Bab 2: Pertemuan Tak Terduga
Hari itu dimulai seperti biasa bagi Maya, tapi ada sesuatu yang berbeda di udara. Hujan semalam meninggalkan udara di trotoar Tanah Abang, dan aroma tanah basah bercampur bau gorengan dari pedagang kaki lima membuat napasnya terasa lebih berat. Maya tiba di rumah makan "Sederhana Rasa" pukul 10 pagi, seragam rok pendek hitam dan kemeja putihnya sudah sedikit kusut karena naik angkot yang penuh. Payudara F cup-nya menekan kain kemeja, membuat beberapa kancing terasa ketat, dan bokong bulat besarnya bergoyang lembut setiap langkah. Dia tegas seperti biasa, langsung ambil buku pesanan dan mulai melayani meja-meja yang mulai ramai.
5975Please respect copyright.PENANAbVYygAvotX
Pelanggan datang silih berganti: pedagang kain yang berisik, karyawan kantor yang buru-buru, dan beberapa pelajar yang pesan nasi campur murah. Maya bergerak cepat, senyum profesional terpasang di wajahnya meski kakinya mulai pegal. “Mbak, tambah sambel dong,” kata seorang bapak-bapak sambil melirik ke arah dada. Maya langsung tatap tajam, mata coklatnya menyala. “Sambelnya tambah ya Pak. Tapi mata Bapak jangan ikut tambah,” balasnya tegas, suaranya dingin. Bapak itu tertawa gugup dan kembali fokus ke piringnya. Maya pemarah, tapi itu yang membuatnya disegani di sini. Tak ada yang berani macam-macam lagi setelah kejadian dia pernah melempar gelas ke pelanggan yang nakal setahun lalu.
Siang menjelang, rumah makan mulai penuh. Maya lagi antar pesanan ke meja pojok ketika pintu depan terbuka, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma parfum mahal yang asing. Dia menoleh sekilas, dan memunculkannya tertahan. Seorang pria masuk, tinggi sekitar 170 cm, tubuh atletis terlihat jelas di balik kemeja polo hitam yang pas badan, rambut hitam lurus tersisir rapi, dan senyum menawan yang seolah bisa melelehkan es. Wajahnya tampan, garis rahang tegas, mata hitam tajam tapi hangat. Yanto, 45 tahun, duda kaya raya pemilik beberapa bisnis properti dan restoran mewah di Jakarta Selatan. Dia jarang ke tempat seperti ini, tapi hari ini dia lagi bertemu di dekat sini dan lapar.
5975Please respect copyright.PENANAQYeJ4ig9ol
Yanto duduk di meja dekat jendela, buka menu dengan santai. Maya mendekat, buku pesanan di tangan. “Selamat siang, Pak. Mau pesan apa?” tanyanya dengan nada profesional, tapi ada suara kecil di suaranya saat muncul Yanto bertemu matanya. Yanto angkat kepala, senyumnya melebar. Matanya turun sekilas ke tubuh Maya—payudara besar yang menonjol, pinggang ramping, bokong bulat yang terlihat meski dari depan—lalu kembali ke wajahnya. "Satu nasi goreng spesial, teh manis, dan... satu senyum dari Mbak cantik ini," katanya pelan, terdengar dalam dan menggoda.
5975Please respect copyright.PENANAURHz3J5YNI
Maya merasa pipinya panas. Dia pemarah, biasanya langsung balas kasar kalau ada yang genit, tapi ada sesuatu di datangnya Yanto yang membuatnya diam sejenak. "Senyumnya gratis kok, Pak. Tapi pesanannya dulu ya," jawabnya tegas, tapi sudutnya hendak naik sedikit. Yanto tertawa kecil, suara tawanya hangat. "Baiklah. Tambahin ayam suwir ya, Mbak."
5975Please respect copyright.PENANAgabU8trdIR
Maya balik ke dapur, hati berdegup lebih cepat. "Siapa tuh? Keliatan kaya," gumamnya pada diri sendiri. Aroma di dapur tak bisa menutupi bau parfum Yanto yang masih menempel di ingatan masakannya. Dia antar pesanan, letakkan piring dengan hati-hati. "Ini pesanannya, Pak." Yanto angkat kepala lagi. “Terima kasih, Mbak…namanya siapa?” tanyanya sambil tatap mata coklat Maya dalam-dalam.
5975Please respect copyright.PENANAtTPRLEP9uA
Maya, jawabnya singkat, lalu berbalik. Tapi Yanto menelepon lagi. "Maya, boleh minta nomor HP-nya? Buat pesan makanan lagi kalau ke sini." Maya berhenti, balik badan. Matanya berbinar. "Pak, ini rumah makan, bukan aplikasi delivery. Datang aja langsung." Nada tegasnya kembali, tapi Yanto tak mundur. "Saya serius. Saya suka orang yang tegas kayak Mbak." Maya geleng kepala, tapi ada yang aneh di perutnya—sensasi yang lama tak dirasakan sejak suaminya pergi.
