Klik.
Suara putaran kunci deadbolt pintu depan itu tidak keras, namun di telinga Wulan, bunyinya bergema layaknya palu godam yang menghantam nisan suaminya.
Di luar, hujan badai kembali mengamuk. Deru angin dan rintik air yang menghantam atap asrama menelan segala suara dari dalam rumah. Wulan menatap pria raksasa berseragam dinas di hadapannya dengan napas yang memburu. Penawaran itu bukan sekadar kalimat; itu adalah jebakan yang telah dirancang sedemikian rupa untuk menjeratnya saat ia berada di titik paling nadir.
Wulan yang sejak tadi merapatkan lututnya, tiba-tiba berdiri. Kepolosannya menguap, digantikan oleh bara amarah seorang istri yang harga dirinya diinjak-injak tepat di malam hari ia menjadi janda.
"Apa maksud Anda, Ndan?!" Suara Wulan bergetar hebat, matanya memerah menahan tangis dan murka. "Suami saya mati demi negara! Mati di bawah perintah Anda! Dan sekarang, saat tanah kuburannya belum kering, Anda datang ke mari untuk menjadikan saya simpanan? Menjadikan saya pelacur pemuas hasrat Anda demi sebuah tempat tinggal?!"
Wulan menunjuk wajah sang Komandan dengan jari yang gemetar. "Biadab! Anda laki-laki tidak punya nurani! Keluar dari rumah saya sekarang, atau saya akan berteriak sampai semua tetangga asrama tahu betapa kotornya atasan suami saya ini!"
Bukannya takut atau merasa bersalah, sang Komandan justru tertawa pelan. Tawa yang sangat gelap, dingin, dan merendahkan. Pria itu berdiri dari sofa. Posturnya yang menjulang tinggi—dengan otot-otot dada yang membusung di balik seragam ketatnya—langsung membuat nyali Wulan ciut, menutupi cahaya lampu ruang tamu, menempatkan Wulan dalam bayang-bayang tubuhnya yang masif.
"Berteriaklah, Wulan. Berteriak sekeras yang kamu mau," tantang sang Komandan dengan nada konfrontasi yang mengiris harga diri Wulan. Pria itu melangkah maju dengan angkuh. "Siapa yang akan menolongmu? Tetangga? Mereka hanya peduli pada dapur mereka sendiri. Mertuamu? Mereka baru saja membuangmu seperti sampah. Suamimu? Dia sudah jadi tanah di bawah sana."
Sang Komandan menundukkan wajahnya, menatap Wulan dengan pandangan merendahkan yang sangat absolut. "Kamu bukan siapa-siapa, Wulan. Kamu cuma gadis kampung yang tidak punya uang, tidak punya gelar, dan tidak punya pelindung. Tanpa aku, bulan depan kamu dan anakmu akan tidur di kolong jembatan, mengais sampah untuk makan. Nurani dan kehormatan yang kamu agungkan itu... tidak akan bisa membeli susu untuk Rendy."
Kata-kata itu menghantam relung kalbu Wulan. Realitas yang diucapkan pria itu terlalu kejam, namun terlalu nyata.
Melihat tatapan predator pria itu semakin menggelap, alarm bahaya di kepala Wulan berteriak kencang. Naluri bertahannya mengambil alih. Wulan berbalik dengan cepat, berniat berlari menuju kamarnya untuk mengunci diri bersama anaknya.
Namun, ia lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang prajurit tempur terlatih.
Belum sempat Wulan mengambil langkah kedua, sebuah tangan yang sangat besar, kasar, dan sekuat cengkeraman beruang menerkam pergelangan tangannya.
"Akh!!" Wulan meringis kesakitan saat tulang pergelangan tangannya seakan remuk oleh genggaman itu.
Tarikannya begitu kuat hingga tubuh Wulan terpelanting ke belakang. Sang Komandan tidak membiarkannya jatuh ke lantai. Pria itu menarik Wulan dan menghempaskan tubuh ringkih sang janda ke atas sofa ruang tamu dengan kasar.
