Malam setelah kajian pertama itu, aku sulit tidur. Kosanku yang biasanya terasa nyaman malam-malam tiba-tiba terasa sempit dan hening. Aku berbaring menatap langit-langit, memutar ulang setiap momen di rumah Ustadz Abdullah. Suara ustadz yang tenang, aroma attar yang menenangkan, janggut-jenggot panjang yang rapi, dan terutama… sosok akhwat bercadar yang duduk di bagian belakang.
6453Please respect copyright.PENANAxIbVMdSdx4
Aku tidak tahu namanya. Aku bahkan tidak melihat wajahnya. Tapi bayangan dada yang montok, yang meski tertutup abaya hitam longgar tetap menonjol dengan jelas, terus muncul di pikiranku. Setiap kali dia sedikit membungkuk untuk mencatat, kain itu menempel sebentar di tubuhnya, menampilkan lekuk payudara besar yang berat dan penuh. Aku merasa bersalah karena memikirkan hal itu di tempat penelitian, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa gambar itu sudah terpatri.
6453Please respect copyright.PENANAfGnjAZGswm
Pagi harinya di kantor, Farhan langsung menyapa dengan senyum lebar begitu aku masuk ruangan.
6453Please respect copyright.PENANAKQRd3Bz92N
"Assalamualaikum, Rafi! Gimana semalam? Masih mau ikut lagi malam ini? Ada kajian lanjutan ustadz yang sama."
6453Please respect copyright.PENANAXFow8SHm5a
Aku tipis tersenyum sambil meletakkan tas di kubikel. “Waalaikumsalam. Lumayan, Han. Ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Ilmunya masuk akal.”
6453Please respect copyright.PENANAQoJ3FAKI3L
Farhan terlihat sangat senang. "Alhamdulillah! Berarti kamu sudah mulai terbuka. Malam ini topiknya tentang menjaga pandangan dan menundukkan hati. Pas banget buat kita yang masih muda."
6453Please respect copyright.PENANADataeDUIRD
Aku mengangguk pelan. Sebenarnya, yang membuat saya ingin kembali bukan hanya ilmunya. Ada rasa penasaran yang lebih kuat. Aku ingin melihat lagi akhwat itu. Aku ingin tahu apakah dia akan datang lagi.
6453Please respect copyright.PENANA3KwTjRgMbh
hari Sepanjang kerja, pikiranku sering melayang. Saat rapat, saat membuat laporan, bahkan saat makan siang di kantin. Aku membayangkan bagaimana rasanya kalau aku bisa berbicara di sana, meski hanya sebentar. Suaranya pasti lembut, seperti akhwat-akhwat lain yang kudengar kemarin.
6453Please respect copyright.PENANA4Xfz4YBB8N
Jam setengah tujuh malam, Farhan sudah datang lagi di depan kosanku. Kali ini aku sudah siap lebih awal. Aku memakai kemeja putih lengan panjang yang agak rapi, celana jeans hitam, dan sepatu sneakers bersih. Bukan gamis seperti Farhan, tapi setidaknya tidak terlalu “keluar” dari suasana.
6453Please respect copyright.PENANAsBNLhFOEXM
Perjalanan ke Ciputat lagi-lagi macet, tapi kali ini terasa lebih cepat karena Farhan banyak bercerita tentang komunitas kajian ini. Dia bilang majelis ini sudah berjalan hampir lima tahun, pesertanya semakin banyak, terutama anak-anak muda kampus dan pekerja kantoran yang mencari ketenangan.
6453Please respect copyright.PENANA1CfySb7SWK
Saat kami tiba, suasana rumah ustadz sudah ramai seperti kemarin. Aku langsung mencari posisi duduk yang sama, di belakang Farhan. Mataku tanpa sadar melirik ke bagian belakang ruangan, ke tempat para akhwat duduk.
6453Please respect copyright.PENANASgI8B5Z9yv
Dia ada di sana.
