Untuk Fast Track / Cerita Lain bisa ke Vi*tie , ID : @Blindspot & @Patrick713951Please respect copyright.PENANAXxdKsQUwbG
951Please respect copyright.PENANANuhSrze5Td
951Please respect copyright.PENANAFhor82AnGU
951Please respect copyright.PENANAK2SPf5RpNE
951Please respect copyright.PENANAItK9eb5XXe
951Please respect copyright.PENANAXVOwDjW9FJ
Andi menutup pintu rumah dengan pelan, tas ranselnya masih tergantung di bahu kiri. Hari ini kuliahnya melelahkan seperti biasa , presentasi kelompok yang gagal total karena dia terlalu gugup bicara di depan kelas. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore, matahari Jakarta masih cukup terik meski sudah mulai condong ke barat. Udara di dalam rumah terasa sejuk berkat AC yang menyala pelan di ruang tamu.
951Please respect copyright.PENANAE9Iy6tTl4h
“Ibu?” panggilnya pelan sambil melepas sepatu.
951Please respect copyright.PENANA6DS7A6GVPC
Tidak ada jawaban langsung. Andi berjalan ke dapur, meletakkan tas di kursi makan, lalu mengambil segelas air dingin dari kulkas. Tenggorokannya kering setelah naik ojek online yang macet parah di jalan tol.
951Please respect copyright.PENANAmdIcODCSJW
Baru saja dia meneguk air, suara tawa lembut terdengar dari ruang tamu. Tawa ibunya, Sari yang biasanya tenang dan anggun. Tapi kali ini ada nada lain, sesuatu yang lebih ringan, hampir… genit? Andi mengerutkan kening. Ayahnya sedang dinas ke Surabaya sejak kemarin pagi, jadi seharusnya hanya ibu sendirian di rumah.
951Please respect copyright.PENANAXCrd34b4Y7
Dia melangkah pelan ke ambang pintu ruang tamu dan langsung membeku.
951Please respect copyright.PENANAxxg2O4Mzwv
Di sofa panjang warna krem yang biasa dipakai keluarga untuk nonton TV, duduklah seorang cowok tinggi dengan postur tegap. Badannya terlihat berotot di balik kaos polo hitam ketat yang memperlihatkan lekuk dada dan lengan. Rambutnya pendek rapi, kulit sawo matang, dan senyumnya lebar penuh percaya diri. Di sebelahnya, ibu Andi duduk dengan posisi agak miring, kaki disilang, tangan memegang cangkir kopi.
951Please respect copyright.PENANAALgR0XAm9a
Itu **Dika**.
951Please respect copyright.PENANA9MgaMzXg86
Mantan teman sekelas Andi sejak SMA. Cowok yang selama tiga tahun membuat hidup Andi seperti neraka kecil. Dika yang suka memanggilnya “Andi si lemah”, “si kontol kecil”, atau “si banci” di depan teman-teman lain. Dika yang pernah menyiram kepalanya dengan air toilet di toilet sekolah saat kelas 2 SMA. Dika yang selalu mendapat nilai tinggi tanpa susah payah, populer di kalangan cewek, dan badannya semakin besar setelah masuk kuliah.
951Please respect copyright.PENANAd57XzSfGGD
Sekarang Dika duduk santai di rumah Andi, kakinya terbuka lebar, satu tangan bertumpu di sandaran sofa tepat di belakang punggung ibu Andi. Jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran “tamu biasa”.
951Please respect copyright.PENANAVjqqUyUmyf
Sari menoleh ketika mendengar langkah Andi. Wajahnya yang cantik langsung tersenyum, tapi ada sedikit ketegangan di mata hitamnya yang indah.
951Please respect copyright.PENANAy4XnnzR4su
“Andi, pulang ya sayang? Cepat sekali hari ini,” katanya dengan suara lembut seperti biasa. Usianya 41 tahun, tapi penampilan Sari selalu membuat orang salah tebak. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjang yang sering diikat ponytail sederhana, tubuhnya masih proporsional , dada yang montok alami, pinggang yang relatif ramping meski sudah melahirkan, dan pinggul yang lebar dengan pantat yang tetap kencang berkat senam rutin di rumah.
