202Please respect copyright.PENANAf2TW6lyAfjBab 2
Bab 2: Kakek Perkasa
202Please respect copyright.PENANArh8Bf0dlP7
Malam pertama di rumah besar itu terasa seperti neraka yang lambat. Setelah kejadian di dapur dengan Reza, Silvia hampir berlari menuju kamar yang diberikan untuknya di lantai dua. Ia menutup pintu dengan keras, memutar kunci dua kali, lalu menyandarkan punggungnya ke kayu pintu yang dingin. Napasnya masih tersengal-sengal. Kedua tangannya gemetar hebat, seolah masih merasakan remasan kasar di pantatnya.
Kamar itu cukup luas dan mewah. Lantai kayu mengkilap, tempat tidur queen size berseprei putih bersih, lemari pakaian besar, dan jendela yang tertutup tirai tebal berwarna krem. Namun, kemewahan itu sama sekali tak memberi rasa aman. Silvia merasa seperti burung yang dimasukkan ke dalam sangkar emas.
Ia melepas hijabnya dengan tangan yang masih gemetar, meletakkannya rapi di atas meja. Rambut hitam panjangnya terurai hingga pinggang. Ia berganti ke gamis tidur biru muda yang longgar, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memegang Al-Qur’an kecil yang dibawanya dari panti. Ia mencoba membaca, tapi huruf-huruf itu kabur di depan matanya. Setiap kali ia menutup mata, wajah Reza yang menyeringai muncul, diikuti bayangan tangan kasar yang meremas tubuhnya.
“Ya Allah… lindungi hamba-Mu…” gumamnya pelan, suara serak.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.40. Suara dari lantai bawah perlahan menghilang. Tawa para pria sudah tak terdengar. Hanya keheningan yang menekan. Silvia mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu tidur kecil di sudut kamar yang memancarkan cahaya kuning redup. Ia berbaring menghadap dinding, memeluk bantal dengan erat, dan berusaha memaksa dirinya tidur.
Hampir satu jam berlalu. Matanya sudah mulai berat ketika tiba-tiba terdengar bunyi engsel pintu yang berderit pelan.
Silvia langsung duduk tegak. Jantungnya berdegup seolah mau keluar dari dada. “Siapa…?” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.
Bayangan seorang pria tua masuk ke dalam kamar. Langkahnya lambat, tapi penuh keyakinan. Kakek. Pria berusia sekitar tujuh puluhan itu masih berdiri tegap. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, wajahnya penuh kerutan dalam, dan matanya yang kecil menyala tajam di bawah cahaya lampu tidur. Ia mengenakan kaos oblong putih longgar dan celana pendek, seolah baru bangun dari tidur.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, kakek itu memutar kunci pintu dari dalam hingga terdengar bunyi “klik” yang keras dan final. Pintu terkunci. Kunci itu ia masukkan ke saku celananya.
Silvia langsung panik. Ia bangkit dari tempat tidur, mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding di samping lemari. “Kakek… kenapa…? Kenapa mengunci pintu?” suaranya gemetar hebat. “Saya sudah mau tidur. Kalau ada perlu, biar saya buka saja pintu… Kakek tidak seharusnya masuk begini…”
Kakek tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat pintu, menatap Silvia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu membuat bulu kuduk Silvia meremang. Ada sesuatu yang gelap dan lapar di mata tua itu.
Lalu ia melangkah mendekat. Satu langkah… dua langkah… tiga langkah. Setiap langkahnya terdengar keras di lantai kayu. Silvia ingin berteriak, tapi tenggorokannya seperti tersumbat. Ia mencoba menggeser tubuh ke samping, tapi ruang gerak sudah sempit.
Ketika jarak mereka hanya satu meter, kakek mengulurkan kedua tangannya. Jari-jari keriput yang masih kuat itu meraih kepala Silvia dengan cepat. Satu tangan mencengkeram rambut di sisi kiri, tangan lainnya di sisi kanan. Genggamannya erat, menyakitkan, hingga kulit kepala Silvia terasa tertarik.
