Aku menekan klakson mobil tiga kali sebelum menyadari bahwa Budi sudah pasti tidur pada jam segini. Pukul sepuluh malam. Rumahnya di bilangan Depok itu gelap, kecuali lampu taman yang selalu dinyalakan untuk menghindari pencuri. Aku mematikan mesin mobil dan duduk diam dalam kegelapan, menghisap tembakau di tangan, kegiatan yang sudah lama tidak aku lakukan sejak menikah.
1866Please respect copyright.PENANASzGgTcaYJQ
Asap rokok kuhembuskan keluar jendela. Jari-jariku mengetuk setir dengan irama yang tidak beraturan. Mawar merah dan lingerie lace hitam itu masih terbayang di pikiranku—tergeletak di lantai ruang tamu rumahku sendiri, ditinggal pergi oleh istriku yang menatapku seolah aku adalah iblis berwujud manusia.
1866Please respect copyright.PENANA6fSglwxRwj
"Pakaian haram."
1866Please respect copyright.PENANAYfOCfgFFWh
Katanya itu. Padahal aku membelinya dengan harapan bisa merayakan dua tahun pernikahan dengan cara yang berbeda. Sesuatu yang bisa membuat kami lebih dekat dan lebih intim.
1866Please respect copyright.PENANA01k7jp0Q8m
Aku menghembuskan asap lewat hidung dan membuka pintu mobil. Udara malam Depok menampang wajahku dengan kelembaban yang melekat. Langkahku menuju teras rumah Budi terasa berat, seperti ada rantai yang menarikku kembali ke rumah.
1866Please respect copyright.PENANApu8G7EkVTK
Aku menekan bel rumah. Sekali. Dua kali.
1866Please respect copyright.PENANArUKIjrEpvN
Bunyi deru langkah kaki terdengar dari dalam. Lampu teras menyala, menyilaukan mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Pintu kayu coklat itu terbuka, memperlihatkan wajah Budi yang masih setengah mengantuk dengan rambut berantakan dan kaos oblong yang kusut.
1866Please respect copyright.PENANArnhBsetvQe
"Rendi?" Dia mengucek matanya. "Kamu ngapain datang jam segini? Ada apa?"
1866Please respect copyright.PENANAuH2wY6miPA
Aku tidak menjawab langsung. Aku hanya melangkah masuk melewatinya, masuk ke ruang tamu yang sudah berkali-kali aku kunjungi selama bertahun-tahun. Sofa coklat tua itu masih di tempat yang sama, dengan bantal yang sudah kempes di salah satu sudutnya. Aku menjatuhkan diri ke sofa itu, mematikan rokok di asbak yang kebetulan ada di meja kopi.
1866Please respect copyright.PENANAjZdAQNVwt9
"Budi, kamu punya rokok lagi gak?" tanyaku tanpa memandangnya.
1866Please respect copyright.PENANAytXnixpG9S
Budi menutup pintu dan menghampiriku. Dia duduk di kursi tunggal di seberangku, menatapku dengan alis terangkat. "Ada. Tapi sebelum itu, mau cerita dulu gak? Muka kamu kayak baru kena begal aja."
1866Please respect copyright.PENANAMLkHSV4vrz
Aku tertawa pendek. Suara itu terdengar asing di telingaku sendiri. "Lebih parah dari begal, Bud. Lebih parah."
1866Please respect copyright.PENANAJhPLZCpaE0
Budi mengangkat bahu dan berdiri, menuju ke arah dapur. "Tunggu sebentar, aku buatin kopi. Kamu pasti butuh."
1866Please respect copyright.PENANAgLfclyQUc4
Aku mendengarkan suara langkahnya menghilang ke belakang, diikuti bunyi sendok yang diketuk ke gelas dan suara air yang dituang dari termos. Langit-langit rumah Budi menjadi fokus pandanganku selama beberapa menit itu. Cat putihnya sudah mengelupas di beberapa bagian, meninggalkan noda kecoklatan seperti peta pulau yang tidak dikenal.
1866Please respect copyright.PENANARfAX3a912p
Budi kembali dengan dua cangkir kopi hitam. Dia menyerahkan satunya kepadaku sebelum duduk kembali di kursinya. Aku menerima cangkir itu dengan kedua tangan, merasa kehangatan meresap ke telapak tangan yang mulai dingin.
