Bunyi bip dari mesin scanner kasir Indah April terdengar seperti siksaan yang tak berujung di telingaku. Seharian ini, Jakarta terasa tiga kali lebih panas, dan kepalaku rasanya mau pecah.
391Please respect copyright.PENANAKR7YuWpsiF
Setiap kali ada waktu luang bahkan hanya beberapa detik saat pelanggan sedang merogoh dompet tanganku secara refleks meraba saku celana, menarik keluar ponsel, dan menatap layarnya yang bisu.
391Please respect copyright.PENANA4LmDgx1Pnf
Nihil. Masih centang satu.
391Please respect copyright.PENANAt2G6DdlWwr
Pesan terakhirku yang penuh amarah semalam tidak pernah berubah warna. Panggilan telepon yang kucoba lakukan sejak subuh tadi hanya berujung pada suara operator yang datar dan dingin : "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif…”
"Dit! Kembaliannya kurang seribu itu. Jangan bengong mulu, ntar tekor lo!" Amri menepuk pundakku dari belakang, membuyarkan lamunanku.
391Please respect copyright.PENANARIVuAVgvwr
"Ah? Oh, iya. Sorry," aku buru-buru mengambil koin dari laci kasir dan menyerahkannya pada ibu-ibu di depanku dengan senyum yang dipaksakan.
391Please respect copyright.PENANAtOKW6kILC3
Begitu *shift*-ku selesai pukul empat sore, rasanya aku tidak punya tenaga lagi untuk langsung pulang ke kosan. Pulang hanya berarti menatap dinding kamar yang sepi dan membayangkan hal-hal yang membuat dadaku sesak.
391Please respect copyright.PENANA3GHTJhJK95
"Muka lo kusut amat, Dit. Kayak cucian belum diperas seminggu," celetuk Amri saat kami berjalan ke area parkir motor. "Ikut gue deh, kita ngopi dulu di warkop depan. Biar otak lo rada adem."
391Please respect copyright.PENANAGvsQkrChtJ
Aku hanya mengangguk pasrah. Aku memang butuh seseorang untuk diajak bicara, atau setidaknya, aku butuh pengalihan agar tidak gila karena memikirkan Dea.
391Please respect copyright.PENANAvVDmkhAO9m
Warkop di ujung jalan itu ramai oleh kepulan asap rokok dan tawa para pengemudi ojek online. Kami duduk di pojok, di atas bangku kayu yang agak reot. Dua gelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng tersaji di depan kami, tapi aku sama sekali tidak menyentuhnya.
"Masih soal Dea?" tanya Amri sambil menyalakan rokoknya. Asap mengepul dari sela bibirnya.
391Please respect copyright.PENANAlV43ITkcNq
Aku menghela napas panjang, menunduk menatap layar ponsel yang sengaja kuletakkan di atas meja. "Dia nggak bisa dihubungi sejak semalam, Ri. Terakhir kita telponan habis Maghrib, kita berantem. Terus HP-nya langsung mati sampai sekarang."
391Please respect copyright.PENANAmSgXDomVXK
Amri mengerutkan keningnya, lalu menyeruput kopi hitamnya yang masih panas. "Berantem soal apa emangnya?"
391Please respect copyright.PENANALrOVWcHZXt
"Gue liat video dia di bus. Ada cowok yang ngerangkul dia, deket banget. Namanya Satria, ketua pelaksana pendakiannya. Pas gue tanya baik-baik, dia malah marah dan nuduh gue nggak percaya sama dia."
391Please respect copyright.PENANAYFvkqjRXf5
Amri tiba-tiba tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat perasaanku semakin tidak enak.
391Please respect copyright.PENANAZQUicF5bL3
"Tanya baik-baik atau lo langsung ngegas?"
391Please respect copyright.PENANAgQD3HJJ7WF
"Ya... gue agak emosi, Ri. Siapa yang nggak panas liat pacarnya dirangkul cowok lain?" belaku.
391Please respect copyright.PENANAu2NyCj9gf1
Amri menghembuskan asap rokoknya ke udara, matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dit, gue udah pernah bilang kan kemarin di gudang? Gunung itu beda sama Jakarta. Di atas sana, status pacaran lo di sini nggak ada artinya kalau ada cowok lain yang lebih sigap jagain dia."