“Diam, anak…” suara kakek terdengar serak, dalam, dan penuh nafsu. Bau tembakah dan obat-obatan tua menguar dari napasnya.
Sebelum Silvia sempat memalingkan wajah atau mendorong, wajah keriput itu sudah menempel. Bibir kering dan agak pecah-pecah milik kakek langsung melumat bibir Silvia dengan kasar. Ciuman itu tidak lembut sama sekali. Ia menekan kuat, menggerakkan bibirnya dengan rakus, lalu mendorong lidahnya yang agak kasar untuk memaksa masuk ke dalam mulut Silvia.
Silvia membelalak. Kedua tangannya langsung mendorong dada kakek dengan sekuat tenaga, tapi tubuh pria tua itu lebih berat dan kuat dari yang ia kira. Ia terjepit antara dinding dan tubuh kakek. Kepala yang ditahan kedua tangan membuatnya mustahil memalingkan wajah. Ia mencoba menutup mulut, tapi lidah kakek terus memaksa, menjilat, menghisap, dan menekan.
Air mata langsung mengalir deras di pipi Silvia. Rasa jijik yang luar biasa bercampur dengan ketakutan yang menusuk tulang. Napasnya tersengal, dada naik-turun dengan cepat. Ia mengeluarkan suara tercekik dari tenggorokan, tapi suaranya tertahan oleh bibir yang menutup mulutnya. Tubuhnya gemetar hebat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kakinya hampir lemas.
Kakek menikmati setiap detik perlawanan kecil itu. Ia menekan tubuhnya lebih dekat, hingga dada Silvia terasa sesak. Kedua tangannya tetap mencengkeram kepala gadis itu dengan kuat, seolah takut mangsanya kabur. Ciuman itu berlangsung lama, basah, dan kotor, memenuhi mulut Silvia dengan rasa pahit tembakah.
Ketika akhirnya kakek sedikit melepaskan bibirnya, tali air liur tipis masih menghubungkan mereka. Silvia terengah-engah, wajahnya basah oleh air mata, bibirnya merah dan bengkak. Ia ingin berteriak, tapi suara yang keluar hanya isakan lemah.
Kakek menatap wajahnya dari jarak dekat, matanya menyipit dengan senyum tipis yang mengerikan.
“Cantik sekali… salehah… tapi sekarang kamu milik keluarga ini,” gumamnya serak.
Silvia berdiri di sudut kamar, tubuhnya masih ditahan, sementara di luar jendela malam terus gelap dan sepi, seolah rumah besar itu menyembunyikan segalanya.
202Please respect copyright.PENANAPSPoRr07OO
Silvia hampir kehabisan napas.
Ciuman paksa yang berlangsung lama membuat paru-parunya terasa terbakar. Mulutnya dipenuhi lidah keriput yang kasar, bau tembakah yang menyengat, dan air liur pahit yang mengalir ke dagu. Kedua tangan kakek masih mencengkeram kepala dengan kuat, jari-jari tua itu mencengkeram rambutnya hingga kulit kepala terasa nyeri. Tubuhnya terjepit di antara dinding dan dada pria tua itu. Setiap kali ia mencoba mendorong, kekuatan yang tersisa hanya membuat tubuhnya semakin lemah.
Ketika akhirnya kakek melepaskan bibirnya, tali air liur masih menghubungkan mereka. Silvia terengah-engah keras, dada naik-turun dengan cepat. Air mata sudah membasahi seluruh wajahnya. Bibirnya bengkak, merah, dan bergetar. Ia ingin berteriak, tapi hanya isakan lemah yang keluar.
“Kakek… tolong… lepaskan… saya tidak mau…” suaranya serak dan terputus-putus.
Kakek tidak menjawab. Matanya yang kecil menyipit, menatap wajah Silvia dengan nafsu gelap yang sudah tak bisa disembunyikan. Ia mundur selangkah, lalu tangan keriputnya turun ke pinggang. Dengan gerakan yang santai tapi pasti, ia menarik turun celana pendeknya bersama celana dalam. Kontolnya yang sudah tegang sepenuhnya langsung terjuntai keluar.
