“Bu, Ucup akan berusaha membahagiakan ibu.. Ucup akan bekerja keras untuk masa depan anak kita. Ucup tahu ibu sangat mencintaiku, tapi Ucup juga berharap sama ibu… Tetaplah cintai ayah seperti dulu ibu pertama bertemu. Ucup tak mau merusak hubungan antara ayah dan ibu. Ucup yakin bahwa hubungan kita meskipun terlarang, kekuatan cinta kita takkan pernah lepas jika kita saling percaya..”
Ibuku begitu senang mendengar apa yang baru saja aku katakan, lalu keningku diciumnya agak lama.
“Iya Sayang.. ibu sangat senang mendengarnya.. kamu jangan khawatir ibu meninggalkan bapakmu.. ibu hanya menduakan perasaan, jiwa dan raga ibu saja. Walaupun sebenarnya ibu jujur sama kamu, perasaan ibu lebih besar sama kamu… Sekarang kamu mandi dulu.. kelihatannya kamu lemas banget.. ini diminum dulu jamunya, Sayang..” ucap ibuku sambil menyodorkan segelas jamu racikannya kepadaku.
Aku pun langsung meminumnya sampai habis tak tersisa. “Enak banget Bu.. buatin yang banyak dong Bu..?”
“Jangan berlebihan sayang.. nanti jadi penyakit..” ucap ibu sambil memegang daguku.
“Bu.. boleh liat memek ibu…?”
“Nanti kalau bapak kamu bangun mergokin kita gimana sayang…? Ibu takut..” kata ibu mengeryitkan dahi.
“Bentaran aja kok Bu, ucup kangen rasanya.. aromanya bikin ucup penasaran.. boleh ya Bu..?” Rayuku sambil mengiba.
“Baiklah.. tapi bentaran aja ya sayang..?” Ucap ibuku sambil mengelus kepalaku.
“Iyaa Bu..” aku pegang kepala ibu dan ku kecup keningnya, ku lihat ibu merasa tenang. Aku berjongkok dengan ujung jari kaki dan lututku ditanah seperti mau berdoa, sedangkan ibu menurunkan cd-nya sampai lutut. Lalu diangkatnya kain daster ibu dan diikatkan dibagian pinggangnya, sehingga terpampanglah memek ibuku yang tebal membusung tepat didepan mukaku.
Jantungku berdegup kencang melihat memeknya yang begitu indah dipandang mata, bagai bongkahan batu berlian yang berharga. Disitulah sumber dari segala kenikmatan duniawi yang sangat aku rindukan, kehangatan dan kedamaian saat penyatuan kelamin, sungguh suatu anugerah terindah dalam hidupku.
Dengan perlahan aku cium kulit permukaan belahan memek ibu, “ugh~!” Tatkala aroma klasik yang ku hirup merasuk ke seluruh aliran darahku, lalu sekujur tubuhku bereaksi sampai bergetar dan kontolku pun sangat bahagia merasakan aroma memek ibuku yang lembab.
Aku lebarkan bibir memeknya, juga dibantu ibu dengan melebarkan kedua kakinya. Aku sedot lobang memeknya kuat-kuat
Aku pun langsung meminumnya sampai habis tak tersisa.
“Enak banget Bu.. buatin yang banyak dong Bu..?”
“Jangan berlebihan sayang.. nanti jadi penyakit..” ucap ibu sambil memegang daguku.
“Bu.. boleh liat memek ibu…?”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


