Sinar matahari sore menyelinap melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna, membentuk pola cahaya keemasan di lantai ubin kamar kosku. Aku duduk di tepi tempat tidur, punggung bersandar ke dinding yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. Dea bersila di sampingku, laptop terbuka di pangkuannya menampilkan deretan foto-foto pemandangan pegunungan yang ia scroll dengan jari telunjuknya yang ramping.
431Please respect copyright.PENANAdzJkH9rvLa
"Aku boleh ikut ya say? Mendaki ke Gunung Gede?"
431Please respect copyright.PENANAUqwvxzirUe
Suara Dea meluncur ringan, tatapannya berpaling dari layar laptop menuju wajahku. Matanya yang besar itu berbinar dengan antusiasme khasnya, secerah cahaya sore yang masuk dari jendela. Rambut bergelombangnya tergerai setengah, beberapa helai jatuh menutupi sebagian pipi putihnya.
431Please respect copyright.PENANAtZfOxpzlG8
Aku menarik napas pelan, mencoba menahan reaksi pertamaku. Kamar kos ini memang tidak terlalu besar hanya cukup untuk sebuah tempat tidur single, meja belajar, dan lemari kecil tapi setidaknya memberikan privasi saat kami bermesraan. Dinding tipis kos-kosan ini tidak banyak meredam suara, jadi aku sudah terbiasa menjaga volume percakapan.
431Please respect copyright.PENANADobWTbLgVo
"Sama siapa aja sih? Dan berapa lama?"
431Please respect copyright.PENANAJNGGzLqFoa
Pertanyaanku keluar dengan nada lebih tajam dari yang kuinginkan. Dea menunduk sebentar, bibir merah alaminya sedikit memonyong. Ia mengetahui maksudku. Satu tahun berpacaran telah mengajarkannya membaca kekhawatiran di balik kata-kataku.
431Please respect copyright.PENANAQwvBwuIsLB
"Ya, sama teman-temannya dan kakak kelas pecinta alam di kampus loh, banyak kok ceweknya, Nadia juga ikut."
431Please respect copyright.PENANAHzPgxRU6cK
Nadia. Nama yang kudengar beberapa kali dari cerita Dea teman satu organisasinya di kampus, perempuan dengan suara lantang dan tawa yang mudah meledak. Setidaknya ada satu wajah familiar dalam rombongan itu.
431Please respect copyright.PENANAbQufu864yF
Tapi tetap saja. Dea yang imut, yang kuperlakukan seperti barang berharga selama ini. Dea yang polos, yang sering kali tidak menyadari ketika pria lain menatapnya lebih lama dari seharusnya. Dea yang akan pergi mendaki gunung dengan sekelompok orang termasuk pria-pria yang tidak kukenal.
431Please respect copyright.PENANAHJRhiegMn1
"Berapa hari?" tanyaku lagi, suaraku lebih lembut kali ini.
431Please respect copyright.PENANAPzArtBHgk7
"Tiga hari dua malam. Sabtu sampai Senin."
431Please respect copyright.PENANAnzTZDlVAWb
Jari-jarinya masih mengetuk tepi laptop, menunggu keputusanku. Aku bisa melihat bayanganku di layar yang sudah mulai redup—wajahku dengan kerutan di dahi yang selalu muncul saat aku cemas. Uban di pelipisku terlihat lebih jelas dalam pencahayaan seperti ini.
431Please respect copyright.PENANAsteEdHQVKZ
Aku mengamati wajah Dea lebih dekat. Kulit putihnya tampak berseri di bawah cahaya sore, matanya masih menatapku dengan harapan yang belum pudar. Ia mengenakan kaos oversized putih yang biasa ia pakai saat berkunjung ke kosku—kaos yang cukup longgar hingga terkadang tergeser dan menampilkan pundak mungilnya. Celana jeans robeknya melingkar di pergelangan kaki, dan sepatu sneakers putihnya tergeletak di dekat pintu.
431Please respect copyright.PENANAW8L0gK1JwR
Tiga hari. Tujuh puluh dua jam di mana ia akan berada jauh dariku, di ketinggian, dikelilingi orang-orang yang tidak kukenal.
431Please respect copyright.PENANAuW2uxnvgMo
"Say..." panggilnya lagi, suaranya meluncur lebih lembut. Jari rampingnya meraih tanganku yang tergeletak di atas seprei. "Aku udah janji sama mereka. Tolong ya?"