391Please respect copyright.PENANAGXqE6hhzvR
"Maksud lo apa?" dadaku mulai berdegup kencang.
391Please respect copyright.PENANAAsb9CYgg7e
"Maksud gue..." Amri memajukan tubuhnya, menurunkan volume suaranya seolah apa yang akan dikatakannya adalah rahasia penting. "Lo tahu sendiri Dea itu cantik. Dia masih sembilan belas tahun, masih kuliah, dunianya luas. Sedangkan lo? Kita cuma karyawan minimarket, Dit. Kita nggak punya apa-apa buat dipamerin selain waktu kerja yang panjang dan capek."
391Please respect copyright.PENANAH62ubqiPv1
Amri mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. "Si Satria itu... dia kakak kelasnya, kan? Ketua UKM pula. Di mata cewek-cewek kampus, cowok kayak gitu tuh kelihatan keren, punya jiwa kepemimpinan, dan yang paling penting dia ada di samping Dea sekarang. Pas Dea lagi capek, kedinginan, dan butuh sandaran... siapa yang ada di sana? Bukan lo, Dit. Tapi Satria."
391Please respect copyright.PENANAXyLrikBX1i
"Tapi Dea sayang sama gue, Ri. Kita udah setahun," kataku, suaranya terdengar seperti rintihan putus asa di telingaku sendiri.
391Please respect copyright.PENANAci7akDcLdi
"Sayang itu bisa luntur dalam semalam kalau kena dinginnya gunung dan hangatnya perhatian cowok lain," sahut Amri tanpa ampun. "Bisa aja sekarang Dea udah kecantol sama si Satria itu. Cewek kalau lagi ngambek sama pacarnya, terus ada cowok lain yang masuk jadi pahlawan, kelar udah. Lo cuma bakal jadi sejarah."
391Please respect copyright.PENANAMdONn0wjOM
Kata-kata Amri menusuk tepat di ulu hatiku. Rasa cemburu yang sejak semalam membakar, kini bercampur dengan rasa rendah diri yang amat sangat. Aku membayangkan Dea yang polos, Dea yang imut, sedang berjalan berdua di jalur pendakian yang sepi dengan pria tinggi berahang tegas itu. Apakah Dea sudah melupakan aku? Apakah dia sengaja mematikan ponselnya agar bisa bebas bersama pria itu?
391Please respect copyright.PENANASIlKzSiJQT
"Jangan ngomong gitu, Ri..." bisikku, tanganku mengepal erat di bawah meja hingga kuku-kukuku memutih.
391Please respect copyright.PENANAHrCcHZpwqm
"Gue cuma ngomong kemungkinan terburuk, Dit. Biar lo nggak kaget kalau pas dia pulang nanti, sikapnya udah berubah," Amri menepuk bahuku, kali ini dengan nada yang sedikit lebih bersimpati. "Mending lo siap-siap aja. Kadang, apa yang kita jaga mati-matian di sini, dilepas dengan gampang di atas sana."
391Please respect copyright.PENANAnTQQiyyhuo
Aku tidak menjawab lagi. Aku mengambil ponselku, menatap layar yang masih belum menampilkan notifikasi apa pun. Di dalam hatiku, sebuah ketakutan yang sangat besar mulai berakar: ketakutan bahwa Dea Putri memang sudah bukan milikku lagi.
391Please respect copyright.PENANAxINTcKiNvR
Layar ponselku masih saja gelap gulita. Tidak ada getar, tidak ada dering, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari Dea. Di hadapanku, ucapan Amri yang terus-menerus memojokkan mentalku membuat kepalaku terasa seperti mau pecah.
391Please respect copyright.PENANALN4K0gruan
Bremm... Breeemm!
391Please respect copyright.PENANA97O2HvTkAH
Suara knalpot yang gahar tiba-tiba memecah kebisingan warkop. Sebuah motor *sport adventure* Honda CRF merah-putih berhenti tepat di depan parkiran. Pengendaranya adalah seorang pria tinggi tegap dengan jaket riding hitam yang kotor oleh debu jalanan.
391Please respect copyright.PENANAgPTqervJMY
Ia mematikan mesin, lalu dengan gerakan tegas melepas helm *full-face*-nya. Matanya yang tajam menyisir seluruh area warkop yang dipenuhi asap rokok. Untuk beberapa detik, menyapu meja-meja lain, hingga akhirnya... matanya terkunci tepat ke mataku.
