/story/217650/mamahku-dibully/toc
Mamahku Dibully | Penana
arrow_back
Mamahku Dibully
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
PG-13
Mamahku Dibully
patrick713
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

Untuk Fast Track / Cerita Lain bisa ke Vi*tie , ID : @Blindspot & @Patrick713






Andi menutup pintu rumah dengan pelan, tas ranselnya masih tergantung di bahu kiri. Hari ini kuliahnya melelahkan seperti biasa , presentasi kelompok yang gagal total karena dia terlalu gugup bicara di depan kelas. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore, matahari Jakarta masih cukup terik meski sudah mulai condong ke barat. Udara di dalam rumah terasa sejuk berkat AC yang menyala pelan di ruang tamu.


“Ibu?” panggilnya pelan sambil melepas sepatu.


Tidak ada jawaban langsung. Andi berjalan ke dapur, meletakkan tas di kursi makan, lalu mengambil segelas air dingin dari kulkas. Tenggorokannya kering setelah naik ojek online yang macet parah di jalan tol.


Baru saja dia meneguk air, suara tawa lembut terdengar dari ruang tamu. Tawa ibunya, Sari yang biasanya tenang dan anggun. Tapi kali ini ada nada lain, sesuatu yang lebih ringan, hampir… genit? Andi mengerutkan kening. Ayahnya sedang dinas ke Surabaya sejak kemarin pagi, jadi seharusnya hanya ibu sendirian di rumah.


Dia melangkah pelan ke ambang pintu ruang tamu dan langsung membeku.


Di sofa panjang warna krem yang biasa dipakai keluarga untuk nonton TV, duduklah seorang cowok tinggi dengan postur tegap. Badannya terlihat berotot di balik kaos polo hitam ketat yang memperlihatkan lekuk dada dan lengan. Rambutnya pendek rapi, kulit sawo matang, dan senyumnya lebar penuh percaya diri. Di sebelahnya, ibu Andi duduk dengan posisi agak miring, kaki disilang, tangan memegang cangkir kopi.


Itu **Dika**.


Mantan teman sekelas Andi sejak SMA. Cowok yang selama tiga tahun membuat hidup Andi seperti neraka kecil. Dika yang suka memanggilnya “Andi si lemah”, “si kontol kecil”, atau “si banci” di depan teman-teman lain. Dika yang pernah menyiram kepalanya dengan air toilet di toilet sekolah saat kelas 2 SMA. Dika yang selalu mendapat nilai tinggi tanpa susah payah, populer di kalangan cewek, dan badannya semakin besar setelah masuk kuliah.


Sekarang Dika duduk santai di rumah Andi, kakinya terbuka lebar, satu tangan bertumpu di sandaran sofa tepat di belakang punggung ibu Andi. Jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran “tamu biasa”.


Sari menoleh ketika mendengar langkah Andi. Wajahnya yang cantik langsung tersenyum, tapi ada sedikit ketegangan di mata hitamnya yang indah.


“Andi, pulang ya sayang? Cepat sekali hari ini,” katanya dengan suara lembut seperti biasa. Usianya 41 tahun, tapi penampilan Sari selalu membuat orang salah tebak. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjang yang sering diikat ponytail sederhana, tubuhnya masih proporsional , dada yang montok alami, pinggang yang relatif ramping meski sudah melahirkan, dan pinggul yang lebar dengan pantat yang tetap kencang berkat senam rutin di rumah.


Hari ini Sari memakai kaos rumah berwarna putih tipis yang agak longgar di bagian leher, sehingga sedikit memperlihatkan belahan dada yang putih. Bawahannya celana pendek katun abu-abu yang biasa dipakai di rumah, memperlihatkan paha mulus yang masih terawat.


Dika menoleh juga. Senyumnya melebar, mata menyipit nakal.


“Wah, Andi! Lama nggak ketemu bro,” sapanya dengan nada ramah yang terlalu dibuat-buat. Dia berdiri, tinggi badannya hampir 185 cm, membuat Andi yang hanya 168 cm terasa semakin kecil. “Gue Dika, ingat nggak? Dulu satu kelas di SMA.”


