POV Dea Putri
338Please respect copyright.PENANACXqJ7HwSXg
Udara malam di basecamp Cibodas menusuk hingga ke tulang, jauh lebih tajam dari yang kubayangkan. Aku mengeratkan jaket windbreaker kuningku, duduk menyendiri di atas kursi plastik panjang di sudut warung yang menjadi tempat berkumpul rombongan kami. Di depanku, secangkir teh manis panas yang sudah mulai mendingin tidak sanggup meredakan gemuruh di dadaku.
338Please respect copyright.PENANAADeVMogyEN
"Kamu nggak pernah percaya sama aku ya, Dit?"
338Please respect copyright.PENANAg71an3EqjY
Kalimat itu masih terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku. Aku mematikan ponsel dengan tangan gemetar.
338Please respect copyright.PENANAnAd75m3AQu
Hatiku perih. Dodit selalu saja begitu, selalu ada kecurigaan yang mencekik di setiap ruang gerakku. Ia tidak tahu betapa beratnya aku menjaga jarak, betapa aku selalu memikirkan perasaannya, tapi tuduhan "murahan" itu benar-benar menyayat hatiku.
"De? Kok melamun? Tehnya keburu jadi es tuh."
338Please respect copyright.PENANAmfrcOvfUW1
Sebuah suara berat dan hangat memecah lamunanku. Aku mendongak. Satria berdiri di sana, memegang dua bungkus mi instan cup yang masih mengepul. Ia tidak mengenakan jaket tebal, hanya kaos lengan panjang hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya, seolah hawa dingin gunung ini adalah kawan lamanya.
338Please respect copyright.PENANA0o7fzS0lD9
"Eh, Kak Satria. Nggak apa-apa, cuma lagi... adaptasi suhu aja," jawabku sambil berusaha memaksakan senyum tipis.
338Please respect copyright.PENANAlstCxMKFNo
Satria duduk di sampingku. Tidak terlalu dekat seperti di bus tadi, tapi cukup untuk membuatku merasakan radiasi panas dari tubuhnya. "Bohong banget. Mata kamu merah gitu. Habis telepon pacar ya?"
Aku terdiam, menunduk menatap lantai tanah yang kering.
338Please respect copyright.PENANAJOqG0mnpuw
"Dunia pendakian itu harusnya bikin stres hilang, De. Bukannya malah nambah beban di mata," lanjutnya lembut. Ia membuka salah satu mi cup dan menyodorkannya padaku. "Makan dulu. Kita muncak tengah malam nanti. Kamu butuh tenaga, bukan air mata."
338Please respect copyright.PENANAROAWEhe7hg
Di seberang kami, suasana sangat kontras. Bagas dan Rendy, teman seangkatan Satria, sedang asyik memetik gitar sambil menyanyikan lagu-lagu folk yang mendayu.
338Please respect copyright.PENANAHiFScqzkw5
Nadia, teman satu organisasiku, tertawa terpingkal-pingkal saat Rendy mencoba meniru suara penyanyi aslinya dengan nada sumbang.
"Dea! Sini dong! Jangan mojok terus kayak lagi dihukum!" teriak Nadia sambil melambai-lambaikan tangannya.
338Please respect copyright.PENANAc1lch9bvGm
"Biarkan dia tenang dulu, Nad," sahut Satria dengan nada otoritas yang tenang namun tegas. Ia kembali menatapku. "Dodit ya namanya? Dia memang sering posesif?"
Aku tersentak. "Kok Kakak tahu?"
338Please respect copyright.PENANAfrbfDTlnqG
Satria terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Kelihatan dari cara kamu pegang HP tadi. Kayak lagi megang bom yang siap meledak. Dea, kamu itu cantik, berprestasi, punya masa depan. Sayang kalau energinya habis cuma buat ngejelasin hal-hal yang harusnya nggak perlu dijelasin ke orang yang nggak percaya sama kamu."