Benturan itu membuat napas Wulan tercekat. Sebelum ia bisa bangkit, tubuh raksasa sang Komandan telah menindihnya, mengurung pergerakannya sepenuhnya. Hawa panas dan aroma parfum maskulin bercampur keringat dominasi pria itu menyumbat penciuman Wulan.
"Tolong... lepaskan saya... Ndan, saya mohon..." tangis Wulan akhirnya pecah. Kesombongannya tadi runtuh tak bersisa, digantikan oleh keputusasaan yang nyata. Ia sadar, pria ini sangat keji dan akan melakukan apa saja agar kemauannya terpenuhi.
"Terlalu lambat untuk memohon, Wulan," geram sang Komandan.
Tanpa membuang waktu, pria itu langsung menyerang. Ia menunduk dan merampas bibir Wulan dengan sangat buas. Ciuman itu bukan ciuman cinta, melainkan sebuah konfrontasi. Kasar, menyakitkan, dan merendahkan. Wulan menutup mulutnya rapat-rapat, namun sang Komandan mencengkeram rahang wanita itu dengan kuat, memaksanya terbuka, dan memasukkan lidahnya dalam-dalam untuk mengobrak-abrik rongga mulut sang janda muda.
Air mata Wulan mengalir deras membasahi pipinya. Ia memukul, mencakar dada bidang pria itu, namun serangannya terasa seperti pukulan kapas bagi sang Komandan.
Tangan besar pria itu mulai bergerilya. Dengan kasar, ia meremas payudara Wulan dari luar daster tipisnya, memelintirnya dengan kekuatan yang membuat Wulan menjerit tertahan di sela ciuman mereka. Jeritan permohonannya tenggelam oleh suara guruh di luar dan bungkaman bibir pria biadab itu.
Selama lima belas menit yang terasa seperti neraka jahanam, sang Komandan menyiksa Wulan dengan foreplay yang sangat agresif di atas sofa. Tangan pria itu menyingkap daster Wulan hingga sebatas pinggang, lalu tanpa ampun, jari-jari kasarnya menerobos masuk ke dalam area paling privasi wanita itu.
Wulan menggelepar, tubuhnya menegang hebat. Rasa sakit dan penghinaan membakar batinnya. Namun, di saat yang sama, terjadi sebuah pengkhianatan paling menyedihkan dari dalam dirinya. Meskipun hatinya menangis dan menolak, tubuh mudanya yang telah lama tak disentuh suaminya—yang selalu sibuk bertugas—merespons sentuhan kasar itu secara biologis.
Gesekan jari sang Komandan yang sangat mahir menemukan titik kelemahan Wulan, memaksanya menghasilkan cairan gairah dalam jumlah yang memalukan. Dan di bawah siksaan jari yang kejam itu, Wulan tak bisa menahan tubuhnya yang tiba-tiba mengejang. Ia memekik parau, mengalami pelepasan pertamanya dengan air mata yang terus bercucuran, membuktikan betapa tak berdayanya ia di bawah kendali sang atasan.
Sang Komandan melepaskan ciumannya. Ia tersenyum puas melihat wajah Wulan yang kacau, pipinya basah oleh air mata, namun napasnya terengah-engah dan area bawahnya telah sangat basah.
"Mulutmu menolak, Wulan. Tapi tubuhmu merindukan ini," bisik pria itu dengan nada mengejek.
Pria itu bangkit berdiri. Di hadapan Wulan yang masih gemetar di atas sofa, sang Komandan mulai melucuti seragam dinasnya. Ia membuang kemeja loreng dan kausnya ke lantai. Dada yang lebar, berotot keras, dengan beberapa bekas luka samar terpampang nyata. Lalu, tangannya turun ke sabuk celana.
Dalam satu gerakan, celana panjangnya jatuh, menyisakan celana dalam berwarna gelap.
Mata Wulan melebar dalam kengerian. Di balik kain celana dalam itu, terdapat gundukan yang sangat masif, menonjol keras seakan meminta untuk segera dibebaskan. Ukurannya membuat Wulan menahan napas. Suaminya adalah pria yang gagah, namun apa yang ada di balik celana sang Komandan ini jauh melampaui batas yang pernah ia ketahui.
