Pagi itu sinar matahari masuk lewat tirai tipis kamar tidur Andika dan Dita. Jam menunjukkan pukul 07.15. Andika masih tidur telentang, selimut hanya menutupi pinggangnya. Kontolnya yang pagi-pagi sudah setengah tegang menonjol di balik kain.
Wulan sudah bangun lebih dulu. Ia telanjang bulat, duduk di pinggir ranjang, memandang menantunya dengan mata penuh nafsu. Semalam ia sudah merasakan kontol Andika berkali-kali, tapi badannya masih panas. Memeknya masih sedikit basah karena sperma Andika yang semalam tertinggal di dalam.
Wulan tidak tahan. Ia pelan-pelan menarik selimut ke bawah, memperlihatkan kontol Andika yang mulai mengeras. Wulan tersenyum nakal. Ia membungkuk dan mulai menjilat kepala kontol itu dengan lidah panasnya. Perlahan. Basah. Ia menjilat dari bawah ke atas, menjilat setiap urat yang menonjol, lalu membuka mulut dan menghisap kepala kontol dengan lembut.
“Mmmh…” Andika mengerang pelan dalam tidurnya.
Wulan semakin berani. Ia membuka mulut lebih lebar dan menelan kontol Andika sampai setengah batang. Ia menghisap pelan sambil lidahnya menjilat bagian bawah kontol. Air liurnya mulai mengalir deras, membasahi batang kontol yang semakin tegang dan membesar di dalam mulutnya.
Andika terbangun. Ia membuka mata dan langsung melihat Wulan yang sedang menghisap kontolnya dengan rakus. “Bu… ahhh…”
Wulan mengangkat wajahnya sebentar, air liur menjuntai dari bibirnya ke kontol. “Pagi, Nak… Ibu sudah tidak tahan. Kontolmu pagi-pagi sudah bangun… biar ibu yang bangunin dengan mulut ibu dulu.”
Wulan kembali menghisap. Kali ini lebih dalam. Ia menelan kontol sampai hampir ke tenggorokan, lalu menariknya keluar perlahan sambil menghisap kuat. “Gluck… gluck… gluck…” Suara hisapannya menggema di kamar yang sepi. Wulan memegang batang kontol dengan tangan dan memutar-mutarnya sambil menghisap kepalanya dengan kuat.
Andika mengerang lebih keras. Tangan kanannya memegang rambut Wulan. “Bu… hisapannya enak sekali… ahhh… ibu hisap lebih dalam…”
Wulan menatap Andika dari bawah sambil mulutnya penuh kontol. Ia mempercepat gerakan kepalanya, naik turun cepat. Kontol Andika sudah basah kuyup oleh air liur Wulan. Wulan sesekali menarik kontol keluar dan menjilat kepalanya dengan cepat, lalu menelan lagi sampai dalam.
Setelah lima menit menghisap, Wulan melepaskan kontol dari mulutnya. Ia naik ke atas ranjang dan langsung duduk di atas pinggul Andika. Memeknya yang sudah basah menyentuh kontol yang tegang. Wulan menggoyang pinggulnya pelan, menggesek klitorisnya ke kepala kontol Andika.
“ Nak… ibu mau naik kontolmu pagi ini…” bisik Wulan sambil memegang kontol Andika dan mengarahkannya ke lubang memeknya. Ia turun perlahan. Kontol Andika masuk ke dalam memek Wulan yang masih hangat dan basah dari semalam. “Ahhh… masih enak… masih besar… memek ibu langsung penuh…”
Wulan mulai naik turun sendiri. Ia meletakkan kedua tangan di dada Andika, pinggulnya naik turun dengan ritme yang lambat tapi dalam. Setiap kali ia turun, kontol Andika menghantam ujung memeknya. Wulan mengerang pelan tapi terus-menerus.
“Enak ya, Nak…? Memek ibu pagi-pagi sudah basah buat kontolmu… ahhh… ahhh…” Wulan menggoyang pinggulnya lebih cepat. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajah Andika.
Andika memegang pinggul Wulan dan membantu mengangkatnya. “Bu… memekmu pagi ini lebih basah… lebih panas… aku suka…”
Wulan naik turun semakin cepat. Ia mencondongkan tubuh ke depan sehingga putingnya menyentuh bibir Andika. Andika langsung menghisap puting Wulan sambil Wulan terus menggoyang pinggulnya.
