Udara di dalam gudang Indah April terasa mati. Bau karton lembab bercampur dengan aroma pembersih lantai yang tajam menyerang hidungku setiap kali aku menggeser krat minuman. Kipas angin tua di sudut ruangan hanya memutar udara panas yang sama, sama sekali tidak membantu meredam peluh yang mulai membasahi seragam merahku.
333Please respect copyright.PENANAw1qr2771Xn
"Dit, oper stok sabun cuci itu. Jangan bengong," suara Amri memecah lamunanku.
Aku mendengus, mengangkat satu kardus berat dan menyerahkannya pada Amri yang sedang bertengger di atas tangga lipat. "Sabar, Ri. Panasnya gila hari ini."
333Please respect copyright.PENANAdydqMldiRL
"Jakarta, Bos. Kalau mau adem ya di dalam kulkas sana bareng susu kotak," sahut Amri sambil tertawa kecil, menata botol-botol itu dengan gerakan mekanis.
333Please respect copyright.PENANAyAcYIpKYgb
Kami sudah satu jam di sini, terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Tanganku terasa kasar saat menyentuh permukaan kardus yang berdebu. Pikiranku sebenarnya tidak benar-benar ada di gudang ini; pikiranku masih tertinggal di atas tempat tidur kosan kemarin sore, pada janji yang Dea ucapkan.
333Please respect copyright.PENANAiqCYh70hp7
Ting.
333Please respect copyright.PENANAUjU7HROsVa
Bunyi notifikasi itu terasa sangat nyaring di tengah sunyinya gudang. Aku segera merogoh kantong celana, mengabaikan debu yang menempel di ujung jariku. Layar ponselku menyala, menampilkan nama yang sangat aku kenal dan cintai.
333Please respect copyright.PENANA9CTw6xdMbS
Aku segera membukanya. Sebuah foto terunduh.
333Please respect copyright.PENANApAWYnk5fkw
Itu adalah foto selfie Dea. Ia berdiri di depan bus pariwisata, mengenakan jaket windbreaker berwarna kuning cerah yang membuat kulit putihnya terlihat hampir bersinar.
333Please respect copyright.PENANAmTRuKv9Tgl
Rambut bergelombangnya dikuncir kuda, menampilkan leher jenjangnya yang halus. Ia tersenyum lebar ke arah kamera, satu tangannya membentuk tanda peace, sementara tas carrier besar tampak kontras di punggungnya yang mungil.
333Please respect copyright.PENANAgxM6ghqPms
"Aku berangkat ya say! Doain selamat sampai puncak!" tulisnya di bawah foto itu.
333Please respect copyright.PENANAZ41b9GUt5q
"Waduh, siapa tuh? Kinclong amat," tiba-tiba kepala Amri sudah berada di dekat bahuku, matanya menyipit mengintip layar ponselku.
Aku secara refleks menjauhkan ponsel, tapi Amri lebih cepat. Ia bersiul panjang, matanya melotot kagum.
333Please respect copyright.PENANAWjgBbOuAnz
"Gila, Dit! Itu Dea? Sumpah, makin hari makin bening aja pacar lo," goda Amri sambil menyikut lenganku. Ia turun dari tangga, meletakkan tangannya di pinggang sambil geleng-geleng kepala. "Iri gue, beneran. Kok bisa ya rejeki lo begini? Lo pake pelet apaan sih, kerja di minimarket tapi dapetnya spek bidadari kampus?"
333Please respect copyright.PENANAyixBXniq1y
Aku hanya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa bangga sekaligus gelisah yang mulai merayap. Ada rasa tidak nyaman saat melihat mata Amri dan mungkin mata pria lain nanti di gunung menatap foto Dea dengan cara seperti itu.
333Please respect copyright.PENANAJ85GCrWUMo
"Dia mahasiswi, Ri. Lagi mau naik gunung sama temen kampusnya," jawabku pendek, berusaha terdengar santai sambil jempolku mengusap permukaan layar, tepat di bagian wajah Dea yang ceria.