338Please respect copyright.PENANAXLC5qnxUQL
Tangannya bergerak, kali ini perlahan ia menepuk bahuku. Tepukan yang awalnya hanya dukungan, tapi telapak tangannya menetap di sana sedikit lebih lama. "Di gunung ini, kamu bebas. Nggak ada yang bakal marahin kamu cuma karena kamu ketawa atau berteman. Anggap aja ini pelarian kecil dari... 'penjara' Jakarta kamu."
338Please respect copyright.PENANAHy18es33a7
"Tapi dia cuma khawatir, Kak..." gumamku membela, meski hatiku sendiri ragu.
338Please respect copyright.PENANALAJez9uysn
"Khawatir atau mengontrol?" Satria memiringkan kepalanya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahku. Aroma parfum maskulin bercampur wangi tembakau tipis darinya tercium samar, entah kenapa terasa sangat menenangkan dibandingkan bayangan gudang pengap tempat Dodit bekerja. "Cowok yang beneran sayang itu bakal dukung hobimu, bukan bikin kamu nangis di malam pertama pendakian."
338Please respect copyright.PENANAfCurTrVYBJ
Satria berdiri, namun tangannya masih di bahuku, kini merosot sedikit ke arah lengan atas. "Yuk, gabung sama yang lain. Biar suasananya pecah. Jangan biarkan dia menang malam ini di pikiranmu."
338Please respect copyright.PENANAcjEYaRrvcU
Aku ragu sejenak, lalu melihat Nadia yang tampak begitu bahagia di bawah sinar lampu neon warung yang temaram. Mungkin Satria benar. Mungkin aku butuh sedikit udara segar.
338Please respect copyright.PENANAHdO1pVnHAC
Aku berdiri, mengikuti Satria menuju lingkaran teman-teman yang lain. Saat aku berjalan, aku merasa Satria sengaja berjalan sangat dekat di belakangku, seolah menjagaku agar tidak jatuh, atau mungkin... agar aku merasa bahwa ada sandaran lain yang lebih kokoh di sini.
338Please respect copyright.PENANAuXwpoPNvxi
"Nah, gitu dong! Ini baru Dea sang pendaki!" seru Bagas menyambutku.
338Please respect copyright.PENANANsjHwNkC0m
Musik kembali mengalun. Di tengah tawa dan nyanyian, aku mencoba melupakan getaran ponsel yang sengaja kumatikan. Di sampingku, Satria sesekali membisikkan candaan di telingaku agar suaranya tidak tenggelam oleh petikan gitar, dan setiap kali bibirnya mendekat, aku merasa ada sesuatu yang berdesir, sesuatu yang salah, tapi entah kenapa terasa begitu dibutuhkan saat ini.
338Please respect copyright.PENANAkAJIQroNbG
Malam semakin larut, dan jalur pendakian yang gelap sudah menanti di depan sana.
338Please respect copyright.PENANAlS9nc3ctGF
Pukul satu dini hari. Gelap menyelimuti jalur Cibodas, hanya menyisakan lingkaran cahaya dari *headlamp* yang menari-nari di atas akar pohon dan bebatuan lembap. Napasku mulai memburu, terasa panas dan pendek-pendek di tengah udara yang membekukan.
338Please respect copyright.PENANAKTNJoDSjel
"Ayo, De. Atur napas, satu-satu langkahnya. Jangan dipaksa lari," suara Satria terdengar stabil di belakangku. Sebagai ketua, dia mengambil posisi sweeper penjaga paling belakang tepat di belakangku.
338Please respect copyright.PENANA0fl3VPHvJ7
"Kaki aku... agak gemetar, Kak," bisikku. Keringat dingin mulai bercampur dengan hawa gunung. Ini baru beberapa jam, tapi tanjakan demi tanjakan terasa seperti siksaan bagi otot pahaku yang tidak terbiasa.
338Please respect copyright.PENANAdVH2rkspTU
"Wajar, itu namanya penyesuaian. Sini, pegang tangan Kakak kalau licin."
338Please respect copyright.PENANAyo9OW0231w
Satria melangkah maju, berdiri di sampingku saat kami melewati tanjakan berbatu yang terjal. Tangannya yang besar dan kasar—khas orang yang sering memanjat tebing—menggenggam jemariku. Hangat. Sangat kontras dengan angin malam yang menyapu kulit wajahku.
