Bab 1: Godaan yang Terpergok
677Please respect copyright.PENANAoOXnbFdID4
Rumah mewah di pinggiran kota itu berdiri megah di atas tanah seluas dua hektar. Taman tropis hijau menghiasi halaman depan, kolam renang biru berkilau di belakang, dan garasi yang muat untuk lima mobil mewah. Laras baru saja menyelesaikan minggu pertamanya sebagai pembantu rumah tangga di sini. Usianya 25 tahun, kulit sawo matang yang selalu mengkilap karena keringat kerja, tubuhnya padat dan menggoda. Payudaranya yang berukuran J-cup montok hasil operasi beberapa tahun lalu selalu menekan kain seragam hitam-putih yang dikenakannya. Bokongnya yang monster, bulat dan kencang, bergoyang sedikit setiap kali ia berjalan menyapu lantai marmer.
677Please respect copyright.PENANAJp5OKpsZDJ
Laras datang dari desa kecil. Ia butuh uang untuk keluarga. Tuan rumah, Pak Budi, pria 48 tahun bertubuh tegap dan kaya raya, menerimanya dengan syarat bekerja tinggal di rumah. Anaknya, Rio, 22 tahun, jarang terlihat di siang hari karena kuliah. Laras menjaga sikap profesional. Senyum sopan, gerakan cepat, dan suara lembut. Tapi di balik itu, ada api yang selalu menyala di tubuhnya. Nafsunya tinggi, terutama setelah tubuhnya dimodifikasi. Payudaranya sensitif, memeknya rapat tapi mudah banjir cairan saat terangsang.
677Please respect copyright.PENANAuLqroLPIjp
Hari itu cuaca panas sekali. Laras sudah membersihkan ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar utama sejak pagi. Keringat membasahi seragamnya, membuat kain tipis menempel di kulit sawo matangnya. Payudaranya terasa berat dan penuh, puting-putingnya mengeras menggesek bra. “Astaga… sudah dua hari ini aku tahan,” gumamnya pelan sambil mengelap meja di kamar Rio yang kosong.
677Please respect copyright.PENANAPkpgvzSwcD
Kamar Rio luas, dengan tempat tidur king-size dan pendingin ruangan yang sejuk. Laras seharusnya hanya membersihkan, tapi aroma maskulin pemuda itu campuran parfum mahal dan bau tubuh muda membuat memeknya berdenyut. Ia menutup pintu kamar, jantungnya berdegup kencang. “Cuma sebentar… cepat selesai,” bisiknya pada diri sendiri.
677Please respect copyright.PENANAtQClPlKn24
Laras duduk di pinggir tempat tidur Rio, rok seragamnya diangkat pelan. Tangannya yang halus menyusup ke balik celana dalam katun putihnya. memeknya sudah basah. Jari tengahnya menyentuh ceri kecil yang menonjol, menggosok pelan dengan gerakan melingkar. “Hhnn…” desahnya lembut. Sensasi hangat menyebar dari pangkal paha ke seluruh tubuh. Ia membayangkan kontol besar yang keras, membayangkan tekanan saat masuk perlahan ke dalam memeknya yang rapat.
677Please respect copyright.PENANAuW5zn66W13
Jari-jarinya semakin cepat. Satu jari masuk, lalu dua. Cairan bening kental keluar, membasahi telapak tangannya. Suara basah “slosh… slosh…” terdengar pelan di kamar sejuk itu. Payudaranya naik turun mengikuti napas yang semakin berat. Ia meremas salah satu buah dadanya sendiri, mencubit puting keras hingga rasa nyeri nikmat membuat pinggulnya terangkat. “Ahh… enak… lebih dalam…” gumamnya, mata setengah terpejam.
677Please respect copyright.PENANAmhwo9pt1Ey
Bayangan seorang pria kuat yang menindihnya, memasukkan kontol tebal dengan satu hentakan kuat, membuatnya semakin liar. Jari-jarinya keluar masuk memeknya dengan irama cepat. Cairan cairan orgasme beningnya menetes ke seprai putih Rio. Bau manis khas nafsu wanita memenuhi udara. Kakinya terbuka lebar, lutut gemetar. Ceri kecilnya berdenyut hebat, siap meledak.
677Please respect copyright.PENANA2U8wO986mT
Tepat saat gelombang kenikmatan mulai naik ke puncak, pintu kamar terbuka dengan pelan.
677Please respect copyright.PENANAjmF5RsooTZ
Rio berdiri di ambang pintu, tas kuliah masih di bahunya. Matanya melebar melihat pemandangan di depannya. Pembantu baru yang cantik itu sedang duduk di tempat tidurnya, rok terangkat, tangan di antara paha yang terbuka, jari-jari basah mengkilap keluar masuk memek montoknya. Wajah Laras memerah, bibirnya terbuka mengeluarkan desahan kecil yang belum sempat ditahan.
677Please respect copyright.PENANAg81xqYG49f
“Wah… wah…” Rio tersenyum lebar, suaranya rendah dan penuh godaan. “Pembantu baru di rumah ini suka main sendiri di kamar majikan ya?”