333Please respect copyright.PENANAzP8lX7nE0J
"Naik gunung? Wah, bahaya itu, Dit," Amri tertawa lagi, tapi kali ini nadanya lebih jahil. "Gunung itu dingin, butuh yang anget-anget. Cowok-cowok di sana pasti pada berebut mau jadi jaket buat cewek secantik Dea. Kalau gue jadi lo sih, gue nggak bakal bisa tidur tenang selama tiga hari."
333Please respect copyright.PENANAaY2bnhfOFm
Kata-kata Amri seperti kerikil yang dilemparkan ke dalam sumur yang tenang, menciptakan riak kegelisahan yang langsung menyebar ke seluruh dadaku.
333Please respect copyright.PENANAKwEZTk5kce
"Ah, jangan nakut-nakutin lo, Ri!" tangkisku cepat, meski aku bisa merasakan telapak tanganku mulai berkeringat dingin. Aku berusaha kembali menyusun kardus, tapi fokusku sudah buyar.
333Please respect copyright.PENANAVL1MXPDwQT
Amri justru tertawa, suara tawanya menggema di antara rak-rak besi gudang yang tinggi. "Gue nggak nakut-nakutin, Dit. Ini fakta lapangan. Lo tau nggak? Di atas sana itu dinginnya ekstrem.
333Please respect copyright.PENANAIHuQsUfYRd
Kalau ada yang kena hipotermia parah, cara paling cepat buat nyelamatinnnya itu skin-to-skin. Masuk ke dalam satu sleeping ba* buat berbagi suhu tubuh."
333Please respect copyright.PENANAEVxvVL4t7w
Ia berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan yang seolah tahu segalanya. "Bahkan ada yang bilang, kalau udah parah banget, berhubungan seks itu jadi cara terakhir buat memompa adrenalin sama panas tubuh supaya nggak lewat. Bayangin aja, di tengah hutan, gelap, dingin... siapa yang tahu apa yang terjadi di dalam tenda?"
333Please respect copyright.PENANAQFfTAKTieA
Jantungku berdegup kencang. Kata-kata Amri seperti racun yang merayap masuk ke telingaku. Aku terdiam, tercengang membayangkan Dea yang polos berada dalam situasi seperti itu. Pikiran tentang "kehangatan" yang ia janjikan kemarin sore tiba-tiba terdistorsi oleh skenario mengerikan di kepalaku.
333Please respect copyright.PENANAMaVj12PYzj
Ting.
333Please respect copyright.PENANAL4WMdP1ev5
Ponselku bergetar lagi. Dengan gerakan kasar, aku menyambar benda itu dari saku. Satu foto lagi terunduh di layar.
333Please respect copyright.PENANAg9hRGZKyf4
Kali ini Dea sudah berada di dalam bus. Ia duduk di kursi dekat jendela, tersenyum manis ke arah kamera. Tapi kali ini dia tidak sendiri. Di sampingnya, duduk seorang pria muda dengan kaos polo hitam, tubuhnya tinggi atletis dengan rahang yang tegas. Pria itu tampak sedang tertawa melihat ke arah ponsel Dea, jarak bahu mereka begitu rapat hingga tidak ada celah di antara mereka.
333Please respect copyright.PENANAtC094iBgjC
Darahku mendidih seketika. Siapa pria ini? Kenapa Dea tidak bilang dia duduk sebangku dengan laki-laki?
333Please respect copyright.PENANARCf84nXnWq
Tanganku gemetar, jempolku sudah berada di atas layar untuk mengetik pesan : "Itu siapa, De? Kok duduknya mepet banget?"
333Please respect copyright.PENANAXsUFeRdN2n
"DODIT! AMRI! KALIAN LAGI ARISAN DI DALAM SANA?"
333Please respect copyright.PENANAHOqXRG4JzO
Teriakan melengking Pak Bambang, kepala toko, menggelegar dari balik pintu gudang. Suara langkah sepatunya yang berat terdengar mendekat.
