Rumah dua lantai di kawasan elite Jakarta Selatan itu terasa sangat sepi malam itu. Jam dinding menunjukkan pukul 20.45. Andika baru saja memarkir mobilnya di garasi. Hari kerja sudah selesai lebih cepat dari biasanya. Ia membuka pintu rumah dengan kunci dan langsung mencium aroma masakan dari dapur.
“Istriku Dita sedang tidak ada,” gumam Andika dalam hati. Dita, istrinya yang berusia 26 tahun, sudah berangkat ke Surabaya sejak kemarin pagi untuk mengikuti pelatihan kerja selama empat hari penuh. Rumah yang biasanya ramai dengan suara Dita sekarang hanya dihuni oleh dua orang: Andika sendiri dan Wulan, ibu mertuanya.
Wulan adalah wanita cantik berusia 42 tahun. Janda sejak dua tahun lalu setelah suaminya meninggal karena sakit. Tubuh Wulan masih sangat terawat. Payudaranya besar dan kencang, pinggulnya lebar dan montok, kulit putih mulus, serta wajah cantik dengan bibir tebal yang selalu terlihat menggoda. Sejak suaminya pergi, Wulan pindah tinggal bersama anak dan menantunya karena merasa kesepian. Ia sering membantu mengurus rumah, memasak, dan membersihkan.
Malam itu Wulan sedang di dapur. Ia memakai daster satin tipis warna hitam yang agak pendek, hanya sampai pertengahan paha. Daster itu sengaja dipilihnya karena ketat di bagian dada. Wulan tidak memakai bra, sehingga bentuk putingnya yang besar terlihat samar-samar menonjol di balik kain tipis setiap kali ia bergerak. Celana dalamnya juga tipis, warna hitam polos.
Wulan berdiri di depan kompor, punggungnya menghadap pintu masuk. Saat Andika masuk ke dapur, pandangannya langsung tertuju pada pantat Wulan yang montok dan bulat sempurna. Daster tipis itu menempel erat di tubuh Wulan, memperlihatkan lekuk pinggul yang menggoda.
“Nak Andika… kamu sudah pulang?” panggil Wulan dengan suara lembut dan sedikit serak. Ia berbalik perlahan. Payudaranya yang besar bergoyang pelan di balik daster. “Dita sudah telepon tadi sore. Bilang pelatihannya padat. Pulangnya lusa sore. Jadi malam ini… rumah ini cuma kita berdua ya, Nak.”
Andika mengangguk. Tenggorokannya terasa kering. “Iya Bu. Terima kasih ya sudah masakin. Bau enak sekali.”
Wulan tersenyum. Ia mendekat membawa piring nasi goreng spesial. Saat meletakkan piring di meja makan, Wulan sengaja membungkuk dalam-dalam di depan Andika. Belahan payudaranya yang dalam terlihat jelas. Putingnya yang coklat tua hampir keluar dari balik daster.
“Makan dulu, Nak. Kamu pasti lapar. Biar ibu suapin ya,” kata Wulan sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Andika. Kaki mereka hampir bersentuhan.
Mereka makan sambil bicara ringan. Tapi Wulan mulai mengubah arah pembicaraan.
“Nak… ibu mau bicara jujur sama kamu malam ini,” kata Wulan pelan sambil menatap Andika. Matanya berkaca-kaca. “Ibu sudah lama kesepian. Sejak papa Dita meninggal, badan ibu ini tidak pernah lagi disentuh pria. Setiap malam ibu tidur sendiri. Memek ibu sering basah sendiri karena tidak tahan. Ibu sudah coba tahan, sudah coba puaskan sendiri dengan jari, tapi semakin hari semakin parah. Nafsu ibu sudah gila, Nak. Apalagi lihat kamu dan Dita setiap hari… ibu iri. Dita jarang di rumah, kamu juga sibuk kerja. Ibu… butuh sentuhan pria, Nak. Butuh kontol yang bisa mengisi memek ibu yang sudah haus ini.”
Andika tersedak nasi. Ia menatap Wulan dengan mata membelalak. “Bu… apa-apaan ini? Saya suami Dita. Ini salah besar. Kita tidak bisa begini.”