Andi merasa tenggorokannya kering lagi. Darahnya seperti mendidih campur dingin. “Ingat,” jawabnya pendek, suaranya hampir tidak keluar.


Sari bangkit juga, meletakkan cangkir kopinya di meja. “Dika datang tadi sore, katanya mau minta maaf soal dulu-dulu. Katanya sudah dewasa sekarang, nggak mau ada dendam lagi antar teman.”


Dika mengangguk, tangannya menyentuh lengan Sari sebentar , sentuhan yang terlihat biasa, tapi Andi memperhatikan jari-jarinya agak lama di sana sebelum dilepas.


“Benar, Tante. Dulu gue anak brengsek banget. Sering ngejek Andi, bully dia di sekolah. Sekarang gue sadar itu salah. Makanya gue datang langsung ke rumah, minta maaf secara pribadi ke Andi dan keluarganya.”


Andi diam saja. Dia tahu Dika bukan tipe yang tiba-tiba berubah jadi baik. Cowok seperti Dika selalu punya motif. Tapi ibunya kelihatan percaya. Sari tersenyum lembut ke arah Dika, mata mereka bertemu sebentar.


“Duduk dulu, Andi. Ibu bikinin minum ya,” kata Sari sambil berjalan ke dapur.


Andi duduk di kursi tunggal di depan sofa, tangannya mengepal pelan di pangkuan. Dika kembali duduk di sofa, kakinya terbuka lebar, sikapnya santai seperti rumah sendiri.


“Jadi lo sekarang kuliah di mana, Di?” tanya Andi mencoba terdengar biasa.


“Masih di kampus yang sama kayak lo, bro. Semester 3 juga. Cuma beda jurusan. Gue ambil Manajemen Bisnis. Lo masih Teknik Informatika kan? Nilai lo bagus nggak? Dulu kan lo rajin belajar, cuma… ya gitu deh,” Dika tertawa kecil, nada yang mengingatkan Andi pada ejekan dulu.


Andi tidak menjawab. Matanya melirik ke dapur. Sari sedang menuang air es, punggungnya menghadap mereka. Kaos tipisnya sedikit naik saat membungkuk, memperlihatkan sedikit kulit pinggang yang putih dan halus.


Dika juga melirik ke arah yang sama. Andi melihat pupil mata Dika melebar sebentar sebelum kembali ke wajah Andi.


“Tante Sari masih cantik banget ya,” kata Dika pelan, suaranya cukup keras untuk didengar Andi tapi tidak sampai ke dapur. “Umur 40-an kok masih kayak gitu. Lo beruntung punya ibu kayak gini, Andi.”


Andi merasa dadanya sesak. “Ibu gue biasa aja.”


Dika tersenyum miring. “Biasa? Bro, cewek seusia Tante Sari yang body-nya masih tight gitu jarang loh. Dada gede, pantat montok, kulit putih… pasti banyak yang ngejar. Suami Tante sering dinas ya? Gue denger dari obrolan tadi.”


Andi ingin marah, tapi lidahnya kelu. Dia hanya bisa menatap Dika dengan tatapan dingin.


Sari kembali membawa nampan dengan dua gelas es teh manis dan sepiring kue kering. Dia meletakkan di meja, lalu duduk kembali di sofa, kali ini agak lebih dekat ke Dika daripada sebelum Andi pulang.


“Makasih Tante,” kata Dika sambil mengambil gelas. Jarinya sengaja menyentuh jari Sari saat mengambil gelas. Sari tersentak kecil tapi tidak menarik tangan terlalu cepat.


“Andi, Dika bilang dia sekarang sering olahraga. Badannya bagus kan? Kamu juga harus rajin olahraga biar sehat,” kata Sari sambil tersenyum ke anaknya.


Andi memandang tubuh Dika yang jelas lebih berisi otot. Bahu lebar, lengan berotot, perut yang rata meski kaosnya ketat. Dibandingkan dirinya yang kurus dan dada rata, perbedaannya sangat mencolok.


“Iya Tante, gue gym hampir tiap hari. Kalau Andi mau, gue bisa ajarin. Gratis kok,” tawaran Dika terdengar ramah di telinga Sari, tapi Andi tahu ada nada ejekan halus di dalamnya.