Sang Komandan tidak langsung melepaskan celana dalamnya. Pria itu membungkuk, menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Wulan, lalu menggendong wanita itu dengan mudah.
"T-tidak... Ndan... jangan ke sana..." Wulan merintih mengiba, tubuhnya memberontak lemah.
Pria itu mengabaikan permohonan Wulan. Ia melangkah pasti menuju pintu kamar utama yang setengah terbuka. Kamar itu. Kamar yang selama ini menjadi saksi bisu kesetiaan Wulan, kamar yang hanya boleh dimasuki olehnya dan sang suami. Malam ini, ruangan suci itu akan diubah menjadi altar dosa di mana kehormatannya akan dihancurkan dan diremukkan tak bersisa.
Sang Komandan melemparkan tubuh Wulan ke atas ranjang. Kasur itu berderit. Sebelum Wulan bisa merangkak mundur, pria raksasa itu menyusul naik.
Dengan gerakan brutal dan tak kenal ampun, sang Komandan mencengkeram kerah daster usang Wulan dan menariknya dengan sekuat tenaga.
Sreeek!
Kain tipis itu robek terbelah dua. Pakaian dalam Wulan pun dilucuti dengan paksa hingga wanita itu benar-benar telanjang bulat di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Sang Komandan terdiam sejenak. Napasnya memberat. Matanya yang gelap memindai setiap inci tubuh janda muda di hadapannya. Pemandangan itu jauh melampaui ekspektasinya. Tubuh Wulan sangat ramping namun memiliki proporsi yang menggoda iman. Payudaranya penuh, ranum, dan membusung dengan ujung yang mengeras karena ketakutan. Perutnya rata, dan di bagian intinya, lekukan indah yang dihiasi bulu-bulu tipis basah oleh keringat dan gairah yang dipaksakan.
"Sempurna," geram pria itu.
Sang Komandan menjatuhkan tubuh Wulan kembali ke kasur. Pria itu memberikan ciuman dan remasan yang membuat tubuh Wulan seakan melayang. Ia tidak pernah diperlakukan sekuat dan sebuas ini oleh mendiang suaminya yang selalu berhati-hati padanya.
Setelah memastikan bagian inti Wulan telah sangat basah dan siap menerima siksaan, sang Komandan menarik tubuh Wulan hingga wanita itu berada dalam posisi duduk bersimpuh di tepi ranjang.
Pria itu berdiri di antara kedua paha Wulan. Dengan tangan yang tenang namun mematikan, ia menurunkan celana dalamnya, membebaskan makhluk buas yang sejak tadi terkurung.
Wulan terkesiap, wajahnya mundur secara refleks. Pusaka sang Komandan melompat keluar. Warnanya gelap, sangat besar, panjang, dengan urat-urat tebal yang menonjol dan bentuk yang sedikit melengkung ke atas. Denyutannya terlihat jelas. Benda itu dua kali lipat lebih masif dari milik mendiang suaminya yang biasa Wulan terima. Membayangkan benda raksasa itu masuk ke dalam tubuhnya membuat Wulan bergidik ngeri.
Melihat keterkejutan di wajah Wulan, sang Komandan menyeringai. Ia meraih tangan kanan Wulan yang gemetar, lalu memaksanya untuk menggenggam batang pusaka itu. Wulan menangis saat menyadari bahwa jemarinya bahkan tidak bisa saling bertemu untuk melingkari seluruh diameter benda tersebut. Terlalu besar.
"Gunakan mulutmu, Wulan," perintah pria itu mutlak, menekan bagian belakang kepala Wulan.
"Ndan... s-saya tidak bisa... itu terlalu besar..." Wulan memohon dengan isak tangis yang memilukan.
"Lakukan, atau aku sendiri yang akan merobek rahimmu sekarang juga!" ancamnya dengan suara yang menggetarkan tulang.
