Aku Zahra, 20 tahun, semester 3 mahasiswi Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Namaku berarti “bunga yang harum”, tapi terkadang aku merasakan seumur hidup lebih mirip duri lebar yang tersembunyi di balik kelopak hijab dan cadar tebal.
4689Please respect copyright.PENANAZK3WDq84t7
Dari kecil, umi mengajarkanku keras. "Zahra, perempuan itu harus dijaga. Jauhi laki-laki yang bukan mahram. Satu pemandangan saja bisa membawa dosa besar." Ayah dulu selalu mengiyakan. Beliau adalah orang yang tegas tapi lembut, suka mengaji bersamaku setiap malam sebelum tidur, membacakan cerita nabi, dan mengingatkan aku untuk menjaga pandangan dan hati. Dua tahun yang lalu ayah pergi mendadak karena serangan jantung. Rumah kami yang kecil tiba-tiba terasa sangat sepi. Kakakku sudah menikah dan pindah ke Bandung, jadi tinggal aku dan umi berdua. Umi yang dulu ceria kini lebih pendiam, lebih waspada, dan lebih protektif terhadapku.
4689Please respect copyright.PENANAIyZ7SjJJrX
Aku belum pernah punya pacar. Bahkan belum pernah dekat dengan cowok seumur hidup. Di SMA dulu, teman-teman cewek sering cerita tentang cowok mereka, tapi aku hanya diam sambil memegang tali cadarku erat-erat. “Aku tidak boleh,” itu jawaban standarku. Kuliah di UIN pun sama. Banyak cowok yang mencoba mendekat, tapi aku selalu menjaga jarak. Aku pakai cadar sejak kelas 2 SMA, bukan karena dipaksa, tapi karena aku merasa aman di baliknya. Cadar ini seperti tembok yang melindungiku dari dunia luar yang penuh godaan.
4689Please respect copyright.PENANASjrHjUeHzz
Sampai Rafi datang.
4689Please respect copyright.PENANANUT0C8II12
Awalnya aku tidak memperhatikannya. Malam pertama dia ikut kajian, aku hanya melihat sekilas seorang pria berkaos hitam yang duduk di barisan ikhwan. Beda dari yang lain yang sudah berjenggot panjang dan pakai gamis. Tapi lama-lama aku mulai sadar akan kehadirannya. Dia rutin datang setiap Kamis. Caranya duduk khusyuk, caranya mencatat, dan caranya menatap mimbar dengan serius membuat penasaran.
4689Please respect copyright.PENANA1oWoTm7eNv
Lalu Farhan memperkenalkan kami di teras.
4689Please respect copyright.PENANAuOaL12alkv
“Zahra, ini Rafi, teman kantor aku.”
4689Please respect copyright.PENANAZ7DrFX2rTR
Saat itu mataku bertemu dengan matanya. Rafi punya mata yang tenang, tidak genit seperti cowok-cowok kampus yang pernah aku lihat. Suaranya rendah, sopan, dan ada sesuatu yang hangat di dalamnya. Aku hanya mengangguk dan menjawab singkat, tapi malam itu aku pulang dengan hati yang berdegup tidak biasa.
4689Please respect copyright.PENANAX9XCOPuSm6
Setelah itu, percakapan kecil di teras menjadi rutinitas. Awalnya hanya “Assalamualaikum” dan “Kajiannya bagus ya”. Tapi pelan-pelan kami mulai bicara lebih lama. Rafi cerita tentang kerjaannya yang melelahkan di kantor, tentang kemacetan Jakarta yang bikin capek jiwa, tentang rasa sepinya di kosan. Aku mendengarkan sambil memilin ujung abayaku. Entah kenapa, mendengar ceritanya membuatku merasa… tidak sendiri.
4689Please respect copyright.PENANAhCfSUkjdjz
Rafi seakan menggantikan sosok ayahku yang sudah tiada.
4689Please respect copyright.PENANA1Swi35WuMk
Ayah dulu selalu mendengarkanku bicara tentang mimpi-mimpi kecilku: ingin jadi guru ngaji yang baik, ingin membantu umi lebih banyak, ingin punya keluarga yang sakinah. Rafi punya cara mendengar yang mirip. Dia tidak memotong, tidak menghakimi, dan selalu memberi nasihat yang lembut. "Kamu kuat, Zahra. Allah pasti kasih jalan," katanya suatu malam saat aku cerita tentang tugas kuliah yang numpuk dan umi yang semakin sering sakit kepala.
4689Please respect copyright.PENANArP9RlCccaX
Setiap kali pulang dari kajian, saya langsung ke kamar, lepas cadar dan abaya, lalu duduk di depan cermin kecil. Wajahku yang biasanya tenang kini sering tersenyum sendiri. Aku ingat bagaimana Rafi memandang meski aku bercadar. Bukan nakal, tapi berisi yang penuh hormat… dan ada sesuatu yang lebih dalam.
4689Please respect copyright.PENANA4PLDyTWMSu
Malam-malam aku sering berdoa sambil menangis pelan di sajadah. “Ya Allah, jangan sampai hati ini condong kepada yang bukan mahram. Aku takut dosa, takut umi marah, takut mengecewakan ayah di alam sana.” Tapi setiap Kamis, begitu melihat Rafi duduk di barisan ikhwan, hatiku langsung hangat. Aku mulai mencari posisi dari balik cadar. Aku suka saat dia tertawa kecil mendengar cerita Farhan. Aku suka saat dia mencatat dengan serius.