391Please respect copyright.PENANAtzWUobi2Og
memandangnya begitu dingin dan mengintimidasi. Jantungku mencelos. Aku langsung mengenali wajah itu.
391Please respect copyright.PENANAUTE1rlwkCI
Rio. Kakak kandung Dea.
391Please respect copyright.PENANA1gX2pfzjpd
Rio turun dari motornya tanpa menurunkan standar dengan santai, melainkan menyentakkannya dengan kasar. Ia melangkah lebar-lebar ke arah mejaku dan Amri. Setiap derap langkahnya seolah membawa aura kemarahan yang tertahan. Amri yang tadi asyik mengoceh langsung bungkam, matanya melirik cemas ke arahku.
391Please respect copyright.PENANAOSIB9wMjuc
"Dodit," panggil Rio. Suaranya berat dan penuh penekanan saat ia berhenti tepat di samping meja kami. Ia tidak duduk, melainkan berdiri menjulang, memandang dari atas.
391Please respect copyright.PENANARUGKGnUtNU
"I-iya, Mas Rio. Ada apa?" jawabku terbata, mencoba tetap sopan meski nyaliku tiba-tiba menciut.
391Please respect copyright.PENANAPwItQ87jGL
"Nggak usah basa-basi. Dea mana?" tanya Rio langsung, nada bicaranya tajam dan menuduh. Mata memicing, memandang seolah aku adalah seorang buronan. "Lo bawa ke mana adik gue?!"
391Please respect copyright.PENANAUaKZnobBbp
"Maksudnya gimana, Mas? Dea nggak sama aku—"
391Please respect copyright.PENANARBILRONSpK
"Jangan bohong lo!" Rio menggebrak meja kayu warkop dengan telapak tangan. *Brak!* Gelas kopi hitam milik Amri sedikit bergoyang, membuat beberapa orang di warkop menoleh ke arah kami.
391Please respect copyright.PENANAa4rVv4enl5
"Sejak semalam nomor Dea nggak bisa dihubungi sama sekali," lanjut Rio dengan urat leher yang mulai menegangkan. "Orang rumah panik semua. Gue tahu lo pacarnya, dan kemarin sore tetangga liat Dea pergi bawa tas gede. Lo sembunyiin di mana dia? Lo bawa ke kosan lo, hah?!"
391Please respect copyright.PENANA8qRGv9xMt7
Mendengar tuduhan itu, darahku seolah mendidih bercampur rasa takut. Di satu sisi aku merasa canggung karena bersembunyi Dea, tapi di sisi lain, ketakutan Rio membuatku sadar bahwa situasi ini memang sudah tidak beres.
391Please respect copyright.PENANAHaCUQbDcGr
"Mas Rio, dengerin aku dulu. Tolong tenang," ujarku sambil mengangkat kedua perasaan, mencoba meredakan ketegangan. Aku menarik napas panjang agar suaraku tidak gemetar. "Demi Allah, Dea nggak ada sama aku. Aku nggak bawa dia ke mana-mana."
391Please respect copyright.PENANAnQUQcb3net
Rio memancarkan sinis, matanya masih menyorotkan ketidakpercayaan. "Terus dia kemana? Jangan main-main lo ya, kalau sampai Dea kenapa-napa..."
391Please respect copyright.PENANAW15B6VxD8W
"Dea lagi naik gunung, Mas!" potongku agak keras agar suaraku terdengar tegas. "Kemarin sore dia berangkat ke Gunung Gede Cibodas sama rombongan gunung, anak-anak pecinta alamnya. Dia pamit sama aku lewat telepon pas udah di dalam bus."
391Please respect copyright.PENANAajNZ9ZaU85
Mendengar penjelasanku, kernyit di dahi Rio sedikit mengendur, namun ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung sekaligus semakin kesal.
391Please respect copyright.PENANAP1zLxKWBg7
"Naik gunung? Sejak kapan adik gue suka naik gunung?" gumam Rio, lebih kepada dirinya sendiri. Ia lalu kembali melihat tajam. "Kenapa dia tidak izin sama orang rumah? Kenapa dia bilangnya hanya mau ada kegiatan kampus biasa?"