5975Please respect copyright.PENANArpvZubh2XH
Sepanjang siang, Yanto makan pelan-pelan, sesekali tatap Maya yang bolak-balik. Setiap kali Maya lewat, dia rasain itu seperti sentuhan fisik, membuat puting pink di dadanya membatasi sedikit di balik bra. Maya marah pada dirinya sendiri. "Gue gak gampang digoda," batinnya. Tapi saat Yanto bayar, dia menaruh uang lebih banyak di meja. "Buat Mbak Maya. Terima kasih pelayanannya." Maya mau tolak, tapi Yanto sudah pergi, tinggalkan kartu nama hitam elegan: "Yanto – CEO PT Harmoni Group". Maya memegang kartu itu, jantungnya berdegup.
5975Please respect copyright.PENANA0sp8DtM0e0
Malam itu, Maya pulang dengan pikiran campur aduk. Amel lagi di rumah, masak sayur asem. "Bu lo kenapa? Muka lo merah," tanya Amel curiga. Maya Geleng. “Capek aja.” Tapi di kamar mandi, Maya mandi lama, air hangat mengalir di tubuh langsingnya, tangan tanpa sadar menyentuh payudara besar, ingat datangnya Yanto. Sensasi itu membuat vagina di antara pahanya berdenyut pelan. "Gue gila apa," gumamnya, tapi tak bisa berhenti bayangin senyum menawan itu.
5975Please respect copyright.PENANAbqCCHZI0R8
Keesokan harinya, Yanto datang lagi. Kali ini dia pesan makanan yang sama, tapi duduk lebih lama. “Mbak Maya, boleh ngobrol sebentar?” tanyanya saat Maya antar minum. Maya ragu, tapi duduk di kursi sebelah setelah cek bosnya tak lihat. “Ada apa, Pak?” Yanto cerita sedikit tentang dirinya: duda, anak satu, bisnis properti. "Saya suka orang yang kuat kayak Mbak. Hidup Mbak pasti gak mudah." Maya terkejut, tapi tegas. "Hidup gue biasa aja. Gak perlu dikasihani." Yanto tersenyum. "Bukan sayang. Saya kagum."
5975Please respect copyright.PENANArbWiqNQ2JL
Pendekatan dimulai dengan pelan. Yanto datang hampir setiap hari, pesan makanan, ngobrol singkat. Dia ajak Maya makan malam di restoran dekat, "Cuma makan aja, Mbak. Gak ada maksud lain." Maya tolak berkali-kali, pemarahnya muncul. "Gue gak suka digombal!" Tapi Yanto sabar, kirim pesan lewat WhatsApp setelah Maya akhirnya kasih nomor karena "buat pesan antar kalau lagi sibuk". Pesannya sopan, lucu, kadang kirim foto makanan enak. Maya baca sambil tersenyum kecil, meski Amel curiga. "Bu, siapa yang ngobrol terus? Cowok ya?" tanya Amel suatu malam. Maya marah. "Urusan lo apa? Fokus kuliah!"
5975Please respect copyright.PENANAZRaOk88IZx
Tapi perlahan Maya luluh. Setelah sebulan, dia menyetujui makan malam pertama. Yanto jemput dengan mobil Mercedes hitam mengkilap. Maya memakai dress sederhana hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya, payudara F cup terlihat menggoda, bokong bulat besar membuat dress ketat di belakang. Yanto tatap lama saat Maya masuk mobil. "Mbak cantik sekali malam ini." Maya membalas dengan tegas, "Jangan lebay." Tapi hatinya berbunga.
5975Please respect copyright.PENANA762w3B79Du
Mereka makan di restoran rooftop mewah di SCBD. Aroma steak dan wine mahal memenuhi udara, cahaya kota besar berkilau di bawah. Yanto cerita lebih dalam: istrinya meninggal karena sakit, dia sendirian besarkan Kevin, anaknya yang 26 tahun. "Saya mencari teman yang bisa ngeti perjuangan," katanya. Maya cerita soal suami, air mata hampir jatuh. Yanto menggenggam tangannya pelan. Sentuhannya hangat, kuat. Maya tarik tangan, tapi lambat. "Gue gak mau buru-buru."
5975Please respect copyright.PENANAjQIjMo2a5X
Pendekatan berlanjut. Yanto ajak jalan-jalan akhir pekan, bawa Maya dan Amel ke mall besar. Amel awalnya tolak, "Bu, dia siapa? Keliatan licik." Tapi setelah lihat Yanto baik, Amel mulai terima. Yanto beli baju buat Amel, "Buat cucu gue nanti," goda dia. Amel tertawa, tapi Maya melihat ada aneh Yanto ke Amel—seperti predator lihat mangsa. Maya menenangkan pikiran itu.
