Sebulan sudah berlalu sejak kajian pertama itu. Rutinitas baruku kini berubah total. Setiap Kamis sore, aku sudah tidak sabar menunggu jam pulang kantor. Begitu jam lima lewat, aku langsung bereskan meja, pamit ke Farhan, dan pulang ke kosan untuk mandi cepat lalu mengganti baju yang agak lebih rapi. Farhan biasanya tiba tepat jam setengah tujuh, dan kami berangkat bersama ke Ciputat.
5584Please respect copyright.PENANAcVGCKDB2rB
Aku sudah hafal jalanannya: macet di Jalan Raya Ciputat, belok kiri di lampu merah dekat kampus , lalu masuk ke gang yang rumah-rumahnya semakin rapat. Rumah Ustadz Abdullah kini terasa seperti tempat kedua beriklim dingin. Aroma attar, suara salam yang ramah, dan karpet hijau tebal sudah tidak asing lagi.
5584Please respect copyright.PENANAYTwY39ikos
Tapi yang paling kutunggu setiap minggu bukan lagi kajiannya semata. Melainkan Zahra.
5584Please respect copyright.PENANADM5kmpKtOP
Kedekatan kami tumbuh pelan, tapi pasti. Awalnya hanya percakapan singkat di teras setelah kajian selesai. Farhan selalu menjadi penghubung, tapi lama-lama dia sengaja memberi kami ruang lebih banyak. “Kalian ngobrol dulu, aku mau ambil air wudu,” katanya suatu malam sambil tersenyum penuh arti sebelum meninggalkan kami berdua di teras.
5584Please respect copyright.PENANAE3DK9cahJk
Malam itu hujan gerimis tipis. Udara Ciputat terasa sejuk setelah panas siang hari. Zahra berdiri agak jauh dariku, tetap menjaga jarak sesuai adab. Cadarnya hitam pekat masih terpasang rapat, hanya mata indahnya yang terlihat. Abayanya malam ini berwarna hitam dengan sedikit bordiran sederhana di lengan. Meski longgar, kain di bagian dada tetap menempel lembut setiap kali dia bernapas, menampilkan lekuk payudara montoknya yang besar dan penuh. Aku berusaha menundukkan pandangan seperti yang diajarkan ustadz, tapi sulit sekali. Setiap gerakan kecilnya membuat hatiku berdegup tidak karuan.
5584Please respect copyright.PENANAAMudqMsOGC
“Kak Rafi sudah rutin ikut sekali sekarang,” katanya pelan. Suaranya lembut seperti biasa, tapi kali ini ada nada hangat yang berbeda. “Ustadz bilang Kakak rajin juga.”
5584Please respect copyright.PENANASgeGqQECGI
Aku tersenyum. "Iya, Zahra. Awalnya cuma ikut karena diajak Farhan. Tapi sekarang… rasanya ada yang lain. Kajian ini bikin aku lebih tenang di tengah kerjaan kantor yang sibuk."
5584Please respect copyright.PENANAuXbFMmSTAP
Zahra mengangguk pelan. Matanya menatap ke lantai teras sebentar, lalu kembali ke mataku. “Alhamdulillah. Banyak orang yang datang ke majelis ini karena sedang mencari ketenangan. Termasuk aku dulu.”
5584Please respect copyright.PENANAdzEcC1j50L
Kami mulai saling bercerita lebih dalam. Zahra menceritakan latar belakangnya dengan suara pelan, hampir berbisik agar tidak terdengar orang lain. Ayahnya meninggal dua tahun lalu karena serangan jantung mendadak. Saat itu Zahra masih semester satu di UIN. Kakak perempuannya sudah menikah dan pindah ke Bandung, jadi sekarang hanya dia dan uminya yang tinggal di rumah kecil dua kamar di daerah dekat kampus. Uminya bekerja sebagai guru ngaji di sebuah TPA kecil, sehingga penghasilan mereka pas-pasan tapi cukup untuk biaya kuliah Zahra.
