Malam setelah kajian pertama itu, aku sulit tidur. Kosanku yang biasanya terasa nyaman malam-malam tiba-tiba terasa sempit dan hening. Aku berbaring menatap langit-langit, memutar ulang setiap momen di rumah Ustadz Abdullah. Suara ustadz yang tenang, aroma attar yang menenangkan, janggut-jenggot panjang yang rapi, dan terutama… sosok akhwat bercadar yang duduk di bagian belakang.
5046Please respect copyright.PENANA02WogCz4y7
Aku tidak tahu namanya. Aku bahkan tidak melihat wajahnya. Tapi bayangan dada yang montok, yang meski tertutup abaya hitam longgar tetap menonjol dengan jelas, terus muncul di pikiranku. Setiap kali dia sedikit membungkuk untuk mencatat, kain itu menempel sebentar di tubuhnya, menampilkan lekuk payudara besar yang berat dan penuh. Aku merasa bersalah karena memikirkan hal itu di tempat penelitian, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa gambar itu sudah terpatri.
5046Please respect copyright.PENANA1WAZgCPKYO
Pagi harinya di kantor, Farhan langsung menyapa dengan senyum lebar begitu aku masuk ruangan.
5046Please respect copyright.PENANADFlALmvi8I
"Assalamualaikum, Rafi! Gimana semalam? Masih mau ikut lagi malam ini? Ada kajian lanjutan ustadz yang sama."
5046Please respect copyright.PENANAPQAsHK27Tc
Aku tipis tersenyum sambil meletakkan tas di kubikel. “Waalaikumsalam. Lumayan, Han. Ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Ilmunya masuk akal.”
5046Please respect copyright.PENANAE7JD6ewW2g
Farhan terlihat sangat senang. "Alhamdulillah! Berarti kamu sudah mulai terbuka. Malam ini topiknya tentang menjaga pandangan dan menundukkan hati. Pas banget buat kita yang masih muda."
5046Please respect copyright.PENANAWvQC3bJ9ux
Aku mengangguk pelan. Sebenarnya, yang membuat saya ingin kembali bukan hanya ilmunya. Ada rasa penasaran yang lebih kuat. Aku ingin melihat lagi akhwat itu. Aku ingin tahu apakah dia akan datang lagi.
5046Please respect copyright.PENANAHspwa1MEkA
hari Sepanjang kerja, pikiranku sering melayang. Saat rapat, saat membuat laporan, bahkan saat makan siang di kantin. Aku membayangkan bagaimana rasanya kalau aku bisa berbicara di sana, meski hanya sebentar. Suaranya pasti lembut, seperti akhwat-akhwat lain yang kudengar kemarin.
5046Please respect copyright.PENANAnZ673u2igq
Jam setengah tujuh malam, Farhan sudah datang lagi di depan kosanku. Kali ini aku sudah siap lebih awal. Aku memakai kemeja putih lengan panjang yang agak rapi, celana jeans hitam, dan sepatu sneakers bersih. Bukan gamis seperti Farhan, tapi setidaknya tidak terlalu “keluar” dari suasana.
5046Please respect copyright.PENANAqiaBTtdylW
Perjalanan ke Ciputat lagi-lagi macet, tapi kali ini terasa lebih cepat karena Farhan banyak bercerita tentang komunitas kajian ini. Dia bilang majelis ini sudah berjalan hampir lima tahun, pesertanya semakin banyak, terutama anak-anak muda kampus dan pekerja kantoran yang mencari ketenangan.
5046Please respect copyright.PENANAzoO5KQ1MLa
Saat kami tiba, suasana rumah ustadz sudah ramai seperti kemarin. Aku langsung mencari posisi duduk yang sama, di belakang Farhan. Mataku tanpa sadar melirik ke bagian belakang ruangan, ke tempat para akhwat duduk.
5046Please respect copyright.PENANA8KWLsxRAaH
Dia ada di sana.
