Cahaya kuning pucat dari lampu meja menciptakan bayangan panjang di dinding kantor. Pukul enam tepat. Lantai ini sunyi, hanya menyisakan dengung rendah AC setelah para karyawan pulang satu per satu.
1652Please respect copyright.PENANAKScShwsn0Q
Aku duduk di kursi kulit, menatap layar komputer yang gelap sambil meremas secarik kertas di saku celana.
1652Please respect copyright.PENANAtE2z8i3xMo
@Bram_xxx.
1652Please respect copyright.PENANAPee7WvYpHF
Hanya nama akun Telegram itu yang tertulis dengan tinta hitam di atas kertas putih polos. Tanpa instruksi, tanpa penjelasan. Apa maksudnya Pak Harto? Jasa konsultasi atau justru jebakan?
1652Please respect copyright.PENANAimUy3owTxS
Saya mengunduh aplikasi berlogo pesawat biru itu. Setelah verifikasi akun selesai, jari-jariku gemetar saat mengetikkan nama akun tersebut di kolom pencarian. Muncul sebuah profil tanpa foto, hanya inisial B dengan latar hitam. Kosong. Tanpa ragu, saya menekan Start.
1652Please respect copyright.PENANAXNhtlT5EtM
"Assalamualaikum, maaf mengganggu. Saya dapat menghubungi ini dari Pak Harto. Beliau bilang bisa konsultasi masalah rumah tangga di sini. Benar?"
1652Please respect copyright.PENANAPL9pqEGgrF
Pesan terkirim dengan centang tunggal. Menit berlalu tanpa balasan. Aku menyandarkan kepala, menggosok wajah dengan kasar. Pikiranku melayang pada Amira; apakah dia sudah makan? Apakah dia masih menangis sejak kutinggalkan semalam? Rasa seperti menusuk tenggorokan seperti duri.
1652Please respect copyright.PENANAWOq501Ie9e
Aku menyerah. Tubuhku kaku, leher pegal, dan bahu terasa berat. Apapun urusan dengan akun misterius ini, bisa menunggu. Yang penting sekarang adalah pulang.
1652Please respect copyright.PENANAMLcSN9S0Ty
Perjalanan menembus kemacetan Jakarta terasa abadi. Cahaya lampu kendaraan di luar jendela hanya berupa guratan blur yang memusingkan. Saat mobil memasuki garasi rumah tipe 72 kami, jantungku berdegup kencang. Teras gelap, hanya cahaya redup dari ruang tamu yang menyambut.
1652Please respect copyright.PENANAOXalUKsEqa
Jadi pintu terbuka dengan bunyi klik halus, aroma masakan samar tercium dari dapur.
1652Please respect copyright.PENANAEL0JDnTML8
"Amira?" suaraku pecah.
1652Please respect copyright.PENANARAOlPUnqhs
Tak ada jawaban, sampai sosoknya muncul di ambang koridor. Dia mengenakan gamis abu-abu longgar dan hijab hijau muda. Wajahnya lelah, matanya sembab. Ia meremas ujung lengannya—tandanya sedang sangat tertekan. Kata-kata yang sudah kulatih di
kepala berpikir sejenak.
1652Please respect copyright.PENANAg3Bw4sSegu
"Mas..." bisiknya.
1652Please respect copyright.PENANAtk0MPlKVpG
Tiba-tiba dia berlari, menubruk dadaku. Lengan kurusnya melilit erat di pinggangku, wajahnya tenggelam di bahu kemejaku yang seketika basah oleh air mata.
1652Please respect copyright.PENANA0MUhTlEB9l
"Maafkan aku, Mas... maafkan aku..." isaknya hebat.
1652Please respect copyright.PENANATrAeK8eWXz
"Tidak, Sayang. Aku yang salah," suaraku serak, membalas pelukannya erat-erat. "Aku tak seharusnya pergi. Aku tak seharusnya marah."
1652Please respect copyright.PENANAh5O2mF8GvE
"Jangan pergi lagi, Mas..."
1652Please respect copyright.PENANANucUhaOwv0
"Tidak. Aku di sini."
1652Please respect copyright.PENANApotSSvUrZr
Kami berdiri lama dalam keheningan yang hanya diisi isak tangis. Saat ia mulai tenang, Amira mendongak. Mata cokelatnya yang merah pandangan penuh permohonan. "Mas...tolong...jangan pernah suruh aku memakai pakaian seperti itu lagi. Tolong..."
1652Please respect copyright.PENANAqy6D7DGGus
Tenggorokanku tersumbat. Kutatap wanita sholehah di depanku ini—wanita yang taat dan menjaga kesopanan yang dulu sangat ku kagumi, namun kini menjadi dinding pemisah di antara kami.
1652Please respect copyright.PENANAWKH7RnuGbF
"Baik. Aku berjanji. Tidak akan ada lagi."
Makan malam dengan sayur lodeh dan ayam goreng berlangsung canggung. Hanya suara denting sendok yang memecah kesunyian.
1652Please respect copyright.PENANAV8tfWbxIMV
Pikiran kami berada di tempat yang berbeda. Usai mandi, aku berbaring di situ. Kamar hanya diterangi lampu tidur kecil yang temaram.
1652Please respect copyright.PENANAEl2R1cGYuR
Saat keheningan hampir menidurkanku, ponsel di nakas berbunyi. Telegram.
1652Please respect copyright.PENANAEVBkGTruxJ
Bram_xxx : Wa'alaikumsalam. Maaf baru balas.
Ada kebutuhan apa?
1652Please respect copyright.PENANAedSfrxbKmK
Aku segera mengetik, menceritakan segala kebuntuan lima tahun pernikahan kami, perbedaan prinsip, dan keinginan yang tak pernah terpenuhi. Aku putus asa.
1652Please respect copyright.PENANAymh6Qr1Dat
Bram_xxx: Saya paham masalahnya. Sebagai permulaan, coba gabung dengan grup ini dulu. Lihat-lihat konten di dalamnya. Nanti kita lanjutkan.
Sebuah tautan yang memuat pesan itu: Komunitas SSI. Aku mengetuknya, membentak, dan menggulirkan layar ke bawah. Mataku membelalak. Apa yang tertampil di sana membuat perutku berputar.
1652Please respect copyright.PENANAI6MWYZvRXg
"Astaga..."
1652Please respect copyright.PENANAg6MEqeso3C
"Mas kenapa?" Amira terbangun, suaranya parau karena mengantuk.
1652Please respect copyright.PENANAXnQb1w7Gz1
Cepat-cepat kutekan tombol Home, menyembunyikan layar dari tampilan. "Tidak apa-apa, Sayang. Tidur lagi," jawabku dengan jantung yang berpacu pembohong.
1652Please respect copyright.PENANArw4IcUNKBK
Amira kembali terlelap, sementara aku tetap terjaga dalam kegelapan, menggenggam ponsel dengan tangan yang berkeringat. Isi grup itu masih terbayang jelas, menghantui kepalaku.
Novel ini sudah tamat di victie https://victie.com/novels/istriku-korban-ssi
1652Please respect copyright.PENANA5i22pFV4YX
1652Please respect copyright.PENANA2yx15Jpy1N