Setelah sepuluh menit Wulan naik turun, ia orgasme pertama di pagi itu. Tubuhnya gemetar, memeknya berkedut-kedut menggenggam kontol Andika kuat-kuat. “Aku keluar, Nak… ahhh… ahhh… enak sekali…”
Wulan belum berhenti. Ia terus naik turun pelan sambil menikmati sisa orgasmenya.
Andika membalik posisi. Ia menyuruh Wulan berbaring telentang, lalu mengangkat kedua kaki Wulan dan meletakkannya di atas bahunya. Posisi ini membuat kontol Andika bisa masuk sangat dalam. Andika mendorong kontolnya pelan tapi kuat.
“Ahhh… dalam sekali, Nak…” desah Wulan. “Kontolmu menyentuh tempat paling dalam… ahhh… gerakkan pinggulmu… entot ibu dalam-dalam…”
Andika mulai mengentot dengan ritme yang dalam dan lambat. Setiap dorongan membuat kontolnya menghantam ujung memek Wulan. Wulan mengerang keras setiap kali kontol menghantam dalam. Andika mempercepat. Bunyi “plok… plok… plok…” dari kontol yang keluar masuk memek basah terdengar jelas.
“Entot ibu lebih keras, Nak… jangan pelan-pelan… ibu suka yang kasar pagi-pagi…” pinta Wulan sambil memegang kedua payudaranya sendiri dan meremasnya.
Andika mengentot lebih cepat dan lebih dalam. Kaki Wulan di atas bahunya membuat memeknya terbuka lebar. Andika bisa melihat kontolnya yang basah keluar masuk lubang memek Wulan yang merah dan bengkak.
Wulan orgasme lagi. Kali ini lebih kuat. Ia menjerit pelan sambil tubuhnya melengkung. “Aku keluar lagi… ahhh… sperma mu masih di dalam… enak sekali…”
Andika juga hampir keluar. Ia menarik kontolnya keluar sebentar, lalu memasukkannya lagi dengan satu dorongan kuat dan menyemprotkan sperma panas ke dalam rahim Wulan. “Bu… aku keluar… ahhh…”
Sperma Andika yang banyak langsung mengisi memek Wulan sampai penuh. Sebagian bocor keluar dan mengalir ke anus Wulan.
Mereka berbaring sebentar, napas masih tersengal. Kontol Andika masih di dalam memek Wulan.
Setelah istirahat sepuluh menit, Wulan bangun duluan. “Nak, ibu buatkan sarapan dulu ya. Kamu mandi atau ikut ibu ke dapur?”
Andika ikut ke dapur. Wulan hanya memakai celemek tipis tanpa apa-apa di bawahnya. Saat Wulan berdiri di depan kompor, Andika mendekat dari belakang dan memeluknya. Tangan Andika langsung meremas payudara Wulan dari balik celemek.
“Nak… masih mau lagi?” tanya Wulan sambil tertawa kecil.
“Masih, Bu… kontolku belum puas.”
Wulan mematikan kompor. Ia membungkuk di atas meja dapur, pantatnya menghadap Andika. Celemek naik ke pinggang. Pantat Wulan yang montok dan mulus terlihat jelas. Memeknya yang penuh sperma masih basah dan terbuka sedikit.
“Entot ibu dari belakang di dapur lagi, Nak… tapi kali ini ibu mau yang lebih kasar…”
Andika berdiri di belakang Wulan. Ia memegang pinggul Wulan dan memasukkan kontolnya yang sudah tegang lagi ke dalam memek yang penuh sperma. Kontolnya langsung masuk mulus karena sudah sangat basah.
Wulan mengerang. “Ahhh… masih enak… entot ibu kuat-kuat, Nak…”
Andika mulai mengentot doggy style di dapur. Kali ini ia lebih kasar. Ia menarik rambut Wulan ke belakang sambil mengentot cepat. Tangan satunya menampar pantat Wulan keras-keras.
“Plak! Plak!”
“Ahhh… tampar lagi, Nak… ibu suka… entot memek ibu yang penuh sperma mu… ahhh…”
Andika mengentot dengan cepat dan dalam. Memek Wulan mengeluarkan suara basah “cip… cip… cip…” karena sperma yang masih di dalam. Andika menampar pantat Wulan berkali-kali sampai merah.
Wulan orgasme lagi di posisi itu. Tubuhnya gemetar di atas meja dapur.
Mereka pindah ke ruang tamu. Andika duduk di lantai karpet. Wulan naik dan langsung duduk di wajah Andika dalam posisi 69. Memek Wulan yang penuh sperma tepat di mulut Andika. Wulan membungkuk dan menghisap kontol Andika lagi.