431Please respect copyright.PENANA16dhx6zLTm
Sentuhan tangannya hangat. Telapak tangannya lembut, berbeda dengan tanganku yang lebih kasar. Aku membalas genggamannya, menekan pelan jari-jemarinya.
431Please respect copyright.PENANAibpWVEKGJn
Aku menatap bibirnya. Bibir merah alami yang selalu terlihat basah tanpa perlu lip gloss. Bibir yang baru beberapa bulan ini diizinkannya kucium dengan benar—setelah setahun penuh kesabaran di mana izinku hanya mencium pipi atau keningnya.
431Please respect copyright.PENANAGLhsrSITxY
Dan sekarang, dengan cahaya sore yang menyinari wajahnya, dengan harapannya yang tertulis jelas di matanya, aku tidak tahan.
431Please respect copyright.PENANAWM2Q5o0wr7
Aku menarik tangannya, menarik tubuhnya lebih dekat. Laptopnya tergeser, hampir terjatuh dari pangkuannya sebelum tangannya cepat-cepat menyingkirkannya ke sisi tempat tidur. Tubuhnya yang ringan bergeser mendekat, bahunya menyentuh dadaku.
431Please respect copyright.PENANA3ylb2iAnJV
"Say—"
431Please respect copyright.PENANAnG6d6ZxobP
Pertanyaannya terpotong ketika mulutku menemui bibirnya.
431Please respect copyright.PENANAys0Stcy6xm
Ciuman ini lembut di awal. Aku menekan bibirku ke bibirnya, merasakan tekstur lembut yang sudah kukenal baik. Napasnya menghembus pelan ke hidungku, membawa aroma sabun mandi yang selalu ia pakai—sesuatu yang menurutnya beraroma lavender, meski bagiku lebih seperti bunga-bunga yang tidak bisa kusebut namanya.
431Please respect copyright.PENANAKxWtdwNdgL
Tanganku bergerak sendiri. Satu tangan masih menggenggam tangannya, tapi tangan lainnya merayap ke pinggangnya, menariknya lebih dekat lagi. Tubuhnya yang semula bersila kini berubah posisi, lututnya menyentuh pahaku.
431Please respect copyright.PENANAt6Q369KmxC
Aku memperdalam ciuman. Bibirku bergerak melawan bibirnya, menekan lebih keras, lebih dalam. Napasnya memburu, keluar dalam desahan pendek yang membuat dadanya naik-turun lebih cepat.
431Please respect copyright.PENANAUIMXxBshxh
Tanganku yang bebas merayap naik dari pinggangnya. Di bawah kaos oversized putihnya, aku bisa merasarkan lekuk tubuhnya—pinggang yang ramping, tulang rusuk yang teraba tipis, dan kemudian...
431Please respect copyright.PENANATdlUTjpBlY
Telapak tanganku menemukan buah dadanya.
431Please respect copyright.PENANAwb5WXinICX
Ia tidak mengenakan bra. Atau mungkin ia mengenakan bra tipis yang tidak kurasakan. Yang kurasakan adalah kelembutan daging di bawah kain katun, bulatan yang pas di telapak tanganku, dan puting yang mulai mengeras di bawah sentuhanku.
431Please respect copyright.PENANA75IAfF4KY0
Kuremas pelan. Daging itu melunak di bawah tekanan jari-jariku, kemudian kembali ke bentuk semula saat kulepaskan. Aku mengulang gerakan itu, kali ini dengan lebih tekanan, merasakan berat dan kepadatan yang membuat darahku mengalir lebih cepat.
431Please respect copyright.PENANArXMxJvPT9Z
"Ahhh... say, jangan."
431Please respect copyright.PENANA6paAUDZZ2e
Tangannya meraih pergelangan tanganku, menahan gerakanku. Suaranya keluar serak, napasnya masih memburu dari ciuman tadi.
431Please respect copyright.PENANAtdQslKAn1s
Aku bisa mengabaikannya. Aku bisa melanjutkan, menekan tubuhnya ke tempat tidur, menciumnya lebih dalam, meremasnya lebih keras. Tubuhnya sudah di genggamanku, dan aku tahu dari cara ia membalas ciumanku tadi ada bagian darinya yang menginginkan ini.
431Please respect copyright.PENANAgwRj71frAG
Tapi ingatan itu muncul. Ingatan tentang seminggu penuh tanpa kabar darinya. Seminggu di mana pesan-pesanku tidak dibalas, panggilan-panggilanku tidak diangkat. Seminggu di mana aku menunggu di luar gedung perkuliahannya seperti orang gila, berharap melihat sekilas wajahnya.