Silvia membelalak. Napasnya tertahan total.
Kontol kakek itu… sangat besar. Diameter batang yang sudah mengeras itu hampir seukuran kaleng bir. Urat-urat tebal menonjol di sepanjang batang yang gelap dan sedikit berkerut karena usia, tapi kekerasannya tak diragukan. Kepala kontolnya besar, merah keunguan, dan sudah mengkilap oleh precum yang menetes. Panjangnya juga mengerikan—setidaknya dua puluh sentimeter atau lebih. Untuk ukuran pria tua, benda itu terlihat tidak manusiawi.
“Astaghfirullah… tidak… tidak mungkin…” gumam Silvia dengan suara gemetar. Matanya melebar karena ketakutan yang murni. Ia menggelengkan kepala dengan panik. “Kakek… jangan… itu terlalu besar… saya tidak bisa… tolong jangan…”
Kakek hanya tersenyum tipis. Senyum itu mengerikan. “Lihat baik-baik, anak. Ini yang akan mengajari kamu malam ini.”
Tanpa memberi waktu Silvia untuk melarikan diri, kedua tangan kakek kembali meraih kepala gadis itu. Jari-jarinya mencengkeram rambut dengan lebih kuat dari sebelumnya. Ia menarik kepala Silvia ke bawah dengan paksa hingga lutut gadis itu tertekuk dan jatuh ke lantai kayu. Posisi itu membuat wajah Silvia berada tepat di depan kontol raksasa yang mengacung.
“Buka mulut,” perintah kakek dengan suara serak.
Silvia menggelengkan kepala sekuat tenaga. Air mata terus mengalir. “Tidak… tolong… saya mohon… jangan…”
Kakek tidak sabar. Ibu jari dan jari telunjuknya menekan pipi Silvia dari kedua sisi hingga rahangnya terpaksa terbuka. Dalam sekejap, kepala kontol yang besar itu sudah menekan bibirnya. Silvia mencoba menutup mulut lagi, tapi tekanan jari kakek terlalu kuat. Kepala kontol yang panas dan basah itu mendorong masuk.
“Nggh—!”
Silvia tersedak hebat saat batang tebal itu memaksa masuk ke dalam mulutnya. Rahangnya terasa mau copot. Diameter yang hampir seukuran kaleng bir itu meregangkan bibirnya hingga sakit. Urat-urat tebal menggesek lidahnya. Rasa asin precum langsung memenuhi mulutnya. Ia mencoba mendorong batang itu dengan tangan, tapi kakek menahan kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan, sementara tangan satunya tetap mencengkeram rambut.
Kakek mendorong lebih dalam.
Kepala kontol menekan langit-langit mulut Silvia, lalu terus maju hingga menabrak bagian belakang tenggorokannya. Silvia tersedak keras. Air liurnya langsung mengalir deras dari sudut bibir. Matanya membelalak, air mata bercampur dengan rasa panik. Ia berusaha menarik napas lewat hidung, tapi batang yang memenuhi mulut membuatnya hampir mustahil.
“Tahan…” gumam kakek. “Lebih dalam lagi.”
Dengan satu dorongan kuat, kakek menekan kepala Silvia hingga kontolnya masuk mentok. Kepala kontol menembus tenggorokan dalam, memaksa otot-otot di sana meregang. Leher Silvia menonjol jelas dari luar. Silvia merasa seolah-olah akan mati. Udara benar-benar hilang. Tenggorokannya terbakar. Air mata mengalir deras, dan tubuhnya mulai kejang kecil karena kekurangan oksigen.
Kakek mulai menggenjot.
Ia menarik kepala Silvia keluar sedikit hingga hanya kepala kontol yang tersisa di mulut, lalu mendorong masuk lagi hingga mentok. Gerakan itu diulang dengan ritme yang semakin cepat. Setiap dorongan membuat tenggorokan Silvia berbunyi basah dan kotor. Suara “glok-glok-glok” yang jorok memenuhi kamar yang sepi. Air liur Silvia terus mengalir, membasahi dagu, leher, dan dada kakek.