Andika menjilat memek Wulan dengan rakus. Ia menjilat sperma yang keluar dari lubang memek, lalu menghisap klitoris Wulan kuat-kuat. Wulan mengerang di atas kontol Andika.
Mereka saling oral selama sepuluh menit. Wulan orgasme di mulut Andika, tubuhnya gemetar hebat.
Setelah itu Wulan berbaring telentang di karpet. Andika naik ke atas dada Wulan. Ia meletakkan kontolnya di antara dua payudara Wulan yang besar. Wulan meremas payudaranya sendiri sehingga kontol Andika terjepit di antara belahan dada yang empuk dan hangat.
“Titfuck ibu, Nak… gesek kontolmu di payudara ibu… lalu keluarkan sperma di wajah ibu…”
Andika menggerakkan pinggulnya. Kontolnya yang basah oleh air liur dan cairan memek Wulan bergeser naik turun di antara payudara Wulan yang empuk. Wulan menjulurkan lidahnya dan menjilat kepala kontol setiap kali Andika mendorong ke depan.
Setelah beberapa menit, Andika merasa mau keluar. “Bu… aku mau keluar…”
“Keluar di wajah ibu… di payudara ibu… isi muka ibu dengan sperma panasmu…”
Andika meledak. Sperma tebal menyembur ke wajah Wulan, ke bibirnya, ke dagunya, dan ke payudaranya. Wulan membuka mulut dan menangkap beberapa tetes sperma dengan lidahnya, lalu menelannya.
Mereka mandi bersama setelah itu. Di dalam kamar mandi, Andika menekan Wulan ke dinding kaca shower. Air hangat membasahi tubuh mereka. Andika mengangkat satu kaki Wulan dan memasukkan kontol dari depan. Mereka ngentot berdiri di shower sambil melihat bayangan mereka di cermin.
Wulan menatap cermin. “Lihat, Nak… lihat kontolmu ngentot memek ibu… enak ya lihat sendiri?”
Andika mengentot lebih cepat sambil meremas payudara Wulan dari belakang. Mereka orgasme bersama di shower.
Siang harinya, setelah makan siang, mereka duduk di sofa ruang tamu menonton TV. Tapi tidak lama. Wulan langsung merangkak ke pangkuan Andika dan membuka celananya. Ia mengeluarkan kontol Andika dan langsung memasukkannya ke dalam memeknya sambil duduk di pangkuan.
Mereka ngentot pelan di sofa sambil menonton TV. Tiba-tiba telepon Andika berdering. Nama di layar: Dita.
Andika kaget. Wulan tersenyum nakal. “Angkat, Nak… bicara sama istri mu… sementara kontolmu masih di dalam memek ibu…”
Andika mengangkat telepon dengan tangan gemetar. “Halo, Dit…”
Dita bicara dari seberang. “Sayang, lagi apa? Lagi di rumah ya?”
Andika menjawab sambil berusaha menahan desahan. Wulan diam-diam menggoyang pinggulnya pelan. Memek Wulan menggenggam kontol Andika erat. “Iya Dit… lagi di rumah… sendirian…”
Wulan menekan payudaranya ke dada Andika dan berbisik pelan di telinga yang satunya, “Entot ibu pelan-pelan… jangan sampai Dita tahu…”
Andika terus bicara dengan Dita sambil Wulan menggoyang pinggulnya pelan tapi dalam. Kontolnya tetap tertanam di dalam memek ibu mertuanya. Mereka ngentot pelan dan diam-diam selama telepon berlangsung.
Setelah telepon selesai, Andika langsung membalik Wulan di sofa dan mengentotnya dengan kasar dari belakang. “Bu… kamu nakal sekali… hampir ketahuan…”
Wulan tertawa sambil mengerang. “Karena ibu suka… entot ibu lebih keras sekarang… hukum ibu…”
Andika mengentot Wulan dengan sangat kasar di sofa sampai Wulan orgasme lagi dan Andika menyemprotkan sperma ke dalam memeknya untuk kesekian kalinya hari itu.
Malam harinya mereka tidur lagi di ranjang yang sama. Sebelum tidur, Wulan berbisik, “Besok… kita masih punya dua hari lagi sebelum Dita pulang. Ibu mau ngentot setiap saat… di setiap sudut rumah ini…”
Andika memeluk Wulan dari belakang, kontolnya yang lelah masih menempel di pantat Wulan. “Iya Bu… aku juga mau…”
Mereka tertidur telanjang, tubuh saling menempel, nafsu yang masih membara menunggu pagi berikutnya.
ns216.73.217.54da2