951Please respect copyright.PENANAYWjv2gFy8Z
Hari ini Sari memakai kaos rumah berwarna putih tipis yang agak longgar di bagian leher, sehingga sedikit memperlihatkan belahan dada yang putih. Bawahannya celana pendek katun abu-abu yang biasa dipakai di rumah, memperlihatkan paha mulus yang masih terawat.
951Please respect copyright.PENANAvRqKHwcUUM
Dika menoleh juga. Senyumnya melebar, mata menyipit nakal.
951Please respect copyright.PENANAfPOLZMTl2A
“Wah, Andi! Lama nggak ketemu bro,” sapanya dengan nada ramah yang terlalu dibuat-buat. Dia berdiri, tinggi badannya hampir 185 cm, membuat Andi yang hanya 168 cm terasa semakin kecil. “Gue Dika, ingat nggak? Dulu satu kelas di SMA.”
951Please respect copyright.PENANAgsY1DV9EcD
Andi merasa tenggorokannya kering lagi. Darahnya seperti mendidih campur dingin. “Ingat,” jawabnya pendek, suaranya hampir tidak keluar.
951Please respect copyright.PENANAhBliNg2r0a
Sari bangkit juga, meletakkan cangkir kopinya di meja. “Dika datang tadi sore, katanya mau minta maaf soal dulu-dulu. Katanya sudah dewasa sekarang, nggak mau ada dendam lagi antar teman.”
951Please respect copyright.PENANAPRzkZV5cWc
Dika mengangguk, tangannya menyentuh lengan Sari sebentar , sentuhan yang terlihat biasa, tapi Andi memperhatikan jari-jarinya agak lama di sana sebelum dilepas.
951Please respect copyright.PENANA4zLY4Rk608
“Benar, Tante. Dulu gue anak brengsek banget. Sering ngejek Andi, bully dia di sekolah. Sekarang gue sadar itu salah. Makanya gue datang langsung ke rumah, minta maaf secara pribadi ke Andi dan keluarganya.”
951Please respect copyright.PENANAtYlUAjHoml
Andi diam saja. Dia tahu Dika bukan tipe yang tiba-tiba berubah jadi baik. Cowok seperti Dika selalu punya motif. Tapi ibunya kelihatan percaya. Sari tersenyum lembut ke arah Dika, mata mereka bertemu sebentar.
951Please respect copyright.PENANAkGSViEFlVu
“Duduk dulu, Andi. Ibu bikinin minum ya,” kata Sari sambil berjalan ke dapur.
951Please respect copyright.PENANA7mMwmqGsQW
Andi duduk di kursi tunggal di depan sofa, tangannya mengepal pelan di pangkuan. Dika kembali duduk di sofa, kakinya terbuka lebar, sikapnya santai seperti rumah sendiri.
951Please respect copyright.PENANA088eewrY3M
“Jadi lo sekarang kuliah di mana, Di?” tanya Andi mencoba terdengar biasa.
951Please respect copyright.PENANAh0B2MfC3bb
“Masih di kampus yang sama kayak lo, bro. Semester 3 juga. Cuma beda jurusan. Gue ambil Manajemen Bisnis. Lo masih Teknik Informatika kan? Nilai lo bagus nggak? Dulu kan lo rajin belajar, cuma… ya gitu deh,” Dika tertawa kecil, nada yang mengingatkan Andi pada ejekan dulu.
951Please respect copyright.PENANA1yxbnOtEhQ
Andi tidak menjawab. Matanya melirik ke dapur. Sari sedang menuang air es, punggungnya menghadap mereka. Kaos tipisnya sedikit naik saat membungkuk, memperlihatkan sedikit kulit pinggang yang putih dan halus.
