Bab 3: Malam Pertama yang Gelap
Maya terbangun sebentar di tengah malam, tubuhnya masih hangat dari sisa-sisa orgasme tadi sore saat Yanto mengajaknya "istirahat sebentar" di kamar mandi suite sebelum makan malam resepsi kecil keluarga. Tapi sekarang, setelah tamu pulang dan Amel sudah tidur di kamar tamu lantai atas, rumah besar itu terasa hening luar biasa. Hanya suara AC pelan dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Yanto sudah mandi duluan, keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang, tubuh atletisnya berkilau karena sisa air, otot dada dan perutnya terlihat jelas di bawah lampu redup. kontolnya yang besar masih setengah tegang di balik handuk, membuat Maya menelan ludah tanpa sadar.
5281Please respect copyright.PENANArLCJSAOh2b
"Kamu belum tidur?" tanya Yanto sambil mendekat, senyum menawannya sekarang terlihat lebih gelap, lebih dalam. Maya duduk di tepi ranjang king size yang ditutupi seprai sutra hitam, gaun tidur tipis berwarna merah marun yang Yanto pilihkan tadi sore menempel ketat di tubuhnya. Payudara F cup-nya menonjol, puting pink sudah mengeras karena udara dingin AC dan antisipasi. "Gue... nervous," akunya jujur, suaranya pelan. Yanto tertawa kecil, suara tawanya bergema lembut di kamar luas itu.
5281Please respect copyright.PENANAj34pYWiPTz
"Nervous itu bagus. Artinya kamu masih merasakan sesuatu," katanya sambil duduk di samping Maya, tangan besarnya langsung menyentuh paha mulus Maya, naik perlahan ke bawah gaun. Jari-jarinya menyusuri kulit putih bagian dalam paha, membuat Maya menggigil. Aroma sabun pria mahal dari tubuh Yanto bercampur bau maskulin alaminya memenuhi hidung Maya, membuat kepalanya ringan. "Malam ini aku mau kasih kamu sesuatu yang beda, Maya. Sesuatu yang lebih... dalam."
5281Please respect copyright.PENANAPoaAj3THp4
Maya menatap mata Yanto, mata coklatnya penuh pertanyaan tapi juga rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan. "Apa maksud lo?" Yanto tak jawab langsung. Dia berdiri, berjalan ke lemari besar di sudut kamar, membuka laci rahasia yang Maya tak tahu ada. Dari sana dia mengeluarkan kain hitam panjang—blindfold sutra—dan sepasang tali kulit lembut tapi kuat. Maya menelan ludah lagi, jantungnya berdegup kencang. "Yanto... ini apa?"
"Ini sensasi baru, sayang. Kamu percaya aku kan?" suara Yanto lembut tapi ada nada perintah di dalamnya. Maya ragu sebentar, tapi ingat betapa Yanto sudah memperlakukannya dengan baik selama pendekatan, betapa dia membuat hidupnya dan Amel lebih mudah. Akhirnya dia mengangguk pelan. "Oke... tapi pelan-pelan ya."
5281Please respect copyright.PENANAiLm5KDW2Yi
Yanto tersenyum puas. Dia mendekat, memasang blindfold di mata Maya dengan hati-hati. Dunia Maya langsung gelap. Hanya suara napas Yanto, aroma tubuhnya, dan sentuhan jarinya yang terasa lebih intens. "Bagus. Sekarang tanganmu." Maya mengulurkan kedua tangan, merasakan tali kulit melingkar di pergelangan, lalu ditarik ke atas kepala dan diikat ke tiang ranjang. Posisinya sekarang setengah telentang, tangan terangkat, gaun tidur tersingkap hingga pinggul, vaginanya terbuka lebar di udara dingin. Angin AC menyentuh kristoriskecilnya yang sudah bengkak, membuatnya mendesah pelan.
5281Please respect copyright.PENANAVJlxeG8BW7
Yanto naik ke ranjang, berlutut di antara kaki Maya. "Kamu cantik sekali begini," bisiknya sambil jari telunjuknya menyusuri garis vagina Maya yang sudah basah. Maya menggeliat, "Yanto... sentuh gue lebih..." Yanto tertawa pelan. "Sabar, budak kecilku." Kata "budak" itu pertama kali keluar dari mulutnya malam ini, membuat Maya tersentak—tapi anehnya, bukan marah, melainkan getaran panas di perut bawahnya.