Tiga menit pertama sudah membuat Silvia merasa hampir pingsan. Lima menit kemudian, ia benar-benar kehilangan kesadaran untuk beberapa detik. Kepalanya lemas, tapi kakek tetap menahan dan terus menggenjot. Ketika Silvia sadar kembali, kontol itu masih menumbuk tenggorokannya dengan brutal.
Ia tersedak hebat. Muntah mulai naik. Cairan kuning keputihan naik dari perut dan keluar menyembur di sekitar batang kontol yang masih memenuhi mulutnya. Muntahan itu mengalir ke lantai kayu, bau asam memenuhi udara. Tapi kakek tidak berhenti. Ia justru terlihat semakin terangsang.
“Bagus… terus muntah saja,” katanya serak sambil tetap menggenjot. “Tenggorokan kamu semakin longgar.”
Silvia pingsan untuk kedua kalinya. Ketika sadar, ia sudah dalam posisi yang sama—lutut di lantai, kepala ditahan, kontol raksasa masih menumbuk tenggorokannya. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap detik seperti siksaan. Rahangnya sudah kebas. Bibirnya robek kecil di sudut. Tenggorokannya bengkak dan terbakar. Air mata dan air liur sudah membasahi seluruh wajah dan dada.
Kakek menggenjot selama tiga puluh menit penuh tanpa henti.
Tiga puluh menit yang terasa seperti tiga jam. Silvia pingsan sebanyak lima kali. Setiap kali ia sadar, muntahan kembali naik. Lantai di sekitarnya sudah basah oleh air liur, air mata, dan muntahan. Tubuhnya gemetar hebat, hampir tak punya tenaga lagi. Kedua tangan yang semula mendorong kini hanya menggantung lemas di sisi tubuh.
Di menit ke-28, kakek mulai mengerang lebih keras. Dorongannya menjadi lebih dalam dan lebih kasar. Ia menahan kepala Silvia mentok di pangkal kontolnya, leher gadis itu menonjol maksimal. Silvia merasa seolah-olah tenggorokannya akan robek.
Kemudian kakek ejakulasi.
Semburan pertama yang sangat deras langsung menyembur ke dalam tenggorokan dalam Silvia. Cairan kental dan panas memenuhi kerongkongannya hingga ia tersedak hebat. Semburan kedua dan ketiga terus datang, memaksa Silvia menelan sebagian besar. Sisanya mengalir keluar dari sudut bibir dan hidungnya karena terlalu banyak. Kakek menahan posisi itu selama beberapa detik, menikmati kejang-kejang tenggorokan Silvia yang memijat kontolnya.
Baru setelah itu ia menarik keluar.
Kontol besar yang masih setengah tegang itu keluar dengan bunyi “plop” yang basah. Tali air liur dan peju masih menghubungkan kepala kontol dengan bibir Silvia yang bengkak dan terbuka. Silvia langsung terjatuh ke samping, batuk-batuk hebat sambil memuntahkan sisa peju dan air liur ke lantai. Tubuhnya kejang kecil, napasnya tersengal-sengal, wajahnya basah total.
Kakek berdiri di atasnya, menarik celana pendeknya kembali ke atas dengan tenang. Ia menatap Silvia yang tergeletak lemah di lantai dengan senyum puas.
“Malam pertama yang bagus,” katanya serak. “Besok kita lanjut.”
Tanpa menunggu jawaban, kakek membuka kunci pintu, keluar, dan menutupnya kembali seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Silvia tetap tergeletak di lantai kamar yang kini berbau muntahan dan peju. Tubuhnya gemetar hebat. Tenggorokannya terasa hancur. Bibirnya bengkak. Rahangnya nyeri luar biasa. Air mata terus mengalir tanpa henti.
Baru saat itu, di tengah kesakitan dan ketakutan yang mencekik, kesadaran yang mengerikan datang kepadanya.
Rumah ini bukan rumah keluarga.
Ini kandang buaya.
Dan ia sudah masuk ke dalamnya.202Please respect copyright.PENANAYNmkpIYmli