431Please respect copyright.PENANAbiUdWWupM0
Itu terjadi setelah aku tidak sengaja melihatnya telanjang.
431Please respect copyright.PENANAmzFTya6Ogw
Pintu kamar mandi kos yang tidak terkunci sempurna. Kesalahan yang tidak sengaja, tapi tetap saja kesalahan. Ia berdiri di bawah pancuran air, tubuhnya yang basah kuyup terekspos sepenuhnya—payudara yang kini kuremas, perut yang rata, dan...
431Please respect copyright.PENANAHHHTrPpLqh
Aku menghentikan pemikiran itu.
431Please respect copyright.PENANALKEr6RTABo
Yang penting adalah reaksinya. Ia menjauhiku selama seminggu penuh. Ia menolak bertemu, menolak mendengarkan penjelasan. Baru setelah aku datang ke rumahnya dengan muka tertunduk dan permintaan maaf yang diucapkan berkali-kali—barulah ia membuka pintu untukku.
431Please respect copyright.PENANASWB3z7ZywN
Dan sekarang, tanganku masih berada di payudaranya, sementara tatapannya menatapku dengan peringatan yang jelas.
431Please respect copyright.PENANAid9WfxOnhk
Aku menarik tanganku perlahan. Jari-jariku melepaskan pegangan pada daging lembut itu, meninggalkan kaos putih yang kembali rapi. Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang masih menderu.
431Please respect copyright.PENANAe0AfzBZP9w
"Maaf," ujarku pelan.
431Please respect copyright.PENANAjDZDaZnvWW
Dea mengatur napasnya. Pipinya memerah, warna merah jambu yang menyebar dari tulang pipinya ke lehernya. Ia menata posisinya, menarik kaosnya yang sedikit tergeser, lalu menatapku dengan mata yang masih berbinar tapi kali ini dengan kelembutan yang berbeda.
431Please respect copyright.PENANAJSU9aA2C5s
"Gimana? Boleh aku ikut?"
431Please respect copyright.PENANAJozE21M0ZI
Aku menatap wajahnya. Wajah imut dengan mata besar yang bersinar, bibir merah alami yang baru saja kucium, dan rambut panjang bergelombang yang tergerai menutupi sebagian pundaknya. Ia menatapku dengan harapan, dengan kepercayaan bahwa aku akan mengerti.
431Please respect copyright.PENANAVT61ROPNZl
Dan aku mengerti. Aku mengerti bahwa ia ingin pengalaman ini, ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang menantang. Aku mengerti bahwa memegangnya terlalu ketat tidak akan membuatnya tetap berada di sisiku—justru akan mendorongnya pergi.
431Please respect copyright.PENANASAzlCD0Qpw
Dengan berat hati, aku mengangguk.
431Please respect copyright.PENANA8lRVvjvS5v
"Boleh."
431Please respect copyright.PENANAT9DnER0CJm
Satu kata. Satu izin yang membuat matanya meledak dengan kegembiraan.
431Please respect copyright.PENANAGBEuw3vuyr
Dea melompat dari tempat tidur. Literal melompat—kedua kakinya mendarat di lantai dengan bunyi thud yang membuatku khawatir tetangga sebelah akan mengeluh. Ia berdiri di hadapanku, tangan terangkat ke udara, dan wajahnya bersinar dengan senyum yang sangat lebar hingga matanya hampir tertutup.
431Please respect copyright.PENANAbnAVUEzKU9
"Makasih say! Makasih makasih makasih!"
431Please respect copyright.PENANAsL4VEiyTxX
Ia melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang diinginkannya. Kaos oversizednya naik turun mengikuti gerakannya, menampilkan sepotong perut putih yang mulus. Rambutnya terlempar ke sana ke mari, menciptakan semburat coklat yang menari di udara.
431Please respect copyright.PENANAwh6gSBmh3S
Aku menatapnya dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran. Kekaguman karena antusiasmenya yang murni, yang tidak pernah hilang meski kami sudah bersama selama setahun. Kekhawatiran karena—yah, karena aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang mungkin terjadi di gunung itu.
431Please respect copyright.PENANAKgvlIxXbgV
"Tapi jaga diri ya," ujarku, suaraku lebih serius dari yang kuinginkan. "Ikutin instruksi kakak kelasnya. Jangan kemana-mana sendirian."