Sari tertawa kecil. “Bagus itu. Andi kan jarang olahraga. Selalu di kamar main komputer atau belajar.”


Obrolan berlanjut. Dika bercerita tentang kehidupan kampusnya , cewek-cewek yang ngejar dia, party, bisnis kecil-kecilan yang dia jalani. Sari mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tertawa saat Dika bercanda. Andi hanya diam, sesekali menjawab pendek ketika ditanya.


Setiap kali Sari tertawa, dadanya naik-turun pelan di balik kaos tipis. Dika sesekali melirik ke sana, dan Andi memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Marah, cemburu, tapi juga… anehnya ada getaran lain yang tidak dia mengerti.


Pukul enam lewat, langit di luar mulai gelap. Dika melirik jam di ponselnya.


“Wah, udah sore banget. Gue pulang dulu ya Tante, Andi. Makasih banyak kopinya, enak banget. Dan maaf lagi soal dulu-dulu. Gue harap kita bisa baikan sekarang.”


Sari berdiri mengantarnya ke pintu. “Iya, nggak apa-apa Dika. Yang lalu biarlah berlalu. Kalau mau main lagi ke sini, silakan saja. Rumah ini terbuka buat teman Andi.”


Dika tersenyum lebar. “Makasih Tante. Pasti gue datang lagi. Oh iya, besok gue ada catatan kuliah yang mungkin dibutuhin Andi. Boleh gue kirim ke WA Tante dulu? Nomor Andi gue nggak punya lagi.”


Sari mengangguk tanpa curiga. “Boleh. Nomor ibu 0812-xxxx-xxxx. Kirim saja ke situ.”


Andi melihat mereka bertukar nomor di depan pintu. Dika berdiri sangat dekat dengan Sari saat mengetik nomor. Bahu mereka hampir bersentuhan. Saat Dika pamit, tangannya menyentuh lengan Sari lagi , kali ini agak lebih lama, jempolnya mengusap pelan kulit ibu Andi.


“Selamat malam Tante. Jaga kesehatan ya.”


“Selamat malam Dika.”


Pintu tertutup. Sari berbalik dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. “Anak itu sekarang kelihatan beda ya, Andi. Lebih sopan. Mungkin benar-benar sudah berubah.”


Andi tidak menjawab. Dia hanya naik ke kamarnya di lantai dua, menutup pintu, lalu duduk di tepi kasur dengan pikiran berputar-putar.


Kenapa ibunya terlihat begitu nyaman dengan Dika? Kenapa Dika tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun? Dan kenapa Andi merasa ada yang tidak beres, tapi juga tidak bisa berhenti memikirkan cara Dika memandang tubuh ibunya?


Malam itu, Andi sulit tidur. Dari kamarnya, dia mendengar ibunya bernyanyi pelan sambil membereskan ruang tamu. Suara Sari terdengar lebih riang dari biasanya.


Ponsel Andi bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.


**Dika:**

“Bro, besok gue ke rumah lagi ya. Ada catatan yang penting. Bilang ke Tante Sari gue bawa oleh-oleh kue favoritnya. Jangan lupa, ya si lemah ;)”


Andi menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup kencang. Dia menghapus pesan itu, tapi kata-kata “si lemah” masih terngiang.


Di lantai bawah, Sari sedang duduk di sofa sambil memegang ponsel. Senyum kecil tersungging di bibirnya saat membaca pesan baru yang masuk.


**Dika:**

“Tante, makasih hari ini. Obrolannya enak banget. Body Tante masih keren loh, kayak cewek 25 tahun. Besok gue datang lagi ya. Jangan bilang Andi dulu, biar surprise ;)”


Sari menggigit bibir bawahnya pelan. Wajahnya memerah sedikit. Dia balas singkat:


**Sari:**

“Iya, hati-hati di jalan Dika.”


Dia meletakkan ponsel, menghela napas panjang, lalu menyentuh dadanya sendiri sebentar. Ada getaran aneh yang lama tidak dia rasakan.

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time:
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.