Wulan tersenyum sedih. Ia mengambil tangan Andika dan meletakkannya di pahanya yang telanjang. Kulit Wulan halus dan hangat. “Ibu tahu ini salah, Nak. Ibu juga merasa bersalah. Tapi ibu sudah tidak bisa menahan lagi. Tolong ibu ya, Nak. Hanya malam ini. Dita tidak akan tahu. Ini rahasia kita berdua saja. Ibu janji, kalau kamu tidak mau, ibu tidak akan paksa lagi. Tapi tolong… sentuh ibu dulu. Remas payudara ibu. Jilat memek ibu. Ibu butuh sekali…”
Wulan berdiri dan tanpa izin langsung duduk di pangkuan Andika. Tubuhnya menempel erat. Payudara Wulan yang besar menekan dada Andika. Aroma tubuh Wulan yang harum bercampur keringat tipis langsung masuk ke hidung Andika. Kontol Andika yang tadinya setengah tegang langsung mengeras di dalam celana.
“Cium ibu, Nak,” bisik Wulan dekat telinga Andika. “Cium bibir ibu yang sudah haus ini.”
Andika masih mencoba menahan. “Bu… ini tidak benar…”
Wulan tidak peduli. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Andika. Awalnya Andika kaku, tapi Wulan menjilat bibir bawah Andika dengan lidahnya yang panas. Andika akhirnya membuka mulut. Ciuman mereka langsung dalam dan liar. Lidah Wulan menari-nari di dalam mulut Andika. Air liur mereka bercampur.
Tangan Andika tanpa sadar naik dan meremas payudara Wulan dari luar daster. Payudara itu empuk tapi kencang. Putingnya sudah keras seperti kacang.
“Ya, Nak… remas payudara ibu lebih keras…” desah Wulan di antara ciuman. “Buka daster ibu… hisap puting ibu…”
Andika membuka kancing daster Wulan satu per satu dengan tangan gemetar. Daster terbuka. Payudara Wulan yang besar dan indah terlihat telanjang. Puting coklat tua sudah tegak sempurna. Andika langsung menunduk dan menghisap satu puting dengan kuat. Lidahnya menjilat puting itu sambil menghisap.
“Ahhh… enak sekali, Nak…” Wulan memegang kepala Andika dan menekannya lebih dalam ke payudaranya. “Hisap puting ibu lebih kuat… gigit pelan… ahhh… ibu suka banget…”
Tangan Andika turun ke bawah. Ia menyusupkan jari ke balik celana dalam Wulan. Memek Wulan sudah sangat basah. Jari Andika mengusap klitoris yang membengkak.
“Basah sekali, Bu…” kata Andika dengan suara serak. “Memek ibu sudah siap ya?”
“Siap untuk kontolmu, Nak,” jawab Wulan sambil mengerang. “Keluarkan kontolmu sekarang. Biar ibu lihat seberapa besar kontol menantuku.”
Andika berdiri. Ia membuka celana panjang dan celana dalamnya sekaligus. Kontolnya yang sudah tegang sempurna langsung melonjak keluar. Panjangnya sekitar 18 cm, tebal, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap karena cairan bening yang sudah keluar.
Wulan berlutut di lantai dapur tanpa ragu. Matanya berbinar melihat kontol Andika. “Wah… besar dan gagah sekali… lebih besar dari yang ibu bayangkan. Lebih tebal dari kontol suami ibu dulu.” Wulan memegang kontol Andika dengan tangan lembut. Ia menjilat kepala kontol itu perlahan dari bawah ke atas, menjilat cairan bening yang keluar.
Kemudian Wulan membuka mulut lebar dan memasukkan kontol Andika ke dalam mulutnya. Ia menghisap dalam-dalam. “Gluck… gluck… gluck…” Suara hisapan Wulan menggema di dapur yang sepi. Wulan menelan kontol sampai hampir ke tenggorokan. Air liurnya mengalir deras di sepanjang batang kontol dan menetes ke payudaranya.
Andika memegang rambut Wulan dengan kedua tangan. Ia menggerakkan pinggulnya perlahan, mengentot mulut ibu mertuanya. “Bu… mulutmu panas dan basah sekali… hisap lebih dalam… telan kontolku…”
Wulan menatap Andika dari bawah dengan mata berair karena deepthroat. Ia menarik kontol keluar sebentar untuk bernapas. Air liur menjuntai dari bibirnya ke kontol. “Kontolmu enak sekali, Nak. Ibu suka diisi kontol besar seperti ini. Sekarang… entot memek ibu. Ibu sudah tidak tahan lagi.”
