3130Please respect copyright.PENANAOnrHVuBdNJChapter 5 – Hati yang Sudah Berpaling
Malam itu Novi pulang dengan langkah gontai. Tubuhnya masih terasa lemas setelah seharian penuh di gubuk Kakek Imron. Setiap langkah yang ia ambil, ia bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan yang ditinggalkan kontol raksasa kakek tua itu di dalam tubuhnya. Tapi yang lebih berat adalah pikirannya.
3130Please respect copyright.PENANA0PxcS3T90G
Melihat Bu Siti dan Bu Suci di ruang guru tadi membuat hatinya semakin hancur. “Ternyata… aku bukan satu-satunya yang melakukan dosa,” gumamnya dalam hati.
3130Please respect copyright.PENANA1lZ0Bt2xQd
Tapi bedanya, Bu Siti melakukannya dengan dingin dan sudah berlangsung satu tahun. Novi merasa dirinya berbeda — ia melakukannya karena kesepian yang sudah tak tertahankan, karena pengabaian Faisal yang terlalu dalam.
3130Please respect copyright.PENANAsXUBlz2buk
Sesampainya di rumah, Novi berdiri lama di depan cermin kamar mandi. Ia melihat wajahnya yang lelah, bekas ciuman samar di leher yang ia tutupi dengan jilbab, dan memeknya yang masih terasa penuh. Air matanya jatuh pelan.
3130Please respect copyright.PENANAApSrYddCTd
“Mulai hari ini… aku serahkan tubuh dan hatiku hanya untuk Kakek Imron saja,” bisiknya dengan tekad bulat. “Faisal sudah tidak layak lagi. Anak-anak tetap aku sayangi… tapi hati dan tubuhku… milik kakek sekarang.”
3130Please respect copyright.PENANAutqAptXrIU
Keputusan itu terasa berat, tapi juga melegakan. Ada rasa damai aneh di tengah badai emosinya.
3130Please respect copyright.PENANAk0m3XLyFW2
3130Please respect copyright.PENANA6o0pFmWupQ
Pagi berikutnya, Novi bangun dengan semangat baru meski hatinya masih sakit. Ia sholat Subuh dengan khusyuk lebih lama, memohon ampunan sekaligus kekuatan untuk menjalani keputusan barunya.
3130Please respect copyright.PENANA7OH9HCTFYb
Di dapur, ia memasak sarapan dengan penuh kasih sayang: bubur ayam hangat untuk Zidan, roti bakar keju untuk Rafi, dan telur dadar spesial untuk Aisyah. Ketiga anaknya bangun hampir bersamaan dan langsung memeluk ibunya.
3130Please respect copyright.PENANA5Bb51Q0nBU
“Ibuuu! Pagi yang indah!” seru Zidan kecil sambil mencium pipi Novi.
Aisyah membantu menata meja. “Ibu hari ini kelihatan lebih cantik. Jilbabnya bagus.”
3130Please respect copyright.PENANAUCRRba2RFb
Rafi menceritakan mimpi lucunya semalam. Novi tertawa lepas mendengar cerita anak-anaknya. Suasana pagi itu penuh ceria. Tawa mereka mengisi rumah kecil itu. Novi memeluk ketiganya bergantian, menciumi kepala mereka dengan penuh kasih.
3130Please respect copyright.PENANA3DWNYBx8PR
“Kalian adalah segalanya buat Ibu,” bisiknya pelan, air matanya hampir jatuh lagi.
3130Please respect copyright.PENANASgMcWDc8lD
Faisal keluar dari kamar dengan wajah canggung. Ia mendekati Novi yang sedang menuangkan teh.
3130Please respect copyright.PENANAwP6pz8zaHF
“Nov… soal malam itu, Mas minta maaf,” kata Faisal lembut, mencoba memegang tangan istrinya. “Mas terlalu kasar. Mas capek dan… Mas salah.”
3130Please respect copyright.PENANAQ2IQjr89hi
Novi menarik tangannya dengan tegas. Wajahnya dingin, matanya tidak mau menatap suaminya sama sekali.