6453Please respect copyright.PENANASHXu7ONlyo
Akhwat bercadar hitam pekat itu duduk di baris kedua dari belakang, agak ke kanan. Cadarnya tebal, hanya menyisakan sepasang mata yang indah. Malam ini dia memakai abaya abu-abu gelap yang sedikit berbeda dari kemarin. Kainnya tetap longgar, tapi lagi-lagi tidak mampu menyembunyikan lekuk dada yang luar biasa. Payudaranya terlihat penuh, bulat, dan berat. Setiap kali dia bernapas pelan, kain di bagian dada itu naik-turun dengan lembut, membuat siluetnya semakin jelas di bawah cahaya lampu ruangan.
6453Please respect copyright.PENANAZO1DGwLa7j
Aku cepat menunduk, berusaha fokus ke mimbar. Ustadz Abdullah sudah mulai mengisi kajian. Topik malam ini memang tentang menjaga pandangan. Beliau membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits tentang aurat, godaan mata, dan bahaya zina hati. Setiap kalimat yang diucapkan ustadz seperti menusuk hatiku. Saya merasa sedang diingatkan langsung.
6453Please respect copyright.PENANAnoCtFMrVo6
Tapi mata aku melirik lagi. Kali ini aku lebih berani memperhatikan. Akhwat itu duduk tegak sambil memegang buku catatan kecil. Jari-jarinya tampak putih dan halus, postur tubuhnya ramping tapi berisi di bagian atas. Bahkan dari jarak jauh, aku bisa merasakan aura ketenangan dan kesopanan darinya.
6453Please respect copyright.PENANA8T9kXQrjJv
Kajian berlangsung hampir dua jam lagi. Di sesi tanya jawab, ada seorang akhwat yang bertanya melalui tulisan (karena mereka tidak bicara langsung di depan ikhwan). Suaranya yang dibacakan ustadz terdengar lembut dan jelas. Aku penasaran apakah itu terdengar.
6453Please respect copyright.PENANAeYry8uZTxe
Setelah kajian selesai, para jamaah mulai bubar. Farhan mengajakku ke teras untuk minum teh hangat dan ngobrol dengan beberapa ikhwan. Aku ikut, tapi pikiranku masih teringat ke bagian belakang.
6453Please respect copyright.PENANA8Y8hDTPdbI
Tiba-tiba, Farhan menyapa seseorang.
6453Please respect copyright.PENANAk9EcQxGUDk
"Zahra! Assalamualaikum. Gimana kajiannya malam ini?"
6453Please respect copyright.PENANAryFc0BSz5R
Aku menoleh dengan cepat. Akhwat bercadar itu sedang berjalan ke arah pintu keluar wanita, tapi berhenti ketika dipanggil Farhan. Dia membekukan badan pelan-pelan. Matanya bertemu dengan mataku sebentar.
6453Please respect copyright.PENANAThidFHGFqf
"Waalaikumsalam, Kak Farhan. Kajiannya bagus sekali. Ustadznya selalu menyentuh," jawabnya. Suaranya lembut, sopan, dengan nada malu-malu yang khas. Seperti suara mahasiswi yang santun.
6453Please respect copyright.PENANASbqM99y3Jo
Farhan tersenyum. "Ini Rafi, teman kantor aku yang kemarin pertama kali ikut. Rafi, ini Zahra, salah satu akhwat yang rajin di majelis ini. Dia juga mahasiswi UIN."
6453Please respect copyright.PENANAAseyCbtyDL
Aku langsung berdiri sedikit lebih tegak. Jantungku berdegup lebih kencang. “Waalaikumsalam, Zahra.Salam kenal.”
6453Please respect copyright.PENANAHDUWYh6PMz
Dia mengangguk pelan, melirik sebentar dari balik layar. “Waalaikumsalam, Kak Rafi.Semoga kajiannya bermanfaat ya.”