5975Please respect copyright.PENANAlWwyLqsqwp
Setelah tiga bulan, Yanto melamar. Di villa pribadinya di Puncak, malam berbintang, dia berlutut. "Maya, nikah sama aku. Aku janji bahagiain kamu dan Amel." Maya menangis, campur bahagia dan takut. "Gue takut, Yanto. Gue cuma orang biasa." Yanto peluk dia erat. "Kamu luar biasa buat gue." Maya setuju.
5975Please respect copyright.PENANAvq9vmqoKtN
Pernikahan sederhana tapi mewah. Di ballroom hotel bintang lima, Maya memakai sarung tangan putih yang menonjolkan tubuh sensualnya, Amel pengiring pengantin cantik. Yanto tampan dalam tuxedo, senyum menawan. Malam itu, mereka pindah ke rumah mewah Yanto di kawasan elite Pondok Indah. Rumah besar, taman luas, kolam renang, kamar suite utama dengan kasur king size.
5975Please respect copyright.PENANANFKUuoQncH
Malam pertama, Maya gugup. Yanto bawa dia ke kamar, lampu redup, aroma mawar segar. “Kamu milikku sekarang, Maya,” bisik Yanto sambil peluk dari belakang. Tangan besarnya menjelajahi payudara besar Maya, jempol gosok puting pink yang berputar cepat. Maya menggelinjang, nafasnya cepat. "Yanto...pelan," desahnya. Yanto cium menirukan, lidah menembus kulit putih, aroma parfum maskulinnya bercampur keringat ringan. Maya rasain titit Yanto berputar di punggung, besar dan panas.
5975Please respect copyright.PENANAZvk2zOiGb6
Yanto putar tubuh Maya, cium bibir dalam. Lidah mereka bertemu, suara slurp basah terdengar. Tangan Yanto turun ke bokong bulat besar, remas kuat, plok suara mengeluarkan cahaya ringan membuat Maya mendesah. “Ahh… Yanto…” Yanto angkat Maya, baringkan di kasur. Dia buka gaun Maya pelan, mata gelap tatap tubuh telanjang: payudara F cup montok, vagina yang sudah basah, kulit putih bercahaya. "Kamu sempurna," gumamnya.
5975Please respect copyright.PENANAQwPV2AYkDR
Foreplay dimulai sensual. Yanto cium puting pink satu per satu, lidah muter pelan, suara pop saat dia hisap. Maya lengkungkan punggung, "Enak... lebih..." Yanto turun, cium perut rata, lalu ke vagina. Lidahnya jelajah kristoriskecil yang bengkak, slurp slurp basah, aroma sperma alami Maya memenuhi ruangan. Maya memegang rambut Yanto, pinggul goyang. "Yanto...gue gak tahan..."
5975Please respect copyright.PENANAjD8AERkYOW
Yanto naik, buka celana, titit 19 cm-nya tegak, vena menonjol. Maya tatap kagum, tangan gemetar memegang. “Besar…” Yanto arahkan ke vagina Maya, dorong pelan. Plop masuk, Maya jerit kecil nikmat. "Ahhh... penuh..." Yanto dorong maju mundur pelan dulu, lalu cepat. Suara plok plok memantulkan kulit menggemuruh, bergoyang-goyang. Maya desah panjang, "Lebih dalam... ahh!" Yanto remas payudara, cubit puting, membuat Maya orgasme pertama: cairan orgasme mengalir deras, tubuh gemetar, "Aku cum... Yanto!"
5975Please respect copyright.PENANAu8kWIlAI8O
Yanto lanjut, ganti posisi doggy. Bokong bulat besar Maya terangkat, Yanto tampar plakat , merah meninggalkan jejak. tititnya masuk lagi, dorong keras ke anal juga sedikit. Maya jerit, "Sakit...tapi enak!" Yanto tarik rambut panjang Maya, dominan. "Kamu milikku, Maya. Bilang!" Maya erang, "Gue milik lo... Master..." Kata itu keluar tanpa sadar, membuat Yanto tersenyum gelap.
5975Please respect copyright.PENANAgtU2KaAh3o
Mereka lanjut berjam-jam, posisi berganti-ganti, orgasme Maya berkali-kali. Akhirnya Yanto memuntahkan sperma hangat di dalam vagina Maya, penuh dan meluap. Maya ambruk, nafas tersengal, emosi campur bahagia dan ketakutan halus. Yanto peluk dia, bisik, "Ini baru awal, sayang." Maya lelah tersenyum, tak tahu rahasia gelap Yanto yang mulai terbuka: meliputinya ke Amel di pernikahan tadi, seperti predator siap menerkam.
5975Please respect copyright.PENANAW3YQzuV4ip
Malam itu, di rumah mewah, Maya tidur dalam pelukan Yanto, tubuhnya puas tapi hatinya mulai gelisah. Amel di kamar sebelah, dengar desahan samar, curiga tapi diam. Kehidupan baru dimulai, penuh kenikmatan tapi juga bayang-bayang dominasi yang perlahan mendekat.
ns216.73.217.24da2