5281Please respect copyright.PENANA5mT2C6ZnLh
Foreplay dimulai lambat dan menyiksa. Yanto cium leher Maya dulu, lidahnya menjilat garis leher hingga ke telinga, gigit cuping kecil itu pelan. Cihup suara ciuman basah terdengar jelas di telinga Maya yang tertutup kegelapan. Lalu turun ke payudara besarnya. Gaun ditarik ke bawah, puting pink terpampang. Yanto hisap satu puting, lidah muter-muter di sekitar puting yang mengeras, sesekali gigit pelan. Pop suara saat dia lepas, lalu pindah ke yang satunya. Maya mendesah panjang, "Ahhh... enak... jangan berhenti..."
5281Please respect copyright.PENANAwqVa04FjFq
Tangan Yanto turun, jari tengah menyentuh kristoriskecil di atas vagina, menggosok pelan melingkar. Maya goyang pinggul, mencari lebih banyak gesekan. "Lebih cepat... please..." Yanto malah berhenti. "Tidak. Kamu harus tahan dulu." Maya menggeram kecil, sifat pemarahnya muncul. "Yanto! Jangan main-main!" Tapi Yanto hanya tertawa, lalu tampar ringan bokong bulat besar Maya. Plak! Suara itu bergema, meninggalkan sensasi panas menyenangkan. Maya terkejut, tapi vaginanya semakin basah.
5281Please respect copyright.PENANAIecoO5qHsS
Yanto turun lebih rendah, napas panasnya menyapu vagina Maya. Lidahnya menyentuh kristorisdulu, muter pelan, lalu menjilat seluruh bibir vagina. Slurp slurp suara basah terdengar jelas, aroma sperma alami Maya memenuhi ruangan. Maya jerit kecil, "Aku... aku mau cum..." Yanto angkat kepala. "Belum. Tahan." Maya menggigit bibir, tubuhnya gemetar menahan.
5281Please respect copyright.PENANA42HYS8kuWm
Tiba-tiba Yanto bergerak, Maya mendengar suara pintu kamar terbuka pelan—klik kecil yang hampir tak terdengar. Dia tak bisa lihat, tapi merasakan ada orang lain masuk. Udara berubah, ada aroma keringat pria lain, parfum berbeda. "Yanto... ada apa?" tanyanya panik. Yanto cium bibirnya untuk menenangkan. "Tenang, ini bagian dari sensasi. Percaya aku."
5281Please respect copyright.PENANAJrMtklC04e
Maya ingin protes, tapi Yanto sudah kembali menjilat vaginanya, membuat pikirannya kabur lagi. Lalu, tanpa peringatan, sesuatu yang lebih besar dari jari menyentuh bibir vaginanya. kontol Yanto? Tapi... rasanya beda sedikit, lebih tebal di ujung. Maya bingung, tapi sensasi penuh saat benda itu dorong masuk membuatnya melenguh. Plop masuk separuh, lalu dorong lagi hingga habis. Plok plok ritme maju mundur dimulai, suara kulit bertabrakan bergema.
5281Please respect copyright.PENANAb3q2oiHKKb
Maya desah panjang, "Yanto... lebih dalam... ahh!" Tapi di kegelapan, dia tak sadar kalau yang memasukinya sekarang bukan Yanto. Itu Budi, saudara Yanto yang lebih muda dua tahun, tubuh atletis mirip, kontol hampir sama besar. Budi dorong keras, tangannya remas bokong Maya, plak plak tamparan berulang membuat bokong memerah. Maya rasakan perbedaan ritme—lebih kasar, lebih cepat—tapi pikir itu Yanto yang lagi "main peran".
5281Please respect copyright.PENANAvpNCX90h7J
Setelah beberapa menit, kontol itu keluar, Maya merasa kosong sebentar. Lalu yang baru masuk lagi—kali ini lebih panjang, vena lebih menonjol. Itu Cakra, saudara Yanto yang paling tua, 48 tahun, tapi tubuh tetap kencang. Cakra dorong pelan dulu, lalu semakin dalam hingga menyentuh dinding paling dalam vagina Maya. Maya jerit nikmat, "Ya Tuhan... gede banget... ahhh!" Cakra tarik rambut panjang Maya, paksa kepala ke belakang, lalu dorong lebih keras. Plok plok plok suara semakin kencang, ranjang bergoyang hebat.
