Kasur kecil itu jauh dari kata nyaman. Busanya yang kempes di bagian tengah menciptakan lekukan yang memaksa tubuhku terus berguling mencari posisi waras. Bantal tipis dan bantal kursi yang kupakai sebagai sandaran darurat gagal menyangga leher dengan benar; sejak tengah malam, otot bahu dan tengkukku terasa kaku.
1771Please respect copyright.PENANAQ04TRp5w6W
Aku terbangun berkali-kali. Sekali karena raungan knalpot motor yang memecah sunyi jalan raya, lalu sekali lagi akibat kilat yang menyambar langit Depok, disusul gemuruh yang mengguncang jendela kaca. Tiap kali terjaga, pikiranku langsung melayang pada Amira. Aku membayangkannya di kamar kami, mungkin sedang menangis tersedu di balik selimut, atau terdiam di tepi ranjang dengan mata bengkak.
1771Please respect copyright.PENANAkDI5WOzS6j
Suara tangisnya yang pecah saat aku membanting pintu terus terngiang seperti rekaman rusak. Ada rasa bersalah yang berkelindan dengan ego yang masih membara. Sesal mulai merayap, namun aku terlalu lelah—dan terlalu sombong—untuk berbalik pulang saat itu juga.
1771Please respect copyright.PENANAmYRyJHzBoI
Pukul lima lewat, Budi sudah bangun. Aku mendengar langkah kaki telanjangnya di atas ubin dapur, mungkin menyiapkan air wudhu. Aku tetap berbaring, menatap langit-langit ruang tamu yang retak. Pola garis halusnya bercabang, menyerupai labirin di kepalaku sendiri. Dari mana aku harus mulai? Bagaimana menjelaskan bahwa aku salah tanpa terdengar seperti sekadar mencari aman?
1771Please respect copyright.PENANAkRx5TaMWhJ
Aku baru bangkit setelah adzan Subuh selesai berkumandang. Budi yang sudah selesai Ibadah menatapku dari sofa. Tatapannya bicara banyak—campuran antara khawatir dan lelah karena harus menampungku semalam.
1771Please respect copyright.PENANA4TzMmZppxM
"Sudah mau pulang?" tanyanya singkat sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
"Nanti sore," jawabku serak. "Kerja dulu. Biar dia dingin dulu, baru aku ajak bicara."
1771Please respect copyright.PENANADHSkPCwtME
Budi mengangguk pelan tanpa nasihat tambahan. Aku bersyukur. Kepalaku sudah penuh dengan suara-suara kontradiktif; aku tak butuh ceramah pagi. Aku hanya perlu merapikan diri, menyembunyikan wajah kusut ini di balik topeng seorang eksekutif.
1771Please respect copyright.PENANA4xkPS5ZnXS
Aku sempat menyalakan radio mencari lagu ceria, tapi segera mematikannya karena lirik cinta terasa seperti ejekan. Segalanya terasa bising. Pikiranku terus memutar skenario buruk: bagaimana jika Amira tak mau mendengar? Bagaimana jika ia sudah mengambil keputusan, atau malah pulang ke rumah orang tuanya?
1771Please respect copyright.PENANAHX5nR0D6L6
Pukul enam pagi, kantor masih sepi. Hanya ada satpam dan petugas kebersihan. Aku langsung masuk ke ruangan yang dingin, mencoba mencuri waktu istirahat sebelum jam kerja dimulai.
1771Please respect copyright.PENANACIQq4IICYy
Saat matahari meninggi dan karyawan berdatangan, aku membenamkan diri dalam pekerjaan. Laporan keuangan kuartalan, rapat dengan tim akuntansi, dan tumpukan surel—aku berharap logika angka bisa menjinakkan kekacauan batin ini. Sambil menyesuaikan dasi, kutatap bayanganku di jendela, memastikan bahwa 'Rendi yang profesional' masih ada di sana.
1771Please respect copyright.PENANAPDDkrTdCtS
Tapi fokusku hancur. Berkali-kali aku menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca; deretan angka itu hanya tumpukan bentuk abstrak tak bermakna. Saat melangkah mengambil kopi, aku baru sadar cangkir di tanganku masih penuh dengan sisa kopi dingin yang pahit.