5584Please respect copyright.PENANAnU7rSV1bWU
"Aku harus kuat, Kak. Umi cuma punya aku sekarang. Dari kecil umi ajarin aku untuk menjaga diri, jauh dari yang bukan mahram. Karena itu aku pakai cadar sejak SMA," katanya sambil memegang ujung cadar dengan lembut.
5584Please respect copyright.PENANAQqoUlOPjIq
Aku mendengarkan dengan saksama. Ada rasa hormat yang tumbuh di hatiku. Zahra bukan tipe gadis manja. Dia rajin kuliah, aktif di pengajian wanita, dan selalu pulang tepat waktu agar tidak membuat uminya khawatir.
5584Please respect copyright.PENANAT1FtvFhGlJ
Aku juga mulai bercerita tentang diriku. Tentang pekerjaan kantor yang monoton, target penjualan yang selalu mengejar, dan rasa sepi di kosan setiap malam. “Kadang aku merasa hidup ini hanya muter-muter tanpa arah. Kerja, makan, tidur, ulang lagi. Tapi sejak ikut kajian, rasanya ada pegangan.”
5584Please respect copyright.PENANA1Y6p3JEl2o
Zahra diam mendengarkan. Matanya lembut. “Kak Rafi kelihatannya orang yang baik. Jarang lho cowok kantoran mau ikut kajian rutin seperti ini.”
5584Please respect copyright.PENANA71pRrWe8TZ
Obrolan kecil itu berulang hampir setiap Kamis. Kadang hanya lima menit, kadang sampai lima belas menit kalau hujan atau jemputan Zahra terlambat. Farhan semakin sering “sengaja” meninggalkan kami berdua. Aku curiga dia sudah tahu ada sesuatu, tapi dia tidak pernah berkomentar langsung.
5584Please respect copyright.PENANAI75Tb3cRvO
Rasa suka itu tumbuh pelan seperti benih yang disiram air hujan. Awalnya hanya kekaguman pada penampilan yang tertutup namun tetap mempesona. Lalu berkembang menjadi suka pada kepribadiannya: sopan, cerdas, dan punya keteguhan iman yang kuat. Setiap kali kami bicara, aku merasa hatiku lebih ringan. Dan Zahra… aku mulai melihat perubahan di mataku. Dia lebih sering melihatnya lebih lama. Kadang ada senyuman kecil di balik cadar yang terlihat dari kerutan mata dan pipinya yang sedikit naik.
5584Please respect copyright.PENANAcmTA2kMdbU
Suatu malam, kajian selesai lebih awal karena ustadz ada acara lain. Hujan deras lagi mengguyur Ciputat. Banyak jamaah yang langsung pulang, tapi Zahra harus menunggu uminya yang sedang di jalan. Kami berdua akhirnya duduk di bangku teras yang agak tersembunyi di samping rumah. Farhan sudah pulang lebih dulu karena anaknya sakit.
5584Please respect copyright.PENANAOenfoTwxky
Suasana sepi. Hanya suara hujan dan sesekali petir jauh. Lampu teras kuning temaram mencetak wajah kami.
5584Please respect copyright.PENANAaRicTMjSSA
“Kak… bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Zahra tiba-tiba. Suaranya lebih pelan dari biasanya.
5584Please respect copyright.PENANARSoYbjHzgu
“Boleh. Tanya aja.”
5584Please respect copyright.PENANAHKZjqvjhoB
"Kenapa Kak Rafi tiba-tiba mau ikut kajian? Dulu Kak Farhan bilang Kakak selalu nolak."
5584Please respect copyright.PENANAJdSCcRbrW0
Aku tertawa kecil, menggaruk tengkuk. “Jujur ya… awalnya karena bosan dengan rutinitas. Tapi setelah ikut, aku ketemu orang-orang baik. Termasuk… ketemu kamu.”
