkan sesuatu yang nikmat dari dalam tubuh kami. Aku masih memeluk erat Marni dari belakang, sambil merasakan detik-detik terakhir muntahan spermaku di pantatnya.
“Dek, makasih ya..? Pantat kamu memang luar biasa nikmatnya… Kenapa gak dari dulu kita melakukannya, Sayang…?”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


