Bab 4: Hari 1 - Rasa Perangsang
Pagi pertama sebagai istri Yanto terasa seperti mimpi yang setengah nyata, setengah mimpi buruk. Maya terbangun dengan tubuh yang masih bergetar sisa kenikmatan malam tadi. Seprai sutra hitam kusut di sekitarnya, bekas ukiran merah samar di bokong bulat besarnya terasa perih tapi anehnya menyenangkan setiap kali bergesek dengan kain. vagina di antara pahanya yang masih sensitif, sedikit bengkak, dan setiap gerakan kecil membuat kristoriskecilnya berdenyut pelan. puting pink di payudara F cup-nya menekan begitu udara AC menyentuhnya. Rambut hitam panjangnya menempel di punggung berkeringat, dan matanya memikat coklat terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar suite yang megah.
6207Please respect copyright.PENANA0JOrMRjSGI
Yanto sudah tidak di kasur. Maya duduk pelan, kepalanya sedikit pusing. Bau sperma dan keringat pria masih menempel di kulitnya, aroma maskulin yang kini terasa lebih kuat setelah apa yang terjadi semalam. Dia ingat semuanya: penutup mata, tali, banyak tangan, banyak titit yang bergantian masuk ke vaginanya tanpa henti. Wajah Budi dan Cakra—saudara Yanto—masih jelas dalam ingatannya. Shock itu masih ada, tapi lebih aneh lagi, tubuhnya malah bereaksi dengan panas baru setiap kali mengingatnya.
6207Please respect copyright.PENANAzbxmgnYoVJ
Pintu kamar terbuka pelan. Yanto masuk membawa nampan perak berisi sarapan: roti panggang, telur mata sapi, jus jeruk segar, dan secangkir kopi hitam. Dia sudah rapi, kemeja putih digulung lengan, senyum menawan seperti biasa. "Pagi, istriku," sapanya lembut, tapi ada nada dominan yang tak bisa disembunyikan lagi. Maya tatap dia tajam, sifat pemarahnya langsung muncul.
6207Please respect copyright.PENANAoRuW3bnBrC
"Lo beneran gila, Yanto. Semalem lo bawa saudara lo masuk kamar kita? Gue istri lo, bukan mainan bersama!" suaranya naik, tapi tubuhnya masih lemas, tak bisa berdiri sepenuhnya.
6207Please respect copyright.PENANApvMSPw7Fbd
Yanto meletakkan nampan di meja samping kasur, lalu duduk di tepi kasur. Tangannya langsung menyentuh paha Maya, naik pelan ke vagina yang masih basah sisa malam. Maya menggeliat, tapi tak menolak. "Kamu marah? Tapi tubuhmu bilang lain, Maya. Lihat ini..." Jarinya menyentuh kristoriskecil, menggosoknya pelan. Maya mendesah tanpa sadar, "Ahh...jangan..."
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
6207Please respect copyright.PENANA988W5Cx1RP