5584Please respect copyright.PENANAPgdu3TCQ8S
Zahra diam. Matanya membesar sedikit di balik cadar. Pipinya terlihat memerah meski tertutup kain. “Kak… jangan bilang begitu. Kita kan cuma temen kajian.”
5584Please respect copyright.PENANAXCamwXHMVe
“Tapi rasanya lebih dari itu, Zahra,” kataku pelan, berani sekali malam itu. “Aku suka ngobrol sama kamu. Kamu beda dari cewek-cewek lain yang aku kenal.”
5584Please respect copyright.PENANAQI4ti5T4on
Dia menunduk lama. Tangan kirinya memilin ujung abaya. "Aku juga… suka ngobrol sama Kak Rafi. Tapi… ini nggak boleh. Umi dari kecil ajarin aku untuk menjaga diri. Kalau bukan mahram, harus dijauhi. Aku takut dosa, Kak."
5584Please respect copyright.PENANAFKpkGHVnPZ
Aku mengangguk mengerti. "Aku paham. Aku nggak mau maksa. Tapi… bolehkah kita terus ngobrol seperti ini? Setidaknya setelah kajian.”
5584Please respect copyright.PENANAIK0Dkt16GI
Zahra mengangguk pelan setelah diam cukup lama. “Boleh… tapi tetap jaga ya, Kak.”
5584Please respect copyright.PENANA0XyGHWIJqS
Malam itu menjadi titik balik. Rasa suka kami tidak lagi disembunyikan sepenuhnya. Meski masih tersembunyi di balik kata-kata sopan dan percakapan agama, ada getaran yang semakin kuat setiap kali kami bertemu.
5584Please respect copyright.PENANAawkzwKgXb4
Seminggu kemudian, saya memberanikan diri meminta nomor HP-nya. “Biar bisa tanya-tanya materi kajian kalau saya lupa catatan,” kataku beralasan.
5584Please respect copyright.PENANAKZXOzeF1F8
Zahra ragu-ragu, tapi akhirnya memberikan nomornya. “Tapi jangan sering chat ya Kak.Umi suka cek HP aku.”
5584Please respect copyright.PENANAyt72TIikXM
Obrolan kami pun pindah ke WhatsApp. Awalnya hanya salam dan berbagi catatan kajian. Lalu berkembang menjadi diskusi ringan: “Gimana kuliah hari ini?”, “Kerjaan kantor bagaimana?”, “Hari ini baca ayat apa?”. Zahra selalu membalas dengan sopan, tapi semakin lama pesannya semakin panjang dan ada emoji senyum kecil.
5584Please respect copyright.PENANA4LpfJE1ik1
Suatu malam, setelah kajian, kami lagi-lagi ngobrol di teras. Kali ini Zahra cerita lebih dalam tentang kehidupannya.
5584Please respect copyright.PENANAw4z66xHHk6
"Rumah kami kecil, Kak. Umi tidur di kamar depan, aku di belakang. Kadang malam aku merasa kesepian. Ayah dulu yang selalu cerita sebelum tidur. Sekarang cuma umi… dan kadang ngobrol sama Kak Rafi yang bikin aku tersenyum."
5584Please respect copyright.PENANAQz8gCPhdIS
Hatiku hangat mendengarnya. Aku memberanikan diri, “Zahra… aku mulai suka sama kamu. Bukan hanya sebagai teman kajian. Lebih dari itu.”
5584Please respect copyright.PENANAotbtv7Fv9Q
Dia diam lama. Angin malam meniup ujung cadarnya pelan. Akhirnya dia berbisik, "Aku juga, Kak. Tapi aku takut. Ini pacaran namanya… dan pacar itu haram sebelum nikah. Umi pasti marah besar kalau tahu."
5584Please respect copyright.PENANAqiyBb7vKKY
"Aku tahu. Kita pelan-pelan aja. Aku nggak mau buru-buru. Yang penting kita bisa dekat dan saling jaga," kataku.
5584Please respect copyright.PENANAVEXhd4E6cl
Zahra mengangguk kecil. “InsyaAllah… tapi janji ya, Kak. Jaga hati kita berdua.”