3130Please respect copyright.PENANACX3ueza9ro
“Maaf nggak akan mengubah apa-apa, Mas,” jawabnya datar tapi tegas. “Kamu sudah lama mengabaikan aku. Tamparan itu hanya puncaknya. Aku capek.”
Faisal mencoba lagi. “Nov, kita bicara baik-baik ya. Demi anak-anak…”
3130Please respect copyright.PENANAFKxgdnFSr5
“Demi anak-anak? Kamu baru ingat sekarang?” suara Novi mulai bergetar karena emosi. “Selama ini aku yang mengurus semuanya. Kamu hanya pulang, makan, tidur, lalu kerja lagi. Aku bukan istri buat kamu, Mas. Aku hanya pembantu rumah tangga yang kamu tiduri sesekali.”
3130Please respect copyright.PENANAiGkj1d0ltw
Faisal terdiam. Novi tidak memberi kesempatan lagi. Ia merapikan tas anak-anak dan mengantar mereka ke depan rumah tanpa menoleh lagi ke suaminya.
3130Please respect copyright.PENANAeNWX3NP0Uo
“Selamat beraktivitas, Mas,” kata Novi dingin sebelum berjalan ke sekolah.
3130Please respect copyright.PENANAa6Z5uxcmnq
Faisal berdiri di teras dengan wajah pucat. Ia baru sadar betapa dalam luka yang ia toreh di hati istrinya.
3130Please respect copyright.PENANAj0M8X0B8dq
3130Please respect copyright.PENANACAuC5o7beU
Di sekolah, Novi mencoba bersikap normal. Ia mengajar kelas 3B dengan semangat yang dipaksakan. Suaranya tetap lembut saat menjelaskan pelajaran, senyumnya tetap hangat saat murid-murid bertanya. Tapi di dalam hatinya, ada badai besar.
3130Please respect copyright.PENANAs7kixrb9Wg
Saat jam istirahat, Bu Siti mendekatinya di ruang guru dengan wajah biasa saja, seolah tidak ada apa-apa semalam.
3130Please respect copyright.PENANAQo8BUtHngy
“Bu Novi, nanti sore ada acara kecil di rumah temen. Mau ikut? Santai aja, kita pesta kecil-kecilan,” ajak Bu Siti sambil tersenyum manis.
3130Please respect copyright.PENANA6rZDkVng7A
Novi menatap Bu Siti sebentar. Bayangan adegan semalam langsung muncul di kepalanya. Ia merasa mual.
3130Please respect copyright.PENANAYlHPBSuPKn
“Maaf, Bu Siti. Saya langsung pulang hari ini. Anak-anak nunggu,” tolak Novi dengan halus tapi tegas.
3130Please respect copyright.PENANAN2zF47nsXN
Bu Siti tidak memaksa. “Ya sudah, lain kali ya.”
Sepanjang hari, Novi merasa asing di sekolahnya sendiri. Ia melihat Bu Siti dan Bu Suci seperti biasa — ramah, profesional, tersenyum pada murid-murid. Tapi Novi tahu rahasia gelap di balik senyum itu. Rasa kecewa dan kesepian semakin dalam.
3130Please respect copyright.PENANArJOpPk1nCh
Saat jam pulang, Novi membereskan barangnya dengan cepat. Ia ingin segera pulang ke pelukan anak-anaknya, satu-satunya tempat yang masih memberinya kehangatan sejati.
3130Please respect copyright.PENANAOqqOuJHjj3
3130Please respect copyright.PENANAZaldn6en6Z
Setelah pulang sekolah, Novi berjalan dengan langkah lebih ringan meski hatinya masih penuh gejolak. Jilbabnya yang rapi bergoyang pelan ditiup angin sore. Saat melewati trotoar dekat kompleks, ia melihat Kakek Imron sedang menyapu jalanan dengan sapu lidi tuanya.
Novi tersenyum lebar, senyum yang tulus dan ceria. “Kek Imron!” panggilnya pelan sambil melambai.
3130Please respect copyright.PENANAqFnYxHqwH4
Kakek Imron menoleh, wajah tuanya langsung cerah melihat Novi. “Bu Novi… pulang sekolah ya?”