333Please respect copyright.PENANAgHDQD0cznV
"CEPET KELUAR! ANTRIAN DI KASIR SUDAH SAMPAI KE RAK BERAS! BERESIN BARANGNYA NANTI LAGI!"
333Please respect copyright.PENANARNxTIUM1Sh
"Iya, Pak! Siap!" sahut Amri kencang sambil buru-buru menyambar tumpukan keranjang plastik. Ia melirikku sekilas, memberikan tepukan prihatin di bahuku. "Sabar ya, Dit. Mending lo fokus kerja dulu daripada salah input kembalian."
333Please respect copyright.PENANAmQrg3dlR3k
Aku mengantongi ponselku dengan perasaan tidak keruan. Layarnya padam sebelum sempat aku mengirimkan protesku. Aku terpaksa melangkah keluar dari gudang yang panas menuju area kasir yang ber-AC, namun rasa dingin yang kurasakan di dadaku jauh lebih menusuk daripada pendingin ruangan toko.
333Please respect copyright.PENANAVhxKhCKKyK
Sepanjang melayani pelanggan, wajah pria tinggi di bus itu terus membayangi setiap transaksi yang kubuat. Pikiranku melayang ke jalur pendakian Gunung Gede, membayangkan bus itu semakin menjauh dari Jakarta, membawanya pergi ke tempat di mana suaraku tak lagi bisa menjangkaunya.
333Please respect copyright.PENANAWidrHIrwAH
Jam di dinding minimarket yang berdetak lamban akhirnya menunjuk ke angka empat. Begitu *shift* berakhir, aku tidak membuang waktu. Aku bahkan hampir tidak mendengarkan racauan Amri yang mengajak kopi darurat di warung sebelah.
333Please respect copyright.PENANAXbzs2mGawL
"Duluan, Ri! Ada urusan!" seruku sambil menyambar jaket, meninggalkan Amri yang hanya bisa melongo melihatku terburu-buru menghidupkan motor.
333Please respect copyright.PENANAFaZNwTgyP7
Jakarta sore itu terasa lebih mencekik dari biasanya. Macet, debu, dan klakson yang bersahutan membuat dadaku semakin sesak. Pikiranku sudah melesat jauh melampaui aspal panas ini, menembus kabut Gunung Gede yang entah sudah sampai mana Dea daki.
333Please respect copyright.PENANAI7KmI9x9l0
Begitu sampai di kosan, aku bahkan tidak melepas sepatu dengan benar. Aku langsung menghempaskan tubuh di tepian tempat tidur yang kemarin menjadi saksi bisu keintiman kami. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin dan rasa cemas, kubuka ponsel.
333Please respect copyright.PENANA3BAaazjhWN
Ada notifikasi dari Dea. Sebuah video pendek dan satu pesan teks.
333Please respect copyright.PENANAs3i1GCDUww
"Kamu ke mana sih kok nggak bales? Sinyal mulai susah nih di sini..."
333Please respect copyright.PENANA71gqyJgNQa
Aku menggeram rendah. "Maaf say, tadi sibuk banget, banyak pelanggan," ketikku cepat sebagai balasan, namun mataku segera tertuju pada file video di atasnya. Jari jempolku menekan ikon *play*.
333Please respect copyright.PENANATWLmVkq8lc
Video itu dimulai dengan keriuhan. Suasana di bagian belakang bus pariwisata yang remang. Sekelompok anak muda mungkin teman-teman pecinta alamnya sedang bernyanyi keras-keras diiringi petikan gitar yang tidak beraturan.
333Please respect copyright.PENANAJzBqxHCBJV
Mereka mengenakan kaos teknis dan jaket gunung yang senada, laki-laki dan perempuan berbaur dalam tawa yang menurutku terlalu lepas.
333Please respect copyright.PENANAAEsft9LWaB
Kamera ponsel Dea berputar, memperlihatkan wajahnya yang sedang tertawa. Ia terlihat sangat bahagia, sangat lepas. Namun, di detik kelima, jantungku seolah berhenti berdetak.