1866Please respect copyright.PENANAxXtmhuqupa
"Jadi?" Budi meniup kopinya. "Apa yang terjadi?"
1866Please respect copyright.PENANAZbcQi7kNKF
Aku menyeruput kopi. Pahit. Tapi itulah yang kubutuhkan sekarang. "Amira."
1866Please respect copyright.PENANAQC6tLfoE5d
Budi mengangguk perlahan, seolah nama itu sudah cukup menjelaskan segalanya. "Lagi-lagi masalah sama istrimu?"
1866Please respect copyright.PENANARp7YMW3Py3
"Bukan masalah biasa, Bud." Aku meletakkan cangkir di meja kopi dan menatap temanku itu lekat. "Kamu masih inget kan, gimana aku dulu sebelum nikah? Gimana pacar-pacarku dulu?"
1866Please respect copyright.PENANAW0miPQyWWe
Budi tersenyum tipis. "Tentu ingat. Shinta, Rina, yang lainnya... kamu memang punya selera yang bagus."
1866Please respect copyright.PENANAxlmhkTfiMW
"Itu dia." Aku menghela napas. "Dulu, aku selalu cari pacar yang seksi. Yang berani. Yang terbuka. Aku pikir itu yang aku mau. Aku pikir itu yang akan bikin hidupku seru."
1866Please respect copyright.PENANApNDTnAbeJV
"Terus?"
1866Please respect copyright.PENANAn2PjL8umWW
"Terus aku nikah sama Amira." Aku menggeleng. "Lewat ta'aruf. Karena waktu itu aku pikir, sudah waktunya aku punya istri yang berbeda. Yang bisa bikin aku lebih tenang. Lebih... baik."
1866Please respect copyright.PENANA1rIFZSz2oP
“Aku tahu”
1866Please respect copyright.PENANA7tlsjkNFzJ
Budi menyesap kopinya, menunggu aku melanjutkan.
1866Please respect copyright.PENANAZFXuOUHys5
"Dan sekarang?" Aku menatap langit-langit lagi. "Sekarang aku malah kesel sama diri sendiri. Kesal karena Amira... dia terlalu baik, Bud. Terlalu alim. Terlalu tertutup."
1866Please respect copyright.PENANAhje0zaf2Z6
"Tertutup gimana?"
1866Please respect copyright.PENANAMQraJRcGwS
Aku diam sejenak, mempertimbangkan apakah harus menceritakan detail ini ke temanku. Tapi Budi sudah mengenaliku sejak kuliah. Dia sudah melihat sisi terburukku. Tidak ada gunanya berpura-pura sekarang.
1866Please respect copyright.PENANARkv2jPz2A7
"Kamu tahu kan, Amira itu lulusan Kairo? Dia guru ngaji. Anak pemuka agama." Aku berhenti sebentar. "Saking alimnya, setiap kali kita... kamu tahu ’gituan’ dia gak mau lepas gamisnya. Lampu harus dimatiin. Dan dia... dia hampir gak pernah bersuara. Kayak patung aja."
1866Please respect copyright.PENANAFTE3eXpKkB
Budi mendengut, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi tertentu.
1866Please respect copyright.PENANAzrJmdaGGsD
"Aku sudah coba, Bud." Suaraku mulai meninggi. "Aku coba berbagai cara. Rangsangan. Sentuhan. Teknik-teknik yang dulu bikin pacar-pacarku tergila-gila. Tapi Amira? Dia cuma diam. Menahan mulutnya rapat-rapat. Kayak... kayak dia gak mau menikmati sama sekali."
1866Please respect copyright.PENANApJSWJFIukK
"Mungkin dia cuma malu," kata Budi pelan.
1866Please respect copyright.PENANAw1pjg5NQpe
"Malu?" Aku tertawa lagi, kali ini dengan nada yang lebih tajam. "Gak cuma malu, Bud. Dia menolak. Menolak keras. Aku gak boleh menyentuh... bagian tertentu. Gak boleh memberikan... oral apalagi minta. Padahal aku pikir itu bagian dari hubungan suami istri yang normal."
1866Please respect copyright.PENANAEBsPV2jIM2
Budi menggeser posisi duduknya, seolah topik ini membuatnya tidak nyaman. "Mungkin bagi dia, itu gak normal. Mungkin dia dibesarkan dengan pandangan yang berbeda."