1771Please respect copyright.PENANAml7lOmndVL
"Kamu oke, Mas?"
1771Please respect copyright.PENANA0dBX3aWS93
Suara Dina membuatku tersentak di koridor. Dia menatapku dengan alis terangkat karena aku melewatkan mejanya tanpa menyapa—hal yang tak pernah kulakukan sebagai pria yang biasanya ramah.
1771Please respect copyright.PENANAt2V6FUz5b6
"Fine," jawabku terlalu cepat, hampir tajam.
1771Please respect copyright.PENANA2s28M7Ge16
"Capek saja. Semalam kurang tidur."
Dina tak terlihat yakin, tapi dia memilih tidak menekan. Dia mengangguk dan berlalu. Aku mengembuskan napas panjang. Aku benar-benar tidak punya energi untuk membangun tembok pertahanan di kantor hari ini.
1771Please respect copyright.PENANA6gwfjSpz55
Pukul sebelas, sekretarisku mengingatkan bahwa aku punya janji makan siang dengan Pak Harto, klien dari perusahaan manufaktur besar yang sedang dalam proses negosiasi kontrak penting dengan kantorku.
1771Please respect copyright.PENANA0L3z5tF3cI
Aku hampir lupa. Mungkin seharusnya aku membatalkan, meminta reschedule dengan alasan sakit atau keperluan keluarga mendadak, tapi membatalkan pertemuan dengan klien potensial di tengah situasi krisis pribadi bukan keputusan yang bijak bagi karier ku. Karier masih harus jalan, apapun yang terjadi di rumah. Hidup harus terus berjalan, meski rasanya duniamu sedang runtuh.
1771Please respect copyright.PENANA2ndQZM4RNt
Pak Harto sudah menunggu di kafe ketika aku tiba pukul setengah dua belas. Kafe itu tenang, bau kopi yang segar dan roti bakar menyambut hidungku. Ia duduk di meja sudut yang menghadap jendela, mengenakan kemeja biru muda berbahan katun impor yang terlihat mahal dan jam tangan emas yang mencolok di pergelangan tangannya yang keriput. Rambutnya yang sudah memutih disisir rapi ke belakang, menonjolkan wajahnya yang bulat dan penuh senyum. Ketika ia melihatku mendekat, wajahnya berubah cerah.
1771Please respect copyright.PENANASQapUv2wmm
"Pak Rendi! Akhirnya datang juga!" suaranya keras dan bersemangat, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh sejenak. "Silakan duduk, silakan. Sudah pesan makanan belum? Di sini nasi goreng seafoodnya enak loh, pedasnya pas."
1771Please respect copyright.PENANAsz9eef5RJz
Aku duduk di hadapannya, memaksakan senyum yang aku harap terlihat cukup meyakinkan. Aku merapikan kemejaku, berusaha menyembunyikan rasa lelah yang menggerogoti tulangku. "Belum, Pak. Silakan pesan saja yang Bapak suka. Saya ikut saja."
1771Please respect copyright.PENANA3tbX2DP6Iq
Pak Harto memanggil pelayan dengan jari telunjuknya dan memesan untuk berdua—nasi goreng seafood spesial untuknya, ayam panggang untukku, dan dua gelas es jeruk. Aku membiarkan ia mengatur pesanan, terlalu lelah untuk memperdebatkan pilihan makanan atau memikirkan selera.
1771Please respect copyright.PENANAEnvzLuLszE
"Pak Rendi," ia memulai setelah pelayan pergi, menaruh napasnya seolah menyiapkan pembicaraan serius, "saya dengar proyek merger dengan perusahaan kita sudah hampir selesai. Bagus, bagus sekali. Tim Anda bekerja sangat profesional. Saya suka itu."
1771Please respect copyright.PENANAJmOebDoeij
"Terima kasih, Pak. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk kepuasan klien."
1771Please respect copyright.PENANA1jEJMcNSZq
"Memang begitu, memang begitu." Ia mengangguk-angguk, matanya yang sipit namun tajam menatapku dengan intensitas yang membuatku sedikit tidak nyaman, seolah ia melihat lebih jauh dari sekadar lapisan luar eksekutif muda. "Saya suka orang yang profesional. Bisa diandalkan. Tidak banyak orang seperti itu sekarang, loh. Banyak yang kerjanya cuma basa-basi, tidak ada substansi. Seperti kue lapis, manis di luar tapi kosong di dalam."