5281Please respect copyright.PENANALckgdgda3T
Maya tak tahu kalau sekarang Yanto duduk di kursi sudut kamar, memandang sambil pegang kontolnya sendiri, tersenyum gelap. Budi dan Cakra bergantian, kadang satu yang masukin vagina, yang lain hisap puting atau tampar bokong. Maya rasakan banyak tangan di tubuhnya—meremas payudara, mencubit puting, menjilat leher, menggosok kristoris Sensasi 5 indra membanjiri: suara desahan pria-pria itu, aroma keringat campur sperma Maya, rasa asin di bibir saat salah satu menciumnya, sentuhan kasar tali di pergelangan, dan rasa penuh yang tak henti-hentinya.
5281Please respect copyright.PENANAskFTJNgWK7
"Yanto... ini lo semua kan?" desah Maya di antara erangan. Tak ada jawaban langsung, hanya dorongan lebih keras. Maya orgasme pertama datang tiba-tiba, cairan orgasmenya muncrat deras, membasahi seprai. Tubuhnya kejang-kejang, "Aku cum... ahhhh!" Tapi mereka tak berhenti. kontol kedua masuk lagi, kali ini sambil getar listrik kecil dari mainan yang Yanto pasang di kristorisMaya. Getaran itu membuat Maya jerit lagi, orgasme kedua datang cepat, cairan orgasme mengalir tanpa henti.
5281Please respect copyright.PENANAJhfK4O843l
Mereka lanjut bergantian hampir satu jam. Maya kehilangan hitungan berapa kali orgasme, tubuhnya lemas tapi haus akan lebih. Akhirnya Yanto kembali, kontolnya yang paling dikenal masuk terakhir. "Sekarang giliran aku finis, sayang." Dia dorong keras, dalam, hingga Maya rasakan sperma hangat muncrat di dalam vaginanya, penuh dan meluap keluar. Yanto tarik blindfold pelan.
5281Please respect copyright.PENANAgr3UWS3mbk
Maya membuka mata, penglihatan kabur karena air mata kenikmatan. Dia lihat Yanto di atasnya, tersenyum puas. Tapi di sudut kamar, dua pria lain—Budi dan Cakra—sudah pakai handuk, tersenyum mirip Yanto. Maya tersentak, "Mereka... siapa?" Yanto cium keningnya. "Saudara-saudaraku. Keluarga kita suka berbagi, Maya. Dan mulai malam ini, kamu bagian dari kami."
5281Please respect copyright.PENANA1d35UurKUc
Maya ingin marah, ingin teriak, tapi tubuhnya terlalu lelah, terlalu puas. Emosinya campur aduk: shock, malu, tapi juga getaran aneh—sensasi dikuasai, didominasi oleh lebih dari satu orang, membuat sisi tersembunyi di dalam dirinya bergetar. "Lo... gila," gumamnya lemah. Yanto tertawa pelan, lepas ikatan tangannya, peluk tubuh gemetar itu. "Tidur dulu, sayang. Besok baru mulai yang sebenarnya."
5281Please respect copyright.PENANAKgAwcePPEp
Maya tertidur dalam pelukan Yanto, tak sadar kalau di luar kamar, Kevin—anak Yanto—sudah menunggu gilirannya, mata gelapnya penuh antisipasi. Malam pertama yang seharusnya romantis berubah menjadi pintu masuk ke dunia gelap dominasi keluarga Yanto. Maya tak tahu, Amel di lantai atas mendengar suara-suara samar, tubuhnya panas tanpa alasan, dan bayang-bayang itu mulai merayap ke arahnya juga.
5281Please respect copyright.PENANAYRerh1gSSL
Pagi menyingsing, Maya terbangun dengan tubuh pegal-pegal enak, bekas tamparan merah di bokong dan paha, vaginanya masih sensitif. Yanto sudah bangun, bawa sarapan ke ranjang. "Selamat pagi, istriku." Maya tatap dia, emosi rumit. "Apa yang lo lakuin semalem... itu normal buat lo?" Yanto tersenyum, jari menyentuh bibir Maya. "Itu baru permulaan. Kamu akan suka, Maya. Aku janji."
Maya diam, tapi di dalam hatinya, ada bagian kecil yang mulai penasaran—dan itu yang paling menakutkan.
5281Please respect copyright.PENANAZ5AKkyA9Cb
5281Please respect copyright.PENANAtQIdhtWmdZ
5281Please respect copyright.PENANA2yhBrMXMEl