4689Please respect copyright.PENANAaH5z7gyzHu
Tubuhku pun mulai bereaksi aneh. Setiap kali Rafi dekat di teras, aku merasa dadaku yang besar ini berdegup lebih kencang. Aku sadar betul bahwa meski aku memakai abaya longgar, payudaraku tetap terlihat menonjol. Kadang aku menangkap Rafi melirik sebentar lalu cepat menunduk. Aku malu, tapi ada getaran aneh yang aku sendiri tidak mengerti. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Belum pernah ada cowok yang membuat sadar akan tubuhku sendiri.
4689Please respect copyright.PENANARnLvae80Ab
Suatu malam hujan deras, umi lagi arisan sampai larut. Aku memberanikan diri chat Rafi: “Kak, setelah kajian boleh mampir sebentar ke rumah? Cuma di ruang tamu. Umi pulang malam.”
4689Please respect copyright.PENANAN9B3gfetDA
Tanganku gemetar saat menekan kirim. Aku langsung sujud istikharah lama sekali setelah itu. “Ya Allah, kalau ini baik, mudahkan. Kalau buruk, jauhkan.”
4689Please respect copyright.PENANAppXE5mB4nK
Rafi datang. Aku membuka pintu dengan jantung berdegup kencang. Rumah sepi hanya ada suara hujan di atap. Kami duduk di ruang tamu, berjarak satu meter. Aku masih pakai cadar penuh dan abaya. Rafi cerita tentang hari kerja, aku cerita tentang kuliah. Tapi suasana terasa berbeda. Ada ketegangan manis yang membuat napasku lebih pendek.
4689Please respect copyright.PENANAKdZy21wvaA
Saat Rafi berkata pelan, “Zahra… aku mulai suka sama kamu. Lebih dari temen kajian,” aku merasa dunia berhenti sejenak.
4689Please respect copyright.PENANAIJdrTO5Ees
Aku diam lama. Air mata hampir jatuh di balik cadar. "Kak… aku juga suka. Tapi aku takut sekali. Ini namanya pacaran. Haram. Umi pasti marah besar kalau tahu aku dekat dengan cowok. Dari kecil mengajar aku jauh-jauh dari yang bukan mahram. Ayah dulu selalu bilang, 'Zahra, jaga dirimu untuk suami halal nanti.' Sekarang ayah sudah nggak ada… dan Kak Rafi seperti menggantikan tempat ayah. Kak Rafi mendengarkan aku, memberi semangat, membuat aku merasa aman. Tapi ini berbeda… ini lebih dari itu.”
4689Please respect copyright.PENANAuP41WY9zKa
Rafi mendengarkan tanpa memotong. Mata penuh pengertian.
4689Please respect copyright.PENANAln81DEHIA0
"Aku tahu aku salah, Kak. Tapi setiap kali chat sama Kakak, setiap kali ngobrol di teras, hatiku tenang. Rasanya ada yang mengisi kekosongan setelah ayah pergi. Tapi aku takut umi tahu. Kalau umi tahu aku dekat dengan cowok, apalagi pacaran diam-diam, umi pasti kecewa berat. Bisa-bisa umi sakit lagi."
4689Please respect copyright.PENANABA5D0Nwv8O
Aku menunduk, memegang ujung cadar erat-erat. "Aku belum pernah punya cowok, Kak. Belum pernah pegang tangan, belum pernah ciuman, belum pernah apa-apa. Kak Rafi adalah yang pertama yang membuat hatiku bergetar seperti ini. Kadang-kadang aku malu sendiri… karena aku sadar tubuhku bereaksi aneh saat dekat dengan Kakak. Aku takut godaan ini setan."
4689Please respect copyright.PENANAnhBiDzNJhb
Rafi berbisik lembut, "Kita pelan-pelan aja, Zahra. Aku nggak mau buru-buru. Yang penting kita saling jaga iman."
4689Please respect copyright.PENANAdAHeFVLl7x
Aku mengangguk kecil, tapi dalam hati aku tahu: benih ini sudah tumbuh terlalu kuat. Aku takut umi tahu. Aku takut dosa. Tapi aku juga takut kehilangan rasa hangat yang Rafi berikan — rasa yang seolah menggantikan sosok ayah yang sudah pergi, membangkitkan perasaan perempuan dewasa yang selama ini aku tekan dalam-dalam di balik cadar.
4689Please respect copyright.PENANAacxeNjMhnB
Malam itu, setelah Rafi pulang, aku langsung ke kamar. Aku lepas cadar dan abaya, berdiri di depan cermin. Wajahku merah, mata berkaca-kaca. Payudaraku yang besar terlihat jelas di balik kaos longgar tidur. Aku menyentuh pelan dada kiriku, merasakan degupan jantung yang masih kencang.
4689Please respect copyright.PENANAAxuP7fOlaT
“Ya Allah… apa yang sedang terjadi padaku?”
4689Please respect copyright.PENANAyhTZHdzT7H
Aku tahu ini awal dari sesuatu yang indah sekaligus menakutkan. Rafi membuatku merasa hidup lagi setelah kehilangan ayah. Tapi kedekatan ini juga membawa risiko besar: kalau umi tahu, semuanya bisa hancur.
4689Please respect copyright.PENANANADpHjB5VG
Dan aku, Zahra yang selalu patuh, kini sedang berjalan di garis tipis antara taat dan hasrat yang baru pertama kali kurasakan.
4689Please respect copyright.PENANALR6xfblZ3t
4689Please respect copyright.PENANA2bagguKffM
4689Please respect copyright.PENANAvG90tpITP2