951Please respect copyright.PENANA828PI5OwAr
Dika juga melirik ke arah yang sama. Andi melihat pupil mata Dika melebar sebentar sebelum kembali ke wajah Andi.
951Please respect copyright.PENANAxZXlC692Wj
“Tante Sari masih cantik banget ya,” kata Dika pelan, suaranya cukup keras untuk didengar Andi tapi tidak sampai ke dapur. “Umur 40-an kok masih kayak gitu. Lo beruntung punya ibu kayak gini, Andi.”
951Please respect copyright.PENANAZoXNCBSZG5
Andi merasa dadanya sesak. “Ibu gue biasa aja.”
951Please respect copyright.PENANAIM2sZ0xLwn
Dika tersenyum miring. “Biasa? Bro, cewek seusia Tante Sari yang body-nya masih tight gitu jarang loh. Dada gede, pantat montok, kulit putih… pasti banyak yang ngejar. Suami Tante sering dinas ya? Gue denger dari obrolan tadi.”
951Please respect copyright.PENANAmmRBA4WAAO
Andi ingin marah, tapi lidahnya kelu. Dia hanya bisa menatap Dika dengan tatapan dingin.
951Please respect copyright.PENANAC776FZFoa5
Sari kembali membawa nampan dengan dua gelas es teh manis dan sepiring kue kering. Dia meletakkan di meja, lalu duduk kembali di sofa, kali ini agak lebih dekat ke Dika daripada sebelum Andi pulang.
951Please respect copyright.PENANAi5usUoF2pb
“Makasih Tante,” kata Dika sambil mengambil gelas. Jarinya sengaja menyentuh jari Sari saat mengambil gelas. Sari tersentak kecil tapi tidak menarik tangan terlalu cepat.
951Please respect copyright.PENANA27fASav0bu
“Andi, Dika bilang dia sekarang sering olahraga. Badannya bagus kan? Kamu juga harus rajin olahraga biar sehat,” kata Sari sambil tersenyum ke anaknya.
951Please respect copyright.PENANAnSmXWLZ43E
Andi memandang tubuh Dika yang jelas lebih berisi otot. Bahu lebar, lengan berotot, perut yang rata meski kaosnya ketat. Dibandingkan dirinya yang kurus dan dada rata, perbedaannya sangat mencolok.
951Please respect copyright.PENANAd48o1rdcLT
“Iya Tante, gue gym hampir tiap hari. Kalau Andi mau, gue bisa ajarin. Gratis kok,” tawaran Dika terdengar ramah di telinga Sari, tapi Andi tahu ada nada ejekan halus di dalamnya.
951Please respect copyright.PENANAsMaIWwwe96
Sari tertawa kecil. “Bagus itu. Andi kan jarang olahraga. Selalu di kamar main komputer atau belajar.”
951Please respect copyright.PENANA3s3Ubpx0y4
Obrolan berlanjut. Dika bercerita tentang kehidupan kampusnya , cewek-cewek yang ngejar dia, party, bisnis kecil-kecilan yang dia jalani. Sari mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tertawa saat Dika bercanda. Andi hanya diam, sesekali menjawab pendek ketika ditanya.
951Please respect copyright.PENANAnRJsMBHK7F
Setiap kali Sari tertawa, dadanya naik-turun pelan di balik kaos tipis. Dika sesekali melirik ke sana, dan Andi memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Marah, cemburu, tapi juga… anehnya ada getaran lain yang tidak dia mengerti.
951Please respect copyright.PENANAUOLDx7QeYE
Pukul enam lewat, langit di luar mulai gelap. Dika melirik jam di ponselnya.
951Please respect copyright.PENANARfAo2eFQ88
“Wah, udah sore banget. Gue pulang dulu ya Tante, Andi. Makasih banyak kopinya, enak banget. Dan maaf lagi soal dulu-dulu. Gue harap kita bisa baikan sekarang.”
