12Please respect copyright.PENANAWUwaVCCFBv12Please respect copyright.PENANA41g98MP0dd
ROSE
(lembut, gemetar, tetapi yakin)
"Metro... aku sangat bahagia untukmu. Aku tahu beban yang sedang kau pikul, dan aku berniat memikulnya bersamamu. Aku tahu apa yang memanggilmu. Aku tahu mengapa kau berlari menuju bahaya ketika semua orang lain justru melarikan diri."
Tangannya perlahan menyentuh sisi leher Metro, menenangkannya.
Ekspresinya lembut—matanya hangat, bibirnya tenang, alisnya rileks dengan cara yang jarang sekali ia tunjukkan. Ia memandang Metro seolah melihat setiap luka di dalam dirinya... dan tetap mencintainya.
ROSE
(berbisik, mantap)
"Kau ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar daripada desa ini. Lebih besar daripada ladang-ladang ini. Kau ditakdirkan untuk melindungi orang-orang ini... bahkan ketika itu membuatmu takut. Bahkan jika itu membuatku takut."
Mata Metro berkilau—dipenuhi rasa syukur, kelelahan, dan cinta yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Rose menyandarkan dahinya ke dahi Metro, lalu memejamkan mata.
ROSE
(suaranya pecah karena kelembutan)
"Tuhan sedang membentukmu menjadi seseorang yang luar biasa. Aku percaya pada rencana-Nya yang akan membawamu sampai ke titik itu.
(Hening sejenak.)
Tetaplah menjadi dirimu sendiri.
Aku akan tetap berdiri di sisimu... sekalipun itu berarti aku harus melihatmu melangkah menuju bahaya.
Karena aku percaya kepadamu.
Aku selalu percaya.
Aku mencintaimu."
Tangan Metro perlahan terangkat—penuh hormat—lalu berhenti di pinggang Rose. Matanya mencari mata Rose, dipenuhi penghargaan yang begitu dalam dan cinta tanpa kata.
Kemudian Metro dengan lembut menggenggam wajah Rose menggunakan kedua tangannya dan menariknya lebih dekat.
Ia sedikit menundukkan dagunya.
Metro menatapnya dengan wajah yang berseri-seri, matanya berkilauan.
Ia tersenyum.
Senyum yang tulus.
Rose membalas dengan senyum kecil...
Namun senyum itu nyata.
Metro memandangnya dengan kekaguman yang begitu dalam—seolah Rose adalah satu-satunya bagian yang selama ini hilang dari hidupnya.
BERLARI PELAN MENJAUH DARI PENGINAPAN
Derap kaki Curtis menghantam tanah dengan lembut, stabil dan berirama di bawah Rose.
Yang lain berkendara lebih dulu—Lilly, Gregory, dan para pekerja ladang—bayangan mereka memanjang di atas padang rumput ketika senja turun perlahan seperti tirai yang menyelimuti desa.
Rose tidak memandang mereka.
Ia menoleh ke belakang.
Napasnya seakan berhenti.
Metro berdiri sendirian di pintu masuk Penginapan, memperhatikan mereka pergi. Sosoknya dibingkai oleh tiang-tiang kayu yang tinggi, sementara cahaya lentera bersinar dari belakangnya.
Ia mengangkat satu tangan, melambaikan salam kecil—lelah, namun penuh kelembutan.
Lalu ia berbalik.
Perlahan.
Ia menaiki anak tangga depan dengan beban di pundaknya yang bahkan dapat Rose rasakan dari kejauhan. Ranselnya menggantung di satu lengan, bergoyang pelan setiap kali ia melangkah.
Kepalanya sedikit tertunduk, napasnya mulai teratur, seolah akhirnya ia mengizinkan dirinya merasakan semua yang selama ini ia tahan sepanjang hari.
Hati Rose terasa sesak.
Wajahnya melembut—matanya berkilau, bibirnya terbuka membentuk senyum kecil yang gemetar.
Ia menempelkan satu tangan ke dadanya, jemarinya menggenggam kain gaunnya erat.
Curtis terus berlari kecil ke depan, tetapi Rose terus menoleh ke belakang hingga Metro menghilang ke dalam Penginapan.
Nalurinya bergetar pelan.
Ia berbisik kepada angin, nyaris tak terdengar.
ROSE
"Beristirahatlah, Metro... tolong beristirahatlah."
Curtis menggerakkan telinganya, merasakan perubahan emosi Rose.
Rose membungkuk ke depan, menyandarkan pipinya ke surai Curtis sejenak, membiarkan kelembutannya menenangkan hatinya.
Rombongan itu terus menyusuri jalan setapak yang sempit, sementara cahaya terakhir senja membelai punggung mereka.
Kini Rose mengarahkan pandangannya ke depan.
Namun hatinya tetap tertinggal—
di anak tangga Penginapan...
tempat Metro menaikinya seorang diri,
memikul beban yang sangat ingin ia bantu tanggung.12Please respect copyright.PENANAtd9h1jvyrn


