114Please respect copyright.PENANAweQzurUnQaHafisha baru saja selesai membantu menyusun laporan OSIS di sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, koridor sekolah mulai sepi. Ia masih mengenakan pakaian yang cukup sopan: baju putih panjang lengan dengan kain tipis yang sedikit transparan, rok abu-abu yang agak ketat, dan hijab segi empat warna senada. Namun di balik baju putih itu, ia hanya memakai tanktop tipis putih tanpa BH — kebiasaannya di rumah yang kadang masih ia pakai ketika keluar sebentar.
Tubuh mungilnya terasa gerah setelah bolak-balik seharian. Putingnya yang kecil samar terlihat dari balik dua lapis kain tipis saat ia bergerak.
Tiba-tiba tiga cowok OSIS kelas 12 muncul di depan pintu ruangan.
Revan (18 tahun, ketua OSIS, tinggi dan berwajah tegas): "Kak Hafisha, kita sudah nunggu laporan Kakak dari kemarin. Kok belum jadi juga? Deadline event sekolah tinggal dua hari lagi loh."
Hafisha menggigit bibir bawahnya, wajahnya langsung memerah. Ia menunduk sedikit sambil merapikan hijabnya.
Hafisha: "Maaf Rev… Kakak benar-benar lupa. Kemarin pulang langsung bantu orang tua di rumah, capek banget. Besok pagi Kakak usahain selesai ya…"
Rian (18 tahun, badannya paling besar dan berotot): "Wah, nggak bisa gitu dong Kak. Kalau semua alumni kayak Kak Hafisha, OSIS jadi berantakan."
Mereka bertiga saling pandang, lalu masuk ke ruang OSIS. Revan menutup pintu di belakangnya, tapi belum mengunci. Suasana langsung terasa berbeda.
Revan tersenyum tipis sambil memandang Hafisha dari atas ke bawah.
Revan: "Kak Hafisha kan dulu senior yang paling cantik di OSIS. Baru lulus kok sudah suka bikin kami khawatir. Harus ada hukuman biar Kakak ingat lain kali."
Hafisha mundur selangkah hingga pinggulnya menyentuh meja. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Hafisha: (suara agak gemetar) "Hukuman apa? Jangan macam-macam ya… Kakak kan cuma telat laporan doang."
Dika (18 tahun, paling cuek dan paling tinggi): "Hukuman ringan aja kok, Kak. Tapi… tergantung kerjasama Kak Hafisha."
Revan mendekat perlahan. Tangannya menyentuh lengan Hafisha dengan lembut, seolah sedang menenangkan.
Revan: "Kak, baju Kakak tipis banget hari ini. Tanktop di dalamnya kelihatan… Kakak nggak pakai BH ya?"
Hafisha langsung memeluk dadanya sendiri, wajahnya semakin merah.
Hafisha: "Revan! Jangan ngomong gitu… ini… ini nggak sopan."
Narasi: Meski malu, Hafisha merasakan sensasi hangat yang aneh di perutnya. Ketiga junior yang dulu ia anggap adik kelas ini sekarang memandangnya dengan tatapan lapar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rian tertawa pelan.
Rian: "Kak Hafisha malu-malu gitu malah bikin kami tambah penasaran. Coba Kakak lepas hijab dulu, biar lebih santai. Kita kan cuma mau ngobrol."
Hafisha: "…kalian janji ini cuma hukuman ringan ya? Nggak lebih dari itu?"
Revan: "Tergantung Kakak. Kalau Kakak patuh, mungkin besok nggak perlu hukuman lagi."
Narasi: Suasana ruangan semakin tegang. Hafisha masih memeluk dadanya, tapi ia tidak langsung kabur. Ada rasa penasaran yang mulai muncul di balik rasa malunya. 114Please respect copyright.PENANAZSapnsdsAu