338Please respect copyright.PENANATDK4mDGJQM
"Nadia mana, Kak?" tanyaku sambil terengah, mencari sosok sahabatku yang tadi sempat di depan.
338Please respect copyright.PENANAjnqwNeSylk
"Nadia udah jauh di depan sama Bagas. Mereka pace-nya cepat. Kamu tenang aja, ada Kakak di sini. Aku nggak bakal biarin kamu sendirian di gelap begini," bisiknya. Kalimat itu entah kenapa terdengar jauh lebih intim daripada sekadar instruksi pendakian.
338Please respect copyright.PENANAPGgDR2FXip
Kami tiba di sebuah pos bayangan yang sepi. Anggota rombongan yang lain sudah tidak terlihat cahayanya, mungkin sudah jauh di depan. Satria memberi kode untuk berhenti.
338Please respect copyright.PENANA2tPe1Lud2y
"Istirahat dulu dua menit. Minum dikit-dikit, jangan langsung banyak," Satria mengambil botol air dari kantong samping tas *carrier*-ku. Ia membukakannya, lalu meminumkannya padaku seolah aku ini anak kecil yang perlu dirawat.
338Please respect copyright.PENANAoZvtOvYZOb
Aku meneguk air itu, menatap Satria yang kini hanya diterangi cahaya remang dari headlamp-nya yang diarahkan ke tanah. "Kak Satria sering ya, nemenin pemula kayak aku gini?"
338Please respect copyright.PENANAx5yGfRAItz
Satria terkekeh, ia duduk di sebuah batang pohon tumbang dan menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Sering. Tapi nggak semua pemula punya kemauan sekeras kamu. Kebanyakan baru sampai sini udah minta turun. Kamu... spesial, De. Kamu bertahan meski lagi ada beban pikiran."
338Please respect copyright.PENANAq6zgcAO1jB
Aku menunduk, memainkan ujung jaketku. "Maaf ya Kak, tadi di basecamp aku malah cemberut."
338Please respect copyright.PENANAdIMRm5Y4y1
"Nggak apa-apa. Dodit emang sering gitu? Marah tanpa dengerin penjelasan dulu?"
338Please respect copyright.PENANA2udgpo3nsj
"Dia... dia cuma takut kehilangan aku, katanya."
338Please respect copyright.PENANAFCZBhbkfMI
Satria mendekat, jarak kami kini sangat tipis. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang meradiasi ke arahku. "Takut kehilangan itu wajar, De. Tapi kalau sampai memangkas sayap orang yang dia sayang, itu namanya bukan cinta, itu obsesi. Lihat kamu sekarang, di tengah hutan begini, kamu hebat. Kamu mandiri. Dia harusnya bangga, bukannya malah bikin kamu nangis lewat telepon."
338Please respect copyright.PENANAOFdi6yVTZz
Tangannya merayap naik, membetulkan letak kupluk yang menutupi telingaku. Jarinya sempat menyentuh pipiku yang dingin, mengusapnya pelan. "Dingin banget ya? Sini..."
338Please respect copyright.PENANAo2tUwMfGbX
Tanpa menunggu persetujuanku, Satria merangkul bahuku, menarikku masuk ke dalam dekapan sampingnya. Ia menggunakan jaketnya yang tebal untuk menutupi sisi tubuhku. Aku sempat menegang, teringat wajah Dodit yang sedang marah, tapi rasa lelah dan dingin yang luar biasa ini membuat pertahananku runtuh.
338Please respect copyright.PENANAIJO5EA95Nc
Pelukan Satria terasa seperti perlindungan yang nyata, sementara Dodit hanya terasa seperti suara penuh amarah di ujung telepon yang mati.
338Please respect copyright.PENANAQr43imgtfd
"Jangan dipikirin dulu yang di Jakarta. Malam ini, cuma ada gunung, bintang, dan kita," bisik Satria tepat di samping telingaku. Napasnya yang hangat menggelitik leherku, membuat bulu kudukku berdiri bukan karena dingin.
338Please respect copyright.PENANArrGz6tcQKf
"Makasih, Kak..." gumamku lirih. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh.