1866Please respect copyright.PENANAk8Z8cdauFm
"Itu masalahnya!" Aku meninju lututku sendiri. "Aku tahu dia dibesarkan berbeda. Aku tahu dia wanita yang sangat taat. Tapi aku juga manusia, Bud. Aku punya kebutuhan. Aku pengen merasa... diinginkan. Pengen merasa istriku juga menikmati kebersamaan kita."
1866Please respect copyright.PENANAUJritGYzzw
Ruangan hening sejenak. Hanya suara kipas angin yang berputar di atas kepala kami yang memecah kesunyian.
1866Please respect copyright.PENANApqrbT3CCwf
"Tadi malam," lanjutku, suaraku menurun, "aku bawa mawar. Dan lingerie. Buat anniversary dua tahun kami. Aku kira... aku kira itu bisa jadi awal yang bagus. Sesuatu yang bisa bikin dia terbuka sedikit."
1866Please respect copyright.PENANAsnjAelC4ji
"Dan?"
1866Please respect copyright.PENANA6NWyDpit8X
"Dan dia marah." Aku memegang kepalaku dengan kedua tangan. "Dia bilang aku memberinya pakaian haram. Dia bilang aku memperlakukan dia seperti... seperti pelacur. Lalu dia lempar kado itu ke lantai."
1866Please respect copyright.PENANAh8uVKbrEFb
Budi menghela napas panjang. "Wah, itu sih kronis."
1866Please respect copyright.PENANAe1xZ4LdcLJ
Aku menatap temanku dengan mata yang mulai terasa berat. "Dia bilang dia selalu berusaha jadi istri yang baik. Menjaga penampilan sesuai ajaran agama. Dan aku? Aku malah kecewa karena dia terlalu baik. Terlalu sopan. Terlalu... suci."
1866Please respect copyright.PENANAGCpoEFHfe8
Kata-kata itu menggantung di udara. Aku mendengus suara frustasi.
1866Please respect copyright.PENANA9ZhfxyZIZS
"Banyak orang bilang," kataku pelan, "pria cari perempuan nakal buat pacaran. Buat senang-senang. Terus cari perempuan alim buat istri. Alias mau seenaknya sendiri."
1866Please respect copyright.PENANA3lXGgxFiKK
Budi tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kutafsirkan.
1866Please respect copyright.PENANAJPs2MA6PrE
"Mungkin itulah aku," sambungku. "Aku dulu pilih pacar yang seksi dan terbuka. Aku nikmati masa mudaku dengan mereka. Terus saat aku siap nikah, aku cari wanita yang berbeda. Wanita yang alim. Dan sekarang? Sekarang aku kecewa karena dia terlalu alim. Aku kesal karena dia tidak seperti pacar-pacarku dulu."
1866Please respect copyright.PENANA371FbHeos7
Aku mengambil cangkir kopi lagi dan meminumnya dalam satu tegukan. Pahitnya menyebar di lidah dan tenggorokan.
1866Please respect copyright.PENANAcFR8uuQaLd
"Kamu tahu yang paling parahnya apa?" tanyaku, menatap Budi langsung di matanya.
1866Please respect copyright.PENANArH5GKXmxSc
"Apa?"
1866Please respect copyright.PENANAYg01oT3msi
"Tadi, di jalan kesini... aku terpikir untuk menghubungi mantan pacarku." Suaraku hampir tidak terdengar. "Shinta. Rina. Cuma untuk... kamu tahu. Bersenang-senang lagi."
1866Please respect copyright.PENANAmj3tOvHSUR
Budi mendengus keras. "Dan?"
1866Please respect copyright.PENANAUwTuAdgwyE
"Aku tahan." Aku meremas cangkir kosong itu. "Aku tahan karena... karena aku tahu itu salah. Aku tahu aku sudah menikah. Aku tahu Amira adalah istriku. Tapi... tapi godaannya ada, Bud. Dan itu bikin aku merasa... seperti sampah."
1866Please respect copyright.PENANAU3kQ5vxmp9
Aku menunduk, menatap lantai ubin yang motifnya sudah aku hafal dari kunjungan-kunjungan sebelumnya. Telapak tanganku merasa dingin meskipun udara malam sebenarnya hangat.
1866Please respect copyright.PENANANSdaBbCO0z
"Rendi." Suara Budi terdengar lebih serius dari biasanya. "Kamu dengar dirimu sendiri gak?"