Tidak ada pilihan. Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Wulan membuka mulut mungilnya. Sang Komandan mendorong pinggulnya maju. Wulan tersedak di detik pertama. Benda itu terlalu tebal, memanjangkan rahangnya hingga ke batas maksimal.
Selama lima belas menit yang terasa seperti penderitaan abadi, Wulan dipaksa melayani keangkuhan sang Komandan. Batinnya menjerit sakit, kepalanya pening, dan rahangnya serasa mau copot karena dipaksa menelan dominasi mutlak pria itu. Pemandangan istri ajudannya yang berlutut dan mengulum kejantanannya dengan wajah berlinang air mata membuat ego maskulin sang Komandan membengkak hingga ke puncaknya.
"Cukup," geram pria itu, menarik senjatanya yang kini basah berkilat oleh air liur. "Waktunya hukuman yang sesungguhnya."
Sang Komandan mendorong Wulan hingga telentang di atas ranjang suaminya. Pria itu memosisikan tubuh besarnya, menindih Wulan, dan mengarahkan ujung senjatanya tepat di depan gerbang mahkota sang janda.
Mata Wulan terpejam erat, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan.
Dengan satu dorongan pinggul yang tak kenal belas kasihan, sang Komandan menghunjam masuk.
"AAAAAARRGHHH!!"
Wulan menjerit melengking, suara teriakannya menembus derasnya hujan. Kuku-kukunya menancap di lengan kokoh pria itu. Rasa sakit yang merobek bagian terdalam tubuhnya seakan membelah rahimnya menjadi dua. Pusaka sang Komandan menguasai setiap milimeter ruang di dalam tubuh Wulan, mendesak dengan sangat kejam. Ia merasa seperti perawan yang kembali dirobek paksa, namun kali ini oleh sebuah palu godam.
"Tahan, Wulan! Ini bayaran untuk tempat tinggalmu!" geram sang Komandan di telinga wanita itu, tak memberikan waktu bagi tubuh Wulan untuk beradaptasi. Pria itu mulai menarik pinggulnya dan memompa dengan kecepatan yang brutal.
Permainan inti malam itu adalah sebuah pembantaian atas harga diri Wulan. Selama lebih dari dua jam, kamar utama itu menjadi saksi bisu kehancuran seorang istri prajurit. Suara benturan daging beradu dengan ranjang yang berderit hebat.
Wulan hanya bisa menangis, meminta ampun, namun rintihannya perlahan berubah bentuk.
Kebrutalan sang Komandan ritme pinggulnya yang dalam dan tanpa ampun entah bagaimana memicu sesuatu yang gelap di dasar jiwa Wulan. Di tengah rasa sakit dan penghinaan yang meremukkan egonya, saraf-saraf tubuhnya justru berteriak meminta lebih. Gesekan benda raksasa itu di dalam rahimnya menghasilkan sensasi kenikmatan yang terlalu tajam, terlalu gila untuk ditanggung oleh akal sehatnya.
Sang Komandan membawanya dalam berbagai gaya. Dari misionaris yang mencekik napasnya, hingga membalik tubuh Wulan dan menghajarnya dari belakang. Setiap kali tubuh besar itu membentur bokong Wulan, wanita itu tak bisa lagi menahan suaranya.
"Ahhh... ampuun... Ndann... sakiit... tapi ahhh!" racau Wulan, air matanya tak henti mengalir. "Mas... Komandaan... ahhh!"
Mendengar Wulan mendesahkan namanya dalam keputusasaan yang nikmat, sang Komandan tertawa gelap. Pria itu menyadari bahwa ia tidak hanya merusak tubuh wanita ini, tapi ia juga telah membangkitkan gairah pelacur terpendam di balik wajah suci sang janda. Ia terus menggempur Wulan tanpa sisa tenaga.
Dalam kurun waktu dua jam penyiksaan itu, Wulan telah kehilangan hitungan. Mungkin belasan kali tubuhnya mengejang, merintih, dan melengkung ke atas, mencapai puncak-puncak pelepasan yang membuat otaknya mati rasa. Keringat dan air mata bersatu di wajah cantiknya yang kini sepenuhnya takluk.