391Please respect copyright.PENANAOn6i9FC9aD
"Aku nggak tahu kalau soal itu, Mas. Tapi beneran, dia pergi sama rombongan kampusnya. Makanya nomornya nggak aktif dari semalam, karena di atas gunung sana emang susah sinyalnya," jelasku sebaik mungkin, mencoba menutupi fakta bahwa kami sempat minta hebat sebelum ponsel Dea mati.
391Please respect copyright.PENANAM3OS9RQobj
Rio mengusap wajahnya yang kasar dengan kasar, menghela napas panjang yang terdengar sangat mengecewakan. "Sial... anak itu bener-bener nekat. Kenapa lo nggak cegah dia, Dit? Lo kan cowoknya!"
391Please respect copyright.PENANApFDZRQ8Wzr
Aku hanya bisa menunduk. Pertanyaan Rio itu seperti belati yang menusuk ulu hatiku yang paling dalam. Aku tidak bisa menjawab bahwa aku justru sibuk mencemburuinya hingga ia mematikan ponselnya. Aku hanya bisa diam, membiarkan rasa bersalah dan cemas ini semakin menggerogoti pikiranku.
391Please respect copyright.PENANAtopfcyc233
"Sebenarnya aku sudah mencegah, Mas. Aku sudah larang dia karena aku juga khawatir, tapi Dea malah ngambek dan tetap keras kepala mau pergi," kataku membela diri, suaraku terdengar serak. Aku tidak berbohong, meskipun aku tidak menceritakan detail konflik kami yang dipicu oleh rasa cemburuku.
391Please respect copyright.PENANAdRGiUrKzKP
Rio memandang lekat-lekat selama beberapa detik. Ia sepertinya bisa melihat gurat frustrasi dan kelelahan yang sama besarnya di wajahku. Amarahnya yang meluap-luap tadi perlahan surut, digantikan oleh kecemasan seorang kakak yang memikirkan keselamatan adiknya.
391Please respect copyright.PENANA0tMovLvgWh
"Sial..." umpat Rio pelan sambil mengusap tengkuknya.
391Please respect copyright.PENANAGOkDAUX3W3
Ia kembali memakai helm *full-face*-nya dengan gerakan cepat, lalu menaiki motor CRF merah-putih miliknya. Sebelum memutar kontak kunci, Rio menoleh ke arahku dengan bertanya yang sangat serius.
391Please respect copyright.PENANAYQ41S9ZvAX
"Gue pegang omongan lo, Dit. Gue nggak mau tahu, pokoknya begitu dia turun atau nomornya sudah bisa dihubungi, langsung kasih tahu gue. Jangan sampai lo sembunyiin apa pun dari gue," ujar Rio tegas, suaranya sedikit teredam di balik helm.
391Please respect copyright.PENANAmktrX2H3JS
"Iya Mas. Pasti langsung aku kabari," jawabku sambil mengangguk cepat.
391Please respect copyright.PENANAlEjFLCfJYX
"Oke."
391Please respect copyright.PENANAfjHWlHKmxn
Rio menyalakan mesin motornya. Suara knalpotnya kembali menderu kencang, lalu ia menarik gas dan melesat pergi meninggalkan warkop, membelah jalanan Jakarta yang mulai temaram oleh senja.
391Please respect copyright.PENANAJL2LwubfPR
Aku kembali duduk di bangku kayu dengan lemas, menatap ke arah jalan tempat Rio menghilang.
391Please respect copyright.PENANASi1vgV5Uio
"Tuh, kan. Udah gue bilang, Dit. Masalahnya sekarang bukan cuma lo sama Dea, tapi keluarganya juga udah mulai nyariin," kata Amri sambil mematikan puntung rokoknya yang terakhir. "Mending lo terus pantau HP lo. Feeling gue, malam ini bakal jadi malam yang panjang buat lo."
391Please respect copyright.PENANApdLLFDNsq1
Aku tidak menyadarinya. Aku merogoh saku, mengambil ponsel, dan menatap layar yang masih bisu. Dalam hati, aku terus berdoa dengan saksama agar Dea baik-baik saja di atas sana, meskipun ketakutan dan bayangan buruk yang dikatakan Amri terus menghantui pikiranku.
Baca selengkapnya di sini https://victie.com/novels/my-impregnation-girlfriend
391Please respect copyright.PENANA4pVuRkxPd6
391Please respect copyright.PENANADVcyFzgYrl