1866Please respect copyright.PENANAye4BytAP86
Aku mengangkat kepala perlahan.
1866Please respect copyright.PENANAAmWggpRR15
"Kamu mengeluh karena istrimu terlalu baik. Terlalu taat. Terlalu menjaga diri." Budi meletakkan cangkirnya di meja. "Kamu tahu berapa banyak pria di luar sana yang mendambakan untuk mendapatkan istri seperti Amira? Wanita yang menjaga kehormatannya, yang taat beribadah, yang setia?"
1866Please respect copyright.PENANAWij2bYSX5L
Aku membuka mulut untuk menjawab, tapi Budi mengangkat tangannya, menyuruhku diam.
1866Please respect copyright.PENANA9v29DgctZx
"Aku gak bilang kebutuhanmu gak penting. Aku gak bilang kamu harus terima begitu saja tanpa usaha untuk memperbaiki keadaan." Dia menatapku tajam. "Tapi memikirkan selingkuh? Menghubungi mantan pacar? Itu... itu level yang berbeda, Rendi. Itu bukan lagi masalah kekecewaan. Itu masalah komitmen."
1866Please respect copyright.PENANA2AV7VxPAHn
Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu. Aku tahu itu."
1866Please respect copyright.PENANAq3HIN5wvB2
"Kamu benar-benar tahu? Atau cuma tahu di kepala, tapi gak sampai ke hati?"
1866Please respect copyright.PENANA4XVwpjPdLD
Pertanyaan itu menusuk. Aku tidak menjawab.
1866Please respect copyright.PENANAHNQYGHw1Lb
"Dengar," kata Budi, nadanya melunak. "Aku gak mau menghakimi kamu. Aku temanmu. Tapi sebagai teman, aku harus bilang yang sebenarnya. Kamu sedang berada di jalan yang berbahaya. Bukan karena Amira, tapi karena cara kamu melihat masalah ini."
1866Please respect copyright.PENANAsN3ldUe1ld
"Terus menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanyaku, suaraku terdengar lebih putus asa dari yang kuharapkan.
1866Please respect copyright.PENANABvVxpnwlCf
Budi mengambil rokok dari meja dan menyalakannya. Dia menghembuskan asap ke udara sebelum menjawab. "Pertama, kamu perlu bicara sama Amira. Bukan membawa hadiah yang dia gak nyaman. Bukan memaksanya jadi sesuatu yang dia bukan. Tapi bicara. Dengerin apa yang dia pikirkan. Apa yang dia rasakan."
1866Please respect copyright.PENANAe8IMNCeJIj
"Kedua?" tanyaku.
1866Please respect copyright.PENANAAVqnwCboIP
"Kedua, kamu perlu introspeksi diri." Budi menatapku lewat asap rokoknya. "Apa yang sebenarnya kamu mau dari pernikahan ini? Apa kamu mau istri yang menjaga kehormatannya, atau kamu mau istri yang memenuhi fantasi seksual mu? Karena kadang, kamu gak bisa dapat keduanya dalam satu paket."
1866Please respect copyright.PENANAWZGMdS0q7A
Aku diam. Kata-kata Budi terasa seperti tamparan yang kubutuhkan.
1866Please respect copyright.PENANAMDc9yZRvql
"Dan ketiga," sambung Budi, "jangan pernah, sungguh, jangan pernah menghubungi mantan pacarmu. Itu jalan buntu. Itu jalan yang akan menghancurkan segalanya. Bukan cuma pernikahanmu, tapi juga harga dirimu sebagai pria."
1866Please respect copyright.PENANAfKLXeFjebf
Aku mengangguk perlahan. "Aku tahu. Aku... aku gak akan melakukannya. Aku cuma... terpikir sebentar tadi."
1866Please respect copyright.PENANAvAYC0bhTGK
"Pikiran bisa datang kapan saja," kata Budi. "Yang penting adalah apa yang kamu lakukan dengan pikiran itu."
1866Please respect copyright.PENANAsv6SX2nsbG
Hening kembali. Aku mendengarkan suara jangkrik dari luar rumah, mencampur dengan dengungan kipas angin yang konsisten. Pikiranku melayang ke Amira—ke wajahnya yang menangis tadi malam, ke suaranya yang gemetar saat dia menuduhku tidak menghargainya.
