Bab 2: Rasa Pertama yang Terlarang
462Please respect copyright.PENANAKdw4h9ztnJ
Laras masih terduduk di tempat tidur Rio dengan napas tersengal. memeknya berdenyut pelan, sisa cairan orgasme orgasme menetes pelan ke seprai yang sudah basah. Kakinya gemetar tak terkendali, air mata malu mengalir di pipi sawo matangnya yang memerah. Rio berdiri di depannya, kontol besarnya masih terpampang tegak, kepala mengkilap cairan awal yang bening. Bau maskulin yang kuat memenuhi kamar sejuk itu.
462Please respect copyright.PENANAyP15IIB4sZ
“Mas… tolong… cukup sudah,” pinta Laras dengan suara bergetar. Payudaranya yang montok masih naik turun cepat, puting-putingnya menonjol keras di balik seragam basah keringat.
462Please respect copyright.PENANAvqoGWxO1ip
Rio tersenyum tipis, tangannya menggenggam kontolnya sendiri dan menggosok pelan di depan wajah Laras. “Cukup? Baru permulaan, Mbak Laras. Kamu sudah basah sekali tadi. Tubuhmu jujur, meski mulutmu bohong.” Ia mendekat, ujung kontolnya hampir menyentuh bibir pembantu itu. “Kalau tidak mau aku kirim foto dan video ke Ayah, kamu harus patuh hari ini.”
462Please respect copyright.PENANAqrTrnAQ9hZ
Laras menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air mata semakin deras. Tapi di balik rasa malu yang membakar, ada panas aneh yang menyebar dari memeknya. Nafsunya yang gila mulai bangkit lagi. Bau kontol Rio yang segar dan kuat membuat mulutnya berair tanpa sadar.
462Please respect copyright.PENANApuZh11Oqza
“Dekatkan wajahmu,” perintah Rio tegas tapi lembut.
462Please respect copyright.PENANAfGmctHtIPa
Dengan tangan gemetar, Laras mendekatkan wajahnya. Napas hangatnya menyapu kontol Rio. Pemuda itu mendesah pelan saat bibir lembut Laras hampir menyentuh kulit panas itu. “Cium dulu. Pelan-pelan.”
462Please respect copyright.PENANAqtdNnjDqKe
Laras menutup mata, air mata menetes ke kontol Rio. Ia mencium ujungnya dengan bibir gemetar. Rasa asin manis cairan awal Rio menyentuh lidahnya. “Hh…” desah kecil keluar dari mulutnya. kontol itu berdenyut di depan wajahnya, panas dan hidup.
462Please respect copyright.PENANAmVUEAU1DGY
“Bagus. Sekarang jilat dari bawah ke atas,” Rio memegang rambut Laras pelan, membimbingnya.
462Please respect copyright.PENANArJrsFbzZNS
Laras menurut. Lidahnya yang hangat menjilat dari pangkal kontol Rio yang tebal hingga ke kepala yang mengkilap. Suara basah “slurp…” terdengar. Rasa dan bau maskulin memenuhi indranya. memeknya kembali basah, cairan orgasme bening mengalir pelan ke paha dalamnya.
462Please respect copyright.PENANAONJUzqsnEy
Rio mengerang pelan. “Enak sekali lidahmu… Lanjutkan. Masukkan ke mulut.”
462Please respect copyright.PENANAlBJmh5PYZa
Laras membuka mulutnya lebar. Kepala kontol Rio masuk perlahan ke rongga hangatnya. Bibirnya meregang mengelilingi batang tebal itu. “Mmmph…” suara tertahan keluar dari tenggorokannya. Ia mulai menggerakkan kepala maju mundur pelan, lidahnya menari di sekeliling kepala kontol.
462Please respect copyright.PENANAitBHQpWRV8
Rio memegang rambut Laras lebih erat. Pinggulnya maju pelan, mendorong kontolnya lebih dalam. “Ya… seperti itu. Hisap lebih kuat, Mbak. Bayangkan ini sedang masuk ke memekmu yang basah tadi.”
462Please respect copyright.PENANAHLAxQGPhkb
Kata-kata kotor itu membuat Laras menggigil. memeknya berdenyut hebat, cerinya membengkak. Ia menghisap lebih kuat, pipinya cekung. Suara “gluck… gluck…” basah memenuhi kamar. Air liurnya menetes ke kontol Rio, membuatnya semakin licin dan mengkilap.
462Please respect copyright.PENANAv2W7HUVfEy
Pemuda itu mendesah nikmat. “Kamu cepat belajar. Payudaramu besar sekali… keluarkan.”
462Please respect copyright.PENANASFTn1eGRWx
Laras melepaskan kontol Rio sebentar, napasnya tersengal. Dengan tangan gemetar ia membuka kancing seragam atasnya. Payudara J-cup montoknya melompat keluar, berat dan penuh, puting cokelat gelap menonjol keras. Rio langsung meremas keduanya kasar, mencubit puting hingga Laras menjerit kecil.
462Please respect copyright.PENANANZvzQOl6FC
“Ahh! Sakit… tapi… enak,” erangnya tanpa sadar.