338Please respect copyright.PENANAIvt4p5qfXG
Di atas sana, di balik tajuk pepohonan, bintang-bintang mulai terlihat. Aku merasa sangat kecil, tapi di saat yang sama, merasa sangat diperhatikan. Satria tidak menuntutku untuk melakukan apa pun, ia hanya memberiku rasa aman yang selama ini perlahan menghilang dari hubunganku dengan Dodit.
338Please respect copyright.PENANA18hGk8saTk
"Ayo, sedikit lagi sampai Kandang Badak. Kita bangun tenda, kamu bisa tidur nyenyak di sana. Nanti Kakak yang masakin air hangat buat kamu," ujar Satria sambil membantuku berdiri.
338Please respect copyright.PENANAv82B2l1suf
Kali ini, ia tidak melepaskan tanganku. Kami berjalan beriringan menembus kegelapan, dengan jemari yang saling bertautan erat. Aku tahu ini salah, tapi di tengah hutan yang sunyi ini, suara hati nuraniku kalah jauh oleh degup jantung yang dipicu oleh kehadiran pria di sampingku ini.
338Please respect copyright.PENANA2L8keH10mN
Jalur pendakian menuju Kandang Badak semakin curam, namun di mataku, Satria seolah tidak memiliki rasa lelah. Setiap kali aku tersandung akar pohon yang menonjol, tangannya selalu ada di sana sigap menopang pinggangku, menjagaku agar tidak terjatuh.
338Please respect copyright.PENANAI0vqUbg8uA
"Pelan-pelan, Sayang..." Satria meralat ucapannya dengan tawa kecil yang serak, "Eh, maaf. Kebiasaan kalau lagi jaga junior."
338Please respect copyright.PENANAis5mSVFzCk
Aku tersipu dalam kegelapan, menyembunyikan wajahku di balik kerah jaket. Panggilan itu, meski mungkin hanya selipan lidah, terasa jauh lebih manis daripada "murahan" yang diteriakkan Dodit di telepon tadi.
338Please respect copyright.PENANAz5DOKP9DlE
"Kak Satria udah berapa kali naik ke sini?" tanyaku, mencoba mengalihkan debar jantungku.
338Please respect copyright.PENANAWQ3lhEN1WN
"Gede? Mungkin sudah sepuluh kali. Tapi setiap pendakian punya cerita beda, De. Tergantung siapa yang kita bawa ke atas," ia menoleh, cahaya *headlamp*-nya sempat menyapu wajahku sekejap, memberikan kesan misterius pada rahang tegasnya. "Ada orang yang naik gunung cuma buat gagah-gagahan. Ada yang naik buat kabur dari masalah. Kalau aku... aku naik buat cari ketenangan yang nggak aku dapet di rumah."
338Please respect copyright.PENANAqUZrryMVIL
Suaranya melunak. Kami sampai di sebuah tanah datar kecil dan ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Satria duduk di atas bongkahan batu besar dan mengeluarkan sebatang coklat, membaginya dua, lalu memberikan potongan yang lebih besar padaku.
338Please respect copyright.PENANAV5uSaIb7BU
"Rumah Kakak... kenapa?" Tanyaku pelan.
Satria menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. "Ayahku keras banget, De. Persis kayak Dodit mungkin itu sebabnya aku tahu rasanya jadi kamu. Di mata Ayah, aku nggak pernah bener. Kuliah harus diatur, pergaulan dipantau. Gunung ini satu-satunya tempat di mana aku bisa jadi diri sendiri. Di sini, nggak ada yang bisa dikte aku harus jadi apa."
338Please respect copyright.PENANAb8LKbovNZb
Aku menatapnya dengan rasa simpati yang mendalam. Ternyata di balik sosoknya yang dominan dan penuh percaya diri sebagai ketua UKM, Satria menyimpan luka yang mirip denganku. Rasa senasib itu mulai tumbuh, mengikatku lebih erat padanya.