1866Please respect copyright.PENANAOBXsQOoP2c
"Dia menangis, Bud," kataku tiba-tiba. "Saat dia lempar kado itu, dia menangis. Aku bisa lihat air matanya. Dan aku... aku pergi saja. Aku tinggal dia di rumah sendirian."
1866Please respect copyright.PENANAZpiCvHF3Qf
Budi menghela napas. "Kamu harus pulang, Rendi. Tidak malam ini mungkin, tapi segera. Kamu harus bicara sama dia. Meminta maaf, minimal untuk cara kamu pergi tadi."
1866Please respect copyright.PENANAXxVabZtQs3
Aku mengangguk lagi, kali ini lebih yakin. "Besok. Aku akan pulang besok."
1866Please respect copyright.PENANAjNWLCzelUI
"Bagus." Budi mematikan rokoknya di asbak. "Sekarang, kamu bisa tidur di kamar tamu. Seperti biasa. Kupon gratis untuk teman yang bermasalah."
1866Please respect copyright.PENANAmm45byefZt
Aku mencoba tersenyum, tapi wajahku terasa kaku. "Terima kasih, Bud."
1866Please respect copyright.PENANAzeEcNBMdee
"Jangan kasih. Yang penting kamu bereskan masalahmu." Budi berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku.
1866Please respect copyright.PENANA0ilhH62PAP
Aku menerima tangan itu dan berdiri juga. "Baiklah."
1866Please respect copyright.PENANAWt4iDVr61l
"Dan Rendi?"
1866Please respect copyright.PENANABNteh7SaH6
"Ya?"
1866Please respect copyright.PENANARgB4vZoV29
"Ingat satu hal." Budi menatapku dengan serius. "Amira memilih kamu. Dari semua pria yang bisa dia dapatkan—guru ngaji, ustadz, pria yang se-alim dia—dia memilih kamu. Pria yang dulu hura-hura, yang punya masa lalu yang gak bersih. Itu berarti sesuatu. Itu berarti dia melihat sesuatu di dalam dirimu yang mungkin kamu sendiri gak lihat."
1866Please respect copyright.PENANA7UJT5nZqNd
Kata-kata itu mengendap di benakku. Aku menatap temanku itu, mencerna setiap suku kata yang dia ucapkan.
1866Please respect copyright.PENANARNFjQatBxq
"Sekarang tidur," kata Budi, menepuk pundakku. "Besok kamu butuh energi untuk menghadapi istrimu."
1866Please respect copyright.PENANAwqCZdntMgv
Aku mengangguk dan mengikuti Budi ke arah kamar tamu. Ruangan kecil dengan kasur single dan lemari tua yang sudah ada sejak aku pertama kali datang ke rumah ini bertahun-tahun lalu. Aku duduk di tepi kasur, menatap jendela yang menunjukkan langit malam yang gelap tanpa bintang.
1866Please respect copyright.PENANAtemEmf6921
Pikiranku kembali ke Amira. Ke mata coklatnya yang besar dan ekspresif. Ke senyumnya yang hangat dan menenangkan—senyum yang jarang aku lihat belakangan ini karena aku terlalu sibuk memikirkan apa yang tidak dia berikan, bukan apa yang sudah dia berikan.
1866Please respect copyright.PENANAksnpl730GI
Aku terbaring di kasur, menatap langit-langit yang sama sekali tidak familiar. Berbeda dengan langit-langit rumahku. Berbeda dengan tempat tidurku. Berbeda dengan sisi tempat tidur yang biasa aku bagikan dengan istriku.
1866Please respect copyright.PENANAf2T29kCMe0
Aku menutup mata, tapi bayangan mawar merah dan lingerie lace hitam terus menghantui. Bersama dengan wajah Amira yang menangis. Dan suara sujudnya yang kudengar dari balik pintu kamar sebelum aku pergi—dia sedang sholat malam, mungkin memohon kepada Tuhan untuk sesuatu yang tidak akan pernah aku tahu.
1866Please respect copyright.PENANAjKMESFG9z0
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku hanya terbaring dalam kegelapan, mendengarkan detik-detik berlalu, menunggu fajar datang membawa kesempatan kedua yang mungkin tidak kuulang.
1866Please respect copyright.PENANA9726FTrjSU
1866Please respect copyright.PENANAK0Y7ZSkGDG
1866Please respect copyright.PENANAVEIQEyKz89