1771Please respect copyright.PENANA5v0R154Iw9
Makanan tiba dengan aroma yang menggugah selera, dan kami mulai makan. Percakapan mengalir ke topik-topik ringan—tentang pasar saham yang sedang fluktuatif, tentang rencana pemerintah membangun infra kota baru, tentang cuaca Jakarta yang semakin tidak menentu dan panas belakangan ini. Aku mencoba mengikuti alur pembicaraan, memberikan respons yang tepat di tempat-tempat yang seharusnya, mengangguk dan tersenyum di saat yang pas. Tapi pikiranku tetap melayang ke tempat lain, jauh dari sini.
1771Please respect copyright.PENANA5FvFVEctC4
Amira. Apa yang ia lakukan sekarang? Apakah ia sudah makan? Apakah ia menangis lagi semalaman seperti aku? Ataukah ia sudah marah, marah yang membeku dan dingin?
1771Please respect copyright.PENANA0fD97uRr8p
"Pak Rendi?"
1771Please respect copyright.PENANAbvVdCRlRUh
Aku tersadar dari lamunanku. Sendok garpu yang pegang berhenti di udara. Pak Harto sedang menatapku dengan kepala sedikit menengadah, sendok nasi goreng di tangannya berhenti di udara, matanya menyelidik.
1771Please respect copyright.PENANA0bnO4cNGoi
"Ya, Pak? Maaf, saya sedang—"
1771Please respect copyright.PENANA3kJI8kDFkB
"Kok wajahnya terlihat agak lesu? Ada masalah kerjaan?" tanyanya memotong, suaranya sedikit lebih rendah, penuh empati yang tak terduga dari seorang pria bisnis sepertinya.
1771Please respect copyright.PENANAlspS44kxG0
Pertanyaan sederhana itu menggantung di udara di antara asap makanan dan hiruk pikuk kafe. Aku seharusnya menjawab dengan jawaban standar—tidak ada masalah, Pak, cuma kurang tidur, atau mungkin sekedar senyum dan geleng kepala. Itu jawaban yang aman. Tapi entah mengapa, mungkin karena kelelahan yang sudah mencapai titik jenuh, mungkin karena frustrasi yang terus mengendap sejak kemarin, atau mungkin karena Pak Harto memang memiliki cara membuat orang merasa aman untuk bicara, aku menjawab tanpa berpikir. Filter yang biasanya kuat tiba-tiba hilang.
1771Please respect copyright.PENANA4cEMTkWLmi
"Biasa, masalah rumah tangga, Pak."
1771Please respect copyright.PENANAaUHD1uL4LJ
Kata-kata itu keluar sebelum aku sempat menahan. Aku langsung menyesal. Ini klien. Ini pertemuan bisnis. Ini bukan tempat untuk mengeluh soal istri di tengah makan siang. Aku merasa bodoh, telah melanggar batas profesionalisme yang selama ini aku jaga dengan ketat.
1771Please respect copyright.PENANAQcylY4ZcNn
Tapi Pak Harto tidak terlihat kaget atau tidak nyaman. Sebaliknya, ia mengangguk-angguk dengan penuh pengertian, seolah ia sudah menduga hal itu sejak lama, lalu tersenyum—senyum yang membuatku sedikit waspada karena ada sesuatu di baliknya. Ia menaruh sendoknya dengan pelan, lalu celingak-celinguk ke meja-meja sekitar, memastikan tidak ada yang duduk terlalu dekat. Ketika ia yakin kita cukup terisolasi di pojok kafe ini, ia mendekat, menurunkan suaranya hingga hampir berbisik.
1771Please respect copyright.PENANAL9byDQ4tYV
"Itu mah masalah sepele, Pak! Mau saya kasih solusi rahasia nggak?"
1771Please respect copyright.PENANAL2EibnHJKn
Aku mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan nada bicaranya yang tiba-tiba menjadi konspiratif. "Memangnya Pak Harto tahu masalah saya?"
1771Please respect copyright.PENANAQ0XDH6Zgz3
Pak Harto tersenyum lagi, kali ini dengan ekspresi yang hampir bisa disebut licik, seperti seseorang yang menyimpan kartu truf. Ia mencondongkan tubuh ke depan, siku bertumpu di meja, mengabaikan makanannya yang mulai dingin.