951Please respect copyright.PENANAmQsY3efByy
Sari berdiri mengantarnya ke pintu. “Iya, nggak apa-apa Dika. Yang lalu biarlah berlalu. Kalau mau main lagi ke sini, silakan saja. Rumah ini terbuka buat teman Andi.”
951Please respect copyright.PENANAz4CZHW74dI
Dika tersenyum lebar. “Makasih Tante. Pasti gue datang lagi. Oh iya, besok gue ada catatan kuliah yang mungkin dibutuhin Andi. Boleh gue kirim ke WA Tante dulu? Nomor Andi gue nggak punya lagi.”
951Please respect copyright.PENANA2vqT9E9JIj
Sari mengangguk tanpa curiga. “Boleh. Nomor ibu 0812-xxxx-xxxx. Kirim saja ke situ.”
951Please respect copyright.PENANASctUjEDeDD
Andi melihat mereka bertukar nomor di depan pintu. Dika berdiri sangat dekat dengan Sari saat mengetik nomor. Bahu mereka hampir bersentuhan. Saat Dika pamit, tangannya menyentuh lengan Sari lagi , kali ini agak lebih lama, jempolnya mengusap pelan kulit ibu Andi.
951Please respect copyright.PENANA9OSZTcG6ti
“Selamat malam Tante. Jaga kesehatan ya.”
951Please respect copyright.PENANACNMVn0mqLQ
“Selamat malam Dika.”
951Please respect copyright.PENANACZ7ogX8swQ
Pintu tertutup. Sari berbalik dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. “Anak itu sekarang kelihatan beda ya, Andi. Lebih sopan. Mungkin benar-benar sudah berubah.”
951Please respect copyright.PENANA1giwNrEPKe
Andi tidak menjawab. Dia hanya naik ke kamarnya di lantai dua, menutup pintu, lalu duduk di tepi kasur dengan pikiran berputar-putar.
951Please respect copyright.PENANAfSwS1llbJn
Kenapa ibunya terlihat begitu nyaman dengan Dika? Kenapa Dika tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun? Dan kenapa Andi merasa ada yang tidak beres, tapi juga tidak bisa berhenti memikirkan cara Dika memandang tubuh ibunya?
951Please respect copyright.PENANAhVHCMqjRmq
Malam itu, Andi sulit tidur. Dari kamarnya, dia mendengar ibunya bernyanyi pelan sambil membereskan ruang tamu. Suara Sari terdengar lebih riang dari biasanya.
951Please respect copyright.PENANAdPGV4aOBZO
Ponsel Andi bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
951Please respect copyright.PENANAo7LAQcl8ob
**Dika:**
“Bro, besok gue ke rumah lagi ya. Ada catatan yang penting. Bilang ke Tante Sari gue bawa oleh-oleh kue favoritnya. Jangan lupa, ya si lemah ;)”
951Please respect copyright.PENANAQnpf7BEokx
Andi menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup kencang. Dia menghapus pesan itu, tapi kata-kata “si lemah” masih terngiang.
951Please respect copyright.PENANA5u64wSXyi4
Di lantai bawah, Sari sedang duduk di sofa sambil memegang ponsel. Senyum kecil tersungging di bibirnya saat membaca pesan baru yang masuk.
951Please respect copyright.PENANAvHMbnAKjYv
**Dika:**
“Tante, makasih hari ini. Obrolannya enak banget. Body Tante masih keren loh, kayak cewek 25 tahun. Besok gue datang lagi ya. Jangan bilang Andi dulu, biar surprise ;)”
951Please respect copyright.PENANAVwltc8WuDH
Sari menggigit bibir bawahnya pelan. Wajahnya memerah sedikit. Dia balas singkat:
951Please respect copyright.PENANAXVWUWollUX
**Sari:**
“Iya, hati-hati di jalan Dika.”
951Please respect copyright.PENANAjiGLMVxPWC
Dia meletakkan ponsel, menghela napas panjang, lalu menyentuh dadanya sendiri sebentar. Ada getaran aneh yang lama tidak dia rasakan.
ns216.73.216.67da2