6453Please respect copyright.PENANAkCRFYX5aWU
Hanya itu. Dialog singkat, sopan, dan formal. Tapi rasanya seperti ada listrik kecil yang mengalir di tubuhku. Suaranya lebih lembut dari yang kubayangkan. Dan meski wajahnya tertutup rapat, kehadirannya terasa begitu dekat.
6453Please respect copyright.PENANAck9BrBMhiP
Farhan melanjutkan pembicaraan ringan. “Zahra biasanya ikut kajian rutin. Dia semester 3, jurusan Pendidikan Agama Islam. Rajin banget.”
6453Please respect copyright.PENANAVvTVAbzNUs
Zahra hanya tersenyum di balik cadar (aku bisa melihat dari kerutan mata yang sedikit naik). “Biasa saja, Kak. Cuma ingin belajar lebih dalam.”
6453Please respect copyright.PENANAQ7jIz3Zj6f
Saya memberanikan diri bertanya, “Zahra tinggal di sekitar sini?”
6453Please respect copyright.PENANAIzlrJe9AIY
Dia menggeleng pelan. “Tidak terlalu jauh, Kak. Di daerah Ciputat juga, dekat kampus. Tinggal berdua dengan umi.”
6453Please respect copyright.PENANATI9oChR3dv
Obrolan hanya berlangsung sekitar tiga menit karena para akhwat sudah mulai pulang. Zahra pamit dengan sopan, “Assalamualaikum, Kak Farhan, Kak Rafi. Hati-hati di jalan.”
6453Please respect copyright.PENANAJ8NoHDR0RI
“Waalaikumsalam,” jawab kami berdua.
6453Please respect copyright.PENANANgfkidSuUv
Saat dia berjalan pergi, aku tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan lagi. Langkahnya pelan dan anggun. Abayanya yang longgar tetap menunjukkan siluet tubuhnya yang indah — pinggang ramping, pinggul yang agak lebar, dan terutama dada montok yang bergoyang sangat halus mengikuti langkahnya. Kain tebal itu menantang seolah-olah tidak menutupi seluruhnya.
6453Please respect copyright.PENANAxQVjTp8pSD
Dalam perjalanan pulang, Farhan bertanya, "Gimana? Zahra orangnya baik kan? Dia salah satu akhwat yang paling aktif membantu ustadzah di kelas wanita.”
6453Please respect copyright.PENANAu3DoSoInPp
Aku mengangguk. “Iya, kelihatannya sopan.”
6453Please respect copyright.PENANAE14uwHpMQe
Farhan tertawa kecil. "Hati-hati ya, Rafi. Dia tipe yang dijaga banget. Dari kecil diajarkan jauh dari yang bukan mahram. Uminya tegas."
6453Please respect copyright.PENANAzR7C8ulhAl
Aku hanya tersenyum tanpa komentar. Tapi dalam hati, aku sudah memutuskan: aku akan ikut kajian lagi. Dan lagi. Sampai aku bisa mengenal Zahra lebih dekat.
6453Please respect copyright.PENANAREyp7NUD7d
Minggu berikutnya, aku ikut lagi. Dan minggu setelahnya juga.
6453Please respect copyright.PENANAQCR90Sit9Z
Setiap kajian, aku selalu mencari posisi. Zahra hampir selalu datang. Terkadang dia duduk di tempat yang sama, terkadang sedikit bergeser. Aku mulai bisa mengenali posturnya dari kejauhan. Cara dia memegang buku catatan, cara bahunya naik-turun sambil bernapas, dan terutama cara kain abaya menempel di dada yang besar setiap kali dia bergerak.
6453Please respect copyright.PENANATJf5XIppdY
Suatu malam, setelah kajian selesai, Farhan lagi-lagi memanggil Zahra di teras. Kali ini diskusi kami lebih panjang.
6453Please respect copyright.PENANAH2dwexiI1e
“Kak Rafi sudah mulai ikut rutin ya?” tanya Zahra pelan.