431Please respect copyright.PENANAjAbN42TbBn
Dea menghentikan lompatannya. Ia menatapku dengan kepala menengadah, senyumnya sedikit berkurang tapi matanya masih bersinar.
431Please respect copyright.PENANASjLdtwdaRK
"Iya say, aku kan bukan anak kecil lagi."
431Please respect copyright.PENANAemygg81X25
"Kamu memang bukan anak kecil," kataku, "tapi kamu... polos."
431Please respect copyright.PENANAxhaLvafgM6
Dea memonyongkan bibirnya lagi. "Maksudnya?"
431Please respect copyright.PENANACzOMAtXxn7
"Maksudnya..." aku menghela napas, mencari kata yang tepat, "kamu terlalu percaya sama orang. Kamu nggak sadar kalau ada cowok yang nge-flirting sama kamu."
431Please respect copyright.PENANAQR2mGsTEq3
"Tidak ada cowok yang nge-flirting sama aku."
431Please respect copyright.PENANAVV5tgrGLoL
"Ada. Banyak."
431Please respect copyright.PENANAlhcdUVAw77
"Siapa?" Dea menatapku dengan alis terangkat, tangannya terlipat di dada.
431Please respect copyright.PENANAa47UzAyQXI
Aku tidak menjawab. Sebut nama-nama itu hanya akan membuatku terdengar seperti pacar cemburu yang tidak masuk akal—meski mungkin memang begitu adanya.
431Please respect copyright.PENANAREtyR8CmxQ
Dea mendecakkan lidahnya. Ia melangkah mendekat, kembali duduk di tepi tempat tidur di sampingku. Bahunya menyentuh bahuku, hangat dan akrab.
431Please respect copyright.PENANAkfBya2RlIl
"Say," suaranya lebih lembut kali ini, "aku cuma mau mendaki gunung. Sekali ini aja. Aku janji bakal jaga diri, bakal selalu bareng Nadia, bakal kabarin kamu setiap ada sinyal."
431Please respect copyright.PENANAfr6MzRRIiO
Ia menatapku dengan mata besar yang bersinar, bibir merahnya sedikit terbuka menampilkan deretan gigi putih yang rapi. Tangannya meraih tanganku lagi, jari-jarinya menjalin dengan jari-jariku.
431Please respect copyright.PENANApOiS403PAg
"Kamu kan percaya sama aku kan?"
431Please respect copyright.PENANAWFQmOlV1l2
Pertanyaan itu menggantung di udara. Tentu saja aku percaya padanya. Dea mungkin polos, mungkin terlalu perca, tapi ia setia. Setia sampai ke level yang kadang membuatku merasa tidak layak.
431Please respect copyright.PENANAwj7Nw1rA2F
"Aku percaya sama kamu," ujarku akhirnya. "Aku cuma... khawatir."
431Please respect copyright.PENANAoZSwvD1JRQ
"Khawatir apa?"
431Please respect copyright.PENANAawxLDjboI3
"Khawatir kamu jatuh. Khawatir kamu kedinginan. Khawatir ada cowok yang—"
431Please respect copyright.PENANAkprRwPyIVX
"Oke, oke, stop." Dea menekan jari telunjuknya ke bibirku, menghentikan deretan kekhawatiran yang keluar. "Aku janji bakal hati-hati. Happy?"
431Please respect copyright.PENANABnPQ7YtmXy
Aku menatap jari telunjuknya yang masih menempel di bibirku. Kukucup ujung jarinya dengan cepat, membuatnya tersentak dan menarik tangannya kembali.
431Please respect copyright.PENANAx31Kklbc7R
"Hey!" serunya, wajahnya memerah lagi.
431Please respect copyright.PENANA1t8OJX9o9b
"Kamu yang menutup mulutku," kataku dengan bahu melenggang.
431Please respect copyright.PENANAUQUSFTCSFP
Dea mendengus, tapi senyumnya kembali. Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, membenamkan wajahnya di lekuk leherku. Napasnya hangat di kulitku, rambutnya menggelitik daguku.
431Please respect copyright.PENANAXzrjLPnVSk
"Aku bakal kangen kamu," bisiknya di leherku.
431Please respect copyright.PENANAm3DLu3iG1G
Aku mengelus rambutnya, jari-jariku tersangkut di gelombang-gelombang coklat yang lembut. "Aku juga bakal kangen kamu."
431Please respect copyright.PENANA1Jk7SPHKrv
"Tiga hari kan nggak lama."
