299Please respect copyright.PENANAV7jnGi85QPBab 1
Chapter 1: Masa Kecil Silvia
299Please respect copyright.PENANASo5PyHgr5Q
Silvia lahir ke dunia ini sebagai yatim piatu yang tak pernah mengenal pelukan seorang ibu maupun ayah. Ibunya meninggal dunia karena komplikasi saat melahirkan, sementara ayah kandungnya lenyap tanpa jejak. Sejak usia beberapa hari, bayi Silvia dititipkan di Panti Asuhan Al-Hidayah, sebuah lembaga berbasis Islami yang terletak di pinggiran kota kecil yang sepi.
Di panti itu, Silvia dibesarkan dengan disiplin yang ketat namun penuh kasih. Para ustazah mengajarinya bukan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga menghayati setiap ayatnya. Setiap pagi pukul empat, ia sudah bangun untuk shalat Tahajud bersama penghuni panti lainnya. Hijabnya selalu rapi, gamisnya panjang hingga menutup mata kaki, dan suaranya yang lembut jarang terdengar kecuali saat melantunkan tilawah.
Meski lingkungan panti penuh kasih sayang, Silvia tumbuh dengan lubang besar di hatinya. Ia sering melihat anak-anak lain dikunjungi keluarga mereka, melihat teman-temannya diadopsi satu per satu, sementara ia tetap tinggal. “Kenapa aku selalu ditinggal, Ya Allah?” gumamnya dalam doa malamnya. Namun, ia tak pernah memberontak. Ia menjadikan kesabaran dan ketaatan sebagai perisai. Di usia 10 tahun, Silvia telah menjadi gadis yang cantik secara halus—kulitnya cerah, mata sipitnya teduh, dan senyumnya selalu penuh harap. Ia pandai memasak, menjahit, mengaji di panti, dan selalu menjadi teladan.
Suatu sore di bulan Rajab, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang panti. Dari dalam mobil keluar seorang pria paruh baya bernama Haji Mahmud, seorang pengusaha yang mengaku berasal dari kota besar. Ia datang bersama dua orang laki-laki lain yang ia perkenalkan sebagai saudaranya. Mereka mengatakan sedang mencari anak perempuan untuk diangkat sebagai anak, karena istri Haji Mahmud sudah lama meninggal dan mereka menginginkan kehadiran seorang putri yang salehah untuk menghidupkan rumah.
Proses adopsi berjalan cukup lama. Ada wawancara mendalam, pemeriksaan latar belakang keluarga, dan kunjungan berkali-kali ke panti. Silvia sempat bertemu dengan Haji Mahmud dua kali. Pria itu selalu tersenyum ramah, bicaranya lembut, dan sering menyebut ayat-ayat Al-Qur’an untuk menunjukkan ketaatannya. “Kami ingin memberi kamu keluarga yang utuh, Nak. Rumah besar, kamar sendiri, dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan,” katanya suatu hari sambil menatap Silvia dengan mata yang sulit dibaca.
Hati Silvia berdegup kencang. Setelah 10 tahun menunggu, akhirnya doanya dikabulkan. Ia menangis bahagia di pelukan Ummi Aisyah, ustazah yang selama ini menjadi ibu angkatnya.
“Ummi… aku takut ini mimpi,” bisik Silvia sambil tersedu. “Akhirnya aku punya ayah. Aku bisa punya keluarga yang menunggu pulangku setiap hari.”
Ummi Aisyah mengusap punggungnya dengan lembut, tapi ada keraguan kecil di matanya. “Berhati-hatilah, Nak. Doakan selalu agar Allah lindungi kamu di tempat baru.”
Malam sebelum keberangkatan, Silvia tak bisa tidur. Ia duduk di sajadahnya hingga larut, memohon perlindungan dan kebahagiaan. Ia membayangkan meja makan yang ramai, suara adzan dari masjid dekat rumah, dan kasih sayang seorang ayah yang akan menggantikan kekosongan selama ini. Ia bahkan menyiapkan hadiah kecil berupa Al-Qur’an kecil yang ia tulisi dengan tangannya sendiri untuk diberikan kepada ayah tirinya.