5046Please respect copyright.PENANAG29RtX6nzf
Akhwat bercadar hitam pekat itu duduk di baris kedua dari belakang, agak ke kanan. Cadarnya tebal, hanya menyisakan sepasang mata yang indah. Malam ini dia memakai abaya abu-abu gelap yang sedikit berbeda dari kemarin. Kainnya tetap longgar, tapi lagi-lagi tidak mampu menyembunyikan lekuk dada yang luar biasa. Payudaranya terlihat penuh, bulat, dan berat. Setiap kali dia bernapas pelan, kain di bagian dada itu naik-turun dengan lembut, membuat siluetnya semakin jelas di bawah cahaya lampu ruangan.
5046Please respect copyright.PENANAsVgHwOkdom
Aku cepat menunduk, berusaha fokus ke mimbar. Ustadz Abdullah sudah mulai mengisi kajian. Topik malam ini memang tentang menjaga pandangan. Beliau membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits tentang aurat, godaan mata, dan bahaya zina hati. Setiap kalimat yang diucapkan ustadz seperti menusuk hatiku. Saya merasa sedang diingatkan langsung.
5046Please respect copyright.PENANAy9hLdDVMx0
Tapi mata aku melirik lagi. Kali ini aku lebih berani memperhatikan. Akhwat itu duduk tegak sambil memegang buku catatan kecil. Jari-jarinya tampak putih dan halus, postur tubuhnya ramping tapi berisi di bagian atas. Bahkan dari jarak jauh, aku bisa merasakan aura ketenangan dan kesopanan darinya.
5046Please respect copyright.PENANAxG0ViNAJC7
Kajian berlangsung hampir dua jam lagi. Di sesi tanya jawab, ada seorang akhwat yang bertanya melalui tulisan (karena mereka tidak bicara langsung di depan ikhwan). Suaranya yang dibacakan ustadz terdengar lembut dan jelas. Aku penasaran apakah itu terdengar.
5046Please respect copyright.PENANAnojxy39KTU
Setelah kajian selesai, para jamaah mulai bubar. Farhan mengajakku ke teras untuk minum teh hangat dan ngobrol dengan beberapa ikhwan. Aku ikut, tapi pikiranku masih teringat ke bagian belakang.
5046Please respect copyright.PENANAngBa4TQ5zd
Tiba-tiba, Farhan menyapa seseorang.
5046Please respect copyright.PENANAZ6Oi0aQRyM
"Zahra! Assalamualaikum. Gimana kajiannya malam ini?"
5046Please respect copyright.PENANAQW13CF5csB
Aku menoleh dengan cepat. Akhwat bercadar itu sedang berjalan ke arah pintu keluar wanita, tapi berhenti ketika dipanggil Farhan. Dia membekukan badan pelan-pelan. Matanya bertemu dengan mataku sebentar.
5046Please respect copyright.PENANApnNFz0C4nV
"Waalaikumsalam, Kak Farhan. Kajiannya bagus sekali. Ustadznya selalu menyentuh," jawabnya. Suaranya lembut, sopan, dengan nada malu-malu yang khas. Seperti suara mahasiswi yang santun.
5046Please respect copyright.PENANATGGaZvukHs
Farhan tersenyum. "Ini Rafi, teman kantor aku yang kemarin pertama kali ikut. Rafi, ini Zahra, salah satu akhwat yang rajin di majelis ini. Dia juga mahasiswi UIN."
5046Please respect copyright.PENANATNsy2Ss7dv
Aku langsung berdiri sedikit lebih tegak. Jantungku berdegup lebih kencang. “Waalaikumsalam, Zahra.Salam kenal.”
5046Please respect copyright.PENANAzKva8aQGsF
Dia mengangguk pelan, melirik sebentar dari balik layar. “Waalaikumsalam, Kak Rafi.Semoga kajiannya bermanfaat ya.”