677Please respect copyright.PENANA2OEgRCiyqX
Laras tersentak. Tubuhnya membeku. Jari-jarinya masih di dalam memeknya yang berdenyut. Cairan cairan orgasmenya masih menetes pelan ke seprai. Wajahnya memanas hebat, campuran malu dan sisa kenikmatan. “Ma-mas Rio… ini… saya… maaf!” katanya tergagap, buru-buru menarik tangan dan menurunkan rok. Tapi noda basah di seprai dan bau nafsu yang masih menggantung di udara tak bisa disembunyikan.
677Please respect copyright.PENANAcsERz5vvFP
Rio menutup pintu di belakangnya dan menguncinya. Tubuhnya tinggi, otot terlatih dari gym, wajah tampan dengan senyum nakal. Ia meletakkan tas dan mendekat perlahan. “Jangan buru-buru tutupi, Mbak Laras. Aku sudah lihat semuanya. memekmu basah sekali… dan baunya manis.”
677Please respect copyright.PENANAikuKjb880q
Laras mundur ke kepala tempat tidur, lututnya masih gemetar. Payudaranya naik turun cepat karena napas panik. “Mas… tolong jangan bilang ke Pak Budi. Saya butuh kerja ini. Saya janji tidak akan ulangi…”
677Please respect copyright.PENANALYOiRtFzll
Rio duduk di pinggir tempat tidur, matanya menelusuri tubuh Laras dari payudara montok hingga paha yang masih mengkilap keringat dan cairan. “Oh, aku tidak akan bilang… asal Mbak mau kerjasama.” Tangannya terulur, menyentuh paha Laras dengan lembut tapi penuh kuasa. Kulit sawo matang itu hangat dan licin.
677Please respect copyright.PENANAVpustSmPDb
Laras menggigil. Sentuhan Rio membuat cerinya berdenyut lagi. “Kerjasama… apa maksud Mas?”
677Please respect copyright.PENANAZBXUCz8fkw
Pemuda itu tersenyum lebar. “Mulai sekarang, Mbak Laras adalah milik aku dan Ayah. Tapi kita mulai pelan. Hari ini, aku mau lihat lebih jelas bagaimana Mbak main sendiri. Lanjutkan. Aku mau nonton.”
677Please respect copyright.PENANAgRjBox2kBK
Laras menggeleng pelan, air mata malu menggenang di matanya. Tapi tubuhnya berkhianat. memeknya masih basah, berdenyut minta diisi. Nafsunya yang gila mulai bangkit lagi melihat kontol Rio yang sudah menonjol besar di balik celana jeansnya.
677Please respect copyright.PENANAzwDI7GOauv
“Kalau tidak… aku foto dan kirim ke Ayah. Atau ke grup keluarga,” ancam Rio sambil mengeluarkan ponsel.
677Please respect copyright.PENANAyobM5puN1c
Laras menggigit bibir. Tubuhnya panas. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia mengangkat rok lagi. Jari-jarinya kembali menyentuh memek yang sudah banjir. Rio menonton dengan mata lapar, napasnya semakin berat.
677Please respect copyright.PENANAkaAlPyCwWL
“Bagus… gosok cerinya lebih cepat,” perintah Rio dengan suara serak.
677Please respect copyright.PENANAKGI4RNkMmC
Laras menurut. Desahannya kembali keluar, lebih keras kali ini. “Hhnn… ahh…” Suara jari basah “slosh-slosh” semakin jelas. Rio mendekat, tangannya meremas payudara Laras dari luar seragam. putingnya keras sekali.
677Please respect copyright.PENANAG1b8BuQW3Y
Sensasi itu membuat Laras hampir gila. Malu, takut, tapi juga sangat terangsang. Rio membuka ritsleting celananya, mengeluarkan kontol besar yang sudah tegang, panjang dan tebal, kepalanya mengkilap cairan awal.
677Please respect copyright.PENANA7yXwTEQL5X
“Lihat ini, Mbak. Ini yang akan masuk ke memekmu suatu hari nanti,” bisik Rio di telinga Laras sambil menggoyang kontolnya pelan di depan wajah pembantu itu.
677Please respect copyright.PENANArb9gb3BvN9
Laras menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Bau maskulin kontol Rio membuat kepalanya pusing. Jari-jarinya semakin cepat di memeknya sendiri. Gelombang orgasme mulai mendekat lagi.
677Please respect copyright.PENANAbr6apA3KHB
“Mas… saya… mau keluar…” erangnya.
677Please respect copyright.PENANAATOH393ypD
Rio tersenyum puas. “Keluarlah. Tapi ingat, ini baru permulaan.”
677Please respect copyright.PENANAfbNnTpCetr
Tubuh Laras mengejang. cairan orgasme bening squirt keluar dari memeknya, membasahi tangan dan seprai Rio. Ia menjerit kecil, kaki gemetar hebat, air mata mengalir di pipi sawo matangnya. Rio hanya menonton dengan senyum dominan, kontolnya berdenyut ingin segera mencicipi.
677Please respect copyright.PENANA6t6Y4rhW3m
Malam itu, Laras tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tubuhnya sudah mulai ketagihan sensasi baru yang berbahaya. Dan Rio baru saja membuka bab pertama dari kehancurannya yang nikmat.
677Please respect copyright.PENANAICP36wHnas