Wulan berdiri, melepaskan daster sepenuhnya, lalu naik ke atas meja makan. Ia membuka kaki lebar-lebar. Memeknya yang sudah dicukur rapi terbuka sempurna. Bibir memek tebal dan merah muda, klitoris membengkak, dan lubang memeknya basah kuyup, cairan bening mengalir keluar.
Andika berdiri di antara kaki Wulan. Ia memegang kontolnya sendiri dan menggesek-gesekkan kepala kontol ke bibir memek Wulan. “Mau aku masukkan sekarang, Bu?”
“Masukkan, Nak… masukkan pelan-pelan dulu… memek ibu sempit karena sudah lama tidak dipakai…” desah Wulan.
Andika mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kontolnya masuk ke dalam lubang memek Wulan. Memek itu membungkus erat, hangat, dan sangat basah. “Ahhh… besar… penuh sekali… enak banget, Nak…” Wulan mengerang keras sambil memegang pinggir meja.
Andika mulai mengayunkan pinggulnya. Awalnya pelan, merasakan setiap sentimeter memek Wulan yang sempit dan berdenyut. Lalu semakin cepat. Bunyi “plok… plok… plok…” dari kontol yang keluar masuk memek basah terdengar jelas di dapur.
“Entot ibu lebih keras, Nak… jangan kasihan ibu… ibu butuh ini… ahhh… ahhh…” Wulan mengangkat pinggulnya agar kontol Andika bisa masuk lebih dalam. Payudaranya bergoyang-goyang setiap kali Andika mendorong.
Andika memegang pinggul Wulan dan mempercepat gerakannya. Kontolnya menghantam dalam-dalam, menggesek dinding memek Wulan yang sensitif. “Memek ibu enak sekali, Bu… basah, panas, dan sempit… aku suka ngentot memek ibu…”
Wulan orgasme pertama kali. Tubuhnya gemetar hebat. Memeknya berkedut-kedut menggenggam kontol Andika erat. Air menceretnya menyembur membasahi kontol Andika dan meja makan. “Aku keluar, Nak… ahhh… ahhh… enak sekali… jangan berhenti… terus entot ibu…”
Andika tidak berhenti. Ia terus mengentot Wulan melalui orgasmenya. Setelah Wulan agak tenang, Andika mengangkat tubuh Wulan dari meja dan membawanya ke sofa di ruang tamu. Wulan berlutut di sofa, pantatnya menghadap Andika.
“Dari belakang, Nak… entot pantat ibu dari belakang… ibu suka gitu…” pinta Wulan sambil menggoyang pantatnya.
Andika berdiri di belakang Wulan. Ia memegang pinggul Wulan dan memasukkan kontolnya lagi ke dalam memek yang masih basah dan hangat. Kali ini ia langsung mendorong dalam-dalam. Tangan Andika menampar pantat Wulan dengan keras. “Plak!”
“Ahhh… lagi, Nak… tampar pantat ibu lagi…” desah Wulan.
Andika menampar lagi sambil mengentot dengan cepat dan kuat. Pantat Wulan bergoyang setiap kali kontol menghantam. Bunyi “plok plok plok” semakin keras bercampur dengan tamparan “plak plak”.
Mereka pindah posisi lagi. Andika duduk di sofa. Wulan naik ke pangkuannya, menghadap Andika (cowgirl). Wulan memegang kontol Andika dan memasukkannya sendiri ke dalam memeknya. Lalu ia mulai naik turun sendiri, menggoyang pinggulnya dengan ahli.