3130Please respect copyright.PENANAYbKZDGMLHz
Mereka mengobrol santai di pinggir jalan. Novi bercerita tentang anak-anaknya yang manis pagi tadi, Kakek Imron mendengarkan dengan sabar sambil sesekali tersenyum. Tak ada yang tahu bahwa di balik obrolan ringan itu, ada api yang sudah menyala di antara mereka.
Tanpa mereka sadari, Bu Suci Chandraeni yang kebetulan lewat di jalan seberang melihat adegan itu. Matanya menyipit. “Novi… sama tukang sapu?” gumamnya penasaran.
3130Please respect copyright.PENANAQ4vVq4U9FU
Setelah berbincang sebentar, Novi dan Kakek Imron berjalan bersama menuju gubuk Kakek Imron. Bu Suci membuntuti mereka dari kejauhan, hati-hatinya penuh rasa ingin tahu.
3130Please respect copyright.PENANA9ABgVKJSj4
Sesampainya di gubuk, pintu bambu langsung tertutup. Tanpa banyak kata, Novi memeluk Kakek Imron erat. Pelukan itu romantis sekaligus penuh gairah. “Hari ini aku sudah memutuskan, Kek… tubuh dan hatiku hanya untuk Kakek seorang,” bisik Novi lembut sebelum mencium bibir Kakek Imron dengan penuh kasih.
3130Please respect copyright.PENANA0QLwnPeeOK
Kakek Imron membalas ciuman itu dengan lembut di awal, lalu semakin dalam dan penuh nafsu. Tangan kasarnya mengusap punggung Novi, menurunkan gamisnya perlahan. Novi telanjang di depannya, tubuhnya yang indah gemetar karena rindu.
3130Please respect copyright.PENANActNRIeJVtJ
Kontol Kakek Imron yang super besar (25 cm, diameter 7 cm) langsung mengeras. Bu Suci yang mengintip dari celah papan gubuk terkejut luar biasa. Matanya melebar. “Ya Tuhan… lebih besar dari ketiga pria kemarin…” bisiknya. Tangannya tanpa sadar turun ke selangkangannya sendiri, mulai menggosok memeknya yang sudah basah.
3130Please respect copyright.PENANAsknbjBRLgp
Di dalam gubuk, Novi berlutut dengan penuh kasih sayang. Ia mencium kontol raksasa itu sebelum memasukkannya ke mulutnya dengan lembut. Blowjobnya romantis — lambat, penuh perhatian, lidahnya menjilat setiap urat dengan cinta. Kakek Imron mengelus rambut Novi penuh sayang.
3130Please respect copyright.PENANAM6VrxxSfRF
“Bu Novi… aku sayang kamu,” bisik Kakek Imron.
3130Please respect copyright.PENANA9M3Wn5kAcV
Novi mendongak, matanya berkaca-kaca. “Aku juga, Kek… sekarang aku milik Kakek sepenuhnya.”
3130Please respect copyright.PENANAPWOOGZ2ckD
Kakek Imron mengangkat Novi dan menghunjamnya dengan lembut tapi dalam. Mereka bercinta di bale-bale dengan posisi missionary. Gerakan Kakek Imron pelan dan penuh kasih di awal, lalu semakin kuat seiring gairah yang membara. Novi mendesah manja, kakinya melingkar di pinggang kakek.
3130Please respect copyright.PENANAxiMjoaDIrr
“Ahh… Kek… dalem sekali… aku cinta kontol Kakek…”
3130Please respect copyright.PENANASdzmQcO1cS
Di luar, Bu Suci semakin terangsang. Ia colmek semakin cepat sambil mengintip. Napasnya tersengal.
3130Please respect copyright.PENANAQ9NKszxNVB
Tiba-tiba Novi menyadari ada bayangan di celah papan. Ia menoleh dan melihat Bu Suci yang sedang asyik colmek sendiri.
“Suci…?” panggil Novi terkejut tapi tidak marah.
3130Please respect copyright.PENANAtKJMj6nR31
Bu Suci ketahuan. Ia masuk ke gubuk dengan wajah merah malu tapi penuh nafsu. “Novi… aku… aku tidak sengaja lihat… kontolnya… besar sekali…”
3130Please respect copyright.PENANAxUDuFLhU5M
Novi tersenyum lembut, tangannya masih memeluk leher Kakek Imron. “Kalau kamu mau… ikutlah. Kita pesta bertiga malam ini.”