Keesokan paginya, mobil itu datang lagi. Silvia memeluk semua penghuni panti satu per satu. Air mata haru bercampur tawa. Dengan tas kecil di pangkuannya, ia melambai dari jendela mobil sambil tersenyum lebar.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir empat jam, Haji Mahmud banyak bercerita tentang rumah mereka yang besar, tentang saudara-saudaranya yang juga tinggal bersama, dan betapa senangnya mereka akhirnya memiliki seorang putri. Silvia mendengarkan dengan antusias, sesekali menjawab sopan. Sesekali ia merasa ada tatapan yang agak lama dari kaca spion, tapi ia menganggapnya sebagai perhatian seorang ayah baru.
Sore menjelang maghrib, mobil memasuki sebuah kompleks perumahan yang sepi di pinggir kota. Rumahnya besar, bercat putih dengan pagar tinggi. Saat pintu gerbang terbuka, Silvia melihat beberapa pria keluar menyambut. Haji Mahmud memperkenalkan mereka satu per satu: dua orang anak laki-lakinya yang sudah dewasa, seorang paman, dan seorang kakek yang sudah tua.
Silvia tersenyum malu-malu dan mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum… senang bertemu kalian semua.”
Mereka menjawab salam dengan ramah. Namun, saat ia melangkah masuk ke rumah yang luas itu, ada sesuatu yang terasa aneh. Udara terasa berat. Tak ada suara perempuan sama sekali. Tak ada aroma masakan ibu rumah tangga, tak ada tawa anak perempuan, tak ada hijab yang tergantung di gantungan.
Hanya ada laki-laki.
Malam itu, saat makan malam pertama, Silvia duduk di ujung meja dengan hijab yang masih rapi. Para pria itu makan sambil sesekali meliriknya. Tatapan mereka terasa berbeda—bukan tatapan ayah atau saudara, melainkan tatapan yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Haji Mahmud tersenyum lebar di ujung meja, matanya berkilat di bawah lampu ruang makan.
Silvia mencoba mengabaikannya. Ini pasti karena aku masih baru, batinnya. Mereka hanya ingin mengenal aku.
Ia tak tahu bahwa di balik senyum-senyum itu, di balik dinding rumah besar yang mewah, telah disusun rencana licik yang mengerikan—rencana yang sudah lama mereka siapkan khusus untuk seorang gadis yatim piatu yang salehah dan polos seperti dirinya.
299Please respect copyright.PENANALhOI9yXfbg
Makan malam berlangsung dalam suasana yang aneh. Meja makan panjang itu dipenuhi berbagai hidangan—ayam goreng, sayur asam, ikan bakar, dan sambal yang pedas. Para pria makan dengan lahap, sesekali tertawa sambil bercakap-cakap tentang urusan bisnis dan hal-hal yang tak Silvia mengerti. Haji Mahmud duduk di ujung meja seperti raja, sesekali melirik Silvia dengan tatapan puas. Dua kakak laki-lakinya—yang tertua bernama Reza (28 tahun) dan yang kedua bernama Andi (25 tahun)—juga tak henti-hentinya melirik ke arahnya. Paman dan kakek di seberang meja lebih pendiam, tapi mata mereka sesekali menyapu tubuh Silvia yang masih tertutup gamis panjang dan hijab.
Silvia makan dengan pelan, kepalanya sedikit menunduk. Ia berusaha tersenyum setiap kali diajak bicara, menjawab pertanyaan dengan sopan dan singkat. Tapi ia merasa ada yang tidak beres. Tak ada satu pun wanita di rumah ini. Suasana terlalu sepi untuk sebuah keluarga besar.
Setelah makan selesai, para pria mulai bangkit. Silvia, yang terbiasa membantu di panti asuhan, langsung berinisiatif membereskan meja. “Biarkan saya yang membereskan, Ayah… Kakak-kakak,” katanya pelan sambil berdiri dan mulai mengumpulkan piring-piring kotor.