431Please respect copyright.PENANAJLKkkAqM28
"Tidak."
431Please respect copyright.PENANAVOCRBEXQ7R
"Tapi tetap bakal kangen."
431Please respect copyright.PENANA12EyHHkqAh
Aku tidak menjawab, hanya terus mengelus rambutnya sementara pikiranku berputar pada kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin kufikirkan. Tiga hari. Tujuh puluh dua jam. Dea di Gunung Gede, dikelilingi teman-temannya dan kakak kelas pecinta alam yang tidak kukenal.
431Please respect copyright.PENANAVoeNz1FCte
Cahaya sore semakin meredup. Bayangan di kamar memanjang, menelan sudut-sudut ruangan. Dea masih membenamkan wajahnya di leherku, tubuhnya rileks di sampingku.
431Please respect copyright.PENANAtAAdqtEpwi
"Mengatakan?" suaranya terdengar pelan, masih tersembunyi di lekuk leherku.
431Please respect copyright.PENANAsCdDZ1K0v8
"Hmm?"
431Please respect copyright.PENANAJfEFJIOhHZ
"Kamu tadi..." dia menjawab sebentar, "kamu berhenti."
431Please respect copyright.PENANAW1GBtV9oht
Aku menelan ludah. "Kamu jangan bilang."
431Please respect copyright.PENANA7nqbruolUU
"Iya, tapi..." ia mengangkat wajahnya, menatap dengan mata yang dalam, "kamu biasanya nggak segampang itu berhenti."
431Please respect copyright.PENANAl96pBCGrfq
Kata-katanya menggantung di udara. Ia benar—ada masa di mana aku tidak akan berhenti hanya karena satu kata persetujuan. Bukan karena aku tidak menghargai keinginannya, tapi karena aku tahu bahwa tubuhnya sering kali berkata lain dari mulut.
431Please respect copyright.PENANAYM6cV45MQp
Tapi seminggu tanpa Dea telah mengajarkanku sesuatu. Bahwa memaksakannya bukanlah cara untuk memilikinya. Bahwa keintiman yang dipaksakan bukanlah keintiman yang sama sekali.
431Please respect copyright.PENANA2ru57O6R2t
"Kamu bilang jangan," ulangku pelan. "Jadi aku berhenti."
431Please respect copyright.PENANAdoq4yBsrSC
Dea memandang lama. Mata bergerak dari mataku ke bibirku, lalu kembali ke mataku lagi. Ia menjulurkan lidahnya, membasahi bibir yang mulai kering.
431Please respect copyright.PENANAh5uYQSF6Zl
"Lain kali," bisiknya, "kamu nggak usah berhenti."
431Please respect copyright.PENANAFkWK2Hb1Lk
Kata-kata itu mengalir ke telingaku, mengirimkan getaran yang turun ke tulang belakangku. Aku memperhatikan dengan intensitas yang meningkat, mencoba memastikan bahwa aku mendengarkan dengan benar.
431Please respect copyright.PENANAbHEdQFRUAy
"Maksudmu?"
431Please respect copyright.PENANAV1iu1fqOLW
"Maksudku..." ia menunduk, pipinya memerah lagi, "lain kali. Kalau kita sudah...lebih siap."
431Please respect copyright.PENANAZ1UUNBTAzT
Lebih siap. Dua kata yang tergantung di antara kami. Kami sudah berpacaran selama setahun, tapi Dea masih menunggu. Menunggu untuk apa, aku tidak sepenuhnya tahu. Mungkin menunggu rasa aman yang ia butuhkan.
431Please respect copyright.PENANAB3PdhKlZ9Y
“Baik,” ujarku pelan. "Aku tunggu."
431Please respect copyright.PENANApzQyGhnpWM
Dea mengangkat wajahnya, senyumnya kembali kali ini dengan kelembutan yang berbeda. Ia menaruh kepala di bahuku, kembali membenamkan wajahnya di lekuk leherku.
431Please respect copyright.PENANAknMWHLLj1r
“Makasih bilang,” bisiknya. “Makasih udah ngeerti.”
431Please respect copyright.PENANAGsZaCYrssR
Aku mencium puncak kepalanya, mencium aroma sampo yang masih menempel di rambutnya. Di luar jendela, matahari semakin tenggelam, mengecat langit dengan warna jingga dan merah jambu.
431Please respect copyright.PENANAb5fW3QhSzF
431Please respect copyright.PENANAC0FngzHkwL