333Please respect copyright.PENANArB6MBMb4o7
Sebuah lengan pria—yang tertutup lengan panjang hitam—terlihat masuk ke dalam *frame*. Lengan itu tidak sekadar ada di sana; tangan itu mendarat di atas pundak Dea, merangkulnya dengan cara yang sangat akrab.
333Please respect copyright.PENANAcUGLnMr6qk
Dan yang membuat darahku mendidih adalah reaksi Dea. Dia sama sekali tidak menghindar.
Dia tetap bernyanyi, membiarkan tubuh mungilnya terhimpit oleh keberadaan pria di sebelahnya.
333Please respect copyright.PENANAEYHwzDBqsb
Sesaat sebelum video berakhir, kamera bergetar karena guncangan bus. Di saat itulah, wajah pria di sebelahnya hampir masuk ke *frame*. Aku tidak bisa melihat matanya, tapi aku melihat bibirnya. Bibir itu bergerak sangat dekat ke telinga Dea, membisikkan sesuatu yang membuat Dea menoleh dan tertawa kecil. Jarak antara wajah mereka tidak lebih dari beberapa senti. Sangat dekat. Terlalu dekat.
333Please respect copyright.PENANAU1o4nulwT4
"Sialan!" umpatku keras hingga suaraku memantul di dinding kamar yang sempit.
Aku langsung mengetik pesan dengan jempol yang menekan layar dengan kasar.
‘Dea, itu siapa yang ngerangkul kamu? Kok kamu diem aja? Jawab aku! Kenapa cowok itu deket banget sama kamu di video tadi?’
333Please respect copyright.PENANALor9SmG7z9
Aku menekan tombol kirim.
333Please respect copyright.PENANAlieaAJwGzx
Satu detik. Dua detik.
333Please respect copyright.PENANA3MQ1ZppFKN
Centang satu.
333Please respect copyright.PENANAlxJkeWOkaU
Aku mencoba menelepon lewat aplikasi hijau itu. Tidak tersambung. Aku mencoba panggilan seluler biasa. *Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.*
"Brengsek!" aku membanting ponselku ke atas kasur.
333Please respect copyright.PENANAEoftRTgrkm
Pikiranku langsung terbang ke ucapan Amri tadi siang di gudang. *Di atas sana itu dingin, Dit. Butuh yang anget-anget.* Bayangan pria tinggi dengan rahang tegas itu membisikkan sesuatu di telinga Dea di tengah kegelapan hutan mulai menari-nari di kepalaku, menyiksaku dengan ketidakpastian yang membakar.
333Please respect copyright.PENANARAzokqnzs6
Dia baru berangkat beberapa jam, dan aku sudah merasa seperti kehilangan dia sepenuhnya.
333Please respect copyright.PENANAmYVzea1rBn
Suasana di dalam kamar kosku semakin gelap. Aku tidak sudi beranjak hanya untuk menyalakan lampu. Aku duduk dalam remang, ditemani bayang-bayang di dinding dan suara detak jam dinding yang seolah mengejek kecemasanku. Setiap beberapa menit, aku menyalakan layar ponsel, berharap centang satu itu berubah menjadi biru atau setidaknya dua.
333Please respect copyright.PENANAVTnVpBmGj4
Baru setelah azan Maghrib lewat, ponselku bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk.
333Please respect copyright.PENANA3xXgIWlFin
Aku langsung menyambarnya seolah nyawaku tergantung di sana. Wajah Dea muncul di layar, latar belakangnya gelap, hanya diterangi cahaya senter kepala yang melingkar di dahinya. Ia tampak sedang duduk di depan tenda, uap tipis keluar dari mulutnya saat ia bernapas.
333Please respect copyright.PENANAWg1dEh313R
"Say, maaf ya baru ada sinyal, ini aku baru sampai di—"
333Please respect copyright.PENANA1Wc9dttwOg
"Siapa cowok itu, De?" aku langsung memotong kalimatnya, suaraku terdengar serak dan penuh tekanan. Aku bahkan tidak menyapa atau menanyakan kabarnya.
