8Please respect copyright.PENANAHP53g71kPcPADANG JERAMI BERCAHAYA — JALUR MENUJU BENTENG —
Dua kereta kerajaan berwarna merah melaju dengan mantap di sepanjang jalan tanah, masing-masing ditarik oleh sepasang kuda tinggi yang terlatih. Roda-roda mereka berkilau diterpa cahaya musim gugur, sementara cat merahnya memantulkan keemasan matahari pagi.
Di belakangnya menyusul barissan panjang gerobak perbekalan—sepuluh buah semuanya—dipenuhi ransum, peralatan, dan berbagai perlengkapan yang diikat rapi untuk perjalanan panjang.
Para Kesatria berkuda mengawal konvoi dalam formasi sempurna, menjadi dinding baja yang bergerak. Baju zirah mereka dipoles hingga berkilau seperti cermin, memantulkan semburat jingga dan kuning dari kanopi pepohonan musim gugur di atas mereka.
Kuda-kuda mereka adalah kuda perang bertubuh besar dengan ekor yang dikepang dan surai panjang menjuntai. Pelana berat terpasang kokoh, setiap kesatria membawa tombak atau lembing di samping pelana, sementara pedang panjang menggantung di pinggang.
Mereka tampak seperti gelombang besi—mantap, tak tergoyahkan.
Di belakang mereka berjalan pasukan infanteri—lebih ramping, lebih kasar, namun tak kalah disiplin. Sebagian membawa busur di punggung, tabung anak panah bergoyang mengikuti langkah mereka. Yang lain menggenggam pedang dan perisai, sepatu bot menghentak tanah mengikuti irama kuda-kuda di depan.
Jubah merah mereka berkibar tertiup angin sejuk, warnanya menyatu dengan dedaunan gugur yang berserakan di sepanjang jalan.
Di bagian paling belakang iring-iringan, Paul menunggangi Stone. Tapak kaki kuda putih itu menendang debu lembut ke udara. Lilly duduk di belakangnya, kedua lengannya melingkari pinggang Paul. Pipinya bersandar pelan di punggung pria itu.
Paul tetap menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.
Ada sesuatu di udara yang terasa tidak beres—sebuah tekanan, beban yang tak kasatmata—namun ia menyembunyikan firasatnya.
Ia tidak ingin membuat Lilly khawatir.
Belum.
Sally dan Curtis mengikuti tak jauh di belakang, para penunggangnya mengendalikan mereka dengan tenang saat konvoi terus bergerak melewati padang-padang bercahaya yang memancarkan sinar keemasan.
JALUR MENUJU BENTENG KASTEL — MUSIM GUGUR —
Kereta paling depan melaju dengan tenang memimpin konvoi. Rodanya berdengung lembut di atas jalan tanah. Cahaya matahari masuk melalui tirai yang terbuka pada rangka kereta berwarna emas dan merah, memenuhi bagian dalam dengan kehangatan.
Metro duduk paling dekat dengan jendela, sebuah gulungan kitab terbentang di pangkuannya. Matanya menelusuri baris-baris tinta dengan perlahan dan penuh perhatian.
Di sampingnya, Rose memperhatikan dalam diam, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Ia tidak menyela. Ia senang melihat Metro seperti ini—tenang, bijaksana, memikul beban desa dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.
Blake duduk berhadapan dengannya. Kakinya terus bergoyang, jemarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan gelisah. Berkali-kali ia melirik ke luar jendela, mengawasi pepohonan seolah mengharapkan sesuatu melompat keluar kapan saja.
Di sebelah Blake duduk Gregory—bahunya mengenakan zirah ringan dengan jubah panjang. Ia duduk tegak bak pilar batu, kedua tangan bertumpu di atas lutut, pandangan lurus ke depan. Kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana kereta terasa lebih kokoh.
Rose sedikit memiringkan tubuhnya. Suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu.
Rose: "Apa yang sedang kamu baca?"
Metro tidak mengangkat kepala, tetapi senyum kecil muncul di wajahnya.
Metro: "Sebuah Kitab Suci."
Kaki Blake berhenti bergoyang.
Postur Gregory menegang sesaat sebelum kembali rileks.
Rose memiringkan kepalanya.
Gregory berdeham pelan.
Gregory: "Kalau... kau tidak keberatan... bisakah kau membacakannya?"
Kini ketiganya memandang Metro.
Metro berkedip, mengangkat kepalanya seolah baru sadar bahwa semua temannya berada bersamanya di dalam kereta.
Lalu senyum hangat muncul.
Metro (tersenyum tipis): "Tentu."
Ia membuka gulungan itu sedikit lebih lebar, lalu berdeham.
"Baiklah... mari kita lihat apa isinya..."
Suaranya tenang dan mantap.
Metro: "Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya kepada Yang Ilahi.
Ia menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan—
akar-akarnya menghunjam dalam,
daunnya tak pernah layu,
tidak tersentuh panas maupun kekeringan,
dan selalu menghasilkan buah."
Keheningan memenuhi kereta.
Gregory menundukkan kepala perlahan.
Lalu ia sedikit condong ke depan.
Gregory: "Kalau boleh aku bertanya..."
Suaranya rendah dan penuh hormat.
"...bagaimana kau mengundang Api Ilahi?"
Tatapan Metro bertemu dengan aura Gregory.
Bukan dengan cara dramatis.
Sangat halus.
Hampir seperti kenangan yang terlalu menyakitkan tiba-tiba menghantamnya.
Tatapannya tetap tak berpaling.
Metro: "Ada banyak orang di luar sana yang dianugerahi kuasa ilahi melalui Sang Roh."
"Mereka mengajarkan Kebenaran dan Pengetahuan."
Udara di dalam kereta berubah.
Bahkan Blake dapat merasakannya.
Metro melanjutkan, namun kini suaranya lebih lembut—seolah kebenaran itu sendiri terasa menyakitkan untuk diucapkan.
Metro: "Kalian hanya perlu mencarinya."
Blake mengembuskan napas panjang.
Blake: "Wow..."
Ia memalingkan wajah ke jendela, memandangi pepohonan yang berlalu begitu saja, tiba-tiba dipenuhi rasa hormat.
Gregory menundukkan pandangannya, menyerap setiap kata.
Rose menatap Metro dengan campuran rasa kagum dan khawatir. Ia bisa merasakan beban dari semua hal yang tidak diucapkannya.
Lalu—
Kereta-kereta itu melambat hingga akhirnya berhenti.
Konvoi telah mencapai gerbang luar kota, tepat ketika ketegangan di udara menjadi hampir tak tertahankan.
Metro turun lebih dulu, disusul Rose. Blake dan Gregory berdiri di sisi-sisinya.
Ada sesuatu yang salah.
Para pemanah di menara depan sebelah kanan tiba-tiba berteriak.
Pemanah: "KONTAK! KONTAK! DI PUNGGUNG BUKIT TIMUR!"
Bahkan sebelum Metro sempat berbalik—
BOOM.8Please respect copyright.PENANATo2iP1ArQa