“Lihat ibu naik kontolmu, Nak…” kata Wulan sambil menatap mata Andika. “Enak ya? Memek ibu panas dan basah… ahhh… kontolmu menggesek titik enak ibu…”
Andika memegang payudara Wulan yang bergoyang-goyang dan menghisap putingnya bergantian. “Enak sekali, Bu… kamu hebat… terus goyang pinggulmu…”
Wulan naik turun semakin cepat. Memeknya menjepit kontol Andika erat. “Aku mau keluar lagi, Nak… ayo bareng… keluarkan sperma di dalam memek ibu… isi rahim ibu dengan sperma panasmu…”
Andika merasa sperma sudah naik ke ujung. “Bu… aku mau keluar… memekmu terlalu enak…”
“Keluar di dalam… isi memek ibu… ahhh… ahhh…” Wulan orgasme kedua kalinya. Tubuhnya kaku di atas Andika. Memeknya menyedot kuat.
Andika meledak. Ia menyemprotkan sperma tebal dan panas berkali-kali ke dalam rahim Wulan. Sperma itu sangat banyak, mengalir keluar dari sela-sela memek Wulan yang masih terhubung dengan kontol.
Mereka berpelukan erat, napas tersengal-sengal. Kontol Andika masih tertanam di dalam memek Wulan. Sperma bocor pelan dari lubang memek.
Tapi Wulan belum puas. Ia menggoyang pinggul pelan-pelan sambil memegang kontol Andika yang masih di dalam. Kontol itu kembali mengeras di dalam memek hangat Wulan.
“Masih bisa lagi, Nak?” bisik Wulan sambil menjilat telinga Andika. “Ibu masih haus. Bawa ibu ke kamar tidur… kita lanjut di ranjang yang lebih nyaman.”
Andika mengangkat Wulan yang ringan dan membawanya ke kamar tidur utama — kamar Andika dan Dita. Mereka berbaring di ranjang king size yang biasa dipakai Andika dan istrinya.
Di kamar, Wulan minta posisi 69. Andika berbaring telentang. Wulan naik ke atas, memeknya yang penuh sperma tepat di atas wajah Andika, sementara Wulan membungkuk dan menghisap kontol Andika lagi.
Andika menjilat memek Wulan dengan rakus. Ia menjilat cairan sperma yang masih keluar bercampur dengan cairan Wulan. Rasa asin dan manis. “Memekmu enak, Bu… penuh sperma ku… jilat lebih dalam ya?”
“Jilat lebih dalam, Nak… hisap klitoris ibu… ahhh…” Wulan mengerang sambil menghisap kontol dengan dalam.
Mereka saling oral selama beberapa menit. Wulan orgasme lagi di mulut Andika, tubuhnya gemetar di atas.
Kemudian Andika membalik Wulan. Ia memasukkan kontol dari belakang dalam posisi spooning. Sambil meremas payudara Wulan dari belakang, Andika mengentot pelan tapi dalam.
“ Nak… kamu buat ibu ketagihan…” desah Wulan sambil memegang tangan Andika yang meremas payudaranya. “Besok malam juga ya… selama Dita belum pulang… kita ngentot lagi…”
“Iya Bu… aku juga mau lagi…” jawab Andika sambil mempercepat gerakan pinggulnya.
Mereka berhubungan seks lagi di posisi itu. Andika menyemprotkan sperma ketiga kalinya ke dalam memek Wulan.
Setelah itu mereka mandi bersama di kamar mandi dalam. Di dalam shower, air hangat membasahi tubuh telanjang mereka. Andika menekan Wulan ke dinding kaca shower. Ia mengangkat satu kaki Wulan dan memasukkan kontol dari depan.
“Di shower juga enak, Nak…” desah Wulan sambil memeluk leher Andika. “Entot ibu di sini… kuat-kuat…”
Andika mengentot Wulan berdiri di shower. Air shower membasahi payudara mereka. Mereka orgasme lagi di posisi itu.
Malam itu, setelah mandi, mereka tidur telanjang di ranjang Andika dan Dita. Wulan dipeluk Andika dari belakang. Kontol Andika yang agak lembek masih menempel di sela pantat Wulan. Sperma masih sedikit bocor dari memek Wulan.
Sebelum tertidur, Wulan berbisik pelan, “Terima kasih, Nak. Ibu sudah lama tidak sebahagia dan sepuas ini. Besok pagi… kita bisa ulangi lagi ya?”
Andika mengangguk sambil mencium pundak Wulan. “Iya Bu… kita ulangi lagi.”
Mereka tertidur dalam pelukan, tubuh telanjang saling menempel, siap untuk pagi yang lebih panas.
ns216.73.217.54da2