Dea tertegun di layar. Matanya yang besar berkedip bingung. "Maksudnya? Cowok siapa?"
333Please respect copyright.PENANAeV2NygMOf6
"Cowok yang di bus tadi! Yang ngerangkul kamu! Yang bisik-bisik di telinga kamu!" aku mulai meninggikan nada bicara, meluapkan semua kemarahan yang kupendam sejak di gudang Indah April. "Kamu pikir aku buta? Kamu asyik banget nyanyi-nyanyi sementara tangan dia ada di pundak kamu. Kamu sengaja pamer ke aku?"
333Please respect copyright.PENANA5lMla9sYsO
Wajah Dea di layar berubah. Senyum cerianya hilang, digantikan oleh kerutan di dahi. "Astaga, Dit... itu Kak Satria. Dia ketua pelaksana pendakian ini. Dia cuma lagi ngatur urutan lagu buat seru-seruan di bus. Nggak ada maksud apa-apa."
333Please respect copyright.PENANAbdNaFCYEVR
"Nggak ada maksud apa-apa tapi sampe nempel begitu?" Aku mencibir, tawa sinisku keluar begitu saja. "Dia cowok, De. Aku tahu apa yang ada di pikiran cowok kalau liat cewek kayak kamu. Dan kamu... kamu diem aja, malah ketawa-tawa. Kamu murahan banget kalau di depan dia?"
333Please respect copyright.PENANAzJ1mMOWfq2
Kata-kata itu keluar begitu saja. Aku tahu itu keterlaluan, tapi rasa cemburu sudah membutakan logikaku.
333Please respect copyright.PENANAnk6Pe0Bf3H
Dia tersentak. Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca terkena pantulan cahaya senter.
"Murahan? Kamu bilang aku murahan?" suaranya bergetar, kali ini bukan karena dingin, tapi karena menahan tangis. "Aku jauh-jauh ke sini, capek, baru sampai di *basecamp*, aku bela-belain cari sinyal cuma buat terima kasih kabar ke kamu karena aku tau kamu pasti menungguin... tapi ini yang aku dapet?"
333Please respect copyright.PENANAEp1kSiYBk1
"Ya kalau tidak mau ambil bagian, jaga jarak! Kamu itu pacar aku, bukan pacar kak kelas kamu itu!"
333Please respect copyright.PENANAuiWpCUUe5R
“Kamu nggak pernah percaya sama aku ya, Dit?” Dea mencengkeram pelan, air mata mulai jatuh di pipi putihnya. "Aku pikir setelah setahun, kamu tahu aku kayak gimana. Ternyata kamu cuma mau milikin aku kayak barang. Kamu egois!"
333Please respect copyright.PENANAUdocvDEjJD
"Aku egois karena aku sayang sama kamu, De!"
333Please respect copyright.PENANANyo8XDfovE
"Nggak, ini bukan sayang. Ini sakit!" Dea menyeka air matanya dengan kasar. "Tahu gitu, mending aku nggak usah telepon. Kamu ngerusak semuanya. Aku mau istirahat, jangan hubungin aku dulu kalau kamu cuma mau nuduh-nuduh nggak jelas."
333Please respect copyright.PENANAW8yvxpIozn
"De, tunggu, aku belum—"
333Please respect copyright.PENANAnGyWV41jyC
Bip.
Sambungan terputus. Aku mencoba menelepon balik, tapi ponselnya langsung diarahkan ke kotak suara. Ia mematikan ponselnya.
333Please respect copyright.PENANAEwOosu6Ljp
Aku melempar ponselku ke bantal, lalu menjambak rambutku sendiri. Kamar kos yang sempit ini terasa semakin menghimpit. Di atas sana, di lereng gunung yang dingin, Dea sedang menangis atau mungkin, ia sedang ditenangkan oleh pria bernama Satria itu. Pikiran itu membuat dadaku terasa seperti dihantam palu godam.
Baca karya selengkapnya di sini https://victie.com/novels/my-impregnation-girlfriend333Please respect copyright.PENANADkdqPCogyu