Haji Mahmud tersenyum. “Wah, anak yang rajin sekali. Bagus, bagus.”
Reza, kakak tertua yang bertubuh tinggi tegap dengan jenggot tipis, ikut berdiri. “Biar aku bantu, Sil. Kamu tamu baru di sini, jangan capek-capek.”
Silvia mengangguk kecil, merasa sedikit lega ada yang membantu. Mereka berdua membawa tumpukan piring ke dapur yang cukup luas di belakang rumah. Suara langkah kaki mereka bergema di lorong yang temaram.
Di dapur, Reza meletakkan piring-piring di bak cuci sambil tersenyum. “Kamu benar-benar gadis yang baik, ya. Dari panti asuhan, tapi sudah terbiasa kerja keras. Jarang lho sekarang ada perempuan muda yang langsung beresin meja tanpa disuruh.”
Silvia tersipu, tangannya sibuk membilas piring. “Biasa saja, Kak. Di panti diajarkan begitu. Membantu itu bagian dari ibadah.”
Reza mendekat sedikit. “Ibadah… ya, kamu memang gadis salehah. Ayah bilang kamu hafal banyak Al-Qur’an. Hebat sekali.”
Tiba-tiba tangan Reza terulur, mengelus rambut Silvia yang tertutup hijab dengan lembut. Gerakan itu terasa hangat pada awalnya, seperti kasih sayang kakak. Silvia membeku, tapi ia mencoba tersenyum. Kemudian Reza menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Tubuh pria itu besar dan hangat, aroma parfum maskulinnya menyelimuti Silvia.
“Selamat datang di keluarga ini, adik kecil,” bisik Reza di dekat telinganya.
Sesaat Silvia merasa itu pelukan biasa. Namun tiba-tiba, tangan kanan Reza yang semula berada di punggungnya meluncur turun dengan cepat dan meremas bokongnya dengan kuat melalui kain gamis. Remasan itu kasar, penuh nafsu, dan sama sekali tak terduga.
Silvia tersentak kaget. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya langsung menegang seperti patung es. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa mau meledak. Ia ingin berteriak, ingin mendorong, tapi ketakutan membelenggu lidahnya. Ini pasti salah… Ini pasti tidak sengaja… batinnya berusaha membela, tapi instingnya berteriak sebaliknya.
Reza menahan pelukannya beberapa detik lebih lama, menikmati ketegangan di tubuh gadis itu. Lalu ia melepaskan pelukan, mundur selangkah, dan tersenyum menyeringai lebar. Senyumnya tidak ramah lagi—ada kilatan gelap di matanya, seperti predator yang baru mencicipi mangsa.
“Kenapa tegang begitu, Sil? Santai saja. Ini rumah kamu sekarang,” katanya dengan suara rendah, hampir seperti ejekan. Tatapannya menelusuri wajah Silvia yang memucat sebelum akhirnya ia berbalik dan keluar dari dapur seolah tak terjadi apa-apa.
Silvia berdiri diam di depan bak cuci piring. Tangan dan kakinya gemetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia buru-buru mengusapnya. Ia mencoba bernapas pelan, mengulang ayat-ayat pendek dalam hati untuk menenangkan diri. Mungkin… mungkin aku salah paham. Ini hari pertama. Pasti Kak Reza hanya bercanda…
Tapi getaran di tubuhnya tak mau hilang. Malam itu, saat ia akhirnya masuk ke kamar yang disediakan untuknya—kamar yang cukup besar dan mewah di lantai dua—ia langsung mengunci pintu. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya sambil menggigil.
Rumah ini terasa semakin asing. Di luar kamar, ia masih mendengar suara tawa para pria dari ruang tengah. Suara yang tadinya ia anggap hangat, kini terdengar mengancam.
Ia tak tahu bahwa ini baru permulaan dari rencana licik yang telah mereka susun lama.299Please respect copyright.PENANAonn4VxVEfI