Bagi sang Komandan, tubuh Wulan adalah rampasan perang yang paling memuaskan. Setelah menghajar wanita itu tanpa henti, pada hentakan terdalam yang menyentuh dasar rahim Wulan, pria itu menggeram keras seperti seekor monster.
Tubuh besarnya menegang. Ia mengunci pinggul Wulan agar tak bergerak, lalu menembakkan benih panasnya dengan semburan yang luar biasa deras, membanjiri bagian terdalam dari tubuh janda sang ajudan. Itu adalah pelepasan keduanya malam itu, dengan volume lahar yang membuat Wulan merasa perutnya penuh sesak dan hangat.
Seketika itu juga, Wulan memekik panjang, mengalami klimaksnya yang kesekian kali bersamaan dengan tembakan sang Komandan. Tubuh wanita itu ambruk sepenuhnya, terhempas ke atas kasur bak boneka rusak yang talinya baru saja diputus.
Napas sang Komandan terengah-engah. Ia membiarkan pusakanya tertanam sejenak di dalam tubuh Wulan, menikmati denyutan rahim wanita itu yang memeras senjatanya. Setelah napasnya kembali normal, pria itu menarik mundur pinggulnya. Cairan putih kental bercampur madu Wulan menetes, menodai sprei yang tadinya suci.
Pria itu turun dari ranjang. Tanpa mengucapkan kata-kata manis, ia berjalan ke kamar mandi Wulan, membersihkan dirinya dengan tenang seolah ia baru saja menyelesaikan urusan administrasi biasa.
Ketika ia kembali ke kamar, ia mengenakan seragam dinasnya kembali, memasang sabuknya, dan merapikan rambutnya.
Di atas ranjang, Wulan terbaring telentang tanpa daya. Kedua kakinya masih sedikit terbuka, tak sanggup ia rapatkan karena rasa ngilu dan kebas yang luar biasa. Matanya setengah terpejam, napasnya putus-putus. Ia telah hancur. Jiwa dan raganya diremukkan oleh pria yang berdiri di samping ranjangnya.
Sang Komandan menatap Wulan dengan pandangan dingin. Ia membungkuk, menepuk pipi Wulan yang basah oleh air mata dengan pelan.
"Ingat baik-baik malam ini, Wulan," ucap sang Komandan dengan suara berat yang menggema di kalbu Wulan. "Aku hanya memberimu waktu satu minggu untuk berpikir. Jika jawabanmu tidak sesuai dengan yang aku inginkan... jika kamu menolak menjadi milikku seutuhnya... maka dalam satu bulan, aku pastikan kamu dan anakmu akan tidur di jalanan, menjadi gelandangan yang memungut sisa makanan dari tempat sampah."
Sang Komandan menegakkan tubuhnya, merapikan kerahnya. "Jadilah wanita pintar. Kehormatan tidak akan membuat anakmu bertahan hidup."
Jam di dinding menunjukkan pukul 1.00 dini hari saat sang Komandan berbalik dan berjalan keluar dari kamar. Tak lama, terdengar suara pintu depan ditutup dari luar.
Hening kembali merengkuh rumah asrama itu, menyisakan suara hujan yang masih setia turun.
Wulan menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya kalah oleh rasa sakit yang mengoyak dadanya. Ia menangis dalam diam, tangisan tanpa suara yang menyesakkan dada. Di kamar sebelah, Rendy masih tertidur pulas, tidak tahu bahwa ibunya baru saja mengorbankan kehormatannya, dipaksa turun ke neraka paling dalam, demi memastikan atap di atas kepala mereka tidak runtuh.
Malam itu, di atas ranjang yang pernah menjadi saksi cintanya pada sang suami, Wulan menyadari bahwa gadis naif asal Tasikmalaya itu telah mati. Yang tersisa kini hanyalah seorang janda yang terjebak dalam sangkar iblis, seorang wanita yang harus memilih antara mati dalam kelaparan, atau hidup sebagai budak pemuas hasrat pria yang telah menghancurkannya.
ns216.73.216.208da2