5584Please respect copyright.PENANAunlmt62fB9
Dari malam itu, kami resmi “pacaran diam-diam”. Bukan pacaran seperti anak muda pada umumnya yang mesra di mall atau foto-foto bersama. Kami pacaran lewat chat panjang malam hari, saling motivasi belajar dan ibadah, dan obrolan singkat di teras setelah kajian. Zahra masih selalu memakai cadar di depanku, menjaga jarak fisik, tapi matanya dan suaranya sudah cukup mengungkapkan perasaannya.
5584Please respect copyright.PENANAMqyadIzDhO
Rasa suka itu semakin kuat. Aku semakin sering membayangkan bagaimana wajahnya di balik cadar. Bagaimana rambut, bagaimana bibir, dan terutama bagaimana tubuh yang montok itu terasa jika tanpa lapisan kain tebal. Setiap kali melihat dadanya yang besar naik-turun di balik abaya, hasratku semakin sulit dikendalikan. Tapi aku masih menahan diri. Zahra adalah gadis baik, dan aku tidak mau merusaknya.
5584Please respect copyright.PENANAX15PD8MA2w
Suatu Kamis malam, hujan deras lagi. Zahra chat aku siang hari: "Kak, umi malam ini ada arisan pengajian sampai larut. Kalau kajian selesai, bolehkah Kakak mampir sebentar ke rumah? Cuma ngobrol di ruang tamu kok."
5584Please respect copyright.PENANAuN0RTcHgR8
Jantungku langsung berdegup kencang. Ini pertama kalinya Zahra mengajak ke rumahnya.
5584Please respect copyright.PENANAOtLxhHK7Ec
Aku cepat balas: “Boleh. Aku antar kamu pulang setelah kajian.”
5584Please respect copyright.PENANAbjF3CaLACt
Malam itu, setelah ceramah selesai, Farhan pamit duluan. Aku mengantar Zahra naik motor ke rumahnya yang hanya sepuluh menit dari rumah ustadz. Rumahnya kecil, kucing putih agak pudar, halaman depan ada beberapa pot bunga mawar yang dirawat rapi. Zahra membuka pintu dengan tangan gemetar.
5584Please respect copyright.PENANAOaK0nKI0Mq
“Masuk, Kak. Tapi cepat ya, jangan lama.”
5584Please respect copyright.PENANAJTymCAOIWS
Ruang tamu kecil tapi bersih. Ada sofa dua dudukan, meja kayu sederhana, dan foto ayah Zahra di dinding. Kami duduk berjauhan. Zahra masih pakai cadar dan abaya lengkap.
5584Please respect copyright.PENANAPGDcO1LtXx
Obrolan kami mengalir. Tentang kuliah, tentang kerjaanku, tentang mimpi-mimpi kecil. Tapi udara terasa tegang. Ada listrik di antara kami.
5584Please respect copyright.PENANA3grEGCzuRN
Tiba-tiba Zahra berkata pelan, “Kak… aku takut. Tapi aku juga kangen ngobrol lama sama Kakak tanpa orang lain.”
5584Please respect copyright.PENANAvq8yk9LBIS
Aku mendekat sedikit. “Aku juga, Zahra.”
5584Please respect copyright.PENANA0dceTnqrPM
Matanya memandang ke dalam. Napasnya terdengar lebih cepat.
5584Please respect copyright.PENANAITaoZ7PAHd
Malam itu, benih rasa yang sudah tumbuh selama dua bulan mulai menunjukkan tunasnya yang lebih kuat. Kami masih menjaga batas, tapi hatiku sudah tahu: ini permulaan baru dari sesuatu yang akan sulit kami hentikan.
5584Please respect copyright.PENANAtGFeM88Fa2
Dan Zahra, di balik cadarnya yang tebal, mulai menunjukkan bahwa dia juga merasakan hal yang sama.5584Please respect copyright.PENANArwX1m6zbfr