1771Please respect copyright.PENANA0TV2vW1Fcu
"Pasti masalah dengan Istrimu yang berhijab besar itu kan? Siapa lagi?" Ia mengedipkan satu matanya dengan santai. "Saya ini bisa baca karakter orang beserta masalahnya loh, kalau nggak, gak mungkin saya bisa jadi konsultan hubungan pemerintah dan investor swasta selama dua puluh tahun. Waktu itu saya lihat Ibu Amira waktu kita meet up acara perusahaan tempat Pak Rendi kerja. Lihat sekilas saja bapak tahu masalahnya, dan kemungkinan besar solusi ini juga cocok untuk Pak Rendi."
1771Please respect copyright.PENANAaIFL2oy9CF
Aku terdiam, mulutku sedikit terbuka. Ingatanku melayang ke pertemuan perusahaan beberapa bulan lalu, acara gathering mewah di hotel bintang lima. Ketika itu Amira hadir sebagai pendamping istri dalam acara tersebut. Ia memang mengenakan hijab besar yang menutupi dadanya, longgar dan sederhana, berbeda jauh dengan istri-istri klien lain yang penuh dengan perhiasan dan pakaian ketat. Aku ingat bagaimana ia berdiri di sudut ruangan, tidak banyak bicara, tersenyum sopan kepada siapapun yang menyapanya tapi jelas tidak nyaman dengan keramaian dan kemewahan yang berlebihan.
1771Please respect copyright.PENANAXZ3DC1zt6M
Pak Harto melihat itu? Dan dari sekilas pandang itu ia bisa "menebak" masalahku? Rasanya invasif, tapi juga mengejutkan.
1771Please respect copyright.PENANAxZG9ZvdTdz
"Saya sudah bertahun-tahun mengamati orang, Pak Rendi," lanjut Pak Harto, suaranya masih rendah dan berat. "Pasangan seperti Anda dan Ibu Amira—ini pola yang sering saya lihat. Pria dengan kebutuhan tertentu, hasrat yang mungkin sulit diungkapkan, wanita dengan prinsip tertentu yang kaku. Tidak ada yang salah dengan keduanya, tapi kalau tidak disikapi dengan benar..." ia menggesekkan jari telunjuk dan ibu jari, menatapku dengan tajam, "bisa ledak. Atau malah membosankan."
1771Please respect copyright.PENANASU0RvrQUNJ
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jantungku berdegup kencan, bukan karena marah, tapi karena rasa terkejut yang bercampur dengan... ketertarikan? Di satu sisi, ini percakapan yang sangat tidak pantas untuk dilakukan dengan klien. Di sisi lain, ada bagian dari diriku yang penasaran—apa mungkin orang asing ini benar-benar punya jawaban? Budi sudah mencoba membantu, tapi nasihatnya lebih ke arah refleksi dan komunikasi yang klise. Bagaimana jika ada cara yang lebih... tidak konvensional?
1771Please respect copyright.PENANAoOxrkGxuCO
"Memangnya apa solusi masalah rumah tangga saya, Pak?" tanyaku akhirnya, suaraku hampir tidak keluar, tenggorokanku tiba-tiba kering.
1771Please respect copyright.PENANA7DIkiT2kUv
Pak Harto tidak menjawab langsung. Ia menoleh lagi, memastikan untuk kesekian kalinya bahwa tidak ada yang mendengar atau memperhatikan kita. Lalu ia mengambil selembar kertas tisu dari dispenser di meja, mengambil pena emas dari saku kemejanya, dan menuliskan sesuatu dengan tulisan tangan yang terburu-buru namun rapi. Setelah selesai, ia merobek kertas itu dengan rapi dan melipatnya kecil-kecil, lalu menggeserkannya ke arahku di atas meja kayu.
1771Please respect copyright.PENANAdl3GWPKGJg
"Silakan cek sendiri kalau sedang sendirian, Pak Rendi pasti cocok."
1771Please respect copyright.PENANAuLARWxRtMp
Aku menatap kertas lipatan putih itu dengan perasaan campur aduk. Penasaran membunuhku. Ingin tahu apa yang ada di kepala pria tua ini. Tapi juga waspada—apa yang mungkin ditulis oleh seorang klien yang hampir tidak kukenal dalam konteks personal? Apa ini lelucon? Atau sesuatu yang lebih gelap?