338Please respect copyright.PENANASXpaozZli7
“Aku juga ngerasa gitu sama Dodit, Kak,” bisikku sambil mengunyah cokelat yang terasa sangat manis di lidahku yang pahit. "Kadang aku ngerasa aku ini cuma salah satu barang pajangan di rak minimarketnya. Harus ada di sana, nggak boleh berubah, nggak boleh pergi jauh."
338Please respect copyright.PENANAU3jOgv8gz1
Satria bergeser mendekat. Ia meletakkan tangannya di atas lututku yang terbungkus celana kargo. "Kamu itu bukan barang, Dea Putri. Kamu itu udara. Kamu nggak bisa digenggam terlalu keras, karena kalau digenggam, kamu malah bakal ilang. Dodit itu bodoh. Kalau aku punya seseorang kayak kamu, aku nggak bakal curiga. Aku bakal temenin kamu kemanapun kamu mau pergi, jadi aku bisa melihat dunia lewat mata kamu."
338Please respect copyright.PENANApu00Vx3WLl
Ia mulai bercerita tentang ekspedisinya ke gunung-gunung di luar Jawa. Tentang bagaimana ia pernah terjebak badai di Rinjani, tentang kabut abadi di Semeru, dan bagaimana keindahan puncak itu selalu bisa membayar semua rasa sakit di perjalanan.
338Please respect copyright.PENANAcWmz83mp6l
Cerita-ceritanya begitu memikat, membawaku ke dunia yang jauh dari bau debu gudang dan bunyi *scanner* kasir yang membosankan.
338Please respect copyright.PENANAQIdgVI4qrf
“Gunung itu kayak hidup, De,” ujarnya sambil menatap mataku dalam-dalam. “Kita butuh orang yang bisa narik kita ke atas pas kita jatuh, bukan orang yang narik kita turun pas kita mau berkembang.”
338Please respect copyright.PENANASul5mLp825
Tiba-tiba, gerimis tipis mulai turun, membasahi dedaunan di sekitar kami. Suhu udara langsung seketika. Aku menelepon, bahuku bergetar hebat.
338Please respect copyright.PENANAUD9LC6RawU
“Sini,” Satria menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini, ia benar-benar mendekapku dari depan. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang stabil di balik jaket *gore-tex*-nya. Wangi tubuhnya campuran keringat jantan, kopi, dan hawa dingin terasa sangat memabukkan.
338Please respect copyright.PENANAZNlHSVzl0g
“Kak, nanti kalau yang lain lihat…” gumamku lemah, meski hadir mulai kehadiran balas dendam pelukannya, mencari kehangatan dari tubuhnya yang panas.
338Please respect copyright.PENANALJQHbeK8Xp
"Mereka nggak akan lihat. Mereka sudah di atas, mungkin sudah tidur di dalam tenda,"
bisiknya tepat di keningku. Ia mencium puncak kepalaku dengan lembut, sebuah ciuman yang terasa sangat protektif sekaligus... menggoda.
338Please respect copyright.PENANAMgVTNi9pvX
Aku menutup mataku. Di Jakarta, Dodit mungkin sedang marah-marah di kamar kosnya yang sumpek. Di sini, aku merasa seperti ratu di tengah hutan rimba, dilindungi oleh pria yang seolah mengerti setiap inci luka di hatiku.
338Please respect copyright.PENANAbZc3rDnk7y
"Ayo, sedikit lagi Kandang Badak. Nanti di tenda, Kakak bakal kasih tau kamu rahasia bagaimana caranya supaya tidak kedinginan sama sekali," ucap Satria dengan nada yang sedikit lebih berat, sambil membantuku berdiri.
338Please respect copyright.PENANAA9lg7T2bkQ
Ia tidak lagi gandeng, melainkan merangkul pinggangku dengan erat, memastikan tubuh kami tetap bersentuhan di sepanjang jalur yang semakin gelap dan licin. Pikiranku tentang Dodit perlahan memudar, tertutup oleh bayangan tenda hangat dan janji-janji manis yang dibisikkan Satria di sepanjang jalan.
Baca selengkapnya di sini https://victie.com/novels/my-impregnation-girlfriend
338Please respect copyright.PENANA0sWamGdH1r
338Please respect copyright.PENANAhTkF12YmtS