6453Please respect copyright.PENANAPpS57tCbAW
“Iya, Alhamdulillah.Ternyata banyak manfaatnya,” jawabku.
6453Please respect copyright.PENANAGou6OWQQo1
Dia mengangguk. "Bagus. Kajian ini memang membantu banyak orang yang sedang mencari ketenangan."
6453Please respect copyright.PENANAhQsCcUsy23
Pandangan sekilas lebih lama kali ini. Ada sesuatu di balik cadar itu — rasa penasaran yang sama seperti yang kurasakan.
6453Please respect copyright.PENANAENTPLWhDmi
Dari situ, percakapan kecil mulai sering terjadi. Setiap abis kajian, Farhan menjadi “jembatan”. Kami ngobrol tentang topik kajian, tentang kuliah Zahra , tentang pekerjaanku di kantor. Zahra bercerita sedikit tentang dirinya: ayahnya meninggal dua tahun lalu, kakaknya sudah menikah di Bandung, jadi dia tinggal berdua dengan uminya. Dia semester 3, sedang sibuk dengan tugas kuliah dan pengajian.
6453Please respect copyright.PENANATKBzNeR2ZK
Aku juga mulai berani bercerita lebih banyak. Tentang rutinitas kantor yang melelahkan, tentang mimpi-mimpiku yang sederhana.
6453Please respect copyright.PENANAKQSU0CuFVr
Setiap kali kami bicara, aku semakin kagum. Suaranya selalu lembut, penuh adab. Tapi matanya… matanya sering terlihat dengan cara yang membuat hatiku hangat. Dan setiap kali dia bergerak, dada yang montok itu selalu menjadi pusat perhatianku, meski aku berusaha memancarkan pandangan seperti yang diajarkan ustadz.
6453Please respect copyright.PENANA4BJ1u4ojT8
Satu bulan berlalu sejak kajian pertama.
6453Please respect copyright.PENANAlhqJkoiy5f
Aku sudah rutin ikut setiap minggu. Farhan bangga sekali. Dan Zahra… kami sudah mulai saling kenal lebih baik. Obrolan di teras setelah kajian menjadi momen paling aku tunggu.
6453Please respect copyright.PENANA3ybp2yZ9vr
Suatu malam, hujan deras mengguyur Ciputat. Kajian tetap berjalan, tapi pulangnya jadi lebih lama karena orang-orang menunggu hujan reda. Di teras yang agak sepi, hanya ada aku, Farhan, dan Zahra yang terlambat pulang karena menunggu jemputan uminya.
6453Please respect copyright.PENANAROjD2GF5bc
Kami bisa mengobrol dengan lebih santai. Zahra tertawa kecil saat Farhan bercerita lucu tentang anaknya yang nakal. Suara tawanya lembut, seperti lonceng kecil.
6453Please respect copyright.PENANAnejVIUow30
Saat Farhan sebentar masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu, hanya tinggal aku dan Zahra di teras.
6453Please respect copyright.PENANAQ0CjYbhosx
Dia melihat dari balik layar. “Kak Rafi… terima kasih ya sudah sering ikut. Banyak yang berubah sejak Kakak datang.”
6453Please respect copyright.PENANAcEWlbcafV8
Aku tersenyum. “Justru aku berterima kasih. Majelis ini membawa banyak kebaikan buat aku.”
6453Please respect copyright.PENANAo8PKCE4O3T
Kami diam sejenak. Hujan deras di luar, suara gemuruh udara membuat suasana terasa intim. Matanya tidak lepas dari mataku.
6453Please respect copyright.PENANAlVoXroRQJy
Saat itu, untuk pertama kalinya, saya merasa ada benih rasa yang mulai tumbuh di antara kami.
6453Please respect copyright.PENANAL4gEPbZ5px
Benih yang nanti akan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam… dan berbahaya.6453Please respect copyright.PENANAXmIUbOMugw