462Please respect copyright.PENANAmpwfMPEfRu
Rio tersenyum puas. “Masukkan lagi ke mulut.”
462Please respect copyright.PENANAx8A9d328Hb
Laras kembali menelan kontol Rio. Kali ini lebih dalam. Kepala kontol menyentuh tenggorokannya, membuatnya tersedak tapi tak mau melepaskan. Air mata mengalir, campur air liur yang menetes ke payudaranya sendiri. Rio mulai menggerakkan pinggul lebih cepat, fucking mulut Laras dengan irama sedang.
462Please respect copyright.PENANA15Gr2fsqBX
“Slurp… gluck… gluck…” Suara basah dan erangan keduanya bercampur.
462Please respect copyright.PENANAw2J516krBz
memek Laras sudah banjir. Ia menyelipkan satu tangan ke bawah, menggosok cerinya sendiri sambil menghisap. Rio melihat itu dan tertawa pelan. “Kamu memang binal. Main sendiri lagi sambil ngisap kontol majikan.”
462Please respect copyright.PENANAlWpT3cHM44
Laras hanya bisa mendesah di sekitar kontol tebal itu. Sensasi penuh di mulut, rasa asin manis, bau kuat, dan tangan Rio yang meremas payudaranya membuat otaknya berkabut kenikmatan. Malu masih ada, tapi nafsu jauh lebih kuat.
462Please respect copyright.PENANAnCoWBEnX3O
Rio semakin cepat. kontolnya berdenyut di dalam mulut Laras. “Aku mau keluar… terima di mulut ya.”
462Please respect copyright.PENANAnzWeBV36wH
Laras mengangguk kecil, matanya memohon. Beberapa detik kemudian, Rio mengerang panjang. sperma panas kental menyembur deras ke tenggorokan Laras. “Ughh… minum semuanya!”
462Please respect copyright.PENANAcs9ciYCXG7
Laras tersedak, tapi menelan sebanyak mungkin. Beberapa sperma lolos dari sudut bibirnya, menetes ke payudara montoknya. Rasa asin pahit manis memenuhi mulutnya. Tubuhnya mengejang, orgasme kedua datang hanya dari menggosok memeknya sendiri. cairan orgasme bening squirt lagi, membasahi lantai kamar.
462Please respect copyright.PENANAUFhjVrWj0Q
Rio menarik kontolnya keluar, masih setengah tegang dan mengkilap campuran air liur serta sperma. Ia mengusap sisa sperma di bibir Laras. “Bagus sekali untuk pertama kali. Mulutmu enak, Mbak Laras.”
462Please respect copyright.PENANArj5JKT7T0C
Laras terduduk lemas, napas tersengal, wajah basah air mata dan sperma. Payudaranya merah bekas remasan, memeknya masih berdenyut pelan mengeluarkan sisa cairan orgasme. “Mas Rio… saya… sudah patuh. Jangan bilang ke siapa-siapa ya…”
462Please respect copyright.PENANA6BgXihPKQd
Rio duduk di sampingnya, tangannya menyusuri paha Laras yang licin. “Belum cukup. Ini baru awal. Mulai besok, kamu tidak boleh pakai celana dalam di rumah. Dan setiap malam, kamu harus lapor ke kamar aku atau Ayah.”
462Please respect copyright.PENANA3FyKx7Ffyn
Laras membelalak. “Ayah… maksud Mas?”
462Please respect copyright.PENANAfUQTTJKfQn
Rio tersenyum misterius. “Ayah juga suka mainan baru yang cantik seperti kamu. Tubuhmu terlalu menggoda untuk hanya aku saja.”
462Please respect copyright.PENANAsSW2MW4haT
Laras merasa dunia berputar. Malu, takut, tapi memeknya kembali berdenyut hanya mendengar ancaman itu. Nafsunya yang gila mulai membuatnya ketagihan sensasi baru ini.
462Please respect copyright.PENANA6rnwAtGEpi
Rio berdiri, merapikan celana. “Bersihkan kamar ini. Besok lanjut lagi. Dan ingat, kalau melawan… semuanya akan tahu betapa binalnya pembantu baru ini.”
462Please respect copyright.PENANAQP1H1jqVWw
Setelah Rio keluar, Laras ambruk ke tempat tidur. Tubuhnya lemas, tapi pikirannya penuh bayangan kontol besar Rio dan kemungkinan kontol Pak Budi yang katanya super tebal. Ia menyentuh memeknya yang masih basah, menggigit bibir.
462Please respect copyright.PENANAeag2wtu30d
“Apa yang aku lakukan…” bisiknya. Tapi jari-jarinya kembali bergerak pelan, membayangkan apa yang akan terjadi besok.
462Please respect copyright.PENANAAWz65h5opW
Malam semakin larut. Di rumah mewah itu, permainan gelap baru saja dimulai. Laras, pembantu cantik itu, sudah berada di ambang kehancuran yang penuh kenikmatan terlarang.
462Please respect copyright.PENANArPPGLe6ddq