5046Please respect copyright.PENANA16BqhBttqw
Hanya itu. Dialog singkat, sopan, dan formal. Tapi rasanya seperti ada listrik kecil yang mengalir di tubuhku. Suaranya lebih lembut dari yang kubayangkan. Dan meski wajahnya tertutup rapat, kehadirannya terasa begitu dekat.
5046Please respect copyright.PENANAlJSA2VoGPF
Farhan melanjutkan pembicaraan ringan. “Zahra biasanya ikut kajian rutin. Dia semester 3, jurusan Pendidikan Agama Islam. Rajin banget.”
5046Please respect copyright.PENANAGQwwaQrzaL
Zahra hanya tersenyum di balik cadar (aku bisa melihat dari kerutan mata yang sedikit naik). “Biasa saja, Kak. Cuma ingin belajar lebih dalam.”
5046Please respect copyright.PENANAylemYVJwxG
Saya memberanikan diri bertanya, “Zahra tinggal di sekitar sini?”
5046Please respect copyright.PENANAYbQG9fkPSS
Dia menggeleng pelan. “Tidak terlalu jauh, Kak. Di daerah Ciputat juga, dekat kampus. Tinggal berdua dengan umi.”
5046Please respect copyright.PENANABj8yHHdUmh
Obrolan hanya berlangsung sekitar tiga menit karena para akhwat sudah mulai pulang. Zahra pamit dengan sopan, “Assalamualaikum, Kak Farhan, Kak Rafi. Hati-hati di jalan.”
5046Please respect copyright.PENANADweZFUbxun
“Waalaikumsalam,” jawab kami berdua.
5046Please respect copyright.PENANAAbE1rxalDj
Saat dia berjalan pergi, aku tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan lagi. Langkahnya pelan dan anggun. Abayanya yang longgar tetap menunjukkan siluet tubuhnya yang indah — pinggang ramping, pinggul yang agak lebar, dan terutama dada montok yang bergoyang sangat halus mengikuti langkahnya. Kain tebal itu menantang seolah-olah tidak menutupi seluruhnya.
5046Please respect copyright.PENANAe9vuXtcELg
Dalam perjalanan pulang, Farhan bertanya, "Gimana? Zahra orangnya baik kan? Dia salah satu akhwat yang paling aktif membantu ustadzah di kelas wanita.”
5046Please respect copyright.PENANAF0oZGRzoF7
Aku mengangguk. “Iya, kelihatannya sopan.”
5046Please respect copyright.PENANAitXsYpTJAH
Farhan tertawa kecil. "Hati-hati ya, Rafi. Dia tipe yang dijaga banget. Dari kecil diajarkan jauh dari yang bukan mahram. Uminya tegas."
5046Please respect copyright.PENANAyLfdhcsKNU
Aku hanya tersenyum tanpa komentar. Tapi dalam hati, aku sudah memutuskan: aku akan ikut kajian lagi. Dan lagi. Sampai aku bisa mengenal Zahra lebih dekat.
5046Please respect copyright.PENANA8WxYhwNLKg
Minggu berikutnya, aku ikut lagi. Dan minggu setelahnya juga.
5046Please respect copyright.PENANAmdxpie5Phj
Setiap kajian, aku selalu mencari posisi. Zahra hampir selalu datang. Terkadang dia duduk di tempat yang sama, terkadang sedikit bergeser. Aku mulai bisa mengenali posturnya dari kejauhan. Cara dia memegang buku catatan, cara bahunya naik-turun sambil bernapas, dan terutama cara kain abaya menempel di dada yang besar setiap kali dia bergerak.
5046Please respect copyright.PENANAvqx0THqOOP
Suatu malam, setelah kajian selesai, Farhan lagi-lagi memanggil Zahra di teras. Kali ini diskusi kami lebih panjang.
5046Please respect copyright.PENANAHiE3HgXVSX
“Kak Rafi sudah mulai ikut rutin ya?” tanya Zahra pelan.