1771Please respect copyright.PENANAtRiTztOYOe
"Pak Harto, ini—"
1771Please respect copyright.PENANAC0k914Oo9p
"Jangan dibaca sekarang," potongnya dengan nada yang tegas tapi ramah, menahan tanganku yang hendak mengambil lipatan itu. "Nanti kalau sudah sampai rumah, atau di kantor kalau sudah sepi. Percaya deh, Pak Rendi tidak akan menyesal. Ini bukan bisnis, ini... tanda persahabatan."
1771Please respect copyright.PENANA2a3loyll2K
Ia tersenyum lebar lagi, lalu mengangkat gelas es jeruknya seperti memberikan toast. "Sekarang, mari kita selesaikan makan siang kita dan bicara soal kontrak yang lebih menarik—yaitu, uang."
1771Please respect copyright.PENANApjnD3V7KMS
Percakapan kembali ke jalur bisnis, tapi sepanjang sisa makan siang itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kertas lipatan yang sekarang sudah aku selipkan di saku celanaku. Jari-jariku sesekali menyentuh kertas itu melalui kain celana bahan, memastikan ia masih ada, bertanya-tanya apa yang tertulis di dalamnya. Apakah alamat seorang konsultan? Sebuah buku? Atau sesuatu yang lain?
1771Please respect copyright.PENANAIYzg7UIv2f
Pak Harto berbicara tentang angka-angka proyek, tentang timeline dan deliverables, dan aku mengangguk di tempat-tempat yang tepat, memberikan respons yang semestinya. Tapi benakku berada di tempat lain—di rumah kecil di Jakarta Selatan, di sofa Budi yang tidak nyaman, di wajah Amira yang menangis, dan di kertas di sakuku yang terasa berat.
1771Please respect copyright.PENANArbjUk5atte
Dan sekarang, di kertas lipatan di sakuku.
1771Please respect copyright.PENANAV6MM5griXt
Pertemuan berakhir pukul dua lebih. Pak Harto mengajakku berdiri, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan erat, dan menepak bahuku dengan kuat.
1771Please respect copyright.PENANAiy8JRzLZrM
"Saya tunggu kabar baik dari Pak Rendi," katanya, dan aku tidak sepenuhnya yakin ia hanya bicara soal kontrak bisnis. Tatapan matanya seolah berkata bahwa ia tahu aku akan membuka kertas itu.
1771Please respect copyright.PENANAy9fyHBPOyQ
Aku menatapnya, mencoba membaca ekspresi di balik keriput dan senyumnya. Tapi Pak Harto sudah berbalik, berjalan menuju mobilnya yang diparkir di depan kafe dengan langkah yang masih bugar untuk usianya, meninggalkanku berdiri di trotoar dengan pertanyaan yang belum terjawab.
1771Please respect copyright.PENANAMkUpjZYf9o
Perjalanan kembali ke kantor terasa lebih berat dari pagi. Macet semakin parah, panas terik menyengat kulit, dan kertas di sakuku terasa seperti bara api yang terbakar melalui kain. Saya ingin membukanya sekarang, di dalam mobil, di tengah kemacetan yang membosankan ini. Tapi ada sesuatu dalam nada Pak Harto yang membuatku menunggu.
1771Please respect copyright.PENANA8K0pDh4tn5
Mungkin karena dia bilang "kalau sedang sendirian."
1771Please respect copyright.PENANAuVkQ8K1qrA
Mungkin karena ada bagian dari diriku yang takut dengan apa yang akan kubaca.
1771Please respect copyright.PENANAR85McGflD7
Atau mungkin—hanya mungkin—karena ada bagian dari diri saya yang sudah tahu, bahwa apapun yang tertulis di kertas itu, ia akan mengubah segalanya. Aku meraba saku celanaku sekali lagi, merasakan tekstur kertas kasar itu, dan menelan air liur dengan susah payah.
1771Please respect copyright.PENANAw1098oHPs9
1771Please respect copyright.PENANAAIEwm2gAJY
1771Please respect copyright.PENANA1SUWS9ufvX