3130Please respect copyright.PENANAu3OIL6KJiA
Bu Suci tidak menolak. “Aku mau… aku sudah sumpah kemarin mau jadi pelacur seperti Siti… tapi ini… ini terlalu menggoda.”
3130Please respect copyright.PENANA7TwbWxKNbo
Malam itu, gubuk kecil Kakek Imron menjadi saksi percintaan bertiga yang penuh romansa dan gairah luar biasa. Novi dan Suci saling berciuman mesra di depan Kakek Imron, sementara kontol raksasa kakek menghunjam bergantian memek mereka dengan penuh kasih dan kekuatan.
3130Please respect copyright.PENANAU9KA5C8cZG
Novi mencium Suci dengan lembut sambil didesak dari belakang. “Kita sama-sama mencari kebahagiaan, Suci…”
3130Please respect copyright.PENANAgOMf8Mgfgu
Gairah mereka meledak-ledak sepanjang malam, campuran antara kasih sayang terlarang dan nafsu yang tak terbendung.
3130Please respect copyright.PENANA2HNRTf1lDV
Di dalam gubuk kecil Kakek Imron, suasana langsung memanas setelah Novi mengajak Bu Suci bergabung.
3130Please respect copyright.PENANAr2WBvBY3Fm
Bu Suci langsung berlutut di depan Kakek Imron dengan mata berbinar penuh nafsu. Ia memegang kontol raksasa berukuran 25 cm itu dengan dua tangan, kagum melihat ukurannya yang jauh lebih besar dari ketiga pria kemarin.
3130Please respect copyright.PENANAVh67F7heGN
“Ya Tuhan… ini monster…” bisik Suci sebelum membuka mulutnya lebar dan memasukkan kepala kontol Kakek Imron ke dalam mulutnya.
3130Please respect copyright.PENANA1ttE0Utqlm
Ia melakukan blowjob dengan rakus. Kepalanya maju mundur cepat, lidahnya menjilat urat-urat tebal itu, sesekali tersedak karena ukurannya yang luar biasa. Air liurnya menetes deras membasahi bola-bola tua Kakek Imron.
3130Please respect copyright.PENANALzRviBmQoB
Kakek Imron mendesah nikmat, tangannya memegang kepala Suci. “Enak sekali… mulut guru baru ini… isap lebih dalam, Nak…”
3130Please respect copyright.PENANAvYzKBkkfHA
Novi tidak mau kalah. Ia mendekat, memeluk leher Kakek Imron dan menciumnya dengan mesra sekali. Lidah mereka saling bertautan penuh kasih dan nafsu. Ciuman itu dalam, lambat, penuh perasaan — Novi mencurahkan seluruh cintanya yang baru tumbuh kepada kakek tua itu.
3130Please respect copyright.PENANAaE8w6YgEpV
Kakek Imron membalas ciuman Novi dengan sama mesranya, satu tangannya meremas payudara Novi, tangan lainnya masih memegang kepala Suci yang sedang mengisap kontolnya dengan liar.
3130Please respect copyright.PENANAvfnPBcUXxp
Suci semakin gila. Ia menelan sebanyak mungkin hingga kontol itu menyentuh tenggorokannya. “Gluck… gluck… gluck…” suara basah memenuhi gubuk.
3130Please respect copyright.PENANAelGrNJsDX1
Novi turun, ikut menjilat batang kontol yang tidak muat masuk ke mulut Suci. Dua lidah guru cantik itu saling bertemu di kontol Kakek Imron, membuat kakek tua itu mendesah keras.
3130Please respect copyright.PENANAz3YoE8386s
Tak lama kemudian, Kakek Imron mencapai batas. “Aku keluar… terima ini!!”
Peju kental dan banyak menyembur deras. Bagian pertama memenuhi mulut Suci, sisanya memuncrat ke wajah Novi dan Suci. Kedua wanita itu saling berciuman, berbagi peju Kakek Imron dengan mesra.
3130Please respect copyright.PENANAN1G04N2ldT
3130Please respect copyright.PENANAxuhtDr9ARM