5046Please respect copyright.PENANA5JHVfbkHY0
“Iya, Alhamdulillah.Ternyata banyak manfaatnya,” jawabku.
5046Please respect copyright.PENANAqrjVflE2qD
Dia mengangguk. "Bagus. Kajian ini memang membantu banyak orang yang sedang mencari ketenangan."
5046Please respect copyright.PENANAGUOE85wu5D
Pandangan sekilas lebih lama kali ini. Ada sesuatu di balik cadar itu — rasa penasaran yang sama seperti yang kurasakan.
5046Please respect copyright.PENANAyk5yj4IUnm
Dari situ, percakapan kecil mulai sering terjadi. Setiap abis kajian, Farhan menjadi “jembatan”. Kami ngobrol tentang topik kajian, tentang kuliah Zahra , tentang pekerjaanku di kantor. Zahra bercerita sedikit tentang dirinya: ayahnya meninggal dua tahun lalu, kakaknya sudah menikah di Bandung, jadi dia tinggal berdua dengan uminya. Dia semester 3, sedang sibuk dengan tugas kuliah dan pengajian.
5046Please respect copyright.PENANAdmJTQ1ssbj
Aku juga mulai berani bercerita lebih banyak. Tentang rutinitas kantor yang melelahkan, tentang mimpi-mimpiku yang sederhana.
5046Please respect copyright.PENANASvlgr1RW5r
Setiap kali kami bicara, aku semakin kagum. Suaranya selalu lembut, penuh adab. Tapi matanya… matanya sering terlihat dengan cara yang membuat hatiku hangat. Dan setiap kali dia bergerak, dada yang montok itu selalu menjadi pusat perhatianku, meski aku berusaha memancarkan pandangan seperti yang diajarkan ustadz.
5046Please respect copyright.PENANAKUdNRKC9VD
Satu bulan berlalu sejak kajian pertama.
5046Please respect copyright.PENANAvnRONVKt7h
Aku sudah rutin ikut setiap minggu. Farhan bangga sekali. Dan Zahra… kami sudah mulai saling kenal lebih baik. Obrolan di teras setelah kajian menjadi momen paling aku tunggu.
5046Please respect copyright.PENANAAUToGMPlu3
Suatu malam, hujan deras mengguyur Ciputat. Kajian tetap berjalan, tapi pulangnya jadi lebih lama karena orang-orang menunggu hujan reda. Di teras yang agak sepi, hanya ada aku, Farhan, dan Zahra yang terlambat pulang karena menunggu jemputan uminya.
5046Please respect copyright.PENANAR41qv8NRXw
Kami bisa mengobrol dengan lebih santai. Zahra tertawa kecil saat Farhan bercerita lucu tentang anaknya yang nakal. Suara tawanya lembut, seperti lonceng kecil.
5046Please respect copyright.PENANApp48qp1vUK
Saat Farhan sebentar masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu, hanya tinggal aku dan Zahra di teras.
5046Please respect copyright.PENANALySlNpAJHZ
Dia melihat dari balik layar. “Kak Rafi… terima kasih ya sudah sering ikut. Banyak yang berubah sejak Kakak datang.”
5046Please respect copyright.PENANAe4dBVk4h6A
Aku tersenyum. “Justru aku berterima kasih. Majelis ini membawa banyak kebaikan buat aku.”
5046Please respect copyright.PENANAFiVkF6iqhk
Kami diam sejenak. Hujan deras di luar, suara gemuruh udara membuat suasana terasa intim. Matanya tidak lepas dari mataku.
5046Please respect copyright.PENANAr8vHTgn5pN
Saat itu, untuk pertama kalinya, saya merasa ada benih rasa yang mulai tumbuh di antara kami.
5046Please respect copyright.PENANA0suNaU4muk
Benih yang nanti akan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam… dan berbahaya.5046Please respect copyright.PENANAl0z7XYdfSd